Terjebak Cinta Segitiga

Terjebak Cinta Segitiga
BAB 135 "Kesepian"


__ADS_3

"Sebenarnya aku hanya merindukanmu saja, tidak ada hal yang terjadi." ucap Kakak Bryan.


"Ah, tidak mungkin cerita saja aku akan setia mendengarkannya,ayolah kak cerita."ucapnya dengan memelas agar Kakak Bryan membagi keluh kesahnya pada gadis kecil itu.


"Tidak ah, lagipula suasana hatiku, sedang baik aku tak mau membuat bersedih lagi."


"Bolehkah aku menginap di rumah kecilmu?" tanya Kakak Bryan dengan mengerjapkan kelopak matanya untuk beberapa kali.


"Tentu tidak boleh kak, iya kalau dulu kakak tidur di rumah Abang Gamma kalau sekarang ibu akan memukulku."gumam Himawari dan tersenyum kecil.


"Iya yah... ha...ha..ha... aku lupa kalau rumah mu sekarang berbeda,aku masih saja mengira kalau kita masih SMA." ucap Kak Bryan lupa akan kesedihan itu dan tertawa lepas dengan Himawari saat ini. Lupa masalahnya sekejap karena seharian mendapat masalah yang tak kunjung selesai.


Beberapa saat terlihat Himawari itu beberapa kali menguap menandakan kalau dia sedang mengantuk berat.Kak Bryan menatapnya, dia merasa sayang kalau Himawari pulang maka ia membiarkannya untuk menyandar di kursi.


"Kau temani aku ya, dan tidur saja di mobil, aku sangat kesepian." bujuk Kak Bryan pada Himawari sambil tersenyum kecil.


"Bentar lagi ibu pasti mencariku kakak, lalu kenapa kakak tidak tidur di apartemen teman kakak aja?"ucap Himawari sambil menyilang kan kedua tangannya di depan dada.


"Ehm, karena aku sedang ingin tidur di luar." jawab Kak Bryan asal dia menggaruk tengkuk dan meringis.


"Kakak berbohong, seharusnya kakak itu bisa lebih jujur padaku." saran Himawari dan mulai menutup kelopak matanya yang kecil terlihat kelelahan seharian sudah dengan semuanya membuat dia amat kelelahan.


"Sebenarnya aku juga sangat letih, aku ingin sekali merasakan kehangatannya seorang ibu apalagi ayah." gumam Kak Bryan dengan lirih.


Tak mau membangunkan Himawari kecil, dan ternyata ibu Himawari mulai mencari putrinya dia memakai jaket tebal, karena ia kedinginan, kebetulan malam ini sangat dingin membuat semua orang nampak bingung, saat berjalan menyusuri Kak Bryan turun dari mobilnya.

__ADS_1


"Mohon maaf bu, Himawari tertidur di mobil, kalau boleh saya akan menggendongnya ,dia akan saya bawa masuk kedalam rumah."


"Namun jangan di bangunkan kasihan, dia nampak kelelahan." ucap Kak Bryan dengan sopan pada ibu Himawari dengan menunduk.


"Ya nak, makasih ya sudah mau mengantar gadis itu, agak ceroboh memang." ucap Ibu Himawari dengan tersenyum.


"Bu bolehkah saya tidur di rumah kecil ibu?, dan aku mau walau tidur di depan sofa atau karpet." ijin Kakak Bryan dengan wajah yang agak sedih ,dia memohon pada ibu Himawari


"Kenapa nak Bryan ingin tidur di rumah kecil itu?, apakah kamu rindu orang tuamu?"tanya Ibu Himawari dengan menatap wajahnya itu.


Kak Bryan menunduk dan mengangguk pelan, karena dia memang amatlah kesepian ingin sekali, menemui ibunya namun karena sudah meninggal dunia,maka sangatlah merindukan apalagi pelukkannya,dan juga masakkan yang setiap saat terhidang di meja makan.


Sudah lama tidak merasakan hal tersebut.


"Baiklah tidurlah di rumah ibu, namun maaf sebelumnya sangat sempit,dan juga kurang nyaman." ucap Ibu Himawari sambil menepuk beberapa kali pundak Kak Bryan.


Agar gadis yang sudah terlelap itu tak bangun setelah merebahkan, memberikan selimutnya yang agak tebal dengan gambar buah jeruk. Seperti biasanya Himawari sangat menyukai yang berbau dengan buah jeruk sunkist,buat nya jeruk itu sangat membuat semangat, tak hanya buahnya ,aroma, juga semua pernak- pernik tentangnya maka ia akan membelinya.


"Kau ini,masih saja tetap sama sangat suka jeruk sunkist." gumam Kakak Bryan,dia mulai keluar dari kamar Himawari dan merebahkan tubuhnya di atas kasur lantai depan televisi.


"Nak, ini selimutnya, dan ada satu lagi apa kau sudah makan?" tanya ibu Himawari dan membersihkan beberapa tisu dan buku-buku Himawari yang berserakkan di lantai


"Saya sudah makan, terimakasih karena saya di ijinkan menginap disini." ucap Kakak Bryan


"Iya sama-sama,semoga tidurmu nyenyak, ibu tidur dulu ya." lalu ibunya Himawari masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


Kak Bryan merasa tinggal di rumah lamanya, saat ibunya belum meninggal, dan bersama adik perempuannya.Kak Bryan merasa hidup kembali seakan kesepian yang melanda dia selama ini bisa terusir.Aroma rumah kecil ini mengingatkan dengan rumah lamanya yang penuh kenangan manis.Walaupun jauh dari kata mewah namun tempat tinggal ini terasa hangat, perasaan tenang memenuhi hati kecil Kak Bryan. Merasa kalau tempat kecil sangat nyaman dan cocok untuk merebahkan tubuh nya yang sedang kelelahan.


Merasakan kesepian yang biasa melandanya setiap saat,agak terobati walau perlahan tapi pasti.


"Wahh... kenapa aku merasa kalau aku saat ini berada di dalam rumahku yang dulu ya?" batin Kakak Bryan dengan menatap langit- langit dengan tersenyum kecil, membayang kan kenangannya semasa kecilnya dahulu.


Saat bersama kedua orang tua, dan adik kecil perempuannya yang belum meninggal dunia.


"Bagaimana pun,aku selalu merasa nyaman saat berdua dengan gadis itu, dimana pun aku berada kenapa ya?" batin Kak Bryan yang mulai tergelitik, selalu saja gadis kecil yang sedang tertidur lelap itu memberinya obat pelipur lara nya, dan juga kesepiannga yang sudah lama tidak terobati.


Rumah Himawari saat ini amat sederhana, kecil dan mungil, terlebih lagi hanya cukup untuk tinggal beberapa orang saja. Namun walaupun demikian ibu Himawari yang punya sikap hangat, dan baik membuat siapa saja akan betah berlama-lama untuk tinggal di rumah kecil dan sederhana itu.


Dengan semua kenyamanan dan kemewahan yang di milikki oleh Kakak Bryan, berbanding terbalik dengan tempat yang di tinggali gadis yang membuatnya jatuh cinta itu.Kakak Bryan menikmati tidur di atas kasur lantai tipis dan agak dingin, walaupun seharusnya dia bisa tinggal di dalam apartemen mewahnya.


"Ahhh... aku mau tidur saja." batin Kak Bryan sambil menutup kelopak matanya.


Tak lama dia tertidur lelap karena amat lelah dengan semua kejadian yang terjadi padanya seharian penuh.


Demikian pula Himawari tidur dengan air liur yang menetes, tidak itu saja beberapa kali dia hampir jatuh dari ranjang kamar tidurnya .


Karena jika ia tidur pasti tidak akan bisa diam, hanya kelopak matanya saja yang mengatup.


Namun gerakkan badanya tetap seperti anak yang sedang membuka matanya,masih tetap saja aktiv seperti biasanya.Dan seperti biasa, tubuhnya yang mungil pun bergeser kesana kemari dan alhasil dia jatuh dari ranjang yang berukuran mini .


"Bruuuuggghhhh...." tubuhnya jatuh di atas lantai karena bergerak aktiv.

__ADS_1


"Aduh....sialan sakit..." erang Himawari sambil memegangi pinggangnya.


Bersambung...


__ADS_2