
"Hai...Eve,kau bagian apa di kantor ini?"tanya Himawari dan melihat wajahnya yang amat cantik, juga segar pagi ini.
"Hemm, kau bertanya aku bagian apa??" ujar gadis bernama Eve itu, sambil menyilangkan kedua tangannya.
"Hem, apa maksudmu Eve?, bukankah kita ini berteman??" tanya Himawari dan wajahnya itu amat terkejut melihat sikap Eve ,yang amat berbeda sekali, dengan pertama kali mereka bertemu saat makan siang.
"Dengar!!!!, kau itu yang harus tahu kalau kau hanyalah bekerja disini atas kemurahan hati sang direktur, ya kan, ha...ha..ha..."ujarnya dan tertawa terbahak-bahak menatap wajah dari Himawari sangat terkejut.
"Apa maksudmu?, kita kan berteman kenapa kau terlihat tak begitu menyukaiku??" tanya Himawari dengan polosnya.
"Dengarkan sekali lagi, kita tak berteman aku hanya ingin melihat gadis mana yang berani sekali masuk ke gedung ini, tanpa melewati tahap interview, ha..ha...ha... ternyata hanya gadis bodoh !!" ujarnya Evelyn sambil tertawa terbahak-bahak.
"Aku kira kita berteman, ternyata kau seperti ini," ucap Himawari meninggalkan pantry dan kembali ke ruangannya.
Himawari merasa tidak enak bekerja di kantor saat ini, ternyata banyak orang yang saat ini membicarakannya di belakangnya. Walaupun tak tahu semua orang, sedang membicarakan di belakangnya itu. Dia pun merasa hidupnya kali ini di awasi banyak orang.
"Kenapa orang-orang disini tak asyik?, mereka semua sangatlah suka membicarakan orang lain." gumam Himawari dan mengerucutkan bibirnya.
"Aku disini menjadi bahan gunjingan saja!!" gerutu Himawari dengan sebal,tidak selera meminum kopi miliknya.
"Hmmmm, gimana ini ?, kenapa jadi begini??" gerutu Himawari merutuki dirinya yang kerja di kantor hanya menjadi bahan gosip saja.
Setelah kejadian di pantry itu semakin banyak orang yang membicarakan Himawari, semua satu kantor bahkan satu gedung mendengar memang ada seorang gadis masuk dengan jalur nepotisme, Himawari merasa tidak enak apalagi kalau harus bertemu dengan banyak karyawan lainnya.
Dia pun memilih bertahan karena dia berniat akan membantu Kakak Langit, melanjutkan pekerjaannya.Setelah menyalin banyak sekali dokumen hari ini jam terus berjalan sekarang menunjukkan pukul 13.00 wib waktunya dia keluar beristirahat. Karena jam makan siang telah tiba.Dia pun celingukkan melihat seperti seorang maling. Namun dia mencoba seperti biasa saja. Dan berjalan dengan normal saja.
Tiba di kantin dia mengambil makanan juga, dan duduk di meja masih tetap banyak orang yang berbisik-bisik membicarakan Himawari.
Tiba-tiba seorang pria berbadan tegap dan juga tinggi, dengan kacamata tebal datang menghampiri, mengajak makan siang gadis itu bersama.
__ADS_1
"Santai saja, semua tempat pekerjaan selalu seperti ini, kau hanya perlu mengabaikan dan kau cuek saja." ujar Rayan dan melahap nasi ke dalam mulutnya, dia mengajak bercanda dan mengobrol seperti biasa agar Himawari tidak merasa terintimidasi dan tidak nyaman.
"Benarkah?, apakah sebelumnya kau tidak kerja disini?" tanya Himawari dan menatap wajah Rayan dari samping.
"Tentu saja, aku sudah berpengalaman, dan aku adalah ahli di bidang IT," ujar Rayyan dan tersenyum manis.
"Aku kira kau pria yang egois, ternyata kau ini baik juga, lalu kenapa pas hari pertama kerja mengabaikan aku sampai kakiku terkilir ??" ujar Himawari dan sewot ke arah Rayyan ,dia mengerucutkan bibirnya sebal.
"Maaf ya, untuk permintaan maaf aku traktir makan enak mau tidak??" tanya Rayyan dan tersenyum lagi ke arah Himawari.
"Ckkk, tak mau ibuku jualan makanan, jadi aku tak terlalu suka makanan." ujar Himawari dan masih sewot pada Rayyan.
"Iya-iya terserah kau saja, mau apa untuk bisa menebus permintaan maafku?" tetap asyik memakam makan siangnya, namun Himawari masih merasa tidak nyaman bekerja di kantor.
"Aku masih tak nyaman kerja disini, apa aku berhenti saja ya??" gumam Himawari dan tak berselera makan.
"Tapi, apakah kau benar-benar tulus berteman nanti kau sama seperti gadis bernama Eve itu ternyata sama saja musuh dalam selimut?" ujarnya sebal dan mengerucutkan bibirnya ke arah Rayan.
"Untuk apa juga aku menjadi musuh dalam selimut mu?, haaa...ha...ha..." Rayan tertawa karena ucapan Himawari.
"Berpura-pura menjadi temanku, lalu ternyata sama saja dengan mereka semua." gerutunya.
Setelah mengobrol lama ternyata Rayan itu adalah pria yang baik,hanya saja penampilan pria itu agak terlihat sangat kuno, dan juga ia nampak pria yang garing dan candaanya tak menyenangkan, terasa basi seperti seorang bapak-bapak bercanda dengan seorang gadis
Himawari beberapa kali menguap karena dia merasa bosan dengan cerita Rayan, dia selalu cerita kucingnya yang beranak banyak sekali.
Apalagi di bercerita tentang nama-nama nya satu persatu, serta kebiasaan dari kucingnya.
"Sudahlah, Rayan cukup cerita kucingmu, aku ini alergi bulu kucing, maafkan aku ya." ucap Himawari dan berjalan ke arah ruangannya.
__ADS_1
Namun Rayan mengikutinya dan berjalan di sampingnya beriringan.Sesampai di ruangan Himawari Rayan ikut masuk kedalam ruangan
"Kenapa kau ikut?, kau tak bekerja di ruangan mu sendiri??" tanya Himawari lagi dengan sorot mata tajam pada Rayyan.
"Aku akan menemanimu ,kebetulan pekerjaan ku sudah selesai." ujar Rayyan menggoda,dia duduk.di bangku Himawari, karena memang bangku samping Himawari masih kosong.
"Hooo, kau ini aneh sekali, jika kau mau cerita kucingmu itu lagi maka aku akan tidur disini." gerutu Himawari dengan menyeringai, dan amat membosankan jika hanya mendengar cerita kucing saja dari mulut Rayan.
"Siaaal, semoga di bisa berhenti cerita kucing, aku sudah muak dan bosan." batin Himawari.
"Iya, aku tidak akan bercerita kucing , kalau aku tanya padamu boleh?" tanya Rayan tiba- tiba membuat Himawari menatapnya.
"Mau tanya apa memangnya??" tanya balik.
"Apakah kau mengenal anak dari Direktur, Pak Bara??" tanya Rayan dengan menatap intens wajahnya Himawari.
"Ehm, kenapa kau tanya begitu??, aku tak tahu apa yang kau maksud?, kita rubah saja topik pembicaraanya ok." saran Himawari dan dia melanjutkan pekerjaannya menyalin sisa dari Dokumen yang menumpuk itu.
Rayan membantunya dengan cepat, karena ia mengajari Himawari menggunakan komputer nya ,dan memberikan trik juga tips agar tugas nya lebih mudah, Himawari menerima semua tips, dan trik Rayan sangat berguna sekali.
"Wah.....hebat sekali ternyata kau ini pintar juga ," ujar Himawari, mengacungkan kedua jempol tangannya ke arah Rayan.
"Ah.. biasa saja kau saja yang terlalu memuji aku." jawab Rayan sambil mengelus dan juga mwnggaruk rambutnya merasa kalau pujian Himawari terlalu berlebihan padanya.
"Lihatlah, masih jam 3 aku sudah menyelesai kan semua salinan Dokumen nya." ujar dari Himawari tersenyum seumringah menatap Rayan.
Himawari menyenggol bahu Rayan dan juga tersenyum manis ke arahnya, membuat dia sedikit salah tingkah di buatnya.
Bersambung...
__ADS_1