
Sore harinya Himawari sepulang dari kantor, langsung mampir ke apartemen Kakak Bryan. Karena dia sudah tahu kalau Kak Bryan yang sedang sakit membutuhkan perwatan, maka dia membawakan semangkuk bubur juga baju ganti agar lebih enak saat merawatnya.
Benar saja saat masuk ke dalam apartemen Kak Bryan sangat pucat sekali, badanya juga demam. Dia pun segera membawa air hangat untuk membersihkan tubuhnya dan mengom pres dahinya. Untuk mengurangi demamnya.
Beberapa saat setelahnya Himawari merapi kan semua barang-barang Kakak Bryan yang berantakan, setelah semua beres dia melihat apakah suhu tubuh Kakak Bryan sudah turun atau tidak. Ternyata demamnya segera turun.
Jam menunjukkan kalau saat ini pukul 19.00 wib , malam kini telah datang dan Himawari melihat pemandangan yang indah dari kaca jendela apartemen Kak Bryan yang sangatlah menkajubkan. Karena dari atas sini suasana malam di kota terlihat seperti miniatur .
Himawari duduk dan juga berdecak kagum, dia tidak pernah tinggal ataupun berkunjung pada siapapun, apalagi ke sebuah apartemen.
Dimana saat ini banyak lampu kerlap-kerlip, dan jalanan raya yang riuh saat ini di lewati dengan berbagai mobil,serta macam-macam kendaraan. Semuanya nampak kecil sekali.
"Wah... kenapa pemandangan dari sini lebih indah??, aku rasa teman Kakak Bryan sangat pintar mencari apartemen." gumam Himawari
Setelah beberapa saat Kakak Bryan bangun, dan siuman, melihat Himawari ini lagi asyik menikmati pemandangan yang indah dari samping jendela, dia pun menghampirinya.
Memeluk dari belakang, sambil terlihat agak baikan.Sudah tidak pucat lagi , juga terlihat segar daripada tadi. Memeluk erat Himawari dari belakang mendekapnya.
"Trimakasih ya..." ucap Kak Bryan dengan lirih
"Tak usah terimakasih kak, dengan begini aku juga bisa merawat kakak." ucap Himawari, dia pun masih memandangi pernak-pernik lampu kota yang indah, dan tersenyum kecil.
"Bagus kan pemandanganya, baru kali ini aku memperhatikan keindahan kota, karena kamu saat ini berada di sini."ucap Kak Bryan lembut
"Benarkah?, aku rasa sayang sekali kak... aku sangat suka pemandangan saat malam tiba." gumam Himawari memutar badanya,menatap wajah Kak Bryan agak lesu.
"Sayangnya bukan apartemen ku, ini punya temanku,aku hanya tinggal disini kalau aku sedang ke kota ini." ucap Kak Bryan, sambil menoel hidung Himawari yang kecil.
"Apakah kau membawa baju ganti??" tanya Kak Bryan, mereka pun duduk di meja makan, menatap Himawari mamakai bajunya biasa.
Himawari hanya mengangguk saja dan mulai menghangatkan bubur yang ia bawa tadi.
"Makanlah, aku tadi membelinya kak, aku rasa kakak sering melupakan makan, makanya kau sakit, iya kan ??" ujar Himawari dan menaruh satu mangkok bubur hangat agar Kak Bryan memakannya.
__ADS_1
"Aku sangat sibuk, hingga aku lupa makan, tapi aku tak masalah kau akan datang untuk merawatku." gumamnya sembari memakan bubur hangat.
"Kau tak makan?" tanya Kak Bryan.
"Tidak sudah, tadi sebelum aku kemari." jawab Himawari dan pergi ke kamar mandi.
Beberapa menit kemudian dia sudah segar, karena sudah membersihkan dirinya .
"Buburnya habis, oh ya kemarilah aroma mu sangat harum sekali.." ucap Kak Bryan sedari tadi mencium aroma parfum jeruk dari tubuh Himawari.
"Kenapa?, aku baru mandi tadi sangat lelah kak, bekerja di kantor sangat rumit sekali ya." gerutu Himawari dan mengerucutkan bibirnya
"Kau bekerja di kantor mana??" tanya Kakak Bryan.
"Ehm... ya kantor tempat aku biasa mengirim makanan pesanan, kebetulan ada lowongan aku di terima."ucap Himawari tak sepenuhnya menceritakan kalau dia bekerja di perusahaan tempat Ayah Kak Langit.
"Ya sudah, aku kira kau tidak tertarik bekerja di kantor, tapi kenapa kau tiba-tiba mau jadi karyawan kantor saja?" ucap Kak Bryan agak curiga kepada kekesihnya tersebut.
"Gawat Kak Bryan kalau tahu, dia akan marah padaku..."batin Himawari dan tak berani cerita yang sesungguhnya terjadi .
"Jika kau ada masalah kau bisa cerita padaku, jangan kau menyimpan rahasia padaku ok." ucap Kak Bryan menghampiri Himawari dan mendekatkan wajahnya padanya.
"Kenapa kakak seperti itu?" tanya Himawari.
"Baumu harum sekali, aku mau mengecupmu bolehkan??" dan semakin mendekatkan bibir nya ke bibir Himawari dengan seulas senyum.
"Cup..." satu kecupan membuat Himawari itu malu, pipinya memerah, merona seperti buah tomat.
"Kenapa kau malu?" tanya Kak Bryan.
"Ya malu lah... masak endak..." dan menunduk
"Ya sudah, aku ganti pakaian dulu, ini kotor dan terkena keringat." ujar Kak Bryan dengan melepas bajunya , mengganti dengan bajunya yang lain.
__ADS_1
Terlihat badanya yang tegap itu dengan bahu lebar yang kokoh,serta ototnya yang mencuat di tubuhnya.Karena dia sering pergi ke tempat kebugaran alias nge GYM. Himawari tertegun untuk beberapa detik karena tersihir .
Untuk beberapa detik otak gadis itu traveling kemana-mana. Dan Kak Bryan membuyarkan dengan duduk di sampingnya kini.
Sangat dekat sekali dan menyalakan televisi, dia merebahkan kepalanya di paha Himawari.
Bersandar,lalu memiringkan wajahnya ke arah televisi melihat kartun kesukaannya.
"Aku mau kita seperti ini, aku ingin bersantai karena besok aku harus bekerja lagi, karena aku hanya cuti satu hari saja." ujar Kak Bryan.
"Baiklah terserah Kakak, aku juga sangat lelah karena seharian ini pekerjaanku menumpuk ." gumam Himawari dan mengelus rambutnya Kak Bryan.
"Kau tahu, aku tidak punya siapa-siapa selain dirimu, jadi aku ingin kita menjalin hubungan yang serius.." ucap Kak Bryan pada Himawari
"Em, maksud Kakak bagaimana?, apa kita ini tidak serius??" jawab polos Himawari dengan wajahnya yang seperti anak SMA.
"Haa..ha..ha... kau ini sama seperti saat dulu kau SMA tidak berubah sama sekali, seperti anak kecil." ucap Kak Bryan dengan melihat , dan juga memandang wajah Himawari yang cantik terkena sinar temaram lampu di ruang tamunya.
"Lalu, bagaimana serius itu?" tanya Himawari dan melihat wajah Kak Bryan menatapanya.
"Ya kita menikah, lagipula sudah berumur 23 tahun cukup untuk kita menjalin hubungan tak seperti dahulu, terlalu kecil." ujar Kakak Bryan.
"Apaaaa???" kedua bola mata Himawari akan lepas mendengar pernyataan itu, dari bibirnya Kak Bryan yang ranum seksi itu.
"Kenapa kau seperti di tagih hutang saja?,kan enak kalau kita menikah, kau tak usah bekerja aku bisa memberimu semuanya." ujar Kakak Bryan sambil menatap lekat wajahnya karena dia masih terkejut.
"Bukan begitu, ibu bilang ingin aku bekerja lebih baik dari dirinya, setidaknya aku ingin membantunya kak." ucap Himawari dengan menundukkan wajahnya.
Kak Bryan bangkit duduk di sampingnya dan menatap lekat wajahnya, karena Himawari tak mau menjalin hubungan yang lebih serius lagi dengannya.Dan ia memutuskan untuk sedikit lagi memberinya waktu.
Karena tidak mudah untuk mengambil suatu keputusan yang penting dalam hidup apalagi masih mempunyai seorang ibu.
"Aku paham padamu, kau ingin membantu ibumu aku akan memberimu waktu, tetapi aku bisa menghidupi ibumu juga." ujar Kak Bryan lalu menggenggam erat, juga lembut jemari Himawari, mereka pun saling beradu pandang
__ADS_1
Hingga malam indah ini terasa sangat amat romantis bagi mereka berdua.