
"Bryan, beritahu dong siapa pemilik dari dada bidang itu??" tanya Merry semakin kepo.
Kakak Bryan memperlihatkan foto Himawari, di dalam ponselnya, saat itu mereka berdua sedang foto bersama, saling berdekatan itu pun sudah lama sekali. Saat mereka berdua duduk di bangku SMA. Merry pun melihatnya dengan antusias karena wajah Himawari yang tirus, serta kecil itu dengan aura wajah yang terang. Semakin di lihat wajah Himawari yang manis seperti permen kapas, serta bak bunga chamomile kecil yang mekar di siang hari.
Merry pun diam sejenak memandangi wajah itu lekat-lekat, semakin ia memandang tidak ada kejenuhan di matanya, maka ia pun terus memandangi ponsel milik dari Kakak Bryan.
Lalu Kak Bryan mengambilnya dengan paksa dan memasukkan ke dalam saku nya. Dia pun menegerucutkan bibirnya ke arah Merry.
"Pelit sekali kau Bryan, boleh aku melihatnya lagi, please..." rengek Merry seperti anak kecil yang meminta uang jajan pada mamanya.
Kak Bryan pura-pura mengabaikannya dan melihat saluran televisiny. Diam dan tidak bersuara sama sekali, dan Merry mencolek dagu Kak Bryan lalu ia pun mendekatkan diri ke dekat pria itu.
"Merry, jangan terlalu dekat, aku sesak tidak bisa bergerak !!" gerutu Kak Bryan sembari mendorong tubuh Merry yang sintal.
"Jangan pelit-pelit dong, aku hanya penasaran kenapa kau menyukai gadis kecil itu?" tanya Merry dan menatap paras Kak Bryan.
"Ya, karena aku dari awal menyukainya kau tahu Merry, dia itu seorang gadis yang baik yang di kirim Tuhan." ucap Kak Bryan dengan tulus sambil tersenyum simpul, menandakan kalau pria itu benar-benar mencintainya.
"Apakah kau sangat serius??" tanya Merry dia makin kepo dengan ucapan Kak Bryan yang selanjutnya.
"Tentu saja, aku sudah melamarnya, tapi itu bukan formalitas hanya ungkapan saja, dan ia menerimaku." ujar Kakak Bryan dan menepuk pundak Merry beberapa kali.
"Aduuuh, betapa beruntungnya gadis itu..." ucapan dari Merry pun terdengar seseorang yang berada di ruangan itu.
"Haaa, kenapa kau melamar seseorang tidak menyuruh aku, pasti ada yang bisa di bantu." ujar salah satu pria yang berjalan mendekat, ia duduk di sebelah Kak Bryan.
__ADS_1
"Oh, kamu ada apa kau kesini?" tanya Kakak Bryan, dengan menatap wajahnya.
"Tentu saja membahas pekerjaan,kenapa kau terlihat santai sekali??" tanya pria itu, dan dia menatap wajah Kak Bryan yang seumringah.
Terlihat jelas jika dia sedang bahagia semu pink di pipinya, membuat wajah tampannya terekspose, tak itu saja Kak Bryan berekspresi seperti seorang anak yang mendapat kado istimewa dari temannya.
"Kau kan sudah mendengarnya tadi Danu, aku sudah melamar seorang gadis dia menerima aku, bukankah itu sempurna." ujar Kak Bryan dengan santainya ,dia pun melebarkan kedua lengannya yang panjang di atas sofa mewah.
"Oew, berarti kau mantap ingin serius dengan gadis itu??" tanya Danu dia pun merasakan penasaran , dengan wajah gadis yang bisa membuat Kak Bryan jatuh cinta dan sangat serius menjalaninya.
"Tentu saja, aku sangat serius dan tak akan ada lagi gadis manapun di dunia ini, yang bisa membuatku seperti ini." ujar Kak Bryan dia pun tersenyum manis lagi menatap Danu, dan juga Merry.
"Woe, aku jadi penasaran siapa gadis itu?, apa dia dari keluarga terpandang??" tanya Danu .
"Tidak dia hanya gadis kecil biasa, tidak kaya dan keluarganya biasa-biasa saja." jawab dari Kak Bryan.
"Benarkah?, berarti dia hanya gadis miskin." ujar Danu menelisik lebih dalam lagi menatap lekat wajah Kak Bryan yang agak tegang.
"Dia tak miskin, bagiku status semua sama tapi kami saling mencintai, dan kami saling tahu diri kami apa adanya." ujar Kak Bryan.
"Bukankah, saling mencintai tidak masalah, yang penting kami saling menjaga satu sama lainnya, dan saling setia." ujar Kak Bryan pada Danu, dia pun menyeringai kecil agar dia tak mengorek masalah pribadinya lagi.
"Bagiku itu sangat sempurna, kami sudah lama menjalani hubungan, dan mengetahui kekurangan masing-masing." ujar Kak Bryan lagi, dengan menggelengkan kepala .
"Iya-iya aku kalah bro terserah kau saja, kalau urusan cinta kau yang menang." kilah Danu.
__ADS_1
"Ah... Kau jahat Bryan tak ada celah bagiku, kau memilih gadis kecil itu." ujar Merry dan ia menepuk dada bidang Kak Bryan beberapa kali, namun Kak Bryan menyingkirkan tangan itu, dengan cepat.
"Ha...ha...ha..." tawa Danu, seketika mereka berdua menatap Merry yang merasa cemburu pada Himawari.
Walaupun saat ini mereka berdua berada jauh terpisahakan samudra yang membentang di anatara mereka berdua ada cinta yang akan selalu hadir dalam diri mereka berdua. Kakak Bryan sudah menambatkan hatinya itu untuk seorang gadis kecil bernama Himawari.
Maka dia tidak akan pernah mencari gadis lainnya lagi. Setelah semua yang mereka lalui dengan segala macam keadaan itu membuat, hubungan mereka semakin erat. Tak terpisah kan oleh apapun juga, hanya waktu saja yang bisa memutuskannya.
"Bryan, apakah aku boleh menjadi istri kedua mu saja??" Merry pun menawarkan diri untuk di jadikan istri keduanya.
"Sudahlah diam mulutmu itu Merry, aku ingin sekali menyumpalnya dengan sandal ini." gerutu Kak Bryan, sebal dengan rengekan pria jadi-jadian itu.
Danu melihat itu mulutnya menganga, karena heran dengan tingkah laku Merry seorang pria namun menyukai pria lainnya, sedangkan pria yang ia sukai adalah bos nya sendiri.Tak itu saja Merry secara blak-blak an memberitahu Kak Bryan kalau dia sangat mencintainya.
Membuat Danu tak bisa berkata-kata lagi,dia hanya menyaksikan Merry yang masih tetap saja merengek kepada Bryan.
"Diamlah Merry, sekarang aku ingin bahas pekerjaan dengan Danu, kau pergilah dulu !" usir Kak Bryan karena Merry terlalu membuat nya terganggu. Rengekannya membuat Kak Bryan jadi bosan dan sebal mendengarnya.
"Hu... Aku di usir.." gerutu Merry sembari pergi meninggalkan Kak Bryan dengan Danu.
Sedangkan Danu kini hanya menelan ludah dengan kasar, bingung dengan Merry yang bersikap aneh dengan bosnya itu.
"Hei, kenapa kau diam saja??!" hardik Kak Bryan pada Danu, dan menggerak-gerakkan tangannya di depan wajah Danu yang saat ini melongo terkejut .
"Maa..maaf Bryan ,ayo kita bahas masalah pekerjaan aku akan membicarakan dengan dirimu dengan rinci." ujar Danu melanjutkan percakapannya dengan Kak Bryan masalah pekerjaanya.
__ADS_1
Mereka berdua mengobrol santai dan serius karena Merry pergi, maka mereka bisa amat leluasa tanpa gangguannya. Untuk sementara Kak Bryan lepas dengan jerat pria jadi-jadian itu, karena Merry bukan tipe pria yang mudah menyerah.
Bersambung...