
Lima tahun kemudian pun Himawari telah berhasil menjadi seorang sarjana, dia merasa kalau dia sudah menjadi dewasa. Usianya kini 23 tahun dan Ibu nya pun sudah kembali ke Indonesia, dia membuka kedai di Negaranya yang tercinta yaitu Indonesia.Himawari hidup tenang dengan ibunya, tidak berjauhan juga ia tidak perlu lagi merasakan rindu.
Namun hanya satu Himawari masih belum mendapatkan pekerjaan, di sela-sela mencari pekerjaan dia memilih untuk membantu ibu nya, menjaga kedai nya setiap hari.
Abang Gamma mendapat tawaran pekerjaan di luar negeri dan ia terima, sekarang gadis kecil itu hidup dengan ibunya saja. Abangnya yang biasa menjaga bekerja di negeri sebrang
Pagi ini seperti biasanya Himawari pergi naik sepeda motornya itu, untuk berbelanja semua bahan di kedai milik ibunya berjualan.
Saat di dalam perjalanan, di jalan raya sangat macet sekali, maka Himawari memilih jalan pintas melewati gang-gang kecil agar tidak berlama-lama berjibaku dengan kemacetan.
"Ha,sampai kapan jalan ini macet?,aku bosan jika setiap pagi seperti ini huuu !" gerutunya namun sambil mengendarai motor kecilnya.
Dengan kemampuan dalam menyetir, sangat cepat dan sat set sat set , akhirnya dia bisa melewati semua kemacetan itu. Dia hampir sampai di tempat langganannya berbelanja .
"Akhirnya sudah sampai leganya, namun saat kembali nanti aku juga harus lewat jalan yang macet lagi, huuu." gerutu Himawari sangatlah sebal, dan dia memarkir motor kecilnya tepat di tempat parkiran.
"Ini pak uangnya." sambil menyodorokan uang 2000 untuk biaya parkir.
"Makasih neng kecil, mau berbelanja ya?" tanya dari Pak yang tukang parkir dengan tersenyum kecil.
"Iya lah pak, masak ya mau nonton bioskop." gumam Himawari sebal, sudah tahu ke pasar mau berbelanja eh malah di tanyain.
"Iya neng, cuman nanyak doang kok sewot." jawab Pak tukang parkir meringis sambil menata uang lembaran di tangannya.
"Ya udahlah."sambil pergi meninggalkan pak tukang parkir tersebut.
Akhirnya Himawari masuk ke dalam pasar dan berbelanja semua kebutuhannya, setelah itu rampung sudah tugasnya pagi ini.
Karena perutnya itu mulai keroncongan dia mencari bubur ayam kesukaannya tidak jauh dari pasar.
Dan memesannya karena sudah tidak tahan akan kelaparan yang melanda.
"Buk seperti biasa bubur ayam super, dan juga lemon tea hangat cepet ya buk ,lapeerrr .." ucap Himawari sembari duduk dan mengelus perutnya yang sudah keroncongan .
__ADS_1
Tiba-tiba dari belakang ada seorang pria yang menepuk pundaknya dengan keras.
"Hai, gadis kecil boleh aku duduk di sini?!" ujar seorang pria dengan suara serak-serak basah khas, dan suara itu tak asing buat Himawari .
Himawari menoleh ke arah sumber suara, dan alhasil dia pun menatap lekat wajah pria yang amat tampan, dan tirus dengan dagu lancip, serta hidung yang mancung sekali.
"Ha... kakak, boleh silahkan." jawab Himawari.
Matanya masih tetap menatap pria bertubuh jangkung, tegap dan tampan itu, masih heran dan juga terkejut sekali karena suda lama tak bertemu .
Dia pun akhirnya duduk dengan tenang mulai mengamati wajah gadis kecil itu, yaitu teman sekelasnya. Wajahnya yang semakin dewasa semakin tampan terlihat mata teduh itu kini tak berubah sama sekali, dengan kesopanan dan juga semua tingkahnya tak berubah satu pun . Himawari mulai agak terkejut dengan kehadiran sosok pria yaitu teman sekelasnya.
Sekaligus pria yang pernah menyukainya saat dia SMA dulu. Himawari menatapnya sembari agak melamun mengingat kejadian waktu dia masih remaja dulu.
"Hei, kenapa kau melamun?" tanya Kak Langit dengan menggerak-gerakkan tangannya ke arah wajahnya agar Himawari tidak melamun.
"Iya maaf Kak, aku teringat kita waktu SMA dulu, oh ya, kenapa kita bisa ketemu disini?" tanya Himawari keheranan,melihat Kak Langit memakai setelan jas bewarna merah maroon, dan sangat rapi sekali bisa di pastikan kalau dia sudah bekerja di kantoran.
"Aku ini sedang sarapan, kebetulan aku lalu mendengar suaramu, aku kira tadi bermimpi." ucap Kak Langit tersenyum sumringah sekali.
"Ini neng pesanannya, dan ni punya tuan." ujar si pemilik warung bubur, dia pun menaruh dua bubur ayam spesial, dengan ukuran mangkuk besar sama di dekat meja mereka berdua.
"Makasih bu." sambil menundukkan badan.
Mereka berdua pun makan bubur mereka dan beberapa menit setelahnya habis tak bersisa.
"Bagaimana kalau aku yang traktir hari ini?" tanya Kakak Langit pada Himawari dengan tersenyum manis.
"Bolehlah, oh iya kenapa kak Langit tampan sekali hari ini?, kakak kerja di kantor?" tanya Himawari dengan memandang wajahnya .
"Tidak, aku bekerja dari rumah, namun karena hari ini aku mau presentasi, jadi harus rapi ." ucap Kak Langit dengan sumringah dia pun sangat senang karena lama tak bertemu .
Dan sekarang Himawari berada di dekatnya, seperti sebuah mimpi saja.
__ADS_1
"Wah, keren sekali aku belum bekerja kak, dan aku masih membantu ibuku berjualan." ucap gadis kecil itu sembari meminum lemon tea .
"Apakah kau mau aku mencarikan pekerjaan untukmu?" tanya Kak Langit dengan serius .
"Ehm, emang ada kak?" tanya Himawari.
"Ada, nanti aku bisa menghubungimu ini kartu namaku, dan mana ponselmu itu?" tanya Kak Langit sembari menyodorkan kartu namanya.
Himawari memberikan ponselnya yang baru, karena ponsel yang lama itu rusak masuk ke dalam air genangan, waktu hujan tiba.
"Oh, ponselmu baru dan nomermu juga baru?" tanya Kak Langit dengan memasukkan nomer ponselnya .
"Iya masuk kedalam genangan air hujan, dan aku juga pindah ke sini masih beberapa bulan saja." ujar Himawari dengan tersenyum kecil.
"Oh, pantas aku tidak pernah melihatmu, aku di sini sudah agak lama, nanti aku ajak main ya, aku hafal daerah sini." ucap Kak Langit dia pun mengembalikkan ponsel Himawari .
Himawari pun menganguk dan memasukkan ponsel miliknya ke dalam sakunya.
"Buk ini uangnya!, aku permisi dulu nanti jika kelar urusanku aku mampir ke rumahmu." ucap Kak Langit pamit dengan sopan, karena terburu-buru mau pergi ke tempat dia bekerja.
Sambil melambaikan tangannya itu kepada gadis kecil, gadis yang dia sukai waktu dulu SMA muncul lagi di hadapannya kembali.
Seakan waktu ikut memberinya kesempatan untuk mengejarnya kembali dimasa sekarang.
Akhirnya pria tampan memakai jas maroon itu, pergi dari hadapan Himawari dan tetap memakai mobil lamanya yang dulu waktu ia SMA, mobil sport merah. Tak berubah sama sekali.
"Neng kenal dengan pria tampan itu?" ucap pemilik warung itu mengambil uang dari Kak Langit, dan membersihkan mejanya.
"Iya, temanku SMA Bu." jawab Himawari.
"Dia sangat sering kemari katanya bubur yang aku masak sangat enak, sama dengan selera dan juga masakan mamanya." ujar si pemilik warung itu lalu pergi kembali ke dalam dapur.
Untuk beberapa menit Himawari pun tertegun mendengar ucapan ibu pemilik warung itu.
__ADS_1
Dia melamun terbayang kala dia masih duduk di bangku SMA dulu, pernah makan bubur dan bersama Kak Langit .
Bersambung...