
"Rayan apa benar?, jangan berbicara seenak nya saja." bisik Himawari, di telinga Rayan.
"Lho, kau belum tahu...?" gumam Rayan.
"Hei...!! Kenapa kalian berdua bisik-bisik ??" gerutu Raline dan berdiri di antara Rayan dan Himawari agar mereka tidak terlalu dekat.
"Kenalkan aku Raline putri tunggal Pak Bara, pemilik perusahaan ini." sambil mengulurkan tangan ke arah Himawari dengan percaya diri dan sombong tingkat dewa.
Untuk beberapa detik Himawari melamun,dia diam tak menjawab sama sekali perkenalan Raline kepadanya. Raline pun geram karena ia merasa terabaikan. Lalu dia pun menyenggol bahu Himawari dan meninggalkannya pergi.
"Dasar gadis aneh !!,memang kau siapa?,ckk berani kau mengabaikanku!" gerutu Raline,ia dan pergi masuk kedalam gedung mengabai kan Himawari yang masih tertegun.
Rayan pun mendekat ke arah gadis itu,dan berbisik padanya.
"Dengar...., dia itu adik tiri tuan muda abaikan saja,karena sifat angkuh dan sombongnya itu tidak ada yang tahan." bisik Rayan pada Hima wari, dan dia menggelengkan kepala dan juga melirik ke arah Raline yang sudah lebih dulu naik lift masuk ke dalam gedung.
Rayan dan Himawari berada di ruangannya dan sedang memperbaiki komputernya yang sedang rusak.Himawari sedang mengamati jari-jemari Rayan sedang membenahi, tidak lama kemudian Raline masuk ke dalam situ.
Dia berkacak pinggang dan melotot ke arah Himawari, dengan tatapannya itu sudah bisa di pastikan dia sedang emosional.
"Rayan, apa aku kau ajak kemari hanya untuk menungguimu seperti ini??" dia menyeringai ke arah Himawari.
"Sebentar lagi nona..."ujar Rayan yang muka nya memasang wajah senang namun terpak sa karena jika terlihat masam, Raline akan semakin marah .
Raline mendekat dan mengamati wajahnya Himawari saat ini. Beberapa kali dia merasa pernah melihat wajah ini, dan tidak asing .
"Hallo Raline.."suara gadis tiba-tiba masuk ke dalam ruangan itu, suara yang tak asing lagi .
Raline menengok ke sumber suara itu, dan tersenyum sumringah sambil mencium pipi kanan, dan kirinya. Cipika cipiki.
"Kak Eve,sedang apa kau kesini?"tanya Raline
"Aku kesini karena tadi melihatmu masuk ke dalam ruangan ini." ujar Eve sambil melirik ke arah Himawari .
__ADS_1
"Oh iya kak Eve siapa gadis kecil itu?, kenapa dia jadi asisten sekertaris disini?"tanya Raline
"Oh..Dia ini hanya gadis kampung yang bodoh aku juga heran, kenapa tak aku saja yang jadi asisten Kak Eliz?" ujar Eve sewot, merasa iri pada Himawari.
"Oh, ternyata begitu ceritanya, kenapa lagi ada gadis kampung bodoh kerja di kantor ?" gumam Raline dan mendekati Himawari .
"Sudahlah nona, kalian pergi saja aku tidak bisa fokus membenahi komputer gadis ini." tegur Rayan pada Raline dan Eve agar keluar dari ruangan Himawari .
Namun Evelyn dan Raline tak mendengarkan teguran Rayan mereka berdua menyeret gadis bernama Himawari ,bersama membawa pergi ke suatu tempat. Sepi tidak ada orang, Rayan di kunci di ruangan kerja Himawari.
"Kenapa kalian sangat kasar?, aku tak pernah melukai kalian kenapa kalian berperilaku tidak sopan padaku?" gerutu Himawari memegangi tangannya karena memerah, terkena kukunya Raline dan Evelyn.
"Apa kau ini selingkuhan dari Pak Bara?, kau masuk kantor tanpa melalui inteview dan tes terlebih dahulu." tanya Evelyn dan melotot ke arah Himawari.
"Apa dia selingkuhan Papa?" tanya Raline dan merasa marah karena ada gadis yang berani menggoda Papanya.
"Plaaaak, Plaaaak..." dua tamparan mendarat di kedua pipi Himawari.
Sambil memegangi kedua pipi yang memerah terkena bekas tamparan Raline. Himawari tak menjawab pertanyaan mereka berdua, namun dia hanya diam, karena jika menjawab sama saja mereka tidak akan percaya. Bahkan kali ini kedua gadis bar-bar ini ingin menyiksanya.
Namun Evelyn menjambak rambut Himawari dari belakang, menariknya dengan kencang sehingga Himawari kesakitan.
"Arrghhh...lepaskaan sakit..." mengerang.
"Dasar gadis j*lang, mau pergi kemana kau?" ujar Evelyn dengan terus menarik rambutnya.
"Beri dia pelajaran kak, biar tahu siapa kita ini lanjutkan..!!" ujar Raline memberi semangat pada Evelyn agar terus menyiksa Himawari.
Tak berselang lama datang seorang pria yang memakai kaos oblong bewarna merah, dan ia memakai jeans biru menarik tangan Evelyn.
Setelah terlepas dia menarik lengan Himawari untuk pergi dari dua gadis yang sudah berani menganiaya nya. Setelah di parkiran mobilnya dia memasukkan Himawari dengan paksa .
"Kak Langit maafkan aku ya.. Hiks...hiks..hu hu... hua..."Himawari menangis tersedu-sedu ingusnya keluar dari hidungnya, dan matanya seketika memerah.
__ADS_1
"Sudah ayo kita jalan-jalan saja." ujarnya lalu membawa pergi Himawari dari gedung kantor milik Ayahnya.
Beberapa saat mereka berada di tempat yang agak ramai karena banyak orang melakukan karnaval, dengan mengenakan baju berbagai macam profesi, memakai kostum yang unik .
Himawari sedikit terhibur dan tidak menangis lagi.Melihat itu Kak Langit tersenyum senang.
Beberapa menit kemudian Himawari berkata.
"Kak, ayah Kak Langit sakit keras tidak bisa kah kakak memaafkannya." ucap Himawari menundukkan wajahnya yang masih sedih.
"Apa kau bekerja di kantor hanya untuk ini?, untuk di bully banyak gadis seperti tadi??" tanya Kak Langit, dan menatap wajah gadis itu, Himawari masih ingin menangis saat ini.
"Aku ingin kakak kembali ke rumah kakak, Ayah Kakak sedang sakit keras." ucapnya.
"Kau tahu, kau tidak perlu ikut campur dengan urusan keluargaku, aku sangat muak jika aku menjadi seorang pengusaha." ujar Kak Langit.
"Apa kakak tidak mau memaafkan, sebelum Ayah Kakak meninggal dunia." ujar Himawari.
Mereka berdua hanya diam tidak membahas masalah kantor dan kepulangan Kak Langit . Himawari memandang banyak sekali orang yang lalu-lalang lewat,mereka sangat senang.
"Kau mengundurkan diri saja dari kantor, aku tak mau kembali sampai kapanpun."ucap kak Langit memberitahu Himawari.
"Dengar, aku tidak mau berurusan lagi dengan Ayahku, terserah dia mau bertindak apa." ujar Kak Langit .
"Jadi jangan paksa aku." gumam Kak Langit
"Tapi dia ingin mendegar suaramu kak, dan dia sangat merindukanmu." ucap Himawari.
"Dia hanya sangat sayang dengan harta dan juga kekuasaanya, tak mungkin merindukan aku, ha...ha..ha..ha..."sambil tertawa terbahak bahak, namun dalam tawanya ada kesedihan.
Beberapa menit kemudian dia meneteskan air mata kesedihan yang tidak bisa ia tahan lagi. Kak Langit menangis karena masih teringat perlakuan ayahnya pada ibunya saat dahulu .
Himawari melihatnya tak tega memeluk tubuh pria yang berada di sampingnya itu. Berharap luka yang berada dalam hatinya itu walaupun tidak sembuh secara total, namun bisa saja berkurang,mereda rasa sakitnya untuk hari ini saja. Berharap pria yang sudah mecoba tegar dan kuat sekokoh batu karang di lautan yang terhempas banyak gelombang , sedikit bisa membuka hatinya.Sadar akan waktu memberi pelajaran berharga di tiap detiknya.
__ADS_1
Bersambung...