Aku Kamu Dan Dia

Aku Kamu Dan Dia
119. Masa-masa awal pernikahan (2) 21+


__ADS_3

Pukul 21:00, Alam pulang kerumahnya. Banyak pekerjaan kantor yang menyitanya, apalagi tadi ada kliennya yang mengajak makan di luar. Dia tak enak menolaknya.


Sambil menenteng kado untuk jenny, Alam di sambut oleh mbak Dia. Sampai di ruang tamu, pemandangan yang dia lihat, ada istrinya yang tertidur di sana. Posisi Gita terduduk sambil menyenderkan kepalanya di pegangan sofa.


"Maaf, den. Saya nggak tega bangunin mbak Gita. Dia semangat nunggu den pulang, padahal lagi kurang sehat."


Alam menoleh ke arah mbak Dia " Kurang sehat?" Yang dia ingat istrinya tadi baik-baik saja.


"Mbak Gita tadi sempat mimisan, den." Tambah mbak Dia.


Alam menatap lekat wajah Gita. Dia merasa bersalah meninggalkan Gita sendirian di rumah. Lalu mengangkat tubuh istrinya masuk ke dalam kamar. Karena kesulitan memegang pintu, dia meminta Mbak Dia untuk membukakan pintu kamar.


Setelah membaringkan Gita di tempat tidur. Alam beralih keluar kamar. Lalu mengetuk kamar Roki untuk memberikan kado buat Jenny. Roki menyambut kakaknya dengan menerima kado yang berukuran besar.


"Makasih kak kadonya." ucap Roki lalu mengajak Alam bicara di teras belakang rumah.


"Kakak kok lama sekali?" tanya Roki.


"Tadi aku menemui Mr. Adam di restoran perusahaan kita. Dia menyetujui permintaan kita soal kerjasama di bidang pariwisata. Jadi dia sekalian ngajak aku dan Nabila makan malam." cerita Alam.


"Hmmm... apa Ken mendatangi kakak tadi?" tanya Roki.


"Iiya, dia minta aku meloloskan perusahaannya untuk bekerja sama. Kamu tahu kan, dia itu mafia, kamu ingat, Ki, papa sempat jatuh sakit gara-gara kerjaan si Ken."


Roki mencoba mengingat, memang Ken dari dulu ahli dalam pekerjaan gelap seperti membuka casino, cabangnya sudah ada di beberapa negara. Bukan itu saja, casino milik Ken juga merangkap tempat plus-plus lengkap dengan wanita malamnya. Roki juga merasa aneh, beberapa aparat hukum belum ada yang berani menangkap sepupunya itu. Sekarang laki-laki itu muncul lagi untuk mengacaukan perusahaan.


Roki juga ingat saat Ken menjual salah satu saham perusahaan Spencer, membuat Papa Bobby jatuh sakit, bersama dengan kecelakaan yang dialami Alam. Ken juga memanfaatkan masalah itu sebagai senjata untuk menjatuhkan perusahaan.


"Dasar muka tembok!" Ucap Roki yang kesal kalau mengingat kelakuan kakak sepupunya.


Alam dan Roki mencium bau masakan wangi dari arah dapur. Diliriknya jam sudah menandakan pukul 22:30. Tanda sudah larut, mereka penasaran siapa malam-malam begini yang masak.


Mereka berjalan ke arah dapur, melihat Gita sedang meracik makanan. Roki paham dan meninggalkan Alam dan Gita.


"Istriku masak apa sih? Wangi banget." Alam muncul sambil memeluk pinggang Gita dari belakang.


"Eh, sayang. Kamu sudah pulang. Aku mau masak ramen. Kamu mau?" Gita menawarkan masakannya sama suaminya.


"Aku sudah kenyang. Tapi klienku ngajak makan malam. Kamu saja yang makan."

__ADS_1


"Oh, jadi tadi pulang malam habis dinner ya? enak dong, dinner sama klien, sama sekretaris yang sexy."


"Cemburu, ya?"


"Nggak, kok. Cuma kesel aja, istrinya dirumah menunggu, suaminya dinner bareng perempuan lain. Semua isteri juga bakal ..."'


Belum sempat Gita melanjutkan ucapannya, Alam mendaratkan ciuman di bibir Gita. Ada perasaan gugup saat suaminya mulai menciumnya.


"Ini sogokan?" Gita melepaskan bibirnya.


Alam tertawa saat melihat istrinya tahu, kalau memang yang dia lakukan memang untuk sogokan.


"Yang, kapan kamu siap?" tiba-tiba Alam bertanya pada Gita.


Gita tahu arah pertanyaan suaminya. Karena sejak keguguran, dia belum memberikan yang di harapkan suaminya. Pelan-pelan Gita melepaskan pelukan Alam. Lalu duduk menyantap ramen yang dia buat tadi.


"Maaf." cuma itu yang bisa Gita katakan.


Dia tahu suaminya sudah kecewa. Gita merasa percuma, karena dokter mengatakan kalau kesempatan dirinya untuk hamil sangat tipis, mengingat kanker yang dia derita sudah menjalar ke seluruh tubuhnya.


"itu kan baru kata dokter, yang penting kita usaha dulu." ucap Alam meyakinkan istrinya yang sudah pesimis.


Alam ingat saat dokter bilang stadium milik Gita sudah turun menjadi stadium dua, sekarang apalagi yang Gita takutkan.


Mama Marni melihat putranya termenung di dekat meja makan. Mencoba mencari tahu apa yang di pikirkan anaknya, tapi sepertinya Alam menghindar dari mamanya. Lalu masuk ke kamar, melihat istrinya sudah tertidur. Rasanya ingin sekali dia memegang tubuh Gita, tapi dia takut Gita kembali menolaknya.


Tak lama Gita berbalik ke arah dirinya. Mereka bertatapan lama.


"Sayang, maaf soal tadi?" ucap Gita masih merasa tidak enak pada suaminya.


"Nggak papa, aku tahu semua butuh kesiapan. Aku tetap menunggu."


"Aku .... aku .. aku siap, yang." Gita menelan salivanya saat mengucapkan kesiapannya pada suaminya.


Apa yang sudah dia ucapkan spontan saja. Dia berharap suaminya tahu, kalau itu sekedar keceplosan.


Ya Allah, kenapa perasaanku tidak karuan. Ya, Allah aku takut. Takut mengecewakan dia, sepertinya Alam masih berharap aku hamil lagi.


"Kamu takut,ya?" Katanya melihat kecemasan istrinya.

__ADS_1


"Eh ... anu ... iya ... eh, tidak." Gita merasa gugup saat Alam mulai melancarkan aksinya.


Tapi terlambat, tubuh Alam sudah melebur dalam dirinya. Rengkuhan demi rengkuhan mereka lewati, membuat Gita melambung, tak ada rasa sakit, seperti saat dulu waktu pertama mereka melakukannya.


"Aku mencintaimu Gita. Dari dulu sejak pertama bertemu di perjodohan, sejak aku melamarmu, sampai hari ini dan selamanya." Bisik alam.


"Kamu siap sayang?" tiba-tiba Gita merasakan sesuatu masuk ke dalam tubuhnya. Tubuh Gita mengerang, seperti listrik yang menyengat dalam tubuhnya.


Dan di tutup oleh ciuman hangat dari keduanya.


"Makasih, sayang." ucap Alam sambil mengecup kening Gita.


klik


Siti pergi jalan-jalan ke taman dekat kostnya. Suasana taman rame karena weekend. Kakinya sedikit berlari untuk berolahraga. Berkeliling sekitar taman, Siti melihat banyak pasangan yang sedang pacaran.


"Jangan di tatap aja, ti. Ntar baper." Sebuah suara datang di belakangnya.


"Om Jo? Ngapain disini?"


"Jalanlah, emang ngapain lagi?" Jawab Jonathan santai.


"Oh." cuma itu yang keluar dari mulut Siti.


"Om sendirian?" tanya Siti


"Sama kamu." Siti terkekeh mendengar jawaban Jonathan.


"Ya, ini kan sekarang. emang di depan Om nggak kelihatan. Maksud aku om kesini sama siapa?"


"Siti!" suara dari jauh memanggil.


"Ilham! Kamu kesini juga?" Siti heran dengan dua pria didepannya yang tiba-tiba muncul di hadapannya.


"Iya! aku tadi ke kostan kamu. Kata mereka kamu ke taman. Makanya aku nyusul."


"Ada apa pagi-pagi nyari aku?"


"Hmmm ... aku ngajak nyari kuliner pagi." jawab Ilham.

__ADS_1


"Heleh! modus kamu, ham. Jangan mau, ti." seloroh Jo.


Siti menatap Jonathan seperti tidak suka laki-laki itu ikut campur. Lalu pergi meninggalkan kedua pria tersebut.


__ADS_2