
Sehun terbangun dan dia mendapatkan dirinya di atas sebuah ranjang milik Rumah Sakit. Sehun mencoba membangunkan dirinya dengan perlahan.
“Akh!!” desah Sehun kesakitan, tidak lama setelahnya seorang pria itu membantunya untuk duduk.
Sehun mengalihkan pandangannya pada pria tersebut dan ternyata itu pria dingin yang pernah memperingatkannya, Sehun terkekeh.
“Akh!!” desah Sehun lagi.
“Makanya Kak, jangan banyak gaya dulu!” nasihatnya.
“Kamu yang nolongin aku?”
“Hmm.” balasnya. “Maaf ya, aku gak berani nolongin. Aku juga takut kena pukul juga Kak.” jelasnya merasa bersalah, Sehun tersenyum.
“Mereka liat kamu?” tanya Sehun, pria itu menggelengkan kepala. “Untunglah. Jika mereka sampai melihatmu, aku bisa sangat merasa bersalah padamu.”
“Bersalah? Kakak kan gak ngapainin aku.”
“Mereka ngancem kalo aku sampai bocorin kejadian ini, mereka gak segan-segan lukain keluargaku dan jika sampai kamu juga ketahuan, aku gak yakin kamu bisa selamat semudah itu.” jelas Sehun, pria itu pun terdiam haru, dia terlihat malu.
“Hm, makasih udah cemesin aku Kak.” ucapnya tidak menyangka, Sehun pun tersenyum.
“Eh, kan harusnya aku yang bilang makasih. Kalo gak ada kami, aku gak yakin masih bicara kaya gini sama kamu.” jelas Sehun. “Allah telah memberikan pertolongannya lewat kamu.”
“Kakak islam?”
“Iya. Apa ada yang salah?”
“Gak kok Kak. Cuma langka aja orang Korea agamanya islam.”
“Mm, banyak kok, kalo kamu perhatiin banget. Aku juga dulu malah sempet nyangka gak ada islam di Korea, sebelum aku ketemu dia.” jelas Sehun.
“Dia?? Siapa itu Kak?”
“Seorang gadis yang inginku nikahi.”
“Kakak ingin menikahinya? Kenapa Kakak tidak mencarinya?” tanyanya tidak habis pikir dengan antusias.
“Nah, itu. Aku lagi nyari dia di sini, tapi masalahnya sulit. Aku merasakan jika bumi ini sangat luas saat mencarinya.” jelas Sehun, pria itu pun tersenyum sedikit miris.
“Semangat deh, Kak.”
“Mm.” balas Sehun. “Oh, iya. Siapa nama kamu?”
“Aji.”
__ADS_1
“Namaku...”
“Oh Sehun. Aku tau kok.” ucapnya membuat Sehun terdiam.
“Kamu tau dari mana?” tanya Sehun ragu.
“Kakak EXO kan?” tanyanya, Sehun pun menutup mulutnya.
“Jangan mengatakan EXO! Mereka semua taunya Sehun EXO telah tiada.” bisik Sehun khawatir, pria itu pun terdiam dengan heran.
“Baiklah.”
“Aku Oh Rehan. Panggil aku Rehan atau apalah!” jelas Sehun, pria itu pun tersenyum sempit tidak habis pikir.
“Kakak ini unik. Minta sembunyikan identitas, tapi tetap menggunakan marga Oh.” ucap Aji dalam hatinya.
Tidak lama setelahnya, Bu Fatimah dan Bu Khodijah pun datang, mereka langsung mendatangi Sehun dengan khawatir. Mereka begitu khawatir sampai tidak menyadari adanya Aji di dalam sana, mereka sangat mencemaskan Sehun. Aji pun pergi meninggalkan ruangan dengan salut tidak menyangka.
****
Sehun sedang membaca sebuah buku di kamar yang ada di rumahnya, pria ini hanya bisa duduk di ranjang, tubuhnya masih sakit.
Tok tok!!
“Sayur sop?” tanya Sehun lirih, Bu Fatimah mengangguk dengan membawanya ke arah Sehun.
Bu Fatimah menaruhnya di atas meja. “Lebih tepatnya bubur sayur sop.” perjelas Bu Fatimah dengan sebal, Sehun pun hanya tersenyum. Bu Fatimah menyendok makanan tersebut. “Buka mulutmu!”
Sehun menurut, kemudian melahapnya pelan. “A-a-a!!” keluh Sehun yang merasakan kesakitan.
“Sakit kan?” tanyanya, Sehun pun terdiam. “Baru hari pertama udah kaya gini.” keluh Bu Fatimah.
“Te-tenanglah Bu! Hanya luka kecil kok.”
“Siapa yang ngebuat kamu gini?” tanya Bu Fatimah, Sehun kembali terdiam.
“I-Ibu, sekarang aku merasa baikan kok. Gak sakit kok.”
“Jangan boong!” bentak Bu Fatimah dengan mata yang mulai berkaca.
“Aku...” ucap Sehun. “Ibu mungkin saja mereka khilaf, ja-jadi lupakan saja!” ucap Sehun gugup serba salah.
“Bagaimana jika kamu dilukai lagi? Kamu bisa jawab?” tanya Bu Fatimah dalam kemarahannya karena terlalu menyayangi Sehun, Sehun lagi-lagi diam. “Oke, kalo gak mau jujur. Gampang. Ibu akan minta Mas Husein pindahin kuliah kamu.” ancam Bu Fatimah.
“I-Ibu, Ibu tau betul jika itu kuliah tempat dimana Ayah dan keluarganya secara turun-temurun berkuliah?”
__ADS_1
“Memang benar, tapi untuk saat ini kamu hanya anak Ibu. Lagi pula kamu bukan anak bahkan keluarganya.” ucap Bu Fatimah dalam marahnya, Sehun menjadi diam karena entah mengapa fakta ini menyakiti perasaannya.
“Benar. Di rumah ini, aku itu siapa?” ucap Sehun dalam hatinya dengan sedih.
“Mah!! Kamu ngomong apa sih?” tanya Pak Husein yang baru saja datang dengan tegang dan menekati mereka berdua.
“Fakta kan? Lihat! Dia sudah sangat mandiri, hingga berani berbohong. Dia bahkan menyembunyikan penjahatnya.” ucap Bu Fatimah berteriak dengan matanya yang berkaca akibat tangisannya, dia terlihat sedih.
“Udah Mah!” ucap Pak Husein menenangkan Bu Fatimah dengan memeluknya dari belakang. Awalnya Bu Fatimah memberontak, namun lama-kelamaan Pak Husein berhasil menenangkannya. Tangisan masih ada pada diri Bu Fatimah. “Tenanglah!” ucap Pak Husein lagi, kali ini dengan mengecup rambut Bu Fatimah.
Tidak lama setelah berhasil menenangkan Bu Fatimah, Bu Khodijah datang. Pak Husein pun menyerahkan istrinya pada Bu Khodijah, Bu Khodijah pun membawa Bu Fatimah pergi. Setelah kepergian mereka berdua, Pak Husein beralih pada Sehun, anaknya terdiam menunduk dengan bersedih.
“Jangan dengerin! Apa lagi sampe masukin hati ucapan Ibu barusan.” jelas Pak Husein, Sehun masih diam. “Kamu tau betul dia Cuma gak bisa nerima keadaan yang terjadi sama anaknya ini.” ucap Pak Husein lembut dengan menepuk pelan bahu Sehun, Sehun pun mengangguk dengan sedih. “Dia itu sayangnya berlebihan sama kamu, jadi gitu.”
“Tenang Ayah! Aku tau kok, Ibu sangat menyayangiku.” ucap Sehun mencoba tersenyum.
“Hei! Katakan kenapa tidak ingin memberitahun mereka kepada kami?” tanya Pak Husein dengan semangat.
“Mereka akan mengancam meyakiti kalian semua.”
“Itu hanya ancaman belaka, kamu gak mungkin ketipu, Ayah tau gimana cedasnya kamu dalam mikirin itu. Pasti ada alasan yang lain, katakan apa?” bala Pak Husein yang pada akhirnya membuat Sehun tersenyum tidak habis pikir.
“Ah, baiklah. Aku berpikir mereka masih anak-anak yang ingin memiliki kebebasan dalam dunianya, mereka belum bisa mengerti kehidupan orang dewasa, umurnya aja masih di bawah 20 tahun.” jelas Sehun lirih. “Aku hanya khawatir jika aku ngasih tau, kalian menkarain mereka. Aku tidak ingin menghancurkan masa depannya, mungkin suatu hari nanti mereka akan berubah.” harap Sehun, Pak Husein pun hanya terdiam.
“Hm, aku sangat bangga memiliki anak sepertimu. Teruslah seperti itu! Serahkan Ibu pada Ayahmu ini!” ucap Pak Husein penuh dukungan. “Baiklah. Kenapa kamu nolak pindah kuliah?” tanya Pak Husein lagi, Sehun pun menoleh dengan tersenyum.
“Apakah orang jenis mereka tidak akan aku temui di kuliah baruku?” tanya Sehun, Pak Husein pun terdiam merenung, sebelum akhirnya tersenyum.
“Hm, kamu benar.” Ucap Pak Husein lirih. “Orang yang seperti ini bukan hanya ada di satu tempat, namun dimana-mana. Walau pun kita gak tau mereka ada dimana aja.”
“Selain itu juga, kuliah itu adalah tempt Ayah kuliah dulu dan Ayah menginginkan aku menjadi salah satu lulusannya.” jelas Sehun dengan tersenyum.
“Bahkan kamu masih memikirkanku di saat seperti ini.” haru Pak Husein.
“Hmm.”
“Sudahlah! Kamu lanjutin makannya.” pinta Pak Husein dengan mengambil bubur yang sempat disuapkan pada Sehun. “Mau sendiri atau Ayah suapin?”
“Sendiri aja, Yah. Lagi pula Ayah harus bersih-bersih sebelum tidur.”
“Ya, udah. Ini!” memberikan makananya pada Sehun.
“Makasih.”
“Aku mau mandi. Makanlah dengan tenang!” pinta Pak Husein sebelum pergi meninggalkan kamar. Sehun kembali merenung, dia pun menaruh makananya kembali ke meja. Sehun menidurkan dirinya, sebelum akhirnya menutup matanya dengan tenang.
__ADS_1