Aku Kamu Dan Dia

Aku Kamu Dan Dia
50. Kebebasan Ronal


__ADS_3

Pagi ini kamar Gita di hebohkan dengan suara amukan. Gita membanting semua barang dikamarnya. Mama menanyakan apakah Gita mengingat sesuatu lagi. Siti juga tidak tahu. Sejak pulang dari rumah sakit dulu, Gita sudah tidak pernah kumat lagi. Siti mendapati Gita pingsan dengan tangan berdarah.


Mama memapah Gita dan Siti membersihkan luka di tangan Gita.


"Tolong telepon Ilham, ti." panggil Mama.


"Iya, Tante." Siti mengambil hp untuk menghubungi Ilham.


"Halo Ilham, bisa ke rumah?"


"Ada apa?" Jawab Ilham masih setengah malas.


"Pokoknya ke rumah sekarang darurat!" ucap Siti


Ilham melajukan mobilnya ke rumah Gita. Ilham kaget ternyata Gita sudah pulang. Tangan Gita sudah di perban.


"Dia kenapa lagi?" tanya Ilham


Siti menggeleng. "Tiba-tiba Gita mengamuk. Biasanya ada sesuatu yang membuat marah."


"Apa soal ingatannya lagi?" tanya ilham. Siti tidak bisa menjawab.


Ilham membersihkan tangan Gita. Disambut dengan tatapan Gita yang seakan marah padanya. Ilham seperti biasa mengecup kening Gita, tapi di tolak Gita.


"Apa salahku sayang?" tanya Ilham melihat Gita buang muka padanya.


"Tinggalkan aku sendiri!" usir Gita


"Tidak! aku tidak akan meninggalkan kamu sendiri disini!" Ilham tetap tidak beranjak dari dekat Gita.


Dengan sigap Ilham memeluk Gita. Walaupun Gita terus mencoba melepaskan diri. Tidak akan menggoyahkan keinginan ilham.


Ilham mengkode Siti dan mama Yulia untuk meninggalkan dia dan Gita.


"Kamu kemana? Kamu tahu aku sangat mencemaskan kamu!" ucap Ilham sembari memegang tangan Gita.


Cemas! cemas tapi berduaan dengan Siti! itu yang dia bilang cemas!


"Gita?"


"Sudah berapa lama kalian dekat? Apa sejak aku tidak ada? jadi ini bukti cinta yang sering kamu bilang?"


"Siapa? Astaga kamu cemburu pada Siti?Apa harus setiap ada masalah kamu lampiaskan seperti ini! Come on Gita, kalau kamu mikirnya seperti itu, sama saja kamu meragukan hubungan kita."


"Aku saja tidak pernah mempertanyakan soal kamu dan Ronal. Tapi kamu? cuma masalah sepele seperti ini sudah emosi!"


"Kenapa bawa orang lain! yang kita bahas sekarang antara kamu dan .." Ilham langsung mencium Gita. Mata Gita terbelalak melihat Ilham melayangkan ciuman ke bibirnya.


"Kamu pikir dengan begini aku langsung memaafkan kamu!" Gita mendorong tubuh Ilham. Gita memaksa berdiri meskipun tubuh lemas karena banyak keluar darah. Sekali lagi dia kalah, tubuh Gita kembali oleng dan di papah Ilham ke tempat tidur.

__ADS_1


Mama yang melihat Gita hendak di cium lagi oleh Ilham langsung masuk ke dalam kamar.


"ehmmm... belum muhrim. Makanya cepat dong nikahin Gita." Omel Mama Yulia.


"Ciuman itu sifatnya sakral, jadi nggak boleh putus harus tetap nikah." kata mama menambahkan.


"Iya, Tante. kan kita nikah tahun depan." ucap Ilham.


"Lama amat, ham!"


"Sekarang sudah akhir tahun, Tante. Otomatis bulan berikutnya adalah tahun baru." Ilham menjelaskan pada calon mertuanya. Mama cuma nyengir.


Siti membisikkan pada Gita "Dulu waktu di Sukasari bukannya kak Ronal udah nyium kamu juga. Tapi nyatanya kalian nggak jadi." Gita membalas omongan Siti dengan cubitan.


Gita tidak enak kalau omongan Siti didengar Ilham.


"Kamu merespon, git. itu artinya kamu sudah ingat semuanya." Siti kembali berbisik.


"Ntar, kita bahas lagi." ucap Gita.


Fix kamu sudah ingat semuanya, Gita. Tapi kenapa kamu masih bungkam? Kenapa kamu tidak beritahu semua ini pada kak Ronal. Kasihan dia memendam sendiri masalahnya.


Siti Ngapain sih ungkit soal dulu. kalau di dengar Ilham bagaimana?


Ilham pamit pada mama Yulia dan Siti. Di luar Ilham mengajak Siti bicara.


"Tidak. Memang ada apa?" jawab Siti heran.


"Dia cemburu padamu, Siti. Btw tadi malam ngapain nelpon aku?"


"Hah! Aku menelpon? Tadi malam sudah nyampe aku langsung tidur."


"Jadi yang menelpon tadi malam?"


"Gita!" jawab mereka berbarengan.


"Pantas aja Gita marah sama kamu, ham." Ilham menghela nafas. Mungkin Gita mendengar Ilham berkata kalau Siti adalah sosok terbaik yang pernah dia kenal.


Tapi sosok terbaik bukan berarti cinta. Masa Gita gitu aja cemburu.


...----------------...


Beberapa hari kemudian, Gita pergi ke kantor polisi untuk membebaskan Ronal. Hanya saja, tidak langsung menemui Ronal. Gita langsung pulang bersama Beta.


"Gita!" suara Ronal memanggil dirinya.


"Jadi kamu tidak di culik! Jadi ini bagian drama kamu juga setelah dulu kamu buat saya terpisah dari paman dan bibi, terpisah dari orang-orang terdekat saya!"


"Eh, sembarangan kalau ngomong! Yang mau di culik siapa? nggak ada kan. Aku juga korban!"

__ADS_1


"Iya korban drama kamu!"


"Oh, ya. Paling tidak saya bukan anda. yang masuk ke kehidupan saya dengan identitas baru, itu namanya pengecut!" balas Gita


"Terimakasih! terimakasih sudah membawa banyak masalah dalam hidup saya! Terimakasih ini yang terakhir saya berurusan dengan kamu, nona Gita." suara Ronal meninggi dan berlalu dari hadapan Gita.


"Terimakasihnya di terima! Tapi jangan lupa pegang kata kata Anda, untuk tidak berurusan dengan saya!" sahut Gita.


Dengan perasaan kesal Gita membanting tas nya di depan pos polisi.


"Dasar nggak tahu terimakasih! Masih baik aku bebasin, tau kayak gini aku biarin dia membusuk di penjara!" umpat Gita.


Gita menelpon Ilham untuk bertemu orangtua Ilham. Sampai di kantor polisi, Ilham menanyakan kenapa Gita berada di kantor polisi. Gita bercerita kalo dia membebaskan Ronal dari penjara. Ilham tidak suka Gita membahas Ronal.


"Kenapa kamu bebaskan dia?" tanya ilham


"Kan dia memang tidak bersalah." jawab Gita


"Kenapa kamu yang membebaskan dia? bukan kamu yang melaporkan dia, tapi mama kamu? biar jadi urusan mama kamu!"


"Kamu ini kenapa sih? Masih cinta sama dia?" tambah Ilham makin emosi.


"Kamu yang kenapa? datang marah-marah!" balas Gita, yang merasa aneh dengan sikap pacarnya. Gita melihat kemarahan dari wajah Ilham.


Gita memilih turun dari mobil Ilham dia berjalan sendiri di pinggir trotoar. Entah dia mau kemana, Gita sendiri tak tahu tujuannya mau kemana. Beta yang ikut dengan Gita juga turun dari mobil Ilham.


"Gita, kita mau kemana?" tanya Beta


"Mau pulanglah" jawab Gita


"Emang kamu yakin ini arah pulang?" Beta Balik bertanya.


Gita melihat mobil lalu lalang membuatnya terasa pusing. Gita merasa penglihatannya kembali mulai buram. Beta menahan tubuh Gita yang mulai oleng.


"Gita kamu kenapa?" tanya Beta


"Buram! aku nggak mau buta lagi!" Gita masih merasa ketakutan.


Beta panik. Dia menghubungi Ilham tapi tidak diangkat. Beta kesal pada Ilham, dalam keadaan darurat seperti ini Ilham tidak berbalik menyusul Gita, malah membiarkan Gita jalan kaki. Pada akhirnya Beta membawa Gita ke rumah Rere, karena sekalian menjenguk Rere yang sudah melahirkan.


"Aku mau pulang, Beta! rasanya nggak etis kalo kita jenguk Rere dengan kondisi seperti ini." ucap Gita saat Beta bilang ingin mengajak ke rumah Spencer.


"Kita sudah hampir sampai, Gita."


"Kamu kan tahu aku malas bertemu laki-laki itu!"


"Gita, kita mau bertemu Rere bukan kak Ronal. Persetan kalau dia tidak suka kehadiranmu!"


Gita tetap ngotot tidak mau turun. Kepalanya sudah pusing, ditambah harus mampir ke rumah keluarga Spencer. Gita mengecek hp nya tidak ada kabar dari Ilham, dengan terpaksa dia turun dari grab car.

__ADS_1


__ADS_2