Terjebak Cinta Segitiga

Terjebak Cinta Segitiga
BAB 75 "Bermain Hujan"


__ADS_3

Siang pukul 14.00 wib Kak Langit berteduh di bawah tempat yang kosong tak di pakai, dia memarkir sepedanya, terlihat hujan siang hari ini sangat lebat awan berubah mendung .


Kakak Langit yang mempunyai trauma akan hujan tak bisa menghilangkannya begitu saja


Ada seorang anak kecil yang bermain bola di dekatnya saat ini, kebetulan ada lapangan di dekat tempatnya berteduh. Bolanya itu tidak sengaja menggelinding di dekat Kak Langit.


Dia pun menendangnya ke arah anak itu,lalu dia mengamati beberapa anak yang sangat senang menikmati bermain bola di bawah air hujan, yang mengguyur tubuhnya.


Kak Langit heran kenapa beberapa anak itu sangat senang sekali padahal hujan ini deras terasa agak mencekam juga, bahkan dia pun merasa masa lalunya akan menghantui jika hujan sudah tiba . Dia menatap dengan agak melamun, tiba-tiba datanglah seseorang di belakang dan menepuk bahu Kak Langit saat ini, dia menoleh ke arah Kak Langit kemudian tersenyum memandanginya.


"Himawari, kenapa kau kemari ?,kau basah." Ujar dari Kak Langit keheranan melihat gadis ini sudah ada di dekatnya, sambil tersenyum tidak itu saja ternyata Himawari baju seragam yang ia kenakan basah kuyub.


"Ayoo kita sembuhkan trauma Kakak, aku janji hujan tidak menyakiti." Ujar Himawari kepada Kak Langit mulai sembari mengulurkan kedua telapak tanganya, dia menatap Kak Langit dengan pandangan teduh, hangat dan sangat bersahabat.


"Ayo kakak, yakinlah bahwa kenangan buruk Kakak akan hilang!" Ujar Himawari sembari mengulurkan tangannya pada Kak Langit.

__ADS_1


Dia berusaha meyakinkan Kakak Langit agar bisa mengalahkan kenangan pahitnya yang di masa lalunya,kemudian mengganti dengan kenangan yang indah saja.


Akhirnya tangan Kakak Langit menggenggam erat tangan Himawari yang mencoba berbaik hati untuk memberikan kenangan yang indah


Mereka berdua bermain hujan-hujanan sambil melihat banyak anak yang sedang bermain bola di tengah lapangan.Dan beberapa menit kemudian Himawari dan Kakak Langit sudah kelelahan memutuskan untuk pulang.


Karena hujan mulai mereda dalam perjalanan naik motor, Kak Langit sangat senang sekali beberapa kenangan pahitnya mulai luntur di bawah oleh derasnya air hujan siang tadi.


Sangat senang karena Himawari sudah mau mengajaknya untuk bermain air hujan siang tadi, padahal sudah sangat lama sekali tidak pernah merasakannya, terahir kali saat dia masih kecil sekali bermain hujan bersama kedua orang tuanya, itu baginya adalah suatu kenangan sangat indah sekali dan membekas dalam hatinya.


"Kenapa kakak menghentikan motornya?" Tanya Himawari sembari memandang wajah Kak Langit basah kuyub.


"Em, aku akan menceritakan kenangan pahit saat hujan dahulu kala." Ujar Kak Langit dan tiba-tiba, Himawari mulai mendengarkannya dengan seksama.


"Baiklah ceritakanlah kak." Ujar dari Himawari dan siap mendengarkan semua hal yang akan keluar dari bibir Kak Langit,agar tidak menjadi pria pemurung dan pendiam.

__ADS_1


"Dahulu, aku itu mempunyai kedua orang tua yang harmonis saat aku kecil."Ujar dari Kak Langit sambil menatap pemandangan yang indah sembari terkena hujan siang tadi.


"Lalu Ayahku, mempunyai istri baru tanpa sepengetahuan Ibuku, setelah itu dia sangat shock."Suara Kak Langit sangat lirih sambil menahan tangisnya saat ini.


"Karena ibuku sangat mencintai Ayahku, dia sakit-sakitan dan meninggal dunia saat hujan lebat, dan petir menyambar-nyambar." Curhat Kak Langit sambil menintihkan air matanya.


Dengan penuh kesedihan yang mendalam, dia mengingat ibunya yang sudah meninggal itu.


Himawari pun memeluk Kak Langit yang saat ini menangis kehilangan sosok ibunya yang sudah tiada, ternyata seorang pria juga bisa menangis padahal usia Kak Langit sudah bisa di bilang dewasa, namun karena trauma akan kenangan masa lalunya itu ,jika melihat hujan tiba maka dia akan ketakutan. Mengingat dan sudah kehilangan orang yang amat dia cintai.


"Hiks...hiks... huuhu.." Berderai air mata yang sangat sedih, mengingat apa yang sudah di laluinya dengan ibunya di masa lalu.


"Sabarlah Kak Langit aku juga sangat rindu ibuku, dia juga bekerja jauh dan tak pernah bertemu denganku," ujar Himawari sembari menggosok punggung Kak Langit dan juga memeluknya. Mengingat senyuman Ibunya yang sangat cerewet dan juga sangat amat di sayanginya, sudah lama sekali tak bertemu.


"Aku harap Kak Langit bisa bahagia, dan aku rasa tak ada salahnya mengenang merasakan bahagia untuk diri kita sendiri." Himawari pun memberi semangat Kakak Langit agar tetap menjalani hidupnya bahagia walau banyak kenangan pahit, masa silam membuatnya itu trauma.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2