
Dengan menitihkan air mata kini ia menatap Kak Langit, seolah melihat pembunuh kedua orang tuanya dahulu kala.
"Kau tahu kenapa aku begitu membecimu?" menyeringai.
"Lepaskan gadis itu dulu, terserah kau ingin membunuhku aku tak peduli Rayan." menatap dengan intens
"Hei, pria bodoh dia hanya gadis yang tidak berdaya, kenapa kau begitu menyukainya??"
"Aku memang bodoh Rayan, dan aku tidak sepertimu, hanya bersembunyi di belakang bayangan seorang gadis, tidak usah kau menyekapnya, dan aku akan memberikan nyawaku padamu, sebagai gantinya nyawa kedua orang tuamu." ucap Kak Langit dan wajahnya serius.
"Ha..ha...ha... Baiklah jika itu yang kau mau, aku akan membunuhmu, tapi sebelum aku membunuhmu, dengarkan baik-baik, kau tahu siapa yang membunuh Ayahmu?,ha..ha..ha."
"Aku yang membunuhnya, aku menaruh racun dengan takaran yang sedikit, jadi setiap hari yang di minum oleh Ayahmu itu adalah racun bukan obat dari penyakitnya. Setelah dia lama mengkonsumsinya dia mati, dan dia merasa kalau obat yang selama ini di minum benar- benar akan membuatnya hidup lama, ha..ha ha..." terbahak-bahak.
"Dasar tua bangka biadab, dan kini aku akan membinasakan keturunannya, maka tak akan ada lagi penerusnya, aku tinggal melanjutkan usahanya, tanpa ada jejak dan saksinya."
Menarik pelatuk dari pistol tersebut dan ia mengarahkan pada Kak Langit. Sangat siap melepaskannya.
"Dooor, dooor, doooor...."
Namun tembakan Rayan di tepis dengan pintu mobil, yang di bawa oleh Kak Bryan.
Sampai isi pistok milik Rayan kehabisan.
"Siaallll !!!" ucap Rayan dan mengisi peluru.
Namun sebelum dia mengisinya kembali, Kak Bryan menghajar, menendang, memukulnya. Karena Rayan hebat dalam beladiri maka ia tak mudah di kalahkan. Seketika ia membalik kan keadaan, dengan menarik lengan kanan Kak Bryan dan menendang perutnya yang baru saja selesai di jahit.
Alhasil dia meringis menahan rasa sakitnya, akibat tendangan Rayan.
__ADS_1
"Kaaaaakkk !, kau tidak apa-apa ?" pekik Hima
"Sialan," umpat kak Bryan ,merasa ia akan kalah oleh Rayan.
Rayan pun berhasil membuat Kak Bryan kini jatuh tersungkur, saat ia berada di lantai.
Rayan menginjak perutnya yang baru saja di jahit, dengan keras dan sekuat tenaganya.
"Arrgghhhh !!!!" Erangan Kak Bryan kesakitan
"Ha... Haaa... Ha... ,dasar kalian semua pria lemah." ucap Rayan dan merasa puas akan perbuatannya.
"Lepaskan dia!, tembaklah aku, sudahi semua ini, Rayan dengarkan aku baik-baik " ucap Kak Langit mencoba bernegosiasi kepada Rayan
Dia sudah berhasil mengisi peluru pistol milik nya dan di todongkan ke arah Kak Bryan.
"Tidaaaakkkk !!!" teriak Himawari.
"Ha..ha...ha.. Bukankah ini lebih baik, kau kan suka gadis lemah itu kenapa kau memohon seperti seorang bayi kepadaku??" ucapnya .
Namun sebelum selesai mengucapkan lagi kata berikutnya, ternyata suara tembakkan terdengar beberapa kali. Penembak jitu pun beberapa kali melesatkan isi pelurunya ke arah Rayan. Dia tumbang seketika di lantai berceceran darahnya, seketika mati dengan mata yang terbuka. Sangat mengenaskan.
Karena tidak mau mengambil resiko polisi akhirnya memilih menembak Rayan, daripada berlama-lama terlalu berisiko karena ada tiga tawanan kali ini di dalam gedung.
Kak Langit pun diam menatap kematiannya, sangat mengenaskan, dan ia merasa sangat menyesal karena benar-benar menganggap Rayan adalah saudaranya sendiri.
Seketika teringat kenangan indah bersama, walau sangat singkat terasa hangat, ingin Kak Langit tak mengetahui hal buruk tentangnya.
Namun semua kini sudah terlambat, pria ini telah menghianatinya. Dia memilih menjadi seorang pria yang menusuknya dari belakang
__ADS_1
Mereka bertiga di bawah ke rumah sakit, dan Kak Bryan di rawat kembali luka jahitannya terbuka akibat injakkan Rayan tadi.
Sedangkan Himawari kini berada di ruangan yang berbeda .
Malam hari tiba, Kak Bryan berada di dalam satu ruangan yang sama dengan Kak Langit.
"Terimakasih, aku berhutang nyawa padamu." ucap Kakak Langit sambil berbaring di atas ranjangnya.
"Tidak, tapi aku mohon lepaskan perasaanmu pada Himawari. Kita berteman, namun dalam urusan kisah asmara tidak kata kawan, atau persahabatan." ucap Kak Bryan menyeringai.
"Baiklah, kau yang menang, dari awal aku sudah kalah, tapi jika kau membuatnya sedih maka aku kembali merebutnya." ucap Kakak Langit dengan tersenyum kepada Kak Bryan.
"Ha..ha..ha..Itu tak mungkin, aku akan selalu membuatnya bahagia, dan mengajaknya ke seluruh penjuru dunia , dan tidak akan pernah aku lepaskan sedetik pun,ingaaat !!" ucapnya.
"Baiklah, kapan kau menikah?" tanya Kakak Langit dengan menatapnya serius.
"Secepatnya, Haaaa kau tahu kan, dia sudah meronta-ronta..." ucap Kak Bryan menggoda.
"Siaaallaaan.." umpat kak Langit tersenyum kecut.
"Bedebah, dasar pria gila, me*um" ucap Kak Langit lagi, dan menyeringai ke arah Kakak Bryan, merasa kesal akan ledekannya.
"Aku normal, apakah kau tidak?, carilah gadis lain, jangan Himawari ok." ucap dan ledekkan Kak Bryan pada Kak Langit.
"Ha..ha..ha.." mereka berdua tertawa bersama
Mereka berdua berdampingan, karena kamar mereka berada satu ruangan, di pintu kamar ada Himawari mendengar percakapan kedua pria yang berteman sekaligus tepat berada di dalam hatinya. Dia merasa lega, karena kedua pria itu akur, dengan kejadian ini dia berharap kalau Kak Langit mempunyai teman sekaligus sahabat. Tak lagi sendirian di dalam hidupnya bersama-sama hidup damai, saling menjaga dan saling memahami satu sama lain.
Lalu ia membaca pesan singkat dari Abang Gamma, yang akan pulang karena mendengar kabar baik Himawari akan menikah dengan Kak Bryan dalam waktu dekat.
__ADS_1
Dia tersenyum dan memasukkan ponselnya ke dalam sakunya.
TAMAT