
Dahulu Kak Langit mempunyai keluarga yang utuh dan hangat seperti keluarga lainnya, tapi kini berbeda mereka bertiga harus berpisah.
Flash Back
Beberapa tahun yang lalu Kak Langit beserta keluarganya yaitu, Ibu dan Ayahnya, mereka bertiga melalui hari-hari yang sangatlah indah seakan hari itu tak akan pernah lekang oleh waktu. Suatu hari saat Kakak Langit baru saja menginjak sekolah di SMP, dia mendapati ibu nya yang sedang menangis tersedu-sedu, dia pun enggan bertanya perihal apa yang terjadi
Namun kini di dalam hati kecilnya itu semakin berkecamuk, kenapa ibunya yang terlihat baik -baik di matanya berubah drastis, berubah tak baik-baik saja, sangat bersedih dan terpukul .
Ternyata lambat laun seorang anak pria yang berusia 13 tahun itu mengetahuinya, kalau Ayahnya telah menikah lagi dengan seorang wanita idaman lainnya.
Ibunya Kak Langit amat terpukul akan hal itu, setiap hari dia menanti kedatangan suaminya
Untuk pulang kembali ke rumahnya yang kecil namun harmonis, dan hangat itu. Tetapi yang terjadi bukanlah demikian suami yang sudah di tunggu-tunggu kedatangannya ternyata dia tak kembali.Ibunya Kakak Langit mulai jatuh sakit, dan semakin hari semakin parah dan tidak tertolong lagi. Dengan bermandikan air hujan bersama dengan petir yang menyambar -nyambar, sepulang sekolah dia menyaksikan kematian ibunya. Dengan tangisan dan juga jeritan seorang anak kecil, yang masih polos.
Dia mulai membenci sosok ayahnya itu, dan dia berjanji tak akan berhubungan lagi dengan ayahnya jika suatu saat bertemu dengannya.
Ternyata setelah kematian ibunya Kak Langit masih tetap terpukul dan mengalami trauma yang sangat berat, hingga Himawari itu dapat menyembuhkan penyakitnya saat SMA dulu.
Maka dari itu Kak Langit mulai membuka diri dan hatinya itu untuk seorang wanita dan juga mau untuk bersosialisasi dengannya.Karena dengan pribadinya yang terlalu tertutup rapat.
Dia tak mudah bergaul dengan teman lain,tapi karena gadis kecil itu setiap hari, sudah mau mengajaknya bicara dan mengobrol maka dia merasa mempunyai teman, lambat laun pria itu pun menyukai gadis bernama Himawari .
Namun saat dia baru tahu akan perasaannya itu, ternyata Himawari sudah terlanjur saling menyukai dengan pria lainnya, membuat Kak Langit patah hati. Namun saat dewasa ini, dia tidak mau lagi mengalah dengan takdirnya itu sendiri untuk memilihnya dan menjadikannya seorang yang penting dalam hidupnya.
Himawari sempat bingung dengan perasaan yang ia rasakan, namun karena untuk saat ini dia akan membantu Kak Langit supaya mau berbaikkan dengan Ayahnya, maka dia berfikir mencari cara dan solusinya yang tepat agar bisa menyatukan mereka berdua. Ayahnya itu sudah tidak mempunyai banyak waktu lagi hidup di dunia ini. Maka secepatnya ia harus segera membantunya.
🌻🌻🌻🌻🌻
Keesokan harinya pagi-pagi sekali ia, seperti biasanya Himawari berbelanja di pasar yang biasanya untuk, membeli semua bahan yang di butuhkan kedainya.Beberapa jam ia mulai berkeliling dan semua bahan sudah berada di tangannya. Namun saat hendak pulang dia di hadang seorang pria memakai jas rapi,mereka pernah menemui Himawari sebelumnya.Lalu Himawari itu di persilahkan masuk ke dalam mobil hitam. Maka dia pun menuruti saja ,dan akhirnya mereka itu membawanya ke sebuah rumah megah. Dan berhenti di sebuah taman.
__ADS_1
Himawari menaruh semua barang belanjaan nya di dekat sebuah kursi di taman itu, ada seorang pria paruh baya memakai kursi roda.
Dia menunggu kedatangan dari gadis, dengan menatapnya dari kejauhan.
Himawari pun mendekati pria itu lalu duduk di sampingnya.Sembari menatap cahaya silau matahari yang perlahan naik ke atas langit,ia menampakkan senyumannya yang manis.
Terasa hangat dan cahaya agak menyilaukan tetapi terasa indah, dan anugrah yang Tuhan berikan pagi ini. Himawari tidak mengawali ucapan namun menunggu pria paruh baya itu untuk mengatakan keinginannya.
"Bagaimana apa kau mau berkerja di tempat ku gadis kecil?" tanya pria itu yang duduk di atas kursi roda.
Pria yang berusia 56 tahun itu terlihat tampan dia amat berwibawa,namun ternyata saat ini dalam keadaan sakit keras.
Terlihat guratan dan juga kerutan di wajahnya, serta beberapa rambut yang bewarna putih menghiasi kepalanya.
Himawari berhenti sejenak tidak menjawab atau pun, berkata satu kata pun.
"Ehm, sebelum saya menjawab pertanyaan, bolehkah saya bertanya?" tanya Himawari dia akan mengajukan satu pertanyaan pada ayah Kak Langit.
"Silahkan, apa yang ingin kau tanyakan itu?" jawab pria itu sembari melihat ke arah sinar mentari yang mulai muncul bersinar terang.
"Apakah anda merasa menyesal sudah tega meninggalkan Kak Langit, dan istri anda??" tanya Himawari kecil itu, dan sangatlah sedih karena kemarin Kak Langit menangis di bahu kecilnya, dengan terisak-isak.
"Apakah dia bercerita padamu kalau aku ini, tega meninggalkan mereka berdua??" tanya pria itu dengan menatap wajahnya yang kecil dan mungil.
"Iya, aku merasa sangat kasihan, karena dia selama ini memendam rasa kecewanya yang amat dalam pada anda." ujar Himawari dan menundukkan wajahnya .
"Tentu saja, jika aku harus menebus semua kesalahanku, maka aku mau sekali, agar dia sanggup memafkan diriku." ujarnya pria paruh baya yang amat menyesali perbuatannya di masa lalunya.
Beberapa menit kemudian, setelah mereka berdua menyelesaikan perbincangannya.
__ADS_1
Himawari pun kembali ke kedai untuk segera membantu ibunya.
"Buk, kalau aku kerja ibu siapa yang bantu?" tanya Himawari dengan memandang wajah ibunya.
"Memangnya kamu kerja dimana?, sulit cari kerja saat ini." jawab ibu Himawari dengan menatap wajah anak gadisnya.
"Ehm di kantor , tapi aku tanya ibu kalau aku kerja siapa yang bantu, lagipula kalau kedai ramai apa tak kewalahan?" khawatir dengan ibunya yang sudah tua Himawari dilema saat ini, dengan memandangi wajah ibunya yang terlihat letih.
"Memangnya kau diterima di kantor mana?" tanya Kak Langit tiba-tiba masuk ke dalam kedainya, dia berjalan mendekati Himawari dan ibunya.
"Ehm, di kantor yang biasa pesan makanan di kedai, dan udah langganan." jawab Himawari dengan singkat takut ketahuan.
"Hebat, bekerjalah biar ibu aku yang bantu." ujar dari pria yang tiba-tiba masuk ke dalam kedai sembari tersenyum amat manis, dan melihat ekspresi Himawari agak kikuk, juga canggung saat ini Kak Langit mengernyitkan alisnya berfikir kalau sungkan terhadapnya.
"Apa kau sungkan padaku?, tak usah sungkan aku akan datang setiap hari membantu, dan akan meminta gajiku."godanya agar Himawari dan ibunya tersenyum.
"Benarkah kak?, apa serius?, dan kalau ada lowongan kerja bersamaku apa kakak mau?" tanya Himawari dengan sedikit menyenggol bahunya.
"Jika bekerja denganmu, baiklah aku tentu mau." jawab Kak Langit dengan sumringah. dia itu mengira kalau bekerja di kedai ibunya Himawari.
"Benar, kakak janji." tanya Himawari dengan menatap wajahnya, dengan raut wajah yang serius.
"Tentu saja aku janji." jawab Kak Langit, dia sangat percaya dengan Himawari.
"Awas kalau bohong, tidak boleh ingkar?" ujar gadis itu lalu menyematkan jari kelingkingnya dengan Kak Langit.
Kak Langit hanya mengangguk tidak curiga sama sekali, dengan perkataan Himawari itu.
Bersambung...
__ADS_1