
"Kau tak memberi penjelasan padaku?" Tanya Pak Surya kepada Himawari dengan melotot.
"Tidak terserah Bapak, lagipula walaupun aku memberi penjelasan pasti tak akan percaya!!" Dia menunduk lesu dengan suara lirih serta sangat kecewa pada hidupnya yang selalu saja sial , padahal dia tak mengganggu Yuri sama sekali namun Yuri selalu mengerjainya.
Yuri pun menyeringai tanpa di ketahui oleh Pak Surya, dia melihat Himawari yang sudah terpojok akan segera mendapat hukuman .
Merasa puas dan sangat lega sekali, tinggal menunggu hukuman apa yang akan di berikan Pak Surya kepadanya.
Beberapa menit kemudian Himawari tampak mengelilingi lapangan sepak bola, beberapa kali dia pun berlari hampir sampai tiga puluh putaran,tampak sangat kelelahan padahal jika seorang atlet sepak bola sedang melakukan pemanasan tak sampai sebanyak itu.
Setelah menyelesaikan hukumannya dia amat letih, dan ingin berteriak sekencang-kencang nya mengumpat kesialan yang sedang terjadi kepadanya, terlebih lagi jika saat dia bertemu dengan gadis bernama Yuri itu,dari kejauhan Yuri menyeringai sangat menikmati ,dan Pak Surya mengamati berdiri dan menyilangkan tangannya agar tahu kalau Himawari sedang melaksanakan hukumannya.
Beberapa menit Himawari ambruk ia pingsan dia pun di gendong seorang pria,dia berlarian bersusah payah menuju UKS Sekolah,mulai merebahkan tubuh kecilnya Himawari penuh peluh di sekujur tubuhnya, pipinya itu tampak bewarna kemerahan karena terkena sengatan sinar mentari.Himawari sudah berada di atas kasur berukuran kecil,pria itu melepas sepatu Himawari nampak kaki kecilnya sudah lecet dan juga berdarah, dia memberinya obat juga memasang plester agar lukanya tak terkena debu.Beberapa kali ia melihat Himawari yang pingsan dengan tatapan teduh. Dia pun akan mencari cara untuk membalas Yuri agar tahu kesalahannya telah menyakiti gadis yang tak bersalah ini.
Himawari pingsan sudah beberapa jam, dan ahirnya dia pun membuka kelopak matanya dengan perlahan-lahan.
Ternyata tak ada siapapun selain dirinya di UKS Himawari melihat kaki nya terluka dan sudah ada yang merawatnya.
__ADS_1
Dia menyeringai ,meringis kesakitan semua badanya terasa remuk redam ,karena setelah mengitari beberapa kali lapangan sepak bola.
"Siapa yang merawatku?,kenapa aku sudah ada disini?" Gumam Himawari dia pun duduk di samping kasur berukuran kecil itu.
Beberapa menit kemudian Shakira pun sudah masuk berhambur, duduk di depan Himawari.
"Kenapa kau bisa pingsan?,aku dengar kau itu dapat hukuman?"Shakira mulai menatap lekat wajah sahabatnya itu, dan dia memperhatikan kaki Himawari memakai plester kecil.
"Iya seperti biasa, Yuri selalu mengerjaiku." gerutu Himawari dengan kesal lalu ia tampak lesu dan tak bersemangat.
"Kau tak melihat siapa yang membawaku ke sini?" Himawari melihat ke segala arah,dan celingukkan berharap ada seseorang yang sudah berbaik hati membawanya ke UKS .
"Ehm, tidak tahu tapi banyak murid sedang membicarakanmu tadi?" Shakira memeluk tubuh kecil Himawari,kemudian dia mengelus punggungnya agar bersabar.
"Biarkan, aku sangat muak bagaimana kalau habis ini kita ke pantai ingin sekali aku teriak dan mengumpat!" Himawari pun sangat kesal hari ini padahal tadi saat akan berangkat ke sekolah tidak ada apa-apa,namun setelah apa yang terjadi pagi tadi dia muak ingin segera pulang dari sekolah .
"Bentar lagi masih ada beberapa pelajaran, baru pulangnya kita melihat sunset." Shakira melihat wajahnya Himawari nampak sangat sedih sekali, dia merasa hidup ini sangat tak adil baginya.Kenapa setiap kesalahan yang tak di lakukan olehnya malah mendapatkan hukuman berat berakhir sampai pingsan.
__ADS_1
Beberapa jam sudah berlalu Himawari hanya mengikuti sisa pelajaran yang ada, setelah dia mendapat hukuman dari Pak Surya dan telah membuatnya pingsan sangat lama sekali, tapi sekarang sudah pukul 14.00 wib, dimana saat ini semua murid mengakhiri pelajaran,mereka sangat senang bisa pulang. Himawari masih sangat ingin berteriak muak dengan Yuri, dia memandang dengan angkuh meninggalkan Himawari di dalam kelas. Yuri mengabaikan dan pulang dengan seenaknya.
"Kau sudah baikan?" Kak Langit berdiri tepat di samping Himawari menanyakan kabarnya.
"Sudah Kak, namun tidak dengan perasaanku aku sangat muak." Himawari bergumam dia amat kesal dengan perlakuan Yuri.
"Sudahlah, yang penting kau sudah baikkan." Kak Langit menenangkan Himawari dengan tersenyum, sambil menepuk pundaknya dan pelan saja.
"Aku akan ke pantai Kakak ikut?" Himawari mengajak Kak Langit pergi ke pantai.
"Boleh, tapi dengan siapa saja?" jawab dari Kak Langit pada Himawari sambil menatap.
"Mungkin dengan Shakira dan Kak Bryan juga atau bersama-sama ,akan lebih ramai." sambil tersenyum merasa agak baikkan karena akan pergi ke pantai, Himawari berniat akan teriak dan mengumpat di pantai nantinya dengan bebas, karena suaranya tidak akan terdengar hanya deburan ombak yang akan mendengar.
Kakak Langit diam mendengar ucapan dari Himawari ,karena jika ada Kakak Bryan dia tak berani ikut serta takut nanti ada perkelahian.
Bersambung...
__ADS_1