
1 tahun kemudian
Suasana di kediaman Gita sangat rame. Orang-orang terdekat Gita mengadakan acara sambutan untuk kepulangan Gita dari Singapore. Gita berobat ke Singapore di dampingi dokter ilham.
Sebenarnya jauh saat Alam dan Dinda hendak menikah Gita sudah sadar. Hanya saja ingatannya separuh hilang, yang dia ingat pacarnya adalah Roki. Sempat heboh ketika Gita mengamuk begitu tahu Roki sudah menikah dengan Rere. Tapi akhirnya Beta dan Ine bisa membuat Gita sadar, kalau sebelumnya Gita sudah tahu tentang pernikahan mereka.
Di bandara internasional Soekarno Hatta, Gita berdiri dengan lincah, bukan Gita yang dulunya duduk di kursi roda lagi, bukan Gita yang buta. Tangannya menggandeng seorang laki-laki berbadan atletis. Dengan kaos ketat memperlihatkan bahwa tubuhnya sangat six pack.
"Yank, aku lapar." Gita dengan manjanya.
"Kamu duduk sini, ya aku cari makanan dulu." ucap Ilham langsung berdiri.
"Terimakasih dokter ilham." Gita tersenyum dengan manjanya.
Ilham mengecup kening Gita. Banyak yang meng uwukan mereka berdua. Gita sempat risih mendengar para ibu-ibu yang memuji Ilham. Pengen rasanya Gita melabrak ibu-ibu itu.
Sesekali Gita mengecek hp nya. Perutnya kembali berbunyi, Gita berpindah ke box minuman di dekat ruang bagasi. Gita kaget ada seorang lelaki yang duduk di troly barangnya.
"Mas, jangan duduk disini. itu kan barang saya." omel Gita pada laki-laki itu.
Laki-laki itu tidak berkedip melihat Gita. Seperti kaget karena merasa kenal. Dia menghamburkan badan memeluk Gita. Dengan sigap Gita menghindar.
"Gita!" suara Ilham mengagetkan mereka.
"Ada apa?" tanya pria itu pada pacarnya.
"Ini laki-laki ini kurang ajar sama aku. Pake peluk peluk segala." Adu Gita.
"Mas, jangan macam-macam dengan calon istri saya." Ilham mencengkeram kerah baju Ronal.
"Maaf, habis dia mirip dengan mantan saya yang sudah meninggal." elak Ronal.
Ronal berlalu dari hadapan Gita. Dia menatap cincin yang melingkar di jari Gita. Cincin yang ada Kilauan Berlian. Lalu dia membandingkan cincin hitam perak yang melingkar di jarinya.
"Jauh, bagai langit dan bumi." keluh Ronal ( alam)
"Yuk, kita pulang." Ajak Gita.
"Loh, tadi katanya lapar." Ilham kaget Gita langsung minta pulang.
"Udah nggak mood." kata Gita hilang semangat.
"Makanlah sedikit. Nanti maag kamu kambuh. Mau aku suapin."
"Mauuuu." Gita dengan manja minta di suapin oleh Ilham.
"Kamu ingat waktu SMP dulu. kamu sering banget minta aku suapin."
"Oh ya. kenapa aku nggak ingat, ya." Gita menggaruk kepalanya. Ilham mengacak kepala Gita. Lagi lagi mengecup kening Gita.
"Kalau di kecup terus kapan makannya. Yang ada kamu yang kenyang ama jenongku."
Ilham tertawa renyah. Gita memperhatikan cara tertawa Ilham. itu yang Gita suka dari Ilham, humornya tinggi.
"Udah belum." Ilham memperhatikan Gita terus menatapnya. Gita jadi malu. Ilham meledek, dia kenyang liat senyuman Gita.
__ADS_1
"Kayak ngeliat eskrim, pengen di jilat terus."
Gita melotot mendengar ucapan Ilham.
"Udah, ah. kasihan mama papa dan Opa menunggu di rumah." elak Gita.
Ilham mengambil barang di bagasi. Lalu keluar dari bandara. Di depan sudah ada sopir keluarga Ilham. Mereka menaiki mobil di iringi tatapan Alam yang melihat mereka dari jauh.
Di mobil Ilham, pak sopir menghidupkan lagu
last child feat Giselle yang judulnya seluruh nafas ini.
Gita menatap kaca, entah kenapa dia merasa dekat dengan lagu itu.
Ilham menggenggam tangan Gita. Sesekali mencium tangannya. Mereka saling melempar senyum. Ilham memberi kode agar Gita bersandar di pundaknya, Gita belum merespon sinyal yang diberi Ilham.
"Mana makanan tadi? aku masih lapar." ucap Gita
"Bentar lagi kita sampai, yank. Tanggung kalo makan sekarang."
Tak lama mobil sampai di rumah Gita. Gita membuka pintu rumah, seperti tidak ada orang. Gita melihat pintu rumahnya tidak di kunci.
"Maaaa .... Paaaaa... Opaaaaa!" panggilnya.
"Maamaaaa....!"
"Surprise....!" Suara rumah mendadak rame. Gita kaget bercampur haru. Semua sahabatnya berkumpul.
"Welcome to Indonesian, Gita Mandasari." ucap Ine.
Gita dan Ine berpelukan. Ine mengeluh sesak, lalu bercerita perutnya ada calon ponakan Gita.
"Ya, kalo aku ngabarin nanti kamunya nggak fokus berobat."
"Berapa bulan?" Ilham datang dari belakang sambil memeluk Gita.
"Tiga masuk empat bulan, pak dokter. Itu yang bentar lagi mau launching." Ine menunjuk Rere yang perutnya sudah membesar.
"Tuh, yank. Mereka aja sudah mau punya anak. Kita kapan?" celetuk Ilham.
"Kenapa nanya sama aku sih? Kamu itu laki-laki. Harusnya kamu yang memutuskan. Kalau aku sebagai seorang perempuan yang cuma ikut sama pasangannya."
"Aku mau pake SIM dulu." ucap Ilham.
"SIM apaan sih? Emangnya siapa yang di tilang?" Gita masih bingung dengan maksud Ilham.
"Surat izin menikah. Nanti kalau urusanku selesai, aku akan temui om Dul dan Tante Yulia." ucap Ilham.
Gita menatap Ilham. Bukan karena kagum dengan Ilham. Tapi dia merasa tidak asing dengan ucapan Ilham barusan.
Gita dan Ilham sebenarnya belum lama pacaran. Bahkan sebenarnya tidak terucap kata jadian. Hanya Gita merasa sudah terikat dengan Ilham sejak di sematkan cincin couple. Di jari manis mereka.
"Om, Tante, Opa. Mama dan Papa mengundang kalian untuk makan malam di rumah."
"Ciyeee, dinner tuh Gita. Si Ilham mau ngelamar kamu tuh." goda Beta. Yang di goda
__ADS_1
wajahnya sudah memerah.
"Sudah ah, kalian ini daritadi ganggu anak Tante." omel mama Yulia.
"Iya, ma. omelin aja, ma." adu Gita.
"Kami malam ini nginap sama kamu, ya git." ucap Rere
"Eh, elu jangan dong. tuh, perut dah membesar, ntar mendadak brojol kan mereka yang berabe."
"Eh, aku masih 8 bulan. Masih lama brojolnya. Lagian suamiku sama mertuaku ada perjalanan bisnis ke maroko. ya, kali aku satu rumah sama kak Ronal."
"Siapa itu Ronal?" tanya Gita.
Ine mencubit pinggang Rere. Ine mengingatkan jangan mengungkit soal Ronal di depan Gita. Rere minta maaf karena keceplosan.
"Siapa itu Ronal?" Gita mengulang pertanyaannya.
"Satpam baru di rumah keluarga Spencer." jawab Rere.
"Emang satpamnya tinggal di sana juga." Gita kembali bertanya.
"Iya, Tinggal di bekas kamar, si bibi." jawab Rere pusing Gita nanya kayak anak kecil.
"Si bibi kemana?"
"Si bibi udah pensiun. dia Balik kampung." jawab Rere.
"oooo..."
"Jadi boleh nggak malam ini kami nginap?"
"Ntar malam keluarga Ilham ngajak dinner. aku nggak masalah nih kalo kalian mau nginap. Tapi aku takut sama dua orang bumil ini." ucap Gita.
"Re, lu pulang ke rumah ortu lu kan bisa?" ucap Beta
Rere bisa saja pulang ke rumah. Tapi Rere malas bertemu istri baru ayahnya. Sejak ayahnya membawa mbak Nia pulang ke rumah, Rere sudah tidak pernah menginjakkan kakinya kesana. Saat ini dia belum bisa menerima kehadiran Mbak Nia.
Apalagi kasus plagiat yang di lakukan mbak Nia, tenggelam begitu juga.
"Re, gini aja. kalo kamu takut sendirian di rumah, biar aku temenin kamu."
Rere kaget, tidak mungkin dia mengajak Gita menginap di rumah keluarga Spencer. Seperti yang di ketahui mama Gita melarang mereka mengungkit soal Ronal atau Alam. Begitu juga, Mama Marni yang tidak menyetujui hubungan mereka.
"Ja ... jangan, Git. Kamu bukannya mau dinner sama Ilham." Rere tidak tahu harus jawab apa.
"Kan aku bisa minta ilham untuk antar ke sana. Udah, kamu nggak usah pusing. Nggak baik ibu hamil sendirian di rumah mertua."
"Lagian kak Roki, udah tahu kehamilan istrinya statusnya siaga. Masih aja Plesiran." omel Ine.
"Finally, kita berempat nginap di rumah kak Roki, gimana? Gita bisa?" Beta menengahi pembicaraan mereka.
"Aku sih bisa." jawab Gita dengan mantap.
"yank, aku pamit pulang, ya." lagi-lagi Ilham mengecup kening Gita.
__ADS_1
"Uuuuh, so sweet." Ine mulai baper.
Mama bilang kalau Gita harus istirahat, berhubung nanti malam ada dinner. Para sahabat Gita bilang mereka akan make over Gita biar cantik di depan calon mertua.