
"Tuan muda masih ada aku disini, kau mau aku bercerita tentang pertemuanku dengan Ayahmu?" tanya Rayan, dia berusaha keras agar Kak Langit tidak bersedih terlalu dalam.
"Dengar ya tuan muda baik-baik aku akan bercerita agar, kau lebih bersemangat lagi." bujuk Rayan pada majikannya, agar Kakak Langit mau tersenyum kembali.
Setelah beberapa saat Rayan bercerita masa kecilnya dia betapa sangat sengsara, hinga ia pernah di pukuli banyak orang karena hanya mencuri makanan. Karena sangat kelaparan nya dia, Rayan kecil mencuri makanan untuk mengisi perutnya yang sudah perih dan sakit.
Namun tidak ada orang yang berbelas kasih, padanya hanya mengatai Rayan adalah anak yang suka mencuri,padahal dia mencuri untuk pertama kalinya. Saking kelaparannya waktu itu.Setelah beberapa saat dia di temukan oleh Pak Bara, ayah Kak Langit. Dan sekarang dia menjadi dewasa dan baik hati.Setelah ia mau mendengar cerita dari Rayan maka semua kehidupan mempunyai masalahnya sendiri- sendiri namun, adakalanya mungkin karena kita tak pernah saling bercerita masalah kita pada orang lain. Maka semua terasa berat.
Apalagi jika kita sudah mau memeluk yang bernama stres, maka bentuk stres atau juga depresi bisa berbentuk manusia, yang seiring berjalannya waktu dia menarik kita dalam hal kesunyian, dan hanya stres juga fikiran kita yang berada di dalamnya. Hanya ada isak dan tangis mengiringi semua perasaan kita.
Berkutat, bersembunyi dan tidak hal yang baik manusia merasakannya. Tidak mau bercerita atupun berbagi masalahnya di pendam dalam hatinya.Terkunci dalam-dalam dan sangatlah rapat, maka rasa sakit itu semakin hari kian membesar seperti penyakit tumor. Membeng kak, dan hanya membuat sakit manusia yang merasakannya.
Rayan dengan sangat sabar menenangkan tuan mudanya, bercerita tiap kesulitan yang dia hadapi. Bukan hanya menjadi anak yang miskin tapi semua orang menjauhinya,seakan dia adalah sampah yang di bau, dan di kucil kan. Dia sangat tahu rasanya hanya sendiri saja berjalan di dunia ini. Apalagi tidak punya sanak saudara yang bisa di ajak berbagi akan kesedihannya. Rayan pun duduk di samping tuan mudanya. Sambil memandang wajahnya yang sembab, matanya pun terlihat merah,dia tersenyum ke arah tuan mudanya, menggoda.
"Tuan,seharusnya pria itu tangguh tak mudah menangis, masak kau itu kalah dengan gadis kecil bernama Hima..hi..hi..hi.."sambil tertawa cekikan ,karena Himawari di bully oleh banyak karyawan, tapi dia tetap tak pernah menangis, dan hanya mengabaikan mereka.
Seharusnya seorang gadis akan merasa sedih jika ia di jauhi banya teman,apalagi Himawari mendapat hujatan dari banyak karyawan,dan satu kantor menggunjingnya.
"Kau menggodaku ya sialaannn, kau pernah menyukai seorang gadis??!" tanya Kak Langit dengan sewot ke arah Rayan, sudut bibirnya di tarik sedikit, dan menyeringai ke arahnya.
"Tentu saja tuan muda,namun karena aku tak berani menyatakan, jadi aku pendam saja...." jawab Rayan dengan nada yang sedih, dan tertunduk lemas.
__ADS_1
"Hem, ha..ha..ha..Kau bahkan pengecut,tak berani menjadi seorang pria yang gentle!!!" ledek Kak Langit kepada Rayan dan menepuk pundaknya, beberapa kali.
"Bukan begitu?, aku tahu aku akan di tolak." sambil menghela nafas panjang ia curhat pada Kak Langit
"Setidaknya kau sudah mengutarakannya." ujar Kak Langit dengan serius, dia pun berdiri dan meregangkan badanya terasa remuk .
"Sudahlah, tuan muda mari kita makan malam aku sudah masak yang enak, kata nona Hima kau suka seafood bakar iya kan??" ujar Rayan dan menyenggol bahu Kak Langit beberapa kali, dan tersenyum ke arahnya.
"Baiklah, ayo kita makan." jawab pria itu, dan mereka pun berjalan beriringan di dekat meja makan.
Mereka berdua menikmati makan malamnya dengan hangat seperti adik kakak, Kak Langit mau membuka dirinya perlahan-lahan dan ia menganggap Rayan adalah adiknya sendiri.
Di kediaman Almarhum Pak Bara rumah yang mewah dan megah itu, masih banyak orang yang melayat, mulai dari kolega bisnis, juga banyak sanak saudara yang jauh berdatangan
Istri dari Pak Bara sekarang berada di kamar, dan membaca surat wasiat dari Pak Bara, dia amat marah besar karena semua aset juga harta warisannya ternyata di ahli wariskan ke Kakak Langit. Itu semua tidak bisa di ganggu gugat. Dia melotot serta menyeringai ke arah pengacara Almarhum Pak Bara. Hendak akan menyobek semua surat wasiat. Tak bisa lagi mengontrol emosinya yang meledak-ledak.
Bagai bom, dia menjadi orang gila padahal banyak sekali tamu yang melayat hari ini .
Walaupun demikian dia tidak mempedulikan sama sekali, karena yang dia tahu ini semua tidak adil sama sekali baginya. Kenapa anak perempuannya tidak mendapat sepeserpun .
Apalagi istri keduanya itu, berharap kalau dia bisa menguasai semua harta dan aset milik mendiang Pak Bara.
__ADS_1
"Dasar pria tuaaaa !!!, kenapa dia mewariskan hartanya pada anak sia*an itu saja !!!"umpat istri Pak Bara yang kedua, dengan berapi-api, dia berdiri layaknya sebuah gunung semeru yang akan meletus, dan mengeluarkan larva dan magma. Membuat banyak orang ketaku tan.
"Bu, anda tak tahu alasanya?,Pak Bara sudah mengetahui perselingkuhan anda !!" ujar sang pengacara sambil membenahi dasi yang saat ini melekat di bajunya yang warna hitam itu.
"Apaaaa!!, dasar tua bangka, itu karena dia penyakitan dan aku tak mau punya suami yang lemah, dasar...!!!!" Dengan marah besar istri Pak Bara ingin merebut surat wasiat itu.
Namun ada Raline yang menepis tangan ibu nya tersebut, karena sungguh tak pantas jika dalam masa berkabung ibunya malah marah. Tidak jelas dan bertengkar dengan pengacara Pak Bara. Dan Raline mengetahui ibunya telah berselingkuh. Dia merasa malu pada ibunya itu bertanya langsung padanya apakah benar kejadian yang baru saja ia dengar.
"Ma, apakah benar kau berselingkuh??" tanya Raline dengan wajahnya yang sembab karena sudah menangis seharian membuat wajahnya terlihat kusam dan lusuh.
"Kau bicara apa Raline?, jangan dengarkan pengacara busuk itu???" sambil membuang muka ke arah yang lain, tapi memang benar dia sudah berselingkuh dengan pria muda.
"Jika benar, aku sangat malu maaa,hiks..hiks lalu jika kau seperti itu, aku dengan siapa??" tanya Raline dengan menangis tersedu-sedu duduk di bawah ibunya, menatapnya sendu.
"Jangan dengarkan dia mana mungkinlah, mama ini wanita berkelas, berselera tinggi." jawab Istri kedua mendiang Pak Bara itu, dia masih tak mau menceritakan kebenarannya.
Lalu pengacara itu mengeluarkan banyak foto dan,foto itu adalah bukti dari perselingkuhan nyonya besar itu. Masih banyak lagi buktinya dalam video kebersamaan dengan seorang pemuda yang tampan, dan masih muda.
Namun pengacara tidak memperlihatkannya pada Raline, karena takut nona mudanya itu akan semakin shock.
Bersambung...
__ADS_1