Aku Kamu Dan Dia

Aku Kamu Dan Dia
108. S2: Titik terang kasus boy


__ADS_3

Kemal mendatangi rumah orang tua boy. Rumah dimana dulu tempat mereka berkumpul sebelum boy menjadi seorang penyanyi. Netra nya menitikkan air mata, sahabatnya salah jalan karena pergaulan dunia malam. Walaupun begitu, kemal tak pernah lelah menasihati boy untuk kembali jalan yang benar.


Kakinya terhenti pada semua pondok depan boy, dia ingat Boy sering sekali bermain gitar di pondok itu. Sejak usia SMP, boy sudah punya mimpi menjadi seorang penyanyi besar. Berkat usaha yang tidak sia-sia akhirnya sahabatnya itu membentuk sebuah band kecil.


"Assalamualaikum, makcik." sapa kemal mengetuk pintu rumah orang tua boy.


Terdengar suara membalas salam, pintu terbuka, kemal langsung menyalami wanita paruh baya yang ada di depannya.


"Oh, kau Mal. Apa kabar, nak?" sapa wanita itu


"Baik makcik."


"Masuk mal. Sudah lama kamu tidak kemari sejak boy tidak ada."


"Apa boy tak pernah pulang kesini lagi sejak kecelakaan itu?"


"Dia sudah kembali, mal." jawab makcik


"Kenapa aku tidak pernah tahu? Beberapa hari yang lalu aku menelponnya dia masih di Jakarta."


"Itu ... itu bukan boy, nak." jawab makcik


"Lalu!"


"Itu keponakan makcik yang kecelakaan di tabrak boy. Ibunya minta merubah wajah boy karena dia tidak setuju anaknya kembali dengan pacarnya."


"Pacar? Siapa makcik?"


"Aku tak tahu siapa namanya, Yang pasti makcik berasa melihat boy yang dulu. Anaknya sopan, ramah sama orang tua." Tutur ibunya Boy.


"Jadi dimana boy yang asli sekarang?" tanya kemal.


"Di Belakang. Mari ikut makcik." ibunya boy mengajak kemal ke sebuah perkebunan, ada sebuah nisan yang sudah di beri semen.


ibunya boy mengatakan kalau itu adalah kuburan boy yang sebenarnya. Kemal menelan salivanya, dia sudah memberikan keterangan yang salah pada Zahra. Sampai Zahra nekat ke Indonesia untuk mencari Boy.


"Makcik bisa tolong saya?"


"Soal apa?" tanya ibunya Boy.


Kemal akhirnya menceritakan pada ibunya Boy, terkait boy palsu yang ditangkap. Karena kasus boy di laporkan oleh Zahra kakaknya zafira.


Ibunya tahu betul, kalau selama ini zafira yang mengejar-ngejar boy, bahkan berkali-kali di tolak oleh Boy. Kemal malah menyanggah cerita ibunya boy, yang dia tahu boy memang sengaja mempermainkan zafira supaya zafira sakit hati dan tidak mengusiknya lagi.


Tapi ternyata cerita itu malah dianggap alat untuk membalas dendam oleh Zahra. Padahal Zahra sudah tahu kalau adiknya yang tergila-gila pada boy. Kemal meminta ibunya boy memberi kesaksian pada kedutaan Indonesia dan Malaysia untuk memperjelas masalah ini.


"Saya siap membantu,mal. Saya tahu nak Ronal orang baik. Dia ke Malaysia untuk mendampingi pacarnya kemoterapi di Malaka. Kapan kita akan kesana?"


"Sekarang saja makcik. Saya akan antar kesana." kemal bersiap-siap memanaskan motornya.

__ADS_1


Mereka mengendarai motor untuk berangkat ke kedutaan Indonesia yang berada di Johor. Pikirannya berkecamuk antara merasa bersalah pada Zahra dan Alam.



Sampai disana mereka menunggu, ternyata sangat susah bertemu orang-orang penting. Bahkan harus janjian dulu, buat janji saja harus meninggalkan tanda pengenal.


Zreeeeet zreeeeet zreeeeet


Hp ibunya boy berdering, ternyata dari Mama Marni.


"Kakak bisa tolong aku, tak!" suara Marni seperti habis menangis.


"Apa Marni! Ronal tertembak!" Suara makcik langsung seperti orang terkejut.


"Tolong kasih kesaksian kalau anakku bukan boy!" mohon Marni.


"Iya, aku lagi di KBRI sekarang. Susah sekali bertemu mereka." keluh ibunya boy.


"Di KBRI ada staf yang bernama Daniel. Itu temannya Roki, coba tanya saja. Aku mohon kakak! Demi hidup matinya anakku, dia punya anak istri." mohon Mama Marni.


"Iya, Marni akan aku usahakan." ibunya boy menyudahi telponnya.


klik


Zahra mengamuk saat mendengar penahanan boy di tangguhkan. Dia merasakan perjuangannya untuk kematian adiknya jadi sia-sia.


"Boy!!!!! Kenapa keberuntungan berpihak padamu! Tidak adil! ini tidak adil!"


Zahra terus membanting barang-barang di kost nya. Emosi yang meluap-luap, membuat orang-orang sekitar kost nya jadi takut. Tangannya luka tak membuat emosinya mereda.Zahra mengambil kunci mobil. Melajukan mobilnya untuk ke rumah Gita.


Gita yang bersiap mau kontrol kehamilan ke rumah sakit, tiba-tiba Zahra menawarkan mengantarkan dirinya ke rumah sakit.


"Nah, iya sama Zahra aja." kata Mama Yulia.


"Ya, udah aku sama kak Zahra saja." Gita pamit pada kedua orangtuanya.


Mama berbisik pada Zahra " Tolong antar Gita ke rumah sakit Bhayangkara."


"Baik, Tante."


Zahra pun pamit sama Mama Yulia. senyum mengembang di wajahnya. Mobil melaju ke tujuan, tapi ternyata bukan ke rumah sakit.


Entah kemana Zahra membawa Gita.


"Kak ini mau kemana? Bukannya kita ke rumah sakit." Gita kaget karena rute perjalanan sepertinya ke arah Bogor.


"Kak!!!" Gita terkejut Zahra bawa mobil terlalu kencang. Karena ketakutan Gita memegang sisi baju Zahra.


"Kak?" tiba tiba lamunan Zahra buyar. Ternyata mereka masih di teras rumah Gita.

__ADS_1


Zahra melirik Gita yang sudah membawa minuman ke ruang depan.


"Jadi kontrolnya?" tanya Zahra


"Jadi, minum dulu kak." Gita menawarkan hidangan yang sudah dia sediakan.


Zahra menikmati hidangan yang disajikan Gita. lalu bertanya " Kabar suamimu bagaimana?" Zahra melirik Gita, ingin tahu reaksi wanita disampingnya.


"Nggak tahu, kak. Nggak ada kabar dari mereka." Gita ikut menikmati cemilan cookies coklat.


"Kamu nggak penasaran gitu?"


"Penasaran sih, kak. Tapi aku merasa mereka menutup akses buatku. Mungkin bagi mereka aku tidak penting, karena sejak awal mereka tidak merestui kami."


"Kamu yang sabar, ya Gita." Zahra mengelus pundak Gita.


Sayang, kamu apa kabar? dimana kamu sekarang? kenapa sampai sekarang belum ada beritanya. Semoga kamu tidak papa, firasat ku masih tidak enak.


Gita membuka gawainya, mencari no hp suaminya. Gita Ingin mendengar suaranya itu sudah cukup.


"Nomor yang anda tuju tidak dapat di hubungi"


Gita mencoba menghubungi kembali, tapi ternyata masih dengan ucapan yang sama.


Gita mulai gelisah, dalam pikirannya terjadi sesuatu dengan suaminya atau sedang dengan perempuan lain.


"Kok belum berangkat?" Mama Yulia muncul di tengah-tengah mereka.


"Ma, kok ponsel Alam nggak bisa di hubungi, ya?" Gita mulai menampakan kegelisahannya.


"Ya, kan dia lagi ..." Mama Yulia tidak melanjutkan pembicaraannya.


"Yuk, kak kita pergi?" Gita menarik tangan Zahra


"Mau kemana nak?" panggil Mama.


"Ke dokter, ma." jawab Gita.


Aku mau ke tempat mama Marni, aku ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya. firasat ku tidak enak. Aku tidak perduli kalau mereka mengusirku. Aku cuma ingin tahu kabar suamiku itu saja.


Didalam mobil Gita hanya melamun saja. Bahkan dia tidak menyadari kalau dia sampai di rumah sakit. Gita kaget ini bukan rumah sakit tujuannya. Melainkan rumah sakit Bhayangkara.


"Kita ngapain kesini, kak." tanya Gita heran.


"Kamu yang kuat ya Gita."


"Maksud kakak?" Gita masih belum paham.


Zahra menarik Gita ke sebuah ruangan kamar. Gita masih bingung dengan maksud Zahra. Mata Gita terbelalak melihat pemandangan di depannya. Tubuhnya merasa gemetar, tak lama lemas melanda.

__ADS_1


Bruuuukkk!!!!


__ADS_2