
"Kau mengundurkan diri saja dari kantor, aku tak mau kembali sampai kapanpun."ucap kak Langit memberitahu Himawari.
"Dengar, aku tidak mau berurusan lagi dengan Ayahku, terserah dia mau bertindak apa." ujar Kak Langit .
"Jadi jangan paksa aku." gumam Kak Langit
"Tapi dia ingin mendegar suaramu kak, dan dia sangat merindukanmu." ucap Himawari.
"Dia hanya sangat sayang dengan harta dan juga kekuasaanya, tak mungkin merindukan aku, ha...ha..ha..ha..."sambil tertawa terbahak bahak, namun dalam tawanya ada kesedihan.
Beberapa menit kemudian dia meneteskan air mata kesedihan yang tidak bisa ia tahan lagi. Kak Langit menangis karena masih teringat perlakuan ayahnya pada ibunya saat dahulu .
Himawari melihatnya tak tega memeluk tubuh pria yang berada di sampingnya itu. Berharap luka yang berada dalam hatinya itu walaupun tidak sembuh secara total, namun bisa saja berkurang,mereda rasa sakitnya untuk hari ini saja. Berharap pria yang sudah mecoba tegar dan kuat sekokoh batu karang di lautan yang terhempas banyak gelombang , sedikit bisa membuka hatinya.Sadar akan waktu memberi pelajaran berharga di tiap detiknya.
Setelah beberapa menit kemudian Himawari mengajak pria itu meredakan tangisannya .
Dengan makan makanan yang enak di sebuah restoran, setelah makan mereka berdua pergi ketempat yang bisa melampiaskan kekesalan dengan seenaknya. Mereka berdua sekarang berada di arena boxing.
Karena setelah memukul,menendang itu bisa meredakan semua hal yang tak enak dalam fikiran dan perasaan.Menyalurkan kekesalan agar tidak semakin mengganggu.
Setelah cukup berkeringat mereka berdua pun beristirahat di bawah, dengan semua keringat yang menetes di sekujur tubuhnya. Lalu gadis itu bertemu dengan seorang pria yang sudah lama tak berjumpa dia itu teman Kakak Bryan. Kakak Bram kebetulan berada di kota itu dan singgah di arena boxing sesaat.
"Hai, lama tidak berjumpa Himawari..." sapa Kak Bram padanya ,dan duduk di sebelahnya.
"Hai kak bram bagaimana kabarmu?" tanya Himawari dan menyeka keringatnya yang menetes di wajahnya.
"Baik, kalian hanya berdua?, mana Bryan??" cecar Kak Bram penasaran karena seingatnya kalau Himawari menjalin hubungan dengan Kak Bryan bukannya dengan Kak Langit .
"Kak Bryan sedang ke luar negeri kak." jawab Himawari dengan mengatur nafasnya yang masih tersengal-sengal.
__ADS_1
"Begitu ya, kami sudah lama tidak bertemu aku merindukannya, oh iya temanmu yang satu itu bagaimana kabarnya??" tanya Kak Bram sambil memandangi wajah Himawari.
"Kak Langit?" tanya Himawari dan melirik ke arah Kak Langit.
"Bukan, anak gadis yang pandai beladiri itu, manis dan seperti anak laki-laki??" tanya Kak Bram dan ia pun tersenyum salah tingkah.
"Oh, Shakira...Dia tak disini tetap di kota yang dulu kak, tapi jika ia tak sibuk maka dia akan berlibur kemari." jawab Himawari, mengipasi wajahnya yang gerah dengan handuk kecil .
"Ehm,sudah lama aku tidak bertemu dengan gadis itu....Ya sudah lanjutkan saja kegiatan kalian berdua.."ujar Kak Bram pergi meninggal kan mereka berdua.
"Ya kak.." jawab gadis itu.
Beberapa saat setelah puas bermain boxing melepas semua kepenatan serta kesedihan. Mereka berdua memutuskan untuk pergi ke taman hiburan bermain semua wahana dan bersenang-bersenang. Untuk husus hari ini saja maka akan bersenang-senang agar bisa melupakan semua masalah mereka hadapi.
Saat mereka berdua berada di sebuah taman ria, ternyata sebuah panggilan telephone itu sedang bergetar. Ponsel Himawari bergetar sedari tadi. Dia pun mengangkatnya.
"Hallo iya Rayan ada apa?" tanyanya.
"Ehm iya, dia sedang bersamaku saat ini." jawab Himawari dengan bingung, kenapa suara Rayan lirih terdengar seperti sedang menahan tangisannya.
"Bisakah kau menyampaikan pesan kalau, tuan besar sudah meninggal dunia saat ini." ujar Rayan di ponsel, dan suaranya terdengar serak dan parau, dia pun mengusap air mata dan ingus di hidungnya.
"Baiklah Rayan aku akan mengatakannya." ujar Himawari dan menutup ponsel miliknya.
Beberapa menit berlalu, gadis itu tidak tahu harus memulai darimana jika mengutarakan pesan yang di sampaikan Rayan untuk tuan mudanya. Bahwa ayahnya sudah berpulang. Yaitu meninggal dunia untuk selama-lamanya Himawari mengelus pundak Kak Langit,untuk beberapa saat pria itu menoleh dengan tatap an yang sendu dan ada tanda tanya besar.
"Ada apa?, apakah ada yang ingin kau sampai kan kepadaku?" tanya Kak Langit.
"Ehm...Sebenarnya tadi Rayan yang telepon kakak, maukah kau pulang hari ini??" tanya Himawari dan menatap kedua bola mata pria yang berdiri di depannya saat ini.
__ADS_1
"Aku tak mau, kenapa kau memaksaku??" Kak Langit terlihat sebal pada Himawari, karena dia merasa kalau gadis ini mau-maunya saja bersengkongkol dengan Rayan.
"Te..tapi kak, Ayah Kakak meninggal dunia." ujar Himawari terbata-bata mengatakan pada pria itu, sebenarnya dia tidak tega jika harus langsung berkata di depannya. Tapi karena keadaan urgent maka dia harus memberani kan dirinya.
"Apa?!" melotot, terkejut dan kebingungan.
Mereka berdua segera naik mobil dan melaju kan kendaraan itu di sebuah rumah besar,dan Kak Langit berjalan mendekati jenazah ayah kandungnya yang selama ini dia benci,selama ini juga sosok pria yang dia abaikan.
Sudah lama tak mau berbicara layaknya anak dan seorang ayah. Sekarang mereka berdua sudah di pertemukan oleh keadaanya, tetapi ayahnya sudah meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya.Terbujur diam tak bernafas.
Deraian air mata menyelimuti kediaman dari Pak Bara direktur perusahan yang besar itu, istrinya yang kedua nampak menangis sangat sedih di dekat jenazah suaminya tersebut.
Melihat Kakak Langit putra satu-satunya Pak Bara telah hadir, matanya pun segera tertuju kepada pria bertubuh jangkung itu.
Kak Langit duduk bersimpuh ada perasaan yang sangat sakit, dan sesak di dadanya itu seraya mau meledak karena kematian Ayah kandungnya itu. Membuat perasaanya sedih bertambah memuai seiring berjalanya waktu.
"Kenapa kau kemari keluarrr kauuu..?!" teriak dari putri Pak Bara yang bernama Raline.
Namun Kak Langit mengabaikan suara dari Raline tetap menangis di dekat jenazah ayah kandungnya. Dia merasa bersalah karena ia saat detik-detik terakhir kematian ayahnya tak berada di dekatnya. Padahal Rayan dan juga Himawari sudah beberapa kali membujuknya agar mau menemui ayahnya sedang sakit.
Hanya perlu waktu sedikit saja namun itu tak bisa lagi di gapai oleh Kak Langit. Dia merasa menyesal mungkin untuk seumur hidupnya.
Karena saat ayahnya masih hidup kenapa tak memaafkan semua perbuatannya,agar ia bisa merasakan sedikit kasih sayangnya itu, oleh ayah kandungnya sendiri. Setelah hari ini dia tak akan bisa melihat wajah pria tua dengan kerutan serta banyak uban di rambutnya.
Kak Langit menangis bersedih karena semua perbuatan yang telah ia buat pada ayahnya itu Membuat perasaanya sekarang bertambah menyesal. Karena waktu yang ia alami tidak akan berputar kembali. Maka dia hanya bisa menyesalinya seumur hidupnya, ia bersimpuh di dekat jenazah ayahnya saat ini.
Banyak orang yang melihatnya keluarga saat ini,sanak saudara,keponakan,semua orang, pengawal, Rayan dan Himawari diam di dekat Kakak Langit dan meneteskan air mata juga.
"Maafkan aku Pa...hiks..hiks.." tangisan Kakak Langit, dengan berderai air mata meratapi kematian ayahnya dengan duka yang amat mendalam.
__ADS_1
Bersambung...