Aku Kamu Dan Dia

Aku Kamu Dan Dia
RhnS 13


__ADS_3

Sehun mulai membuka sebuah map yang berisikan data-data tentang Sehun. Sehun pun mengeluarkan salah satunya, dia dapat melihat di kartu identitasnya, dan itu menampakan foto Sehun dengan namanya Oh Sehun.


“Oh Sehun.” ucap Sehun lirih.


Sementara Sehun melihat data-datanya, Pak Husein sedang berbicara dengan polisi.


“Akh!!” keluh Sehun mulai kesakitan, tangannya menjatuhkan semuanya data-datanya. “Akh!” keluh Sehun untuk kedua kalinya. “A....!” teriak Sehun yang kini benar-benar memegangi kepalanya karena sakit.


“Rehan!!” teriak Pak Husein yang terdengar sangat khawatir.


Dengan sakitnya yang terus menyerang, Sehun pun terjatuh karena tidak dapat menyangga tubuhnya. Pak Husein memegangi tubuh Sehun yang tertepar.


“Rehan! Tenangkan dirimu!” pinta Pak Husein berusaha untuk tenang.


“Akh!! Ayah sakit sekali.” keluh Sehun, dia melihat bayangan-bayangan di masa lalunya.


****


Sehun mulai membuka matanya perlahan, dan di sana dia dapat melihat jika Pak Husein, Bu Fatimah dan Bu Khodijah sudah menantikannya siuman. Sehun berusaha terbangun dari tidurannya dengan satu tangan memegangi kepalanya, Ibu pun membantunya terbangan.


“Bagaimana?” tanya Ibu dengan khawatir, Sehun pun tersenyum.


“Jangan khawatir! Aku baik-baik aja kok.” jelas Sehun lirih.


“Apa yang terjadi?” tanya Bibi.


“Aku hanya mengingat sesuatu saja.” jawab Sehun, dan itu membuat semua orang terdiam, Sehun pun menjadi heran. “Hei, ada apa ini? Kenapa kalian sepertinya tidak senang?”


“Entahlah kami harus senang atau tidak. Setelah mengingat semuanya, apakah kamu akan meninggalkan kami?” tanya Ibu yang terlihat sedih.


“Aku tidak akan meninggalkan kalian semua. Meskipun aku sudah ingat soal keluargaku.” jawab Sehun penuh kepercayaan, Ibu dan Bibi pun tersenyum miris.


“Hei! Apa-apaan sih kalian berdua.” keluh Pak Husein. “Anaknya udah mulai sembuh malah kaya gitu.”


Ucap Pak Husein semangat, meskipun Sehun dan yang lain tahu jika itu semangat yang dibuat-buat.


“Terima kasih Ayah.”


****


Sehun tertidur dalam mimpinya dengan nyenyak, dia pun mulai bermimpi.


Sehun melihat seorang gadis berambut pendek bersandar pada lengan kanannya, dia tertidur. Sehun pun memperhatikan gadis itu, dengan bulu mata lentik dan alis yang sejajar, gadis itu terlihat sangat cantik.


“Rehan!” panggil Ibu yang masuk pada mimpinya, Sehun pun terbangun dan melihat Ibu.


“Ibu, udah waktunya shalat ya?” tanya Sehun lirih.


“Iya, tahajud. Kamu mau ikut atau nanti aja shalat Subuh, Ibu kira kamu masih belum siap.”


“Tidak apa Ibu.” ucap Sehun membangunkan dirinya. “Malam ini aku ingin shalatnya sendirian aja Bu, aku mau curhat sama Allah.” jelas Sehun lirih, Ibu pun tersenyum.


“Ya, sudah. Ibu pergi ya.” ucap Ibu berpamitan, Sehun pun mengangguk.


Bu Fatimah akhirnya meninggalkan kamar Sehun, Sehun pun beranjak dari kasurnya, kemudian memasuki kamar mandi untuk berwudhu.


Sehun menggelar sajadah kemudian memakai peci, dia pun melaksanakan shalatnya dengan khusu. Waktu pun berlalu, kini saatnya dia berzikir dan berdoa.


“Ya Allah, tunjukilah hambamu yang sedang tersesat ini ke tempat yang benar. Ya Allah, bantulah aku mengingat seluruh masa laluku. Aku dapat mengingat siapa diriku, namun aku belum mengingat yang lainnya, maka ingatkanlah aku Ya Allah. Amiin.”


****


Keesokan Harinya...


Mereka berempat sudah makan bersama dalam satu meja dengan damai. Dan saat ini yang habis duluan adalah Sehun, Sehun mengusap bibirnya dengan tisu, dia terdiam sejenak.


“Aku ingin ke Korea.” ucap Sehun cepat dengan perasaan tidak enak hati, hal itu pun berhasil membuat mereka semua terdiam.


Ibu menyudahi makannya, dia terlihat penuh tanda tanya. “Kenapa? Apakah kamu telah mengingat orang tuamu, jadi kamu ingin meninggalkan kami?” tanya Ibu yang terdengar sangat marah.


“I-ibu tidak seperti itu...”


“Lalu apa?”


“Sayang, dengerin anak kamu dulu dong!” pinta Ayah mencoba menasehati Ibu, begitu pun Bibi yang mencoba menenangkannya.


“Ya, udah. Ngomong sekarang!” pinta Ibu mengelah.


“Ibu, Ayah dan Bibi. Aku sama sekali gak akan ninggalin kalian. Ya, mungkin aku akan menemui keluargaku, tapi aku juga tidak mungkin melupakan kalian, kalau masalah pada nantinya akan tinggal dimana? Itu dibahas nanti aja. Kalau bisa aku ingin kedua keluargaku hidup berdampingan.”


“Hidup berdampingan itu tipis kemungkinannya, karena kami dan mereka berbeda negara.” balas Pak Husein santai.


“Ayah benar.” setuju Sehun dengan sedih. “Lalu menurut Ayah harus bagaimana?”


“Lihat saja nanti suasananya!” nasihat Pak Husein. “Tapi satu hal, perusahaan dan segelanya, Ayah ingin kamu yang meneruskannya. Dimana pun kamu nanti, berkuliahlah di jurusan kemesinan. Dan setelah kamu mengurus semuanya, tunjukanlah mobil karyamu sendiri.”


Sehun mengangguk dengan haru, Ayah pun mengjancurkan rambut Sehun dengan tersenyum.


****


Setelah 6 tahun lamanya bersama Keluarga Pak Husein, terasa berat untuk Sehun meninggalkan keluarga ini. Dia menatap rumahnya itu sebelum dia pergi bersama Pak Husein. Sehun akan sangat merindukan Bu Fatimah, Bu Khodijah dan tentu Saja Pak Husein.


“Rehan!” panggil Pak Husein, Sehun pun menoleh. "Aku masih bisa mengundangmu dengan Rehan?" tanya Pak Husein ragu, sehun tersenyum dengan berjalan kearahnya.

__ADS_1


“Tentu saja Ayah. Kartu identitasku Sehun, tapi aku Rehan anak Ayah dan Ibu, dan tanteku adalah Bibi." ucap Sehun, itu pun memunculkan senyum di wajah Pak Husein.


Pak Husein memeluk Rehan sayang, Rehan pun peluk balas memeluk.


“Aku sangat bangga padamu Nak.”


“Terima kasih.”


Setelah berpelukan, mereka pun melepaskan mobilnya, yang menyetir adalah Pak Husein, mereka berdua meninggalkan kediaman rumah tersebut.


****


Dalam perjalanan, Sehun terus memandangi keindahan alam, selama dia melakukan perjalanan yang cukup panjang. Cuaca saat itu cukup cerah tanpa awan mendung.


Sehun sangat fokus, namun pikirannya teralihkan oleh penampakan sekelompok orang ya sedang bergunjing.


“Apa yang kamu lihat?” tanya Pak Husein heran.


“Mereka semua.” jawab Sehun lirih.


“Oh, iya. Rehan, sejauh apa kamu bisa mengingatnya?” tanya Pak Husein, Sehun pun menggeleng kepalanya.


“Hanya beberapa, untuk keluarga, kerabat dan sahabat, aku belum ingat.” jawab sehun lirih, Sehun pun terdiam, dia memikirkan sesuatu. “Ayah. Oh Sehun, apa dia artis terkenal?” tanya Sehun tiba-tiba, Pak Husein pun menjadi binggung.


“Maksudmu?"


“Sebelumnya saat bertemu dengan beberapa orang, ada yang mengatakan kalau aku Oh Sehun, sementara aku tidak tahu siapa itu Oh Sehun, dan ternyata itu aku sendiri.”


“Siapa yang mengatakannya?”


“Mungkin anak usia seumuran kurang denganku, gadis remaja dan juga pria.” pikir Sehun, Pak Husein pun berpikir.


“Kamu berasal dari Korea, apa mungkin kamu artis K-Pop."


"K-Pop!?" kejut Sehun. “Apa aku termasuk orang ganteng ya?” tanya Sehun polos.


“Emang kamu ganteng kan?”


“Gak tau, kayanya aku belum ngaca deh.” ucap Sehun dengan nada bercanda, Pak Husein pun menggeleng kepala tidak habis pikir. “Aku akan memeriksanya Ayah.” ucap Sehun yang langsung membuka ponselnya untuk mencari nama Oh Sehun.


Akhirnya Sehun dapat melihat nama beberapa fotonya dan beberapa foto EXO berdua belas. Seketika pandangan Sehun mendingin, dia tiba-tiba merindukan mereka semua.


“Bagaimana?”


“Ini.” Sehun menunjukkan gambar yang bergambarkan EXO berduabelas.


“EXO ??"


“Kenapa?”


“Aku ingat mereka, tapi aku masih belum bisa mengingat kenangan bersama mereka.”


Mendengar nada Sehun yang terdengar sedih, Pak Husein pun menggenggam tangan Sehun untuk menguatkannya.


“Suatu hari nanti, aku yakin kamu bisa mengingatnya.”


"Amiin." ucap Sehun gelisah.


Pandangan Sehun pun terarah pada jendela mobil, dia memperhatikan pemandangan yang akan dilaluinya, hingga Sehun melihat seorang gadis, dia adalah gadis SMA yang pernah ditemui Sehun di Korea pada waktu itu.


Gadis itu menunggu BusWay di Haltenya dengan wajahnya yang terus berpikir keras.


“Ayah, kau punya masker?” tanya Sehun tiba-tiba.


“Ada di laci mobil.”


Sehun pun kemudian mengambil masker dan memakainya, Pak Husein pun menjadi heran.


****


Setelah penungguan beberapa menit di Halte BusWay, BusWay pun datang, semua orang menyiapkan-siapkan diri untuk memasuki BusWay, termasuk gadis SMA itu. Gadis itu membiarkan orang-orang yang lebih tua darinya menaiki BusWay duluan. Seketika saat gadis itu akan menaiki BusWay, seorang pria tinggi menghalanginya.


Gadis itu menoleh, dan ternyata pria itu Sehun yang memakai maskernya. Gadis itu pun memundurkan tubuhnya agar menjauh dari pria itu.


“Permisi!” ucap gadis SMA itu sopan. “Bisakah anda memberikanku jalan untuk menaiki Busnya?”


"Siapa namamu?"


Bukannya menjawab pertanyaan, Sehun malah bertanya balik, tentu saja itu membuat gadis itu bingung dan mulai curiga dengannya.


“Anda siapa? Bertanya tentang namaku secara terus terang.” ucap gadis itu julit.


“Aku fansmu.”


“Gak jelas.” cibir gadis itu. “Tolong berikan jalanku sekarang!” pinta gadis itu dengan nada yang lembut.


“Katakan namamu dulu!”


“Tidak ada nama.” balas gadis itu kesal, Sehun terkekeh.


"Mas, Mbak, permisi. Mau naik gak?" tanya supir BusWay itu.


Supir BusWay itu terlihat sudah menunggu dengan jenuh, Sehun dan gadis itu menoleh pada supir BusWaynya

__ADS_1


"I..."


"Tidak Pak."


Ketika gadis itu akan menjawab iya, Sehun dengan sangat cepat menjawab tidak, BusWay itu pun kembali menancab gasya, kemudian meninggalkan tempat.


Tentu saja hal itu tersebut membuat gadis SMA itu menjadi kesal sangat kesal, terlebih Sehun sudah mengganggunya dari tadi, namun dia menahan amarahnya.


"Tolong katakan! Apa tujuanmu kemari?" tanya gadis itu menahan diri.


“Hanya untuk mengetahui siapa namamu.”


“Apa yang pentingnya untukmu?” tanya gadis itu tidak habis pikir.


“Karena kamu gadis muncul dalam mimpiku, tapi aku tidak mengenalmu.”


Saat Sehun berkata seperti itu, tentu saja gadis itu sangat terkejut dengan apa yang dia dengar dan menambah kekesal gadis itu.


“Ya Tuhan, orang aneh dari mana yang Engkau kirimkan padaku sekarang ini?”


“Rehan!!” panggil seseorang yang ternyata itu adalah Pak Husein yang berlari menghampiri mereka.


“Hai, Ayah,” sapa Sehun tanpa rasa bersalah.


Anak bandel.” ucap Pak Husein kesal dengan mencubit telinga Sehun.


Sehun pun merasakan kesakitan saat Pak Husein mencubit telingannya dan itu cukup membuat gadis terkekeh karena tingkah pria itu seperti kanak-kanak.


Gadis itu menahan kekehannya agar tidak ketahuan, namun Sehun berhasil melihatnya dahulu. Pak Husein melepaskan cubitannya, kemudian melihat pada gadis itu, sementara Sehun masih mengelusi telinganya yang sakit.


"Maafkan anakku ini ya!" pinta Pak Husein malu, gadis itu pun mengangguk.


“Iya, gak apa-apa kok. " ucap gadis itu akan malu-malu.


“Lihatlah! Bicara dengan Ayahku sangat ikhlas, sedangkan denganku?” cibir Sehun.


“Ya Allah, kok, jadi gini ya? " ucap gadis itu dalam hati serba salah.


Gadis itu melirik pada Sehun yang dari tadi melihatinya. "Mata itu, aku sepertinya pernah melihatnya, tapi dimana?” ucap gadis itu dalam hati ragu, pandangannya pun tertuju kembali pada Pak Husein.


“Nak, kami pamit ya.” ucap Pak Husein, gadis itu menganggukan kepalanya, dan saat Pak Huseim akan membawa Sehun, Sehun menolak, dia masih tetap diam dengan manatap gadis itu.


"Namamu?" tanya Sehun lagi.


Gadis itu manarik nafas memegang emosinya. “Lara.”


"Lara." Sehun mengulangi kata gadis tersebut dengan pelan.


Akhirnya Sehun pun menerima kehendak Pak Husein, dia meninggalkan gadis itu bersama Ayah yang membawanya. Gadis itu memperhatikan kepergian pria itu dengan wajah penuh pertanyaan, tidak lama pun BusWay yang lain datang, segeralah dia memasukinya kemudian duduk di salah satu bangkunya.


Sehun kembali duduk di kursi mobil bersama Pak Husein, mobil mereka pun kembali berjalan untuk melanjut perjalanan.


“Rehan, mengapa mengganggu anak itu?” tanya Pak Husein tidak habis pikir.


“Aku senang." jawab Sehun yang sudah membuka maskernya dengan senyum-senyum.


“Di Korea nanti pasti lebih cantik dari dia.”


“Entahlah. Aku senang, aku hanya menyukai gadis itu. Di masa laluku, apakah aku pernah memiliki kekasih atau tidak? Aku pun tidak tahu.”, Pak Husein pun hanya menggelengkan karena tidak mengerti dengan jalan pikiran Sehun yang aneh.


“Kamu yakin menyukainya?” tanya Pak Husein yang masih ragu.


“Kenapa Ayah bertanya seperti itu?”


“Sepertinya gadis itu akan lulus SMA tahun ini, apa dia gak kemudaan?” tanya Pak Husein tidak enak hati, Sehun pun menjadi terdiam kecewa. “Maaf, Ayah gak bermaksud.”


“Tidak, Ayah benar kok.”


“Jangan putus asa! Ayah pasti akan membantumu dengan cara apa pun.” ucap Pak Husein memberikan semangat, Sehun pun tersenyum.


“Terima kasih.”


“Katakan kapan kamu siap melamarnya?” tanya Ayah menggoda, Sehun pun menjadi malu.


“Ayah. Aku malu.” keluh Sehun malu, Pak Husein pun hanya terkekeh melihat ekspresi anaknya ini yang sangat kekanak-kanakan.


****


Sehun duduk di kursi yang ada di pesawat yang dia tumpangi. Sehun memilih pesawat jurusan ekonomi, padahal Pak Husein telah memilih yang lebih berkualitas, namun ditolaknya, sehun berpikir agar lebih hemat. Tidak lama setelah duduk, Sehun membuka ponselnya, dan dia pun mencari video-video EXO di ponselnya, lalu mendengarkannya dengan earphone.


Setelah beberapa jam menaiki pesawat, akhirnya Sehun sampai di Korea. Sehun menaiki mobil yang akan membawanya ke tempat untuk melakukan wajib militer.


Di hari pertama Sehun terlihat syok, karena ini merupakan pengalaman barunya, ini lebih sulit dari pada apa yang pernah di terima. Hari-hari terus berjalan di sana dengan berat tidak berat.


Beberapa Bulan Kemudian.


Sehun tidur di sebuah kamar pengistirahatannya bersama anggotanya yang lain. Tidak lama setelahnya salah satu tentara masuk ruangan, dalam sekejap mereka menjadi sigap.


“Oh Sehun” ucapnya tegas Siap, Pak. Sehun tegas "Ikut denganku! "


"Siap."


Setelah mendengarkan perintah tentara itu, Sehun pun langsung mengikuti jejak tentara tersebut dengan sigap, yang lain hanya memperhatikan kepergian Sehun dengan sebuah pertanyaan. 'Apa yang terjadi?'

__ADS_1


__ADS_2