Aku Kamu Dan Dia

Aku Kamu Dan Dia
101. S2: Breakfast pagi ini


__ADS_3

Pagi ini Gita terbangun, tak ada Alam di sampingnya. Gita merasa tidak enak dengan ucapannya tadi malam. Mungkinkah suaminya marah padanya. Gita duduk di kasur melihat matahari sudah masuk dalam kamarnya.


Sedikit merasa pusing, Gita memaksakan untuk duduk. Kehamilan ini betul-betul menguras tenaga. Untung saja suaminya si otak mesum nggak minta jatah.


Tok tok tok


Gita berdiri membuka pintu kamar hotel. Ada Siti berdiri di depan kamarnya.


"Gita, ikut aku yuk!" ucap Siti menarik tangannya.


"Kemana?"


"Udah kamu ikut saja." Siti menariknya keluar cottage.


Sampai di luar mata Gita di tutup pakai kain. Perasaan tidak enak melanda pikiran Gita.


"Aku mau diapain sih, ti. Mau di ceburin ke laut." protes Gita.


Gita merasa tangan Siti sudah beda. Seperti tangan lelaki, tapi dia tidak berani protes. Gita pasrah kalau memang dia mau ceburin ke pantai atau ke laut.


"Kita mau kemana sih?" Gita mulai gelisah karena semuanya pada diam.


Saat tali terbuka, Gita melihat kudapan di sebuah meja. Ada suaminya yang membuka tali penutup mata. Takjub, tapi tak bisa berkata apa-apa. Gita duduk berhadapan dengan Alam.



"Kamu suka?"


Gita belum fokus dengan ucapan Alam. Dia masih terpana dengan tatanan breakfast menurutnya sangat romantis. Tiba hidangan di depan mata, Gita tidak bisa menahan bau telur dan kopi. Perutnya mual, Gita berlari memuntahkan isi perutnya.


"Mas, tolong ganti hidangannya istri saya lagi mabuk." panggilnya kepada weatres.


"Kamu mau apa sayang?" tanyanya pada Gita.


"Air putih sama buah saja." pinta Gita yang masih pusing akibat bau telur dan kopi.


Alam tadinya ingin mengajak Gita sarapan romantis. Tapi melihat kondisi Gita yang langsung lemas sehabis muntah, dia tidak tega memaksa istrinya.


"Maaf ya sayang." Gita merasa tidak enak pada suaminya. Gita tahu suaminya sudah susah payah menyiapkan semua ini.


"Nggak papa, sayang. Kamu duduk dulu sambil menunggu pesanan." Alam memapah Gita duduk di kursi.


"Sayang, aku kira kamu masih marah soal .." Gita tidak enak meneruskan ucapannya.


"Soal apa? Soal puasa itu ya? Kesal sih. Tapi ya memang keadaan kamu lagi begini dan aku tidak bisa egois. Demi anak kita."

__ADS_1


"Makasih sayang atas pengertiannya." Gita memegang tangan suaminya.


"Tapi kalau memeluk kamu dan mencium kamu, bolehkan?"


Gita mengangguk. Apapun yang ada dalam dirinya sudah menjadi hak suaminya. Sudah kewajibannya menyenangkan suami, walaupun untuk masalah ranjang dia belum bisa melakukannya.


Alam mendekatkan tubuhnya kearah Gita. Perasaan Gita menjadi tidak karuan. Apalagi saat Alam hendak menciumnya, Gita merasakan kembali mual, dia tidak tahan bau badan suaminya "Kamu belum mandi sayang?"


"Sudah. Sudah wangi ini? Kenapa?"


"Tolong ganti parfumnya. Aku tidak tahan baunya." Gita kembali muntah-muntah.


Alam mengelus dada. Bagaimana dia bisa di dekat istrinya, kalau seperti ini saja sudah bikin Gita mual. Tangannya melirik jam tangan menandakan hari sudah menunjukkan pukul 09:00 pagi.


"Yang ... " Gita melihat suaminya sedari tadi melamun.


"Eh, iya sayang kenapa?"


"Kamu kenapa sih? daritadi melamun." Gita merasa heran melihat tingkah suaminya.


"Nggak papa, kok. Udah selesai belum makannya."


"Tuh, kan kamu lagi mikirin sesuatu deh. Udah tau dari tadi menunya belum datang."


"Sayang! kita pulang yuk. kita lusa mau ke Sukasari." ucap Alam tiba-tiba.


Alam paham. Gita pasti trauma datang kesana sejak kejadian itu. Tapi dia harus menemui bibi, wanita yang sudah membesarkannya. Dia juga ingin memperkenalkan istrinya pada keluarga disana.


"Maaf." tiba-tiba Gita sesenggukan.


Alam memeluk istrinya "Kalau kamu belum siap, Biar aku yang kesana sendiri. Aku masih punya tanggung jawab dengan bibi. Kamu nggak papa kan kalau aku berangkat sendiri."


"Aku ikut. Sebagai istri aku akan selalu disampingmu. Apapun yang terjadi, kamu tidak akan meninggalkan aku kan? Kalau aku di usir lagi, kamu akan membelaku kan?"


"Pasti. Aku tidak akan meninggalkanmu, sayang. Sudah, ya jangan nangis lagi. Ini kan hari bahagia kita." Alam menghapus air mata di wajah Gita.


"Maaf, ya sayang. Sikapku sudah mengacaukan acara kita. Kamu sudah susah payah menyiapkan semua ini. Aku malah mengacaukannya." lagi-lagi Gita merasa tidak enak pada suaminya.


Alam dan Gita berjalan menikmatinya suasana pantai. Tangan mereka selalu berpegangan layaknya orang masih pacaran. Ya, namanya juga pengantin baru lagi sedang masa indahnya.


...----------------...


Sementara itu Siti duduk sendiri di pinggir pantai. Kapanlagi dia bisa menikmati indahnya pantai. Besok dia harus pulang ke Sukasari bersama ibu dan kakaknya. Siti menggunakan kaos sweater rajut merah muda. Matanya berkeliling mencari orang jual makanan. Makanan di cottage sungguh tidak cocok dengan lidahnya.


Seketika matanya melihat Abang jualan kacang tanah rebus. Siti mengambil satu bungkus makanan, lalu merogoh kantongnya.

__ADS_1


"Astaga dompetku tinggal di kamar. Bang, maaf belanjanya nggak jadi, aku nggak bawa dompet."


"Biar aku yang bayar." suara itu mengagetkan Siti.


"Kamu masih disini." tanya Siti kaget.


"Aku dokter, jadi siapa tahu kalau ada apa-apa, aku bisa siaga."


"Takutnya kamu nggak kuat melihat mereka." Siti menatap Alam dan Gita yang asyik berjalan berduaan.


"Aku apa kamu, ti?" jawab Ilham nggak mau kalah.


"Ya, kali aku cemburu liat kakakku sendiri." jawab Siti sewot.


"Makanya cari. Jangan keenakan jomblo." ledek Ilham.


Siti sejenak tertawa, tapi tiba-tiba kelapa jatuh. Ilham reflek mendorong Siti.


"Ma.. makasih.." jawab Siti gugup. Lagi-lagi Ilham menyelamatkannya.


Dari jauh sebuah tatapan kecewa. Melihat adegan itu.


...----------------...


Gita duduk sendiri di tengah pasir pantai. Zahra mendekati Gita yang sedang asyik melihat ombak kecil.


"Kamu bahagia sekali Gita."


"Masa sih kak."


"Aku lihat suamimu orangnya romantis. Peduli sama kamu. Beruntung kamu punya suami seperti dia. Tapi ..."


"Tapi apa kak?"


"Kamu jangan terlena dengan ke romantisan dia. Cowok romantis itu banyak macamnya Gita, romantis karena benar-benar sayang sama kita atau romantis buat topeng doang."


"Saya sudah dengar perjalanan hubungan kalian dari temanmu itu. Saya merasa dia tipe cowok kedua, Gita. Romantis untuk menutupi topeng, kalau dulu dia meninggalkan kamu demi mantannya, bisa jadi suatu saat dia akan melakukan hal yang sama. Saya bilang seperti ini bukan untuk menghasut kamu. Tapi mengajarkan kamu untuk waspada. Kita perempuan, harus kuat jangan lembek."


Gita menunduk. Entah kenapa dia sedikit setuju dengan ucapan Zahra.


Kamu tidak tahu, Gita. Dia bukan suami aslimu.


Dia boy, Lelaki buronan polisi Malaysia


kamu harus hati-hati Gita.

__ADS_1


Dia yang sudah mengambil kesucian adikku.


__ADS_2