
Raisa akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuan Gita. Shock! itu yang Gita rasakan saat Raisa memintanya untuk menjaga Ilham.
Jo mengatakan kalau Ilham belum pernah menemui Raisa sejak kejadian di rumah sakit dulu.
"Kejadian apa, Om?"
"Maaf kalau aku cerita sekarang Gita. Sebenarnya Ilham lah yang awalnya ijab Kabul untuk menikahimu, tapi di cegah oleh Raisa." jelas Jo.
"Aku tahu itu, lalu kenapa malah Boy yang menikahiku, Om."
"Saat boy datang kamu drop, semua panik. Mamamu berinisiatif menikahkanmu dengan aku awalnya, tapi aku tolak. Karena ada hati lain yang ku jaga. Makanya akhirnya kamu menikah dengan Boy." kenang Jo.
"Om, sayang sama Siti?"
"Iya, sepertinya begitu. Gita." Jo menunduk malu-malu.
Gita pamit pada Jonathan untuk pulang. Jo menawarkan untuk mengantarkan Gita sampai ke rumah. Mengingat kondisi Gita yang sempat drop saat membawa Raisa ke rumah sakit.
...----------------...
POV Gita
Esoknya
Pulang dari pemakaman Raisa, aku diantar Alam. Entah kenapa aku seperti takut, takut hal itu akan terjadi padaku. Memang, setiap yang bernyawa pasti akan kembali ke pada-Nya. Tapi entah kenapa aku merasa belum siap.
"Yang, kamu dari tadi diam saja." kudengar Alam memanggilku.
"Aku merasa waktu itu semakin dekat."
"Kamu ngomong apa sih, sayang? Setiap yang bernyawa pasti akan kembali ke pada-Nya. Mungkin aja aku yang duluan dari kamu." jelasnya
"Emang kamu sakit apa?"
"Loh, kan namanya umur kita nggak tahu. Tapi sebelum aku mati, aku mau nanti kamu sudah punya teman." Kulihat mimik mukanya mendadak serius.
"Suami baru? Kamu mau nyariin?" celetukku.
Kulihat Alam tertawa "Ngarep banget! Awas kamu nikah lagi, ntar aku gentayangan terus."
"Terus maksudnya apa? Ya, aku kan single wajar cari suami lagi. Kamu aja pas aku meninggal pasti cari istri baru."
"Anak. Dia yang akan menjadi pelindungmu sebagai penggantiku dan aku yakin kalau ada anak kamu tidak akan berpikir untuk menikah lagi."
Rasanya ingin menelan Saliva, anak! kenapa hal ini sangat aku takuti. Kenapa setelah melihat yang terjadi pada Raisa dan ine, rasa takutku semakin bertambah.
Ya, tuhan sepertinya Alam berharap sekali aku bisa memberinya keturunan. Tapi apakah kanker yang kuderita bisa memberinya keturunan.
"Yang, sayang! " tangan Alam melambai di depan mataku.
"Kamu kenapa? dari tadi melamun saja." panggilnya
"Nggak papa. Yuk jalan pulang. Aku lapar."
"Istriku ini ya. Endingnya pasti lapar, okelah tuan putri kita cus. Mau makan apa?"
"Pengen makan lesehan di pantai." usulku siapa tahu di acc.
"Okelah. Kita pergi ke nasi Padang dulu, ya."
"Loh, kok nasi Padang? bukan beli makan di KFC McD atau apa gitu." dia aneh-aneh aja. Ke pantai kok beli nasi padang.
"Kalau ke pantai makan kelapa muda, temannya nasi Padang baru makjos. Udah pokoknya kamu terima beres aja. Sama satu lagi, aku pinjam gitar sama teman kost ku." usulnya.
Aduh, ngapain dia pake bawa gitar segala sih. Emang mau ngamen? Tapi kangen juga liat dia main gitar, terakhir lihat dia main gitar pas di Sukasari.
"Okelah kalau begitu. Tuan putri ikut mau nya kapten saja." jawabku sambil menguwel Pipinya.
Mobil melaju dengan santai, ku pandangi rumah- rumah dan gedung gedung menjulang tinggi. Sebuah kebiasaan lamanya menggenggam tanganku. Dari dulu tak berubah. Ku tatap pria yang ada disampingku, kenapa ya bisa jatuh cinta lagi sama dia?
"Jangan di pandang terus. Nanti jadi rindu! Rindu itu berat! cukup kamu saja yang berat, jangan aku ikutan berat!"
Pluuuukkk! saking kesalnya aku timpuk kepalanya pake tas. Kulihat dia meringis kesakitan. Biarin siapa suruh mancing singa yang sedang tidur. Mataku sepertinya mengantuk.
__ADS_1
"Boleh aku tanya sesuatu?"
"Apa sayang?"
"Hmmm ... seminggu ini kamu tinggal dimana?"
"Pulang ke rumah. Rumah papa Bobby."
"Terus aku kapan di kenalkan ke mereka."
"Loh, bukannya sudah kenal."
"Iya, tapi bukan sebagai Gita tunangannya Alam, tapi sebagai ...."
"Aku tahu kok maksudnya? Akan ada waktunya kita bisa berbaur dengan mereka."
"Kenapa?"
"Sudah pokoknya aku akan bawa kamu sebagai menantu mereka. Kamu yang Sabar ya." Alam mengecup kening Gita.
POV selesai
Gita akhirnya tertidur. Alam mengusap kepala Gita sepanjang perjalanan. Baginya bersatu dengan Gita adalah anugerah terindah yang dimilikinya.
Tiba di pantai Alam membangunkan Gita. Sebelumnya Alam menata tikar lalu mempersiapkan bekal mereka di pantai. Saat Gita terbangun dia melihat sesuatu yang menakjubkan. Makan di pinggir pantai, dengan alunan gitar yang di pegang suaminya.
"Hai nyonya Ronal wassalam, mau request lagu apa?"
"Hmmmm... Apa ya? Gimana kalau lagu kesayangan kamu? masih ingat nggak?"
"Hmmm .... ingat kok. Tapi kamunya duduk disini dong, masa jauh-jauhan."
Gita mendekat kesebelah Alam. Lalu alunan gitar mulai berbunyi.
Suatu hari
Di kala kita duduk ditepi pantai
Burung camar terbang
Bermain diderunya air
Suara alam ini
Hangatkan jiwa kita
Sementara
Sinar surya perlahan mulai tenggelam
Suara gitarmu
Mengalunkan melodi tentang cinta
Ada hati
Membara erat bersatu
Getar seluruh jiwa
Tercurah saat itu
Kemesraan ini
Janganlah cepat berlalu
Kemesraan ini
Inginku kenang selalu
Hatiku damai
__ADS_1
Jiwaku tentram di samping mu
Hatiku damai
Jiwa ku tentram
Bersamamu.
"Apapun yang terjadi diantara kita. jangan ada yang di tutupi lagi, Apapun masalahnya, kita hadapi bersama-sama. Baik buruknya aku dan kamu janganlah jadi alasan untuk sebuah perpisahan."
Walaupun rintangan terberat kita adalah ibuku sendiri. Batin Alam.
Mereka duduk di tepi pantai, melihat indahnya matahari yang akan terbenam. Alam merapat bibirnya ke bibir Gita.
...----------------...
Beberapa hari kemudian
Sebuah berkas di letakkan di tempat tidur Gita. Mama bilang tidak mau membukanya karena takut itu adalah privasi Gita. Dengan pelan-pelan Gita membuka berkas itu.
Sebuah surat dari pengadilan agama Jakarta. Surat yang sudah di tanda tangani oleh Alam. yaitu surat perceraian. Tangan Gita gemetar membacanya.
"Pantas dia kemarin bersikap mesra. Ternyata ini penyebabnya. Mana yang katanya berjuang bersama. Bullshit! pembohong! Dari dulu dia sama saja!" Gita membanting berkas tersebut ke lantai.
Gita pergi ke rumah keluarga Spencer untuk mengembalikan surat perceraian mereka. Tekad Gita bulat, kalau memang Alam mau pisah Gita tidak masalah. Toh dia belum hamil!
Gita terbayang dengan cumbuan Alam saat mereka menginap di tepi pantai. Dia sudah menyerahkan semuanya. Tapi ternyata ini balasan yang dia dapatkan. Gita menghentikan mobilnya dan menangis
sejadi-jadinya.
"Kamu harus kuat, Gita. Kamu bisa kok hidup tanpa dia! Semangat Gita! Semangat!" Gita mencoba menghibur diri. Dia yakin semua pasti berlalu, toh dia juga sudah menandatanganinya.
Tapi sesaat kemudian dia kembali meratapi. Dalam hitungan satu bulan pernikahannya dia harus menjadi janda. Apalagi resepsi pernikahannya tinggal seminggu lagi. Undangan sudah tersebar.
"Kamu gegabah Gita." ucap Beta saat Gita menceritakan masalahnya.
"Ya, dia duluan udah tanda tangan jadi bagiku dia yang memutuskan untuk selesai." jawab Gita
"Mana berkasnya sini aku lihat." Beta meminta berkas perceraian Gita dan Alam.
Beta terbelalak ketika melihat tanda tangan yang terletak di atas materai.
Ini asli tanda tangan Ronal. Astaga tuh orang ya, mau aku pecat jadi saudara. Bagaimana bisa setelah dia berjuang mati-matian mendapatkan Gita kembali, sekarang dia ingin melepaskannya, Maunya apa sih? batin Beta.
"Gimana? Apa yang harus aku lakukan,ta." tanya Gita membuyarkan lamunan Beta.
"Eh, iya gimana ya. Kamu temui dia, bicarakan baik-baik. Soalnya menurut aku masalah kalian rumit. Ingat jangan gegabah."
"Aku takut,Ta." Gita membolak-balikkan tangannya. Tanda kecemasan yang mendalam. Dia takut tidak bisa tegas nantinya, takut kalau akan luluh pada laki-laki itu.
"Kamu yang kuat ya. Ini ujian awal kalian. Jangan cepat goyah, semua masalah pasti ada solusinya." Beta menepuk pundak Gita.
"Bismillahirrahmanirrahim" Gita memberanikan diri mendatangi rumah kediaman Spencer.
tok tok tok
Gita mengetuk pintu rumah kediaman Spencer. Ada mbak Diah pembantu baru di keluarga Spencer.
"Non Gita apa kabar?"
"Alhamdulillah baik, Mbak. Saya mau ketemu Ronal, Mbak."
"Den, Ronal belum pulang dari kantor, non."
"Ya, udah saya titip ini Mbak. Tolong kasih ke orangnya langsung. Jangan kasih ke orang lain. Tante Marni ada?" Gita memberikan map coklat pada Mbak Diah.
"Ibu Marni sedang keluar kota, Mbak. Mbak tunggu aja di kamar den Ronal."
"Nggak Mbak aku masih ada urusan lain. Tolong yang aku titip tadi ya." Gita pamit pada mbak Diah yang sudah satu tahun ini bekerja dengan keluarga itu.
Gita meninggalkan kediaman Spencer dengan perasaan kacau. Dia memilih tidak pulang ke rumah dan menyendiri di pantai.
...----------------...
__ADS_1
Akankah perceraian itu benar-benar terjadi!