
Ilham merasa lelah dan ingin beristirahat. Tapi saat melihat gambar pantai di kalender mejanya, rasa lelahnya hilang. Dia teringat saat bersama dengan Gita di pantai, saat dia mencumbu Gita dengan penuh cinta. Ilham menghela nafas, dia menyesalkan dengan keputusan Gita saat itu.
"Seharusnya tanggal 14 Februari adalah hari kita."
Ilham membuka kotak gaun yang awalnya dia belikan untuk Gita. Sebuah gaun putih yang akan dipakai Gita saat dinner. Tapi, gaun itu tidak sampai ke tangan Gita. Ilham menutup wajahnya di bawah meja. Gita datang untuk membicarakan soal pengobatannya, melihat Ilham seperti lelah dia mencoba menenangkan.
Reflek Ilham memeluk Gita
"Jangan pergi lagi... jangan pergi lagi...!"
"Dokter tidak papa?" suara suster ana mengejutkan Ilham. Ternyata yang dia peluk bukan Gita, melainkan suster Ana. Ternyata kedatangan Gita hanya khayalan Ilham semata.
Ilham menyeka air matanya. "Maaf saya tidak papa. Ada apa?"
"Ini dokter. mbak Gita minta ACC penggantian dokter."
"Ganti dokter?" tanya ilham heran.
"iya, mbak Gita tadi mengajukan surat pengunduran diri sebagai pasien anda di ruang kerja dokter Sasono."
Ilham langsung menuju ruang kerja dokter Sasono. Sayangnya, Gita dan dokter Sasono tidak ada di tempat. Gita pulang bersama Ronal.
"Kamu yakin?" Tanya dokter Sasono.
"Yakin, dok. saya tunggu dokter rekomendasi yang baru."
"Itu siapa?" tanya dokter Sasono melihat Ronal/Alam menunggunya.
"Pacar saya. Saya pamit dulu, Dok." Gita pergi dari hadapan dokter Sasono. Gita sengaja berbohong agar dokter Sasono tidak banyak bertanya.
Gita duduk di McD tidak jauh dari rumah sakit. Dia memijit keningnya, Ronal yang melihat berusaha menghibur Gita. Ronal memakan es krim dan berlagak mengenai wajahnya. Seketika wajah itu membuat Gita tertawa. Gita lalu mencolek wajah Ronal dengan saus tomat.
"Kan ganteng kayak gitu?" celetuk Gita sambil melahap kentang goreng.
"Ehmmm... gentong gentong..." Ronal mencubit pipi Gita.
Aku senang melihatmu tersenyum. Tersenyumlah terus Gita. Jangan ada tangisan lagi di matamu.
Gita memotret wajah Ronal yang penuh es krim dan saus. Lalu membagikan ke sosmednya. Gita tersenyum puas setelah membagikan momen ini. Ronal ke WC untuk membersihkan wajahnya. Dari jauh dia melihat Gita seperti meraba jalan.
"Kamu nggak papa?" Ronal memapah Gita lalu naik mobil.
"Kepalaku sedikit pusing. Kita pulang kak." ajak Gita.
Sebenarnya bukan sekedar pusing. Gita merasa Pandangannya mulai buram lagi.
Ronal menyetir tapi sebelah tangannya menggenggam tangan Gita. Gita tertidur di mobil, Ronal melihat sebuah surat yang terselip di tas Gita.
Saat sampai di rumah, Ronal menggendong Gita sampai ke kamar. Mama masih menyambut Ronal dengan dingin, tapi dia tidak peduli dengan sikap mama Yulia.
Saat di rebahkan Gita menggenggam kuat tangan Ronal.
__ADS_1
"Jangan pergi lagi... jangan pergi lagi...!" Gita mengigau tubuhnya berkeringat.
Ronal duduk di samping Gita. Matanya mulai berkaca-kaca.
Maafkan aku! Maafkan aku! Seharusnya dulu aku mendengar Edwar. Bukan mendengarkan bibi, seharusnya aku ada disampingmu saat itu! aku cinta kamu, Gita. Aku tetap memegang janji kita dulu.
Mama yang melihat dari balik pintu kamar Gita juga tidak bisa menahan air matanya. Seandainya dulu dirinya tak melarang Ronal untuk bertemu Gita, mungkin mereka sudah bahagia.Ronal pamit pulang pada mama Yulia.
Sementara di rumah sakit Ilham mencari kotak gaun yang dia siapkan untuk Gita. Menurut OB Kantor, ada yang melihat Raisa membawanya.
Ilham menemui Raisa, tapi yang di cari sudah Pulang ke rumah.
Raisa mengirimkan pesan pada Ilham "Terimakasih sayang, hadiahnya. cantik gaunnya. Tapi rada kegedean sih, nggak papa nanti minta mama kecilin."
Ilham mendatangi rumah Raisa untuk mengambil paket itu, Raisa datang menggunakan gaun putih. Walaupun agak longgar, tapi Raisa tetap cantik menggunakannya. Mata Ilham sedikit terpesona saat melihatnya.
Ilham mengakui kalo dari segi fisik Raisa lebih cantik dari Gita. Tapi tetap saja, tidak ada yang mengalahkan Gita di hati Ilham.
"Sayang, kok diem aja. Aku cantik nggak sih?"
"Cantik, Gita. Kamu pakai apapun tetap cantik."
Raisa kesal Ilham menyebutkan nama Gita. Dengan gaya manja Raisa duduk di depan teras rumah.
"Bisa nggak sih, sehari saja tidak bahas dia."
"Maaf, sa." ucap Ilham merasa tidak enak pada Raisa.
"Sekarang kamu harus tegas memilih aku atau Gita!"
Raisa pergi meninggalkan Ilham yang masih berdiri di depan rumah.
...----------------...
Pagi ini Gita membuka mata. Matanya berkeliling melihat disekitarnya. Gita baru menyadari kalau sudah dikamarnya. Di liriknya jam tangan yang masih menempel di pergelangan tangannya.
Astaga hampir jam sembilan. Kenapa tidak ada yang membangunkan aku. Hari ini aku ada janji dengan Rere dan Beta. Aduuuh! pasti mereka nunggu deh.
Gita beranjak dari tempat tidurnya, Lalu masuk kamar mandi. Gita teringat mimpinya ada yang menyebut bibirnya, sejenak dia mengabaikan mimpinya dan fokus untuk bersiap-siap.
Selesai mandi, Gita mengecek hp nya. Ada chat dari Alam. "Gita bisakah kita bertemu. Penting!"
"Bukankah hampir tiap hari kita ketemu." balas Gita.
"Aku tunggu di kantin dekat kantor." balas Ronal/Alam.
"Aku ada janji dengan Rere dan Beta. Lain kali saja." tolaknya.
Gita membuka chat dari dokter Sasono. Beliau mengabarkan Ilham menolak penggantian dokter. Gita kesal.
"Dia mau nya apa sih!"
__ADS_1
Gita mau tidak mau menemui Ronal sambil menjemput Beta yang satu kantor dengan Ronal. Beta membatalkan janjinya karena banyak pekerjaan. Mereka tidak tahu, kalo Ronal sengaja memberinya banyak tugas supaya bisa ketemu dengan Gita.
"Ke ruanganku sekarang!" Ajak Ronal.
Gita menurut saja. Mungkin memang ada yang mau di bicarakan. Ronal mengunci ruangan kantornya.
"Duduk!"
"Ada apa sih kak? serius banget."
"Mamaku minta aku nikahi Keisya." Ronal memulai pembicaraan.
"Ya, udah nikahi saja. Kakak harus bertanggung jawab atas kejadian di diskotik itu."
"Tapi, Gita."
"Kenapa? Aku masih jadi ganjalan buat kakak. Apa salahnya sih buka hati untuk wanita lain? move on kak! move on!"
"Kamu minta aku move on. Tapi kamu sendiri juga belum bisa move on dari Ilham." sahut Ronal.
"Ah, kenapa sih? Kita selalu bolak balik bahas ituuu saja!" Gita mulai kesal dan membuka pintu yang terkunci.
"Baik, kalau kamu mau aku nikahi Keisya akan aku lakukan. Tapi jangan harap aku akan mencintai Keisya seperti aku mencintaimu." ucap Ronal saat Gita akan keluar dari ruangannya.
"Berbelit-belit. Jangan libatkan aku terus dalam urusanmu, Alam. Aku capek di cap pembuat masalah dimata Tante Marni. Satu lagi mau kakak cinta atau tidak dengan Keisya itu bukan urusanku." keluh Gita.
Gita keluar dari kantor. Lalu ke rumah sakit untuk membahas penggantian dokter. Hari ini dia sudah dibuat kesal oleh Ronal, sekarang Ilham yang buat ulah.
Gita ingat dia sudah janji dengan Raisa akan menjauhi Ilham, walaupun dia tahu hatinya belum bisa jauh dari Ilham. Tekadnya sudah bulat, dia harus memenuhi janjinya itu.
Brakkk!
"Mau kamu apa sih, ham! Tinggal tanda tangan saja susah banget!" Gita datang ke ruangan kerja Ilham dengan emosi.
"Aku sudah janji sama Mama kamu, Gita. Aku sudah janji dengan beliau untuk membantu menyembuhkanmu." jawab Ilham yang lumayan kaget dengan kedatangan Gita.
"Nggak perlu. Masih ada dokter lain yang lebih berkompeten dari anda. Karena sejak anda menjadi dokter saya, belum ada tindakan untuk pengobatan saya."
"Satu lagi! Bedakan urusan pribadi dengan pekerjaan anda, dokter ilham."
Gita keluar dari ruangan Ilham. Gita merasa kepalanya sedikit pusing. Gita ingat kata dokter Sasono kalau dirinya gampang emosi akan berpengaruh ke otaknya. Karena syaraf matanya sudah mengenai ke saraf otak. Gita mencoba kuat, lalu masuk ke lift untuk bertemu dokter Sasono. Gita pingsan saat sendirian di dalam lift.
Salah seorang operator cctv mengabarkan ada orang pingsan di dalam lift. Para perawat langsung sigap ke lantai yang di tuju. Ilham yang mendengar berita itu langsung sigap. Ilham langsung menggendong Gita menuju ruang perawatan.
"Stadiumnya naik menjadi stadium tiga." jelas dokter Sasono pada Ilham.
"Secepat itukah dok." Ilham cukup kaget dengan pemberitahuan tentang kondisi Gita.
"Ya, karena kamu belum ambil tindakan untuk kemoterapinya. Seharusnya saat ada dokter Jasson kemarin kamu bisa memanfaatkan untuk penyembuhan Gita."
Ilham menatap Gita yang tengah di rawat di ruang ICU.
__ADS_1