
POV Gita
Aku membuka mataku sedikit demi sedikit. Silaunya sebuah cahaya memberatkan mataku untuk terbuka. Pelan tapi pasti, aku bisa melihat sedikit demi sedikit.
Sebuah ruangan di penuhi dinding wallpaper bunga. Aku melihat ada jarum yang menempel di tanganku. Apakah dirumah sakit lagi? setelah sekian lama aku tidak berbaring disini. Apa yang terjadi? kenapa aku bisa kembali kesini lagi? Aku menatap kaca yang berada di seberang ranjangku. Rambutku?Kemana rambutku yang indah? Tidak!
Ku tatap wajahku melalui kaca di depan hospital bed. Kepalaku plontos dan wajahku seperti mayat hidup. Rasanya sesak melihat keadaanku sekarang. Ku pegang perut buncitku, menatap pilu pada calon putriku.
Nak, semoga kita bisa tetap bersama ya. Insyaallah, dua bulan lagi kita bertemu. Terimakasih, nak masih bertahan untuk
bunda dan ayah.
POV author
Gita terbangun setelah hampir tiga minggu berjuang melawan maut. Di tatapnya wajahnya yang sudah plontos akibat operasi kanker otaknya. Ada rasa sesak mendera di hatinya. bagaimana tidak, saat terbangun Gita menemukan kenyataan bahwa wajahnya semakin pucat. Matanya melihat di sekelilingnya, mencari orang-orang yang di sayanginya. Tak ada siapapun, bahkan suaminya pun tak ada di sampingnya.
Gita masih sempat bersyukur kalau sang calon anak masih bertahan. Gita memencet tombol memanggil supaya ada yang tahu dirinya sudah bangun.
Sebuah langkah masuk ke ruang rawat Gita. Gita yakin itu yang masuk suaminya. Tapi ternyata dia salah, Ilham datang bersama para suster. Terlihat wajah pria itu kaget melihat Gita menoleh kearah dirinya.
"Alhamdulillah, Gita. Kamu sudah sadar!" seru Ilham memeluk Gita penuh rasa haru.
Ilham dan suster memeriksa Gita. Mengecek keadaan wanita itu, ada binar kebahagiaan terpancar dari wajah Ilham. Bagi Ilham, suatu mukjizat melihat Gita sadar. Karena menurut pantauan dokter Gita tidak akan bisa bangun lagi.
"Ham, mana keluarga yang lain. Mana Alam?"Tanya Gita
Ilham terdiam sejenak. Apakah dia harus jujur pada Gita soal keadaan alam yang juga drop. Apakah dia harus bilang ke Gita kalau alam juga sedang di rawat? Ilham tidak tega menceritakannya.
"Ham!" tanya Gita lagi.
"Alam sedang pulang sebentar. Kamu tunggu saja." Ilham mencoba menenangkan Gita.
__ADS_1
Ya Allah apa yang harus kukatakan pada Gita kalau suaminya juga dirawat dan masih belum sadar. Aku tidak tega mengatakannya. Kamu yang kuat Gita, suamimu juga sedang parah sekarang.
"Alhamdulillah kamu sudah mulai stabil, Gita."
"Alhamdulillah, Gita kamu sudah sadar!" Seru mama Yulia yang masuk ke ruang rawat Gita.
"Paaaaa! Gita sudah sadar, pa." panggil mama pada papa Dul yang sedang diluar.
Kedua suami istri itu langsung memeluk putri semata wayangnya. Ada rasa haru yang mereka rasakan. Mama Yulia menangis bahagia melihat Gita sudah bangun. Begitu juga dengan papa Dul tak kalah bahagianya melihat putri
cantiknya sudah sadar.
Mata Gita masih mencari sosok suaminya. Masih penasaran kenapa suaminya tidak menampakkan diri. Sampai Gita berpikir Alam sudah tidak peduli lagi padanya. Air matanya menetes. Rasa sesak kembali mendera. Di tatapnya kedua orangtuanya "Ma, pa ...Alam mana?"
Mama Yulia dan papa Dul saling berpandangan. Mereka tidak tega mengatakan yang sebenarnya. Karena Alam juga sedang dirawat akibat paru-parunya kambuh. Mama Yulia mengelus kepala Gita yang sudah plontos.
"Alam sedang istirahat di rumah. Itu papa sedang menelpon alam." mama menunjuk papa yang sedang sibuk menelepon.
"Iya.. gimana kondisi alam?"
"Ah, iya. Semoga ada perkembangan yang bagus."
klik
Sebuah langkah kaki memasuki ruang rawat VIP. Nampak seorang lelaki sedang terbaring di ranjang pasien. Mama marni duduk bersandar, menatap putra semata wayangnya sedang terbaring lemah di ranjang pasien.
Matanya terus menatap pada alat-alat rumah sakit yang menghiasi tubuh Alam. Ada rasa sesak mendera, tidak menyangka kalau Alam punya penyakit serius.
Ya Allah kenapa ini terjadi pada anakku. Kenapa dari awal alam tidak pernah cerita soal kondisinya. Nak, kamu harus kuat. Ada istrimu yang menunggumu, ada anakmu yang menantikanmu. Kamu harus bertahan, nak. Gita sudah sadar dari komanya. Dia pasti sedang mencarimu.
Ya Allah sembuhkanlah anakku. Agar dia bisa berkumpul denga anak istrinya. Agar dia bisa mendampingi istrinya yang sakit. Hanya padamu kami memohon ya Allah. Berikanlah kesembuhan untuk putraku.
__ADS_1
"Marni." Sebuah suara memanggil mama Marni yang sedang bersama putranya.
Mama Marni menoleh. Ada Brian yang datang melihat keadaan Alam. Dua sosok yang dulu pernah menjalin cinta kembali bertemu. Marni menatap mantan kekasihnya sekaligus ayah biologis Alam. Tapi Marni sadar saat ini dirinya sudah menjadi istri papa Bobby.
"Marni." panggil Brian saat Marni hendak keluar ruangan.
"Maafkan saya. Maafkan yang tidak bertanggungjawab atas dirimu dan anak kita. Seharusnya aku sadar sejak kejadian malam itu. Akan terjadi sesuatu pada dirimu. Maafkan aku! Maafkan aku, Marni. Aku bukan lelaki yang bertanggungjawab." Brian bersujud di bawah kaki Marni. Memohon ampun pada wanita yang dulu pernah dicintainya.
"Kamu tahu Brian. Kenapa alam membencimu? Itu karena dia melewati banyak hinaan sejak kecil. Sejak saat itu, bagi alam orang tuanya adalah kak Toni, kakakku. Rasa sakit yang dirasakannya membekas sampai dewasa."
Brian menatap alam yang masih belum sadar. Air matanya menetes. Rasa bersalah yang mendalam membuat Brian tidak kuat menatap putranya lama-lama.
"Maafkan, ayah nak. maafkan ayah, nak. Ayah tidak tahu kalau ternyata ibumu hamil. Seandainya ayah peka mungkin kita sudah bersama sejak dulu." ucapnya berulang kali di hadapan tubuh Alam.
"Mama..." Marni terkejut melihat Gita didepan pintu kamar Alam. Dengan cepat Marni mendekati menantunya. Memeluknya sambil menangis. Marni mengantarkan Gita ke dekat Alam.
"Alhamdulillah, nak. Kamu sudah sadar. terimakasih ya Allah, menantuku sudah kembali." Mama Marni memeluk Gita kembali.
"Alam, ini Gita sudah bangun. Bukankah ini yang selalu kamu nantikan. Bangun nak Gita sudah menunggumu."
Gita memegang tangan alam
"Sayang, aku sudah bangun. Kamu harus juga bangun bukankah kita berjanji akan bersama selamanya. Bukankah kita sudah berjanji akan melihat anak kita lahir dan tumbuh besar.
aku mohon jangan tinggalkan aku." Gita terus menangis sambil memeluk lengan Alam.
Akankah alam akan sadar dari kritisnya.
...######...
Bersambung
__ADS_1