
Seminggu sudah Gita belum juga ada kabar. Semenjak itu, Siti dan Ilham menjadi dekat. Ilham memberikan pekerjaan pada Siti di rumah sakit. Setiap pulang kerja Ilham selalu mengantar Siti. Ibu menegur Siti supaya tidak terlalu dekat dengan Ilham.
Bagi Siti, dia dan Ilham memang tidak ada hubungan apa-apa. Mama beberapa kali menanyakan hubungan Siti dan Ilham, Siti tetap dengan jawaban yang sama, hanya berteman. Sebenarnya Siti sudah menilai kalo Ilham sebenarnya fakboy. Dia terlalu ramah pada wanita, malah ada sebagian wanita yang merasa di beri harapan.
Lalu apa bedanya Ilham dan Ronal. Mereka sama saja. Memberi harapan pada Gita. Lalu perlahan mulai melupakan Gita. Apa semua lelaki begitu?
Ibu berencana pulang ke Sukasari. Siti ingin ikut tapi dia masih menunggu Gita pulang. Siti meminta ibunya agar tidak pulang dulu, sampai Gita di temukan.
"Ibu ingin ketemu cucu ibu,ti." ucap ibu saat Siti memintanya untuk tidak pulang dulu.
"Sabar, dulu, Bu. Siti juga pengen melihat dedek Bella." ucap Siti sambil membereskan piring kotor di dapur.
"Kita pulang, yuk,nak. kan Gita belum pasti kapan resepsinya." bujuk ibu
"Bu, Gita bilang tahun baru dia nikah sama Ilham."
"Tapi sekarang sudah tanggal berapa? Gita belum juga di temukan. Polisi sudah menutup kasusnya. Polisi juga menyatakan Gita kemungkinan bukan di culik melainkan kabur sendiri."
Siti mendengus kesal. Sudah jelas-jelas Gita terakhir bersamanya, kenapa malah hasil penyelidikannya beda. Kalau kata Beta kayaknya ada permainan dari dalam. Siti berencana menjenguk Ronal besok. Siti mencoba istirahat. Tapi dia kepikiran soal Ilham.
Apa iya Ilham itu serius sama Gita. Mungkin aku harus keluar dari pekerjaan ini. Daripada aku dibilang penikung. Ah, Siti kamu kan emang nggak ada perasaan dengan Ilham, jadi kenapa mesti takut?
Pagi ini Siti berencana mengantar ibu ke terminal. Ilham datang menjemput Siti ke kantor. Tapi Siti sudah keburu pergi bersama ibu. Sengaja Siti berangkat cepat, karena jarak terminal jauh dari rumah Gita. Mama tidak bisa mengantarkan ibu karena kondisi Opa yang mulai drop sejak hilangnya Gita. Siti dan ibu naik grab yang sudah di bayar mama Yulia.
Di perjalanan ibu masih terus mewanti-wanti Siti untuk jangan dekat dengan Ilham. Ibu takut Siti jatuh cinta pada Ilham.
"Ingat, nak. Keluarga Gita sudah terlalu baik dengan kita. Jadi jangan rusak kebaikan mereka."
"Siti tahu kok, Bu. Lagian dia bukan tipeku." ucap Siti
Hp Siti bergetar. Ada pesan dari Ilham. Siti mencoba mengabaikan pesan tersebut. Sampai di terminal Siti langsung mengurus tiket. Ibu langsung naik bis, karena bis nya sudah mau berangkat. Siti mencium tangan ibu.
Siti langsung pesan grab untuk menjenguk Ronal di penjara daerah Kemayoran. Sebagai keluarga Siti juga prihatin dengan permasalahan yang dihadapi oleh Ronal. Siti kaget melihat perubahan tubuh Ronal yang kurus wajah brewok.
"Astaghfirullah, kenapa kurus sekali?"
"Ya, namanya juga di penjara, ti. Gita sudah ketemu belum?" Tanya Ronal.
Siti menggeleng. Siti bercerita kasus Gita di tutup karena tidak ada titik terang. Ronal menyalahkan diri sendiri. Siti tidak bisa berkata apa-apa. Siti juga menceritakan kalo Ilham kemakan omongan keisya kalo Gita dan Ronal kabur berdua.
__ADS_1
"Perempuan gila itu! Awas saja nanti kalo aku keluar!" Ronal memukul meja membuat Siti dan penjaga lapas kaget.
...----------------...
Sementara itu Gita dalam perjalanan pulang diantar oleh sopir tuan Bryan. Gita di temani mbak Yani. Awalnya cuma Gita dan sopir saja yang berangkat. Tapi om Bryan minta mbak Yani menemani Gita. menurutnya, tidak bagus perempuan yang bukan muhrim berada di satu ruangan.
Dalam perjalanan Gita memandang rumah rumah vila yang bikin sejuk mata. Terbayang jika dia dan Ilham bulan madu di vila itu. Gita mulai mengantuk dan tertidur. Dalam mimpinya Gita bermain dengan anak kecil yang cantik dan seorang lelaki ikut memeluknya sambil melihat si anak bermain. Gita mengira yang memeluknya adalah Ilham. Tapi ternyata ..... ( tebak sendiri).
Gita terbangun, mereka sudah sampai di Bandung.
"Pak, kita cari makan dulu." kata Gita yang sudah merasa lapar.
"iya, non." jawab pak sopir sambil mencari tempat makanan.
"Disitu saja pak." Tunjuk Gita di sebuah emperan dekat pasar.
Gita langsung melahap ketoprak di Abang gerobak. Pak sopir dan mbak Yani langsung kaget lihat cara makan Gita nggak jaim.
"Maaf mbak ... maaf pak. Aku lapar." ucap Gita yang tidak enak di lihat mbak Yani dan pak sopir.
"Nggak papa non. Perjalanan kita masih jauh soalnya." ucap pak sopir
"Seumur hidup, aku baru pertama kali ke Bandung pak, mbak." ucap Gita senang bisa menginjakkan kaki di Bandung.
Pukul 20:00 mobil sudah memasuki Jakarta. Pak sopir membangunkan Gita untuk menanyakan alamat. Gita menggeliat mata, melihat tugu Monas di depan mata. Gita berteriak senang.
"Yaaaaa, horeeeee, Aku pulang! pulang! pulang!" teriak Gita sambil joget-joget.
Mbak Yani sampai nggak berkedip melihat kehebohan Gita. Gita tidak sabar ingin sampai di rumah, bertemu kedua orangtuanya, bertemu sahabat-sahabatnya, dan bertemu Ilham.
Gita tidak bisa menahan air matanya ketika sampai di depan rumah.
"Assalamualaikum, Maamaaaa!"
Mama mendengar suara panggilan Gita.
Mama Yulia kaget melihat anak semata wayangnya, ada di depan rumah. Tangis haru dari ibu dan anak.
"Kamu sehat kan,nak?" Mama meraba seluruh tubuh Gita memeriksa apakah anaknya terluka.
__ADS_1
"Alhamdulillah, ma. Gita nggak papa. Perkenalkan ini mbak Yani dan pak Yusup, mereka yang sudah merawat Gita."
"Makasih mbak, pak sudah menyelematkan anak saya."
Mama mempersilahkan kedua tamunya masuk. Gita menanyakan ibu dan Siti. Mama bilang Siti mengantarkan ibu nya pulang dan sampai sekarang belum pulang juga.
Malam itu Gita bahagia bisa istirahat di rumah. Keasyikan Gita terusik saat mendengar suara mobil, Gita melihat Siti pulang diantar Ilham.
Gita mencoba untuk positif thinking. Walaupun dia mendapat pemandangan menyakitkan. Tapi kenapa dia susah percaya lagi dengan yang namanya cinta? Semoga yang dia takutkan tidak terjadi.
Aku tahu Ilham. Dia tidak akan mengkhianati cincin yang sudah dia sematkan di jariku.
Aku bahagia bisa pulang ke rumah. Tapi bukan pemandangan ini yang ingin kulihat. Bisakah kalian jelaskan semua ini? Atau ini hanya kecemburuanku semata.
Gita menyeka air matanya. Dia berharap ini cuma perasaannya saja.
Malam itu menjadi pertemuan haru antara Gita dan orangtuanya. Tapi pertemuan yang menyakitkan bagi Gita saat melihat kekasihnya pulang bersama Siti. Gita mencoba pura-pura tidak tahu.
Siti sampai di kamar dan menghidupkan lampu. Siti kaget melihat Gita tertidur di kamar. Lalu memeluk Gita dengan tangisan bahagia. Gita terbangun melihat Siti memeluknya.
"Ini benar kamu kan, Git?" tanya Siti masih tidak percaya kalau sahabatnya sudah kembali. Gita mengangguk. Lalu Siti kembali memeluk Gita dengan perasaan haru.
Gita masih terpaku dengan apa yang dia lihat tadi. Mencoba menyembunyikan perasaan ternyata tidak mudah, sama seperti dia menyembunyikan kalau sudah mengingat semuanya.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Siti.
"Siti, biarkan Gita istirahat dulu. Kasihan dia kecapekan." mama muncul di pintu kamar Gita.
Malam itu Gita dan Siti tidak bisa tidur. Gita bercerita kalau dia diselamatkan oleh seorang lelaki tua, seumuran Papanya. Gita menanyakan apa yang terjadi selama dia tidak disini? Siti belum bisa bercerita banyak tentang masalah Gita dan Ilham.
"Tanya saja dengan Ilham?" jawab Siti
"Aku kan bertanya padamu, Siti. Apa yang kamu sembunyikan dariku?" Gita kesal dengan jawaban Siti.
"Besok aku jelaskan, Gita. Rumit kalau aku jelaskan sekarang."
Siti tertidur. Tapi tidak dengan Gita, matanya susah terpejam. Seandainya ada hp, mungkin dia bisa menelpon Ilham. Gita melihat hp Siti dan mencoba menghubungi Ilham.
Gita tertegun melihat photo selfie Ilham dan Siti di laman galeri hp Siti. Gita mencoba menelpon Ilham.
__ADS_1
"Hai, Siti kenapa? Pasti nggak bisa tidur, ya? Sama aku juga tidak bisa tidur."
Gita kaget cara Ilham bicara dengan Siti berbeda. Dia memilih diam mendengarkan suara Ilham yang dirindukannya. Perasaannya terasa sakit, sama sakitnya saat dia mendengar Ronal menikahi Dinda.