Aku Kamu Dan Dia

Aku Kamu Dan Dia
147. S2: ulang tahun Gita


__ADS_3

Sehabis surprise ulang tahun Gita, mama Yulia dan Mama Marni berbincang-bincang. Silaturahmi antar besan terlihat baik. Sesekali mama Yulia tertawa mendengar cerita besannya.


"Nggak terasa, ya. Kandungan Gita sudah masuk lima bulan. Berarti dalam kurun waktu empat bulan lagi kita akan jadi kakek nenek." kata mama Marni.


"iya, jeng. nggak terasa. Perasaan baru kemarin lihat Gita dan Alam bersanding, sekarang dah mau punya anak." kenang Mama Yulia sambil menatap putrinya yang duduk di dekat ranjang.


"Jeng ..." panggil Tante Ria yang ikut hadir dalam surprisenya Gita.


Mama Yulia menoleh, membalas senyuman wanita yang sudah berteman dengan dirinya sejak SMA. Tante ria menenggerkan tubuh di dinding. Ada rasa sedih karena sesuatu yang akan di sampaikan sangat sensitif.


"Maaf, Lia. Apakah Gita sakit. Ya, aku tahu kalau Gita sedang hamil. Tapi aku melihat aura wajah Gita bukan aura orang hamil." Tante ria kembali melihat wajah Gita. Aura yang dulu dia lihat sebelum Ine meninggal. Sekarang dia kembali melihatnya dalam diri Gita.


"Iya. Gita kanker mata dan sekarang merambah menjadi kanker otak. Itu juga salahku, awal penderitaan Gita karena salahku." ucap Mama Yulia menunduk.


"Empat tahun yang lalu, Ria. Aku menemukan anakku sekarat karena ulah seseorang. Pada akhirnya kami memindahkan perawatan Gita dari Jambi ke Jakarta. Ada seseorang menawarkan Gita berobat ke Singapura. Tak berapa setelah mengurus segala *****-bengeknya, kami membawa Gita ke Singapura. Sebuah rumah sakit terkenal disana, Gita menjalankan semua pengobatan dari terapi mata, pengobatan kakinya yang lumpuh, semua kami jalani. Hingga kesembuhan itu datang, Gita terus menanyakan keberadaan kekasihnya. Tapi saat dia tahu kekasihnya menikah dengan wanita lain, Gita mengamuk hebat.


Sepanjang hari dia selalu menyakiti diri sendiri. Aku cemas, ria. Sebegitu cintanya Gita pada lelaki itu sampai menyakiti diri sendiri. Saat itu ada dokter Ilham yang mendampingi Gita. Berdasarkan usulan dokter Strom, Gita akhirnya terapi otak, dan sekarang aku baru tahu dokter Strom melakukan terapi otak secara ilegal, efek sampingnya ya yang terjadi pada Gita sekarang.


Ini semua salahku Ria, seandainya terapi itu tidak terjadi, Gita akan tetap sehat."


Tante ria memeluk Mama Yulia yang sudah menangis. Pikirannya menerawang melihat penderitaan yang dialami Gita. Beta sudah banyak menceritakan kisah Gita dan Alam. Ria menyimpulkan mereka tidak salah, semua itu takdir. Ria ingat sejak kecil Gita termasuk anak yang tidak terbuka, suka memendam perasaan ataupun masalah.


"Kamu nggak salah, Lia. Kamu sudah berusaha melakukan yang terbaik untuk Gita. Kalaupun akhirnya Gita tetap sama Ronal, lalu terkena kanker, berarti memang sudah takdirnya begitu"


Tak lama orang-orang sudah pada pulang. Hanya Gita yang sedang duduk merenung di kamar hotel. Sementara suaminya mengantar para tamu sampai di depan pintu hotel.


Hari ini ulang tahunku yang ke 27.


Kata orang ulang tahun itu tambah usia, tapi bagiku ulang tahun ini adalah mundurnya usiaku.


Sejak kanker ini menggerogoti Mata dan kepalaku. Aku tidak pernah lagi berharap ada ulang tahun.


Tidak pernah lagi berharap akan ada pertambahan usia.

__ADS_1


Karena mungkin kematian akan selalu menyapaku setiap saat.


Umur memang tidak ada yang tahu.


Dulu saat belum menikah, dokter memvonis aku cuma bertahan satu tahun.


Tapi sekarang sudah hampir dua tahun aku masih bisa bernafas.


Aku hanya bisa berterimakasih pada Tuhan yang maha esa.


Karena masih diberikan nafas dan kehidupan sampai sekarang.


Memberi orang tua, sahabat dan keluarga yang sayang padaku.


Memberi suami yang mencintaiku.


Dan


Memberi kesempatan untuk merasakan hamil lagi.


Gita berdiri di dekat jendela. Menatap kamar hotel yang sedang dia tempati sekarang. kamar yang memiliki kenangan bersama Ronal. Kamar selalu di pesan Ine tatkala dia ingin menyendiri. Gita menyeka air matanya. Lalu menutup mata, menghirup udara hujan yang sudah turun dengan derasnya.


Sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Gita tahu itu tangan siapa. Tapi dia memilih diam menikmati suasana yang dianggapnya cukup


romantis.


"Sayang...Tolong tutup matanya." bisik Alam.


"lagi?" Alam mengangguk.


Gita kaget mendengar permintaan suaminya, tapi dia tetap menurut.


Sebuah kalung cantik bertengger di leher Gita.

__ADS_1


Alam meminta Gita membuka matanya. Pelan-pelan Gita melihat kaca, sebuah kalung bertanda huruf R. Gita menatap suaminya.


"Kenapa R kan nama depanku G?" Gita masih belum paham.


"Kalau suatu saat kita berjauhan lagi. Kamu ingat kalung ini adalah namaku. Dan aku memakai kalung ini jika merindukanmu." Alam mengeluarkan kalung di lehernya yang memakai nama depan Gita.


"berjauhan?Kamu mau ninggalin aku lagi." Gita mulai tidak suka arah pembicaraan Alam.


"Bukan gitu sayang,?"


"Lalu?"


"Aku mau pulang ke Sukasari. untuk jangka waktu yang tidak di tentukan. Untuk merawat bibi yang sedang sakit."


"Bukankah kamu sudah janji akan membawaku kesana? Kenapa sekarang berubah lagi? atau jangan-jangan itu cuma alasan saja." ucap Gita masih curiga.


"Soalnya... Mama melarang kamu ikut" jawab alam takut-takut.


"Mama Yulia?" Alam mengangguk. Gita kesal kenapa suaminya pake laporan ke mama Yulia.


"Bohong! ini pasti alasan kamu aja, kan. bilang saja kamu mau pulang kesana ketemu kak Dinda. Pokoknya aku ikut!" Gita masih tidak percaya dengan ucapan suaminya.


Alam menjongkok "Gita, bukan itu maksudku. Aku ingin kamu fokus kemo dan kehamilan. biarlah aku yang kesana untuk beberapa hari. Kamu percaya kan sama aku." tetap saja Gita tidak mau mendengar penjelasan Alam.


Hari sudah mulai gelap. Mereka berdua duduk menikmati bintang bertebaran di langit. Alam menatap Gita dengan dekat. Tapi yang di tatap masih sibuk melihat bintang.


"Itu bintang yang paling terang. Berkedip-kedip pasti Chicco. Dia rindu sama kita. Aku juga rindu sama dia. Tenang, nak. Sebentar lagi kita bertemu."


Alam kaget mendengar ucapan Gita. Di peluknya erat-erat tubuh istrinya seakan takut hal itu benar-benar terjadi.


"Sayang, aku mohon jangan bahas soal itu lagi. Beri aku kesempatan untuk membahagiakanmu. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku selama ini. Rasanya sakit setiap kamu membahas soal itu.


ini hari bahagia kamu, jangan membahas hal yang sedih sedih."ucap Alam.

__ADS_1


"Selamat ulang tahun Gita. Aku mencintaimu." Alam mencium bibir Gita dengan lembut. Mereka saling menikmati malam yang indah itu. Tangan Gita memegang erat pinggang Alam. Alam menutup layar kamar dan mematikan lampu.


__ADS_2