
Hari ini adalah hari yang sudah kunantikan sejak dua tahun yang lalu, sejak Gita pergi melawan komanya, sejak aku berjanji untuk memberikan kebahagiaan padanya, meskipun akhirnya aku memberikan luka saat itu.
Terimakasih tuhan kau masih memberikan aku kesempatan untuk membahagiakannya
Terimakasih Gita kau masih memberikan kesempatan untuk mencintaimu, memilikimu seutuhnya, aku berjanji tidak akan pernah membuatmu bersedih lagi.
Aku bahagia ketika setiap pagi akan selalu melihatmu
Aku bahagia ketika setiap detik aku selalu memelukmu
i love you Gita
- By Alam -
Alam menatap dirinya di depan kaca. Hari ini dia akan mengikrarkan janji sehidup semati pada Gita. Hari yang sudah lama dia tunggu sejak dua tahun yang lalu. Alam menyeka air matanya, sembari menatap langit dari kaca ruangannya.
Di sebuah taman dekat pantai terdapat keramaian. Pesta resepsi pernikahan Gita dan Alam akan di gelar hari ini. Semua keluarga berkumpul, Alam dan Gita pun sedang bersiap-siap di kamar mereka masing-masing.
"Bagaimana kak, sudah siap!" kata Roki yang menjadi pendamping kakaknya.
"Deg-degan, Ki." Alam berkali-kali menghembuskan nafasnya.
"Hahahaha, masa yang kedua masih deg-degan."
"Jangan salah nama lagi kayak dulu." goda Roki.
Roki ingat saat Alam mau menikah dengan Dinda malah yang di sebut adalah nama Gita.
"Ingat aja yang itu."
Alam sudah berdiri di depan penghulu. Berkali-kali dia mencoba melepaskan nafasnya.
"Saudara Ronal anda sudah siap." jawab pak penghulu.
"Siap, pak." Alam mulai menjabat tangannya mengikuti instruksi dari penghulu.
"Saudara Ronal wassalam Spencer saya nikahkan kamu dengan putri saya yang bernama Gita Mandasari binti Abdullah. Dengan mas kawin tersebut tunai!"
"Saya terima nikahnya Gita Mandasari binti Abdullah dengan mas kawin tersebut tunai."
Suara lantang terdengar sempurna tanpa ada kesalahan sedikitpun. Terdengar sang pria sangat bersemangat membacanya. Pria itu adalah Ronal wassalam Spencer. Alam bahagia karena akhirnya dia menjadi suami Gita.
"Bagaimana para saksi ... sah" Tanya penghulu kepada para saksi.
"Sah." Jawab para saksi diikuti dengan semua yang hadir.
"Alhamdulillah."
Rasa syukur yang di rasakan Alam karena akhirnya dia bersatu dengan wanita yang dicintainya. Perasaan haru biru yang di rasakan baik Alam maupun Gita.
"Selamat kak, sekarang kakak resmi menjadi suami Gita." Ucap Roki yang menjadi saksi pernikahan mereka.
Alam menemui Papa Bobby Spencer, Yang duduk tak jauh dari Roki. Papa terharu melihat anaknya akhirnya menikahi gadis pujaannya.
"Selamat ya, nak. Papa bangga sama kamu. Sekarang kamu sudah menjadi seorang suami, punya tanggung jawab besar."
Alam menyeka air matanya "Terimakasih,pa."
Sementara di ruangan wanita, Seorang Wanita menggunakan bridal dress tampak duduk menunggu, mendengar proses akad nikah yang berlangsung lancar. Di sampingnya ada dua orang wanita yaitu ibunya dan ibunya Siti.
Gita masih di dalam ruangan menunggu dengan rasa deg-degan. Walaupun dia tahu Ronal atau Alam sudah menjadi suaminya, entah kenapa perasaannya masih tidak karuan.
"Akhirnya anak mama menjadi seorang istri." peluk mama Yulia saat di ruangan menemani Gita.
"Selamat ya Gita, akhirnya kamu menikah dengan Alam." ibu tidak mau ketinggalan memeluk Gita yang sudah seperti anaknya sendiri.
Semua yang datang mengucapkan rasa syukur. Air mata Gita tak henti-hentinya menetes, akhirnya hari yang sudah lama dia nantikan datang juga.
"Gita, sekarang kamu turun menemui suamimu." Panggil Beta saat menjemput Gita yang masih di ruang pengantin.
"Ma." Gita menatap mama Yulia.
"Iya, nak." Mama mengelus kepala putri semata wayangnya.
"Gita gugup, ma." Gita menggenggam erat tangan mama Yulia.
__ADS_1
"Tenang sayang. Kamu tidak usah gugup lagi. Kalian sudah sah."
Saat yang di tunggu, Gita keluar menemui Alam yang sudah berdiri di depan altar resepsi.
Sesuai keinginannya Gita memakai bridal dress. Sengaja Alam membelikan ukuran agak longgar aja Gita tidak merasa sesak. Apalagi dengan kondisi tubuhnya yang berbadan dua. Di bantu para sahabatnya Gita berjalan ke arah tempat resepsi.
Alam menatap takjub saat Gita berjalan kearahnya. Berputar memori kebersamaan mereka saat pertama bertemu hingga saat dia melamar untuk yang kesekian kalinya. Air matanya ikut tumpah, sampai Roki meledek.
"Pengantin kok mewek."
Alam menyikut siku roki, dia malu di ganggu terus oleh adiknya. Roki tertawa "Pengantinnya grogi."
"Ibu datang nggak?" Tanya Alam pada adiknya melihat Mama Marni tidak terlihat.
"Nggak! Dia belum bisa terima kehadiran Gita. Kakak yang sabar,ya. Kalian harus berjuang mencuri hati Mama."
Alam menunduk. Dia setuju dengan Roki, mungkin kalau juniornya sudah lahir ibu akan luluh. Saat yang tiba Gita sudah berada di depannya. Mata mereka bertatapan, raut bahagia terpancar di wajah mereka.
"Cium! cium! cium!" teriak para penonton.
Mereka malu-malu saat semua orang meminta mereka berciuman.
"Udah nggak usah malu, Kan udah sah!" Goda Jonathan.
Tak berapa lama bibir mereka bertautan.
" i love you my wife."
"Love you to husband."
"Ciyeeeee!" sorak para sahabat.
"Kamu mau seperti mereka?" goda Jonathan.
"Nggak!" jawab Siti ketus.
"Kok kamu sekarang ketus sama aku." tanya Jonathan.
Siti berlalu dari hadapan Jonathan. Lalu mengambil makanan di meja perancisan. Ada Ilham yang menyendiri tak jauh dari resort. Siti mendekati Ilham yang sepertinya belum bisa menerima pernikahan Gita.
Ilham kaget ada Siti di sampingnya. Dia malu saat Siti melihatnya dengan mata sembab. Siti tertawa melihat ke kagetan Ilham.
"Pak dokter bisa mewek juga." goda Siti.
"Dokter juga manusia." balas Ilham.
"Iya...iya ... aku kesana dulu, ya. Kamu jangan bunuh diri ya." ledek Siti
Siti berjalan kearah ibu dan Edwar. Dia tidak tahu kalau baju bawahnya agak robek. Reflek Ilham menutup gaun Siti dengan jas nya. Siti seperti tersihir dengan sikap Ilham.
Kenapa aku tidak karuan kalau dia yang mendekat. Ya, Tuhan perasaan apa ini. aku tidak tahu apa yang aku rasakan saat ini, tapi yang aku tahu jantungku berdegup kencang saat di dekatnya. Oh, tidak sadar Siti, kamu siapa, siapa dia, jauuuh bagai langit dan bumi. batin Siti.
Siti memilih pamit dan berterimakasih kepada Ilham. Dia mulai merasa grogi saat didekat lelaki mantan sahabatnya.
"Akhirnya kalian menikah juga." Siti mendekati pengantin baru itu.
Mereka berpelukan " Selamat ya Gita. Akhirnya kita iparan juga."
"Terimakasih,ti."
"Dan kakakku, titip Gita ya. Awas kalau di tinggal lagi, aku orang terdepan yang akan menghajarmu."
Mata mereka saling melirik. Tak ada rasa canggung lagi diantara keduanya untuk memamerkan kemesraan.
"Kamu capek sayang, kita istirahat dulu, ya."
"Nggak kok. Aku masih kuat kok."
"Udah istirahat saja dulu. Kasihan anak kita."
"Anaknya di kasihani, sama mamanya nggak."
Alam menjentik mulut Gita.
Alam menggendong Gita ke dalam ruangan. Dia meminta istrinya untuk istirahat, sementara dia kembali berbaur dengan tamu. Pernikahan mereka bukan pesta besar,
Hanya di hadiri keluarga besar Gunawan, keluarga Sukasari dan keluarga Spencer.
__ADS_1
"Siti kamu temani Gita dikamar ya?" pinta Alam.
"Biar aku saja yang temani Gita." kata Zahra.
Gita merasa sedikit mual. Zahra memberikan minuman air putih kepada Gita. Sesaat Gita merasa mengantuk dan tertidur.
...----------------...
Malam ini adalah malam party, ada BBQ juga. Mereka mengenakan pakaian santai. Alam membangunkan Gita yang masih tertidur. Sudah sejak siang tadi Gita belum bangun.
Mata Gita menggeliat melihat suaminya duduk di dekat ranjang mereka.
"Maaf aku tertidur. Tadi aku merasa mual. Apa acaranya sudah selesai?"
"Sudah. Di luar ada party kecil. Tapi kalau kamu masih capek, kita disini aja, kelonan."
Di dalam ruangan yang sama, Alam dan Gita saling menatap. Tangannya memegang erat jari Gita.
"Kamu bahagia, sayang." Ucap Alam sembari mengecup tangan Gita.
Gita mengangguk. Alam mencium kening Gita begitu lama.
"Terimakasih, sayang. Terimakasih sudah mau menjadi istriku."
"Aku juga terimakasih, kamu mau menikah dengan perempuan penyakitan seperti aku." jawab Gita tak kuasa menahan air matanya.
"Sekarang kita berbaur dengan para tamu." Ucap Gita berdiri menuju kamar mandi.
"Aku bantuin,ya." Alam mengekor Gita ke kamar mandi.
"Udah, sayang aku bisa sendiri kok. Cepat kamu temui mereka nggak enak tuan rumahnya nggak keluar." seru Gita dari kamar mandi.
Seketika kamar mandi gelap. Gita tahu ini kerjaan suaminya.
"Sayang, aku duluan ya." panggil Alam seolah sudah benar-benar keluar.
Selesai mandi Gita seperti ada yang menarik tubuhnya kearah dekat pintu kamar mandinya.
Dengan sigap Gita menendang bagian sensitif suaminya.
"ini buat yang otaknya mesum!"
"Awwww!" Alam menjerit kesakitan
"Iya, aku turun sama mereka!" Alam menutup pintu dengan keras.
Gita dan Alam turun berbaur dengan para tamu, suara ombak pantai membuat acara makin seru. Gita memegang bunga untuk di lempar ke beberapa sahabat dan kerabat yang masih single.
Satu ... dua ... tiga ...
Bunga itu terlempar dan tertangkap oleh seseorang pria.
Siapakah penerima bunga tersebut?
Selesai acara Gita dan Alam duduk berdua menikmati pantai malam.
Kepalanya menyender di bahu Alam, tangan mereka saling menggenggam.
"Sayang, maaf ya soal tadi?" ucap Gita tidak enak sudah menendang suaminya.
"Nggak papa kok sayang. Nanti kan bisa lunaskan malam ini." jawab alam sambil tersenyum nakal.
"Kayaknya kamu harus puasa dulu deh."
"Kok puasa sih? Emang kamu nggak mau menyenangkan suami? Dosa lo."
"Aku baca di internet kalau istri sedang hamil tidak boleh berhubungan badan sampai sembilan bulan di tambah 40 hari setelah istri melahirkan."
"Apaaa!!!"
Seketika Alam pingsan. Gita awalnya merasa itu hanya modus semata. Tapi saat Gita menakut-nakuti alam kalau ada ular di dekatnya, dan suaminya tidak bangun juga. Gita panik lalu meminta Ilham dan Roki membawa Alam ke kamar.
...----------------...
akhirnya mereka sudah resmi menjadi suami istri
maaf kalau visualnya kebanyakan
soalnya author belum punya gambaran wajah boy
jadi pake wajah Alam aja dulu hehehehe
__ADS_1
kalau ada visual nya tidak etis di tampilkan
saya selaku author minta maaf lagi.