Aku Kamu Dan Dia

Aku Kamu Dan Dia
35. Dukungan untuk Gita


__ADS_3

Aku bangun pagi, Seperti biasa aku sholat subuh lalu mengecek handphone. Sebuah mengejutkan dari pesan berantai alumni.


"Assalamualaikum teman-teman


Mohon doanya untuk sahabat kita Gita Mandasari yang sedang terbaring koma di rumah sakit Sarolangun."


Gita? koma? apa yang terjadi? Aku membangunkan suamiku untuk mengabari berita ini.


"Mas bangun! Mas!" aku menggoyangkan tubuh suamiku.


"Ada apa, re?" matanya sedikit menggeliat


"Gita!" jawabku masih syok


"Emang kenapa Gita?" tanya nya masih bingung.


"Gita koma." ucapku mulai tidak bisa menahan air mata.


"Kok bisa? sakit apa?" sepertinya mas Roki lebih kaget dariku.


Aku cuma bisa menggeleng. Dari berita kalo Gita liburan sekarang dia dikabarkan koma. Suamiku menyabarkan aku, karena air mata sudah tumpah. Aku belum sempat minta maaf pada Gita.


"Mas, aku ingin ketemu Gita." isakku dalam pelukan suamiku.


"Iya, nanti kita ke Jambi jenguk Gita." suamiku berdiri keluar kamar memanggil Mama Marni.


Mas Roki menggedor kamar orang tuanya, untuk memberitahu kabar soal Gita. Terlebih mas Roki ingin minta kontak Ronal pada Mama Marni, karena yang Roki dengar Gita sedang dekat dengan Ronal.


Mama Marni kaget mendengar berita ini. Mas Roki mengarahkan untuk sholat subuh bersama untuk mendoakan Gita.


Sekitar satu jam kemudian, Ine dan Beta mengabarkan hal yang sama. Ine menangis mengkhawatirkan Gita. Menurut Beta, Ine sudah lebih dari satu jam menangis. Beta mengatakan sudah capek menyabarkan Ine. Menurut kabar yang mereka dengar, Gita akan di bawa ke Jakarta.


Semua terdiam. Entah apa yang mereka pikirkan, mungkin masih memikirkan Gita. Kudengar suamiku mencoba menelpon Ronal tapi tidak tersambung.


"Kenapa kamu ingin mengabari Ronal?" Tanya Mama Marni


"Ronal kan pacar Gita sekarang Tante." Timpal Ine


"Apa iya?" Mama Marni masih kurang percaya.


"Iya. Mereka kan sekarang di desa suka apa gitu? Pokoknya di Sarolangun."


"Sa.. Sarolangun!" Mama Marni agak terkejut.


"Gita itu orang tuanya siapa?"


"Tante Yulia sama om Abdullah. Yang aku tahu kalo papanya Gita orang sana."


Mama Marni berbalik bertanya pada Tuan Spencer.


"Jangan bilang itu Yulia yang dulu hampir menikah dengan Brian."


"Memang dia, kok." jawab papa Bobby Spencer.


Kulihat mama Marni menelpon seseorang, tak lama menggerutu kalau telponnya tidak diangkat. Papa Bobby mengajak mama kembali ke kamar. Mama masih menangis, entah apa masalahnya.


Hari sudah terang, Ine dan Beta pamit pulang. Mereka bilang akan mengabari kalau Gita sudah sampai. Aku masih belum bisa tenang. Mas Roki bilang hari ini dia izin masuk kantor.


Dia juga mau menunggu kabar tentang Gita.


"Aku tak tahu apakah aku harus sedih atau senang. Yang aku tahu kamu adalah sahabat terbaikku."


...----------------...

__ADS_1


Sore ini keluarga Siti datang ke rumah sakit melihat keadaan Gita. Siti memeluk Mama Yulia yang masih meratapi keadaan Gita. Mereka membacakan ayat-ayat Alquran di dekat Gita.


"Bangun, nak Gita.Ini ada ibu, Siti dan Edwar. Kita main di kolam lagi, nak. Ibu janji tidak mengomelimu lagi kalo Ronal mengapelimu."


Edwar pamit keluar, dia tidak kuat melihat Gita di selingi jarum dan infus. Edwar mengeluarkan rokok tapi di urungkan. Dia baru ingat kalo sudah insyaf ngerokok. Edwar berencana mengabari Ronal, tapi dia kaget menerima pesan dari Alam.


"War, tadi pak Irwan datang melamarkan Dinda untukku."


"Kamu terima tidak."


"Terima."


Edwar mengeluarkan semua sumpah serapahnya pada Alam. Edwar bilang Alam bukan sahabatnya lagi mulai sekarang.


"Maaf jika membuat kamu sedikit cemburu. Tapi mau gimana lagi."


"Semoga yang terjadi pada Gita tidak berbalik kepadamu, lam. Tuhan tidak tidur."


"Emang apa yang terjadi pada Gita?"


Edwar tidak membalas pesan dari Alam. Sejak awal dia sudah mewanti-wanti laki-laki itu untuk menjauhi Gita. Sekarang yang dia takutkan terjadi.


Siti bilang dia sudah mengirimkan video Gita ke Alam. Edwar bilang kepada Siti kalo Alam menerima lamaran dari keluarga Dinda. Siti kaget dengan keputusan Alam. Siti yakin kalo Alam baca video ini keputusannya akan berubah.


"Kalo tidak gimana?"


"Kalo tidak, ya fix dia nggak punya hati."


Tak lama, Siti melihat hp nya berdering. Dari Alam ternyata.


"Apa kubilang, dia masih kepo soal Gita."


"Jangan diangkat!"


"Biar dia telan ludahnya sendiri." timpal Edwar


"Kan dia sendiri yang bilang belum yakin pada Gita." Tambah Edwar.


"Tadi aku dengar, Gita akan di bawa ke Jakarta. Kapan lagi mereka bertemu kalo tidak sekarang." jawab Siti.


Edwar tidak bisa berkata lagi. Kalo memang Alam masih cinta pada Gita seharusnya dia langsung datang.


"Keluar!" suara Mama Yulia terdengar nyaring.


Siti dan Edwar berlari menuju arah suara. Alam di usir dari ruangan Gita. Mama emosi saat Alam datang.


"Anakku seperti ini gara gara kamu! Pergi!" teriak Mama masih terisak menangis.


"Ma, sudah! biarkan dia menemui Gita!" Papa memegang tubuh mama yang sedang mengamuk. Mama melepaskan diri dari genggaman Papa dan mendekati Alam.


Plaaak


Plaaak


Siti dan Edwar yang melihat dari jauh, memegang pipi mereka berasa ikut ditampar.


"Pasti sakit banget, tuh." timpal Siti.


"Kamu ini, saat genting gini masih aja guyon."


Mereka melangkah mendekati Alam masih gelisah melihat kondisi Gita.


"Sakit, ya kak. Makanya jangan mainin perasaan perempuan." ledek Siti lalu meninggalkan Alam yang jongkok di dinding.

__ADS_1


"Udah kamu pulang saja. Tuh kasihan calon istrimu menunggu." Edwar menunjuk Dinda yang ternyata menemani Alam ke rumah sakit.


Di ujung sana Dinda dengan cemas melihat wajah Alam yang kusut. Sesekali laki-laki itu menendang tempat sampah sebagai pelampiasannya.


"Sebegitunya kamu pada Gita, lam. Padahal dia yang menyebabkan semua ini. Apakah kamu benar-benar mencintai Gita, lam."


Dinda beringsut pergi meninggalkan Alam di rumah sakit. Hatinya merasa sakit.


"Mau pulang, kan?" Dinda merasa ada yang menegur


"Iya, war."


"Bareng aja!" Tawar Edwar.


"Hmmmm... boleh." Dinda langsung naik ke motor Edwar.


Motor Edwar melaju cepat. Dinda ketakutan dan menjerit. Edwar tersenyum melihat ketakutan Dinda. Edwar bilang kalau Dinda mau menjerit nggak Papa.


Sementara di rumah sakit. Dokter mulai memindahkan alat-alat Gita. Karena rencananya malam ini Gita langsung di bawa ke Jakarta. Awalnya keluarga akan membawa besok pagi. Tapi entah kenapa mama maksa untuk membawa Gita malam ini.


Saat tempat tidur Gita di bawa keluar, Alam berlari mengejarnya. Dia minta tolong untuk bicara sama Gita untuk yang terakhir kalinya.


Mama mempersilahkan, Ronal berbisik ke telinga Gita.


" I love you, sayang. Kemanapun kamu pergi. Gita dan Alam akan tetap bersatu. Jika tidak sekarang mungkin keturunan kita." bisiknya.


Alam mengecup kening Gita untuk yang terakhir kalinya. Matanya mulai berkaca kembali.


Tanpa mereka sadari tangan Gita mulai bergerak.


Song title - Seluruh nafas ini (last child feat Giselle)


Kita telah lewati


Rasa yang pernah mati


Bukan hal baru


Bila kau tinggalkan aku


Tanpa kita mencari


Jalan untuk kembali


Takdir cinta yang menuntunmu kembali padaku


Di saat ku tertatih (saat ku tertatih)


Tanpa kau disini (tanpa kau di sini)


Kau tetap ku nanti


Demi keyakinan ini


Jika memang kau terlahir


Hanya untukku


Bawalah hatiku dan lekas kembali


Ku nikmati rindu yang datang membunuhku


Untukmu seluruh nafas ini

__ADS_1


__ADS_2