Terjebak Cinta Segitiga

Terjebak Cinta Segitiga
BAB 152 "Nona Muda"


__ADS_3

"Dimana sich Rayan...!!, sebel dech tadi aku lihat dia ada di sini." gerutunya dengan sebal.


Setelah berkeliling area rumah mewahnya itu tetap tak menemukan Rayan, padahal dia tadi baru saja dari ruangan Pak Bara.


"Rayan sialaaaan, kemana perginya pria yang menyebalkan itu!?" gerutunya, sambil berjalan tergopoh-gopoh .


Beberapa menit kemudian dia melihat Rayan dari kejauhan saja, ternyata pria itu sedang memberi arahan kepada bodyguard lainnya.


"Dari tadi aku keliling, ternyata dia ada disini huuu sebalnya..!" rutuk gadis itu, dan berjalan mendekati Rayan.


"Rayaaaaannnnnn..!!!" teriak gadis itu dengan suaranya yang bisa saja memekikkan telinga siapa saja yang mendengarnya.


"Ada apa nona??" tanya balik Rayan sambil memegangi telinganya yang hampir pecah .


Gadis itu pun berdiri dengan raut wajah kesal, nampak memang dia adalah gadis pemarah . Dia berdiri di samping Rayan, menyilangkan kedua tangan di depan dadanya.


"Kenapa dari tadi aku nyari kamu sulit banget ya nemunya??" gerutu dari gadis itu, dia saat ini menatap tajam ke wajah Rayan,ia sedang menundukkan badanya yang begitu tegap dan gagah.Namun Rayan tak berani menatap sang putri dari Direktur, yaitu Pak Bara .


"Dengaaar Rayaan...!!" bentak nona muda itu.


"Iya nona, mohon maaf saya sedang memberi intruksi untuk para pengawal lainnya." jawab Rayan dengan menundukkan pandangannya.


"Ok, huu... Gara-gara kamu aku jadi gerah,kau di panggil Papa di ruangannya."ujar dari nona muda itu, dan masih menatap tajam Rayan .


Dia masih merasa sebal karena pria yang ada di depannya ini sangatlah merepotkan sekali .

__ADS_1


"Iya nona, saya akan segera pergi kesana." ujar Rayan, dengan suara lirih namun tidak terdengar oleh nona muda itu.


"Kau ini pengawal, tapi suaramu kok lemah banget sich, udah pergi sana!!, aku mau cari minuman yang dingin ..haus.." ujarnya pada Rayan dengan nada yang ketus.


"Baik nona." jawab Rayan dan dia pun pergi meninggalkan nona muda itu.


Saat gadis itu berjalan ada selang air yang berada di tengah jalan alahasil kakinya pun masuk di antara celah selang, dan gadis itu hilang keseimbangan, jatuh ke dalam kolam renang yang dalamnya kira-kira tiga meter.


"Byuuur...Sialan, kenapa hari ini aku sangat siaaaal sekali ya?" Dan dia pun basah kuyub.


Nampak dari kejauhan, ternyata pria bernama Rayan itu tersenyum.Karena gadis itu marah- marah tak jelas. Kebetulan ingin yang dingin maka sudah jelas terpuaskan dengan mandi air dingin di kolam renang dewasa di malam hari ini.


"Hi..hi...hi..Rasakan, makanya jadi gadis jutek banget,udah kalau ngomong kayak kereta api aja, pakek kecepatan penuh." gumam Rayan menggelengkan kepalanya, dia pun berjalan menuju ruangan Pak Bara.


"Eeh, nona kecil tetapi lagaknya kayak nona besar aja, huuu harus sabar nich." gerutunya.


"Apa kau lihat-lihat ??!!" menatap tajam dan nyolot ke arah Rayan.


"Aku kesal denganmu itu bodoh, habis ini aku mau mengadu pada Papa, biar kamu di pecat dasar pria bodooooh !!" gadis itu benar-benar marah. Memandangi Rayan dari atas sampai bawah dengan muka masam.


Rayan yang tidak bisa mengelak lagi karena memang tadi dia mengumpat majikannya itu. Namun dia melepas jas hitam yang dia pakai dan memakaikan pada nona muda tersebut.


"Beraninya kau menyentuhkuuuu!!" bentak gadis itu dan membuang jas Rayan di bawah dengan seenaknya saja.


"Bukan begitu nona,bajumu terlihat tipis,nanti banyak orang yang melihat pakaian dalammu itu, mohon maaf." ujar Rayan dan mengambil jas hitamnya ,setelah mengibaskan beberapa kali dia memakaikan lagi untuk nona muda itu

__ADS_1


Gadis itu melihat ke arah tubuhnya yang saat ini basah kuyub, ternyata baju ********** itu terlihat dari luar dia pun merasa malu kepada Rayan. Kemarahannya itu yang meledak-ledak seketika padam dan sirna seperti api terkena air es.Langsung padam begitu saja.


Rayan berpamitan dan menundukkan badan nya, lalu pergi ke ruangan Pak Bara, sedang gadis ini malah memerah pipinya karena malu sudah bersikap kasar pada pria yang sudah membantunya. Dia berjalan ke arah kamarnya dengan bajunya yang basah dan meneteskan air, di penghujung jalan yang ia lewati.


"Dasar pria itu,tetapi kenapa dia malah baik padaku?, padahal aku kan memarahinya,dan akan memecatnya!!" gumam dan gerutu gadis itu dia pun berganti baju dengan yang kering .


"Apa dia memperhatikan baju dalamku ini ?, siaalaaan..." dia mengumpat dan melanjut kan berganti bajunya.


Di ruangan Pak Bara,kini Rayan sedang berdiri melihat Bos besarnya duduk di kursi rodanya .


"Ada apa Tuan ?, kenapa saya di panggil?" tanya Rayan dan mendekat ke arah tuannya.


"Aku hanya ingin kau disini saja, temani aku mengobrol saja kau boleh duduk ." Pak Bara pun menyuruh Rayan duduk, dia mengambil buku bacaan yang biasa baca sebelum dia tidur malam.


Rayan hanya berdiri tak berani duduk di dekat tuannya, berdiri tegak menatap bosnya yang sedang sakit keras.Karena Rayan salah satu pengawal yang sangat setia. Mulai dahulu ia sudah mengabdikan diri untuk keluarga Pak Bara. Dia juga mengenal Kak Langit sejak ia kecil. Dan sangat paham benar watak semua anggota keluarga Pak Bara yang tidak bisa di atur sembarangan oleh orang lain.Walaupun demikian Rayan menghormati semuanya dan sudah hafal dengan sifat bosnya yang saat ini membaca buku di dekatnya.


Kini Pak Bara bagai hidup seorang diri saja, karena keluarganya tidak ada yang dekat,dan Pak Bara merasa kesepian. Dalam keluarga Pak Bara di kelilingi istri keduanya, dan putri kecilnya berusia dua puluh tahun dia bernama Raline, dia adalah putri dengan istrinya yang kedua. Gadis itu sudah sangat sombong dia juga tak bisa di atur, sangat sulit meredakan emosi, dan bersikap sesuka hatinya saja.


Tetapi Pak Bara sangat merindukan sosok putra tunggalnya bernama Langit, pernikahan pertamanya denga istrinya dulu, Kakak Langit mempunyai sifat mandiri, tidak sombong, dia baik hati dan juga sangat ramah.


Namun dia anak yang pendiam juga ,dia tidak terlalu suka dengan keramaian, apalagi harus berbicara dengan banyak orang.Dia termasuk pria yang introvert, dengan sifatnya seperti itu mengingatkan Pak Bara dengan almarhumah istrinya dahulu. Wanita yang ia tinggal demi menikah lagi dengan istrinya yang sekarang.


"Rayan kenapa aku merasa sangat sedih ya??, dan aku merasa kalau kau itu adalah putraku." ucap dari Pak Bara sembari meneteskan air mata, dan tetesan air matanya menetes di buku yang ia baca saat ini.


Rayan hanya diam melihat dan menyaksikan Tuan besarnya kini yang sedang bersedih,dia dan di landa perasaan yang gundah karena putra tunggalnya masih marah padanya,tidak mau memaafkannya.Bahkan saat ini sedang sakit keras dan hampir sekarat.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2