
"Ti, Aku boleh nanya sesuatu?" ucap Gita saat membantu ibu mencabut daun singkong.
"Soal apa?"
"Soal Alam."
Siti menghentikan aktivitasnya saat mendengar nama itu.
"Kenapa?" Siti balik bertanya.
"Waktu kita di Jakarta, kamu bilang Alam sudah kembali?"
"Katanya sih begitu." Ucap Siti.
"Sekarang dia dimana?"
"Nggak tahu, Git. Kenapa kamu sepertinya kepo soal Alam?"
Gita teringat Siti pernah bilang hubungan Edwar dan Dinda berakhir karena Alam sudah kembali. Tapi sampai sekarang Gita belum melihat seperti apa sosok Alam sekarang.
"Nggak papa. Nanya aja." jawabnya singkat.
Sementara Alam dan Edwar pergi menemui orang yang pernah melihat bibi. Menurut keterangan bibi pergi ke arah kebun Selatan. Alam teringat kebun Selatan adalah kebun milik Paman. Alam menyesal kenapa dia tidak berpikir soal kebun itu.
Bersama Edwar mereka pergi ke kebun yang dimaksud. Alam melihat ada sebuah rumah kecil. Ada bekas perapian dan kuburan. Kuburan?
"Kuburan siapa ini?" tanya Alam dalam hati.
Tak ada nama di nisan tersebut. Edwar berteriak memanggil Alam. Alam masuk dalam gubuk melihat bibinya pingsan di dekat tungku masak. Wajah bibi sudah banyak keriput. Beda dengan waktu 8 tahun yang Lalu, apalagi usia bibi lebih muda dari ibunya.
"Cepat panggil ambulans." teriak Alam panik.
"Bagaimana kita mau panggil ambulans? ini hutan, lam!" protes Edwar.
"Pokoknya hubungi siapa kek! orang-orang terdekat!" ucap Alam
"Coba minta tolong dengan ayahnya Dinda!" Edwar teringat kalo ayah Dinda sangat di percaya di kampung ini.
"Jangan! aku sudah malas berurusan dengan mereka." tolak Alam.
"Buang egomu, lam. ini soal bibi! Kamu mau bibi kenapa-kenapa?" gertak Edwar.
Alam akhirnya mengalah. Dia minta Edwar minta pertolongan pada Irwan, namun saat mereka keluar gubuk ada warga yang sedang melintas. Para pekerja berbondong-bondong mengangkat bibi sampai ke jalan besar. Tak lama ambulans datang, bibi langsung ditangani oleh petugas. Alam mengucapkan terima kasih pada orang-orang yang membantu dirinya.
Alam melihat tubuh bibi yang sudah lusuh. Dulu, bibi sangat bersih orangnya, pesolek, tapi tidak pemalas. Bahkan bibi sering mengajari Dinda jahit, masak dan dandan. Bibi dan Dinda sangat dekat, sama seperti Dinda dengan keluarga Edwar.
Sekitar 4 hari bibi di rumah sakit Sarolangun. karena Sukasari cuma punya puskesmas. Tak lama bibi sadar, bibi kaget saat melihat dirinya di temani seorang pemuda.
"Si.. siapa kamu?"
"bibi sudah sadar. Alhamdulillah."
"Siapa kamu?"
"bi, ini aku, Alam wassalam, anaknya Marni."
"Tidak mungkin! Alam anakku sudah meninggal."
"bi, aku masih hidup! Aku sudah lama mencari kalian!"
Bibi mengelus wajah yang katanya ponakannya.
"Benarkah ini kamu,nak." Wajahnya mulai menampakkan air matanya.
__ADS_1
Bibi memeluk Alam " Alamku sudah kembali,nak."
"Tolong balaskan semuanya pada keluarga Irwan."
"Bibi jangan pikirkan soal balas membalas dulu. Pikirkan kesehatan bibi."
"Kamu bingung kan kenapa, bibi minta balas dendam."
Alam tidak mengerti kenapa bibi sedari tadi ingin membalas ke keluarga Irwan. Banyak ingin Alam tanyakan, termasuk keberadaan Paman Toni. Alam membawa bibi pulang ke rumah lama. Alam mengundang keluarga Siti termasuk Gita untuk menemani bibi. Alam memperkenalkan Gita sebagai calon istrinya pada bibi. Pada Alam bibi mengatakan lebih suka Siti daripada Gita. Alam minta pada bibi untuk mengenal Gita terlebih dahulu.
Sore ini bibi memasak gulai yang banyak
"Banyak sekali,bi. Kita cuma berdua, Lo."
"Buat Siti dan ibunya."
"Buat Gita juga,kan, bi." bibi mengangguk.
Alam membantu bibi memindahkan lauk pauk ke rantang untuk diantar ke rumah Siti. Berharap bisa ngapel Gita sekalian. Tapi bibi mengingatkan kalau Alam harus kembali ke rumah secepatnya.
"Ah, bibi kayak nggak pernah muda aja." Gerutu Alam dalam hati.
...----------------...
Sementara itu di rumah Siti ada kerumunan massa. Mereka minta Siti dan keluarganya mengusir Gita. Karena jejak kelam Gita di desa Sukasari. Mereka menyeret dengan kasar. Alam membela Gita.
"Hey! kamu orang baru! jangan ikut campur urusan desa kami!" Teriak salah satu warga.
"Tapi dia perempuan. Jangan kasar dengan wanita." balas Alam emosi.
"Pezinah seperti dia, tidak patut di kasihani." Teriak warga lainnya.
"Sudah! jangan dengarkan dia! kita bawa wanita ini ke balai warga! Kita bakar dia supaya tidak mengotori kampung ini lagi!" teriak para warga.
Warga yang percaya dengan informasi itu lantas merusak rumah depan dengan cara melempari seluruh kaca jendela dengan batu hingga berantakan.
Mereka menyeret Gita dengan kasar. seperti menyeret binatang. Alam dan Edwar mengejar Gita yang gotong warga. Alam menangis melihat Gita yang sudah pingsan masih diperlakukan kasar.
Mereka membawa Gita di balai warga, sepertinya Gita akan di bakar! karena perapian sudah siap.
"Apa apaan ini! Kalian tidak manusiawi!" teriak Edwar.
"Kubilang diam! atau kamu mau ikut kami bakar!" amuk salah seorang warga.
"Gita bangun! bangun!" Alam terus menggoyangkan tubuh Gita.
Para warga makin banyak berkumpul melihat adegan tersebut. Bibi yang mendengar hal itu langsung ke balai warga, Memarahi warga yang sudah kerasukan menganiaya Gita.
Alam dan Edwar membawa Gita pulang ke rumah.
Bibi yakin ini adalah kerjaan Irwan. Kenapa Irwan ingin sekali menyingkirkan keluarganya.
Alam menunggu Gita yang berobat ke puskesmas Sukasari. Bibi minta Gita pulang saja ke Jakarta. Gita menolak karena ada yang mau di selesaikan dengan warga Sukasari.
"Dasar keras kepala! Kamu hampir mati masih saja ngeyel!" omel bibi.
Gita hanya diam saja. Entah ini hanya perasaannya saja, Gita menilai kalau bibi tidak menyukainya.
Alam melihat reaksi bibi langsung menengahi. Alam mengajak bibi makan diluar sembari Gita berisitirahat dulu. Alam berbicara dari hati ke hati pada bibi.
"Kenapa bibi begitu sama Gita?" tanya Alam.
"Ya, keras kepala. Di suruh pulang ke Jakarta malah ngeyel!" Ucap bibi masih keadaan kesal.
__ADS_1
Alam menghela nafas. Hubungannya dengan Gita masih ada hambatan. Alam mengira Dinda sudah mundur perlahan, tapi ternyata masalah baru datang.
"Tapi kenapa dia panggil kamu Ronal, bukan Alam." Tanya bibi heran.
Alam tidak bisa menjelaskan pada bibi kalo dia ganti identitas. Walaupun yang terjadi pada dirinya ada campur tangan ibunya. Alam sudah senang bisa berkumpul kembali bersama bibi.
"Bi?" Tanya alam memecah keheningan.
"iya." sahut bibi
"Paman dimana?"Tanya Alam
"Ada di rumah."
"Kenapa dia tidak muncul?"
"Bukankah saat masuk kamu bertemu Pamanmu."
"Tidak ada aku lihat paman." Alam masih belum paham dengan yang dimaksud bibi.
"Nanti kita bertemu. Sekarang kita pulang." ajak bibi.
"Gita gimana, bi."
"Biarkan istirahat, dulu. Lagian dia punya keluarga kan."
"Tapi, Bi." rengek Alam.
"Kamu ini! setiap dekat sama perempuan pasti bucin banget. Nggak sama Dinda, nggak sama Gita. pulang!" paksa bibi.
...----------------...
Apa yang ayah lakukan pada Gita?" ucap Sita saat menemui ayahnya di kebun belakang rumah.
"Ayah hanya menyingkirkan apa yang menjadi penghalang untuk kakakmu."
"Ayah gila!" teriak Sita lalu masuk ke dalam rumah.
Irwan masuk kembali ke rumah. Seketika dia mengurung diri di kamar. Merenung apa yang telah terjadi.
8 tahun yang lalu.
Irwan mendengar kalau Alam kedapatan jatuh ke sawah bersama dengan anak perempuan lain. Irwan tahu ada rasa cemburu yang di rasakan putri sulungnya.
sore itu, dia melihat gadis itu berjalan sendiri.
" Mau kemana dek?" Tanyanya
"Mau ke terminal,pak. Tapi saya nggak tahu jalan." jawab Gita terlihat kebingungan.
"Mau saya antar." tawarnya.
"Saya mau pulang saja, pak." pinta Gita.
"Rumah kamu dimana?"
"Saya cucu pak Taufik,pak."
"Oh, anaknya Dul."
"Iya, pak."
Motor mereka berhenti. Irwan beralasan mencari bengkel pada Gita. Sengaja dia bilang begitu supaya Gita tidak bisa pulang ke Sukasari.
__ADS_1
Esoknya Irwan mendengar kalo Gita di temukan pingsan di lobang ranjau bersama Alam. Bagi Irwan awalnya dia hanya memberi pelajaran untuk Gita, tapi dia merasa satu perangkap langsung lunas berdua. Irwan menganggap kalau Alam di usir, Dinda bisa fokus sama sekolah.