
Ayah Sehun dan anggota keluarganya lain termenung, tatapan mereka melirih, sementara Sehun hanya terdiam merasa tidak enak, sampai Ayahnya menyentuh pundak Sehun dan menepuknya pelan penuh perhatian.
“Asal kamu tetap kembali kemari, Appa setuju, tapi...” ucapnya terhenti saat melihat Ibu Sehun yang terlihat begitu sedih, namun ditahannya. “...bagaimana dengan Ibumu?”
Sehun menatap Ibunya yang sembari tadi hanya terdiam, tanpa ikut pembicaraan. Sehun pun mendekati Ibunya, dia menaruh kepalanya di paha sang Ibu, dia terlihat bersungkem pada Ibunya.
“Eomma ya, mian. Tapi jika tidak boleh, aku akan mencoba menjelaskannya pada mereka.” ucap Sehun lirih.
Ibu Sehun menyentuh rambut Sehun dan mengelusnya, air matanya pun terjatuh. Dia mencium rambut Sehun dengan sayang, terdengar isakan tangis Ibu Sehun di telinga Sehun sendiri. Sehun juga ikut *** pakaian Ibunya yang tersentuh dengan sedih.
“Pergilah! Mereka sudah baik terhadapmu. Entahlah jika tidak ada mereka bagaimana keadaanmu sekarang. Kami di sini masih memiliki kakakmu, namun mereka hanya memilikimu saja.” ucap Ibu Sehun terisak-isak, dia pun mengembalikan posisinya, barulah Sehun.
Sehun menatap Ibunya sendu, matanya juga sembab. “Eomma, mian.” ucap Sehun lirih dengan menatap Ibunya yang matanya sudah sangat sembab itu, Ibu Sehun mencoba tersenyum. “Eomma!!” teriak Sehun dan langsung memeluk Ibunya, Ibu Sehun pun juga memeluknya, dia mengusap air matanya, sementara yang lain hanya bisa terdiam.
****
“Pergi?” tanya Jihyo tidak percaya di depan para member EXO 8 pada Sehun.
“Nee.”
“Kamu yakin Sehunie?” tanya Chen yang tidak habis pikir.
“Kamu baru 2 Minggu lho di sini.” perjelas Kai.
“Apa lagi Tao, Lay, Luhan dan Kris akan datang untuk menemuimu.” ucap Suho.
“Dia ingin sekali bertemu denganmu.” tambah Xiumin.
Sementara mereka bertanya-tanya soal alasan Sehun, Chanyeol, Kyungsoo dan Baekhyun hanya terdiam. Bukan tidak ingin mencegah, tapi para member tahu betul jika ada keluarganya di Indonesia, keluarga yang tidak diduga. Apa lagi mereka bertiga tahu jika Sehun memiliki seseorang yang ingin dia perjuangkan.
Tidak lama setelahnya, Kai melihat pada Baekhyun, Chanyeol dan Kyungsoo tidak habis pikir.
“Kalian akan membiarkannya?”
“Kai ya, Sehunie punya kehidupannya sendiri.” ucap Baekhyun.
“Hyung, kalian ini kenapa? Kita baru saja ketemu sama Sehunie kan?”
“Perasaan kita sama, tapi bayangkanlah keluarga Sehunie di Indonesia, untuk pertama kalinya mereka merasa mendapatkan seorang anak, dan bayangkan jika tiba-tiba anak yang dia sangat mereka sayang pergi.” jelas Kyungsoo.
“Lagi pula Sehunie akan kemari setiap bulannya, kan?” tambah Baekhyun, dan itu membuat Kai tambah tidak habis pikir.
Sehun mendekati Kai, kemudian menepuk bahu Kai, Kai pun menoleh, Sehun dapat melihat sikap cengeng Kai datang. Sehun hanya tersenyum, kemudian mendorong dahi Kai dengan telunjuknya.
__ADS_1
“Akh!? Apa-apaan ini?” keluh Kai kesal dengan memegangi dahinya, Sehun pun tersenyum.
“Dasar jomblo!!” ejek Sehun. “Cari istri sana!”
“Lu aja dulu yang nyari!”
“Udah, yeeh.” balas Sehun mengejek dengan menjulurkan sedikit lidahnya, wajah Kai pun memerah karena kesal.
“Pergi sana lu! Jangan balik!” usir Kai, Sehun pun tersenyum.
“Daah, semua.” pamit Sehun.
Para member yang ada pun membalas Sehun, mereka semua mendekati Kai yang sekarang sedang kesal. Chanyeol yang ada di sampingnya pun merangkul Kai, seketika Kai terdiam melihat kepergian Sehun dengan lirih.
****
Sehun duduk di bangku pesawatnya, kali ini Sehun begitu gugup, dia masih trauma dengan kecelakaan pesawat yang pernah dia alami waktu itu. Tangannya menggenggam kuat tangan banggu pesawat, sangat gugup hingga orang dapat menyadarinya.
Beberapa orang mulai berbincang dan berbisik soal ekspresi Sehun kala itu.
“Dia mirip Oh Sehun ah.” ucap seorang gadis.
“Memang, tapi kita tahu kan? Sehunie oppa sudah meninggal.” balas satunya. “Dia tampan.”
“Benar.”
Perbincangan mareka sangat jelas terdengar oleh Sehun, namun Sehun tidak ingin merensponnya. Akan lebih baik jika tidak ada yang mengenalinya, dan biarlah dikatakan kampungan. Kampungankan memang jauh dari Oh Sehun. Sehun juga telah memberitahukan semua orang yang dikenalnya dan bertemu dengannya, agar mereka merahasiakan Sehun yang masih hidup.
****
Sehun turun dari pesawat, dan di tempat penjemputan Pak Husein, Bu Fatimah dan Bu Khodijah sudah menanti, Sehun pun menjadi sangat senang. Sehun menghampiri mereka bertiga dengan senang, Pak Husein memeluk Sehun, barulah Sehun menyalami mereka bertiga.
“Apa kabar kalian semua?” tanya Sehun.
“Baik. Bagaimana dengan kamu sendiri?” tanya Pak Husein balik.
“Alhamdulillah saja baik.” balas Sehun senang. “Oh, iya. Aku kangen shalat sunah bareng kalian lagi.” ucap Sehun.
“Kami juga.” balas Ibu, yang lain hanya tersenyum.
“Mas, Bibi sama Ibu juga masak lho buat kamu.” jelas Bibi.
“Ih, sweet banget.” ucap Sehun terharu.
__ADS_1
“Mas Rehan tau gak? Masa Ibu sempet kepikiran Mas gak akan balik lagi.” ucap Bibi, Sehun pun mengingat kejadian di Korea sana.
“Iya, semua orang menahanku kembali.” ucap Sehun dalam hati lirih.
Sementara itu Ibu menyenggol tangan Bibi agar Bibi tidak melanjutkan ceritanya, Bibi terlalu senang. Namun kesenangan mereka berhenti saat mereka menyadari Sehun yang terdiam.
“Mas kenapa?” tanya Ibu membuyarkan lamunan Sehun, Sehun terkejut.
“I-iya?”
“Kamu kenapa, Han?” tanya Ibu khawatir, Sehun pun menggelengkan kepalanya, dia terlihat berpikir.
“Mm, aku hanya memikirkan bagaimana rasa enak masakan ibu-ibuku yang sangat cantik jelita ini.” ucap Sehun merangkul Ibu dan Bibi dengan senang.
“Hei! Jangan ambil istriku juga!” keluh Pak Husein saat Ibu ikut dirangkul, semuanya pun terjekeh.
“Istri ayah? Mereka kan wanitaku.” ejek Sehun.
“Terus Lara?” goda Pak Husein dan mengejutkan Ibu dan Bibi serta Sehun. Ibu dan Bibi pun melepaskan rangkulan Sehun, mereka menatap Sehun tajam, Pak Husein pun terlihat senang dan Sehun kebalikannya.
“Jadi kamu mentigakan kami?” introgasi Bibi dan Ibu.
“Eh!?”
“Gimana? Cantik gak?” tanya Ibu yang menjadi penasaran dengan semangat.
“Bisa masak? Sayang sama kamu?” tanya Bibi.
“Gak tau.” balas Sehun bingung dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Aih.” keluh Ibu dan Bibi tidak semangat, Sehun pun tersenyum malu.
“Sudah! Sudah! Ayo pulang!” ajak Pak Husein yang tidak habis pikir, Pak Husein melihat pada Sehun. “Ya Allah. Terima kasih. Meski pun kami baru menemukannya saat dia dewasa, namun semenjak kehadirannya, kebahagiaan kembali menyelimuti keluarga kami.”
****
Sehun menunduk sedih dengan merenung saat berbicara dengan Bibi, wajah Bibi juga terlihat penuh ketidakenakan dan kecanggungan.
“Semenjak aku pergi, keadaan Ibu seburuk itukah? Dia benar-benar malas makan?” tanya Sehun merintih dengan melihat Bibi, Bibi pun mengangguk pelan.
“Makanya aku sangat bersyukur mendengar kabar dari kamu yang akan kembali, dia mulai bersemangat, nafsu makannya juga memulih.” jelas Bibi dengan senyum sipit karena masih menyimpan kesedihan. Bibi menyentuh tangan Sehun, Sehun pun menoleh. “Jangan pergi seperti itu lagi!”
“Hmm.” balasan Sehun hanyalah tersenyum, dia tidak tahu harus jawab apa dengan permasalahan kali ini, Bibi juga mengerti masalahnya.
__ADS_1