Aku Kamu Dan Dia

Aku Kamu Dan Dia
33. Adakah harapan untuk Gita


__ADS_3

Gita bangun dari tidur. Dia harus membiasakan diri dalam hidup gelapnya. Tangannya meraba dinding, untuk mengetahui dimana dia berada. kakinya mencoba menapaki lantai, lalu terjatuh. Mama terbangun mendengar suara gaduh Gita.


"Ya, ampun Gita. Kamu kan bisa bangunin mama kalau mau sesuatu." ucap Mama sambil membopong Gita duduk di ranjang rumah sakit.


"Ma, kenapa kaki Gita tidak bisa merasakan apa-apa? Kaki Gita nggak papa kan, ma."


"Nggak papa kok, sayang. Belum terbiasa saja." kata mama menyabarkan Gita.


Jam sudah menunjukkan pukul 04:55. Gita minta mukena pada Mama untuk melaksanakan sholat Subuh. Mama takjub Gita masih ingat sholat. Mama membantu Gita memakai mukena. Lalu membimbing Gita untuk gerakan sholat.


Papa melihat Gita sholat ikut menangis. Dia sedih, kenapa putri semata wayangnya nasibnya seperti ini.


"Pa, mau kan jadi imam sholat Gita?" pinta Gita.


Papa mengangguk. Papa dan Mama bersiap mengambil wudhu untuk sholat bersama. Gita sudah siap karena hanya bertayamum. Mereka sholat bersama. Selesai sholat, Mama menyalami Papa. Tapi Mama melihat Gita sudah tidur, Papa memegang nafas Gita yang mulai lemah. Mama berteriak memanggil dokter.


"Dokter.... dokter...!" Teriak Papa


Petugas rumah sakit berlari memasuki kamar Gita. Mereka mengecek kondisi Gita yang di nyatakan kritis. Mama menangis melihat kondisi Gita. Papa dan mama duduk di luar, menunggu Gita di periksa dokter.


"Aku harus membawanya kesini." kata Papa


"Siapa,pa?" tanya Mama belum paham dengan maksud Papa.


"Ronal. Cuma dia satu satunya yang bisa membantu Gita." Papa langsung pergi untuk menjemput Ronal.


Mama mencegah papa untuk pergi. Menurut mama ada atau tidak adanya Ronal disini tidak akan merubah keadaan. Mama minta sama papa untuk fokus sama keadaan Gita saja.


"Tapi, ma mereka saling mencintai!" kata papa


"Darimana papa tahu? Gita sendiri bilang mereka tidak ada hubungan apa-apa."


Papa menceritakan apa yang dia dengar saat ke Sukasari. Kalau warga marah pada Gita karena sering berduaan dengan Ronal.


"Lalu laki-laki itu masih bebas melenggang di sana! sedangkan anakku berjuang nyawa disini! dan sekarang papa malah ingin membawanya untuk Gita!" Mama emosi


"Pa, selama ini aku percaya Ronal itu laki-laki yang baik. Tapi setelah kejadian ini aku percaya dia tidak pantas untuk Gita." Sambung mama.


Papa menyabarkan Mama. Papa merasa wajar kalau mama emosi setelah tahu yang sebenarnya.


Kasus pengeroyokan yang dialami Gita mulai menemukan titik terang. Polisi sudah mengantongi beberapa pelaku yang terlibat pengeroyokan Gita. Polisi mengamankan 4 pelaku. Polisi membawa keempat pelaku untuk dimintai keterangan.


Rumah kediaman Irwan pun tak luput dari interograsi. Irwan bilang warga marah karena Gita sering mesum bareng pacarnya.


"Kenapa yang laki-laki tidak diadili?" tanya polisi saat irwan memberikan keterangan.

__ADS_1


"Karena yang perempuan bukan yang pertama kali, dulu dia di usir dari kampung ini juga karena masalah seperti ini." jelas Irwan.


Tertangkapnya pelaku pengeroyokan Gita sampai ke telinga Alam. Dia juga penasaran siapa dalang semua. Tapi dari keterangan yang di dapat, motif mereka karena belum bisa menerima kehadiran Gita.


Alam marah saat mendengar keterangan dari Irwan kalau mereka sering mesum. Irwan mengatakan kekacauan di desa ini, semenjak kedatangan Ronal (Alam). Irwan juga menuduh alam ikut andil dalam kasus pengeroyokan Gita.


Edwar melerai Alam yang akan memukul Irwan. Edwar mengajak Alam untuk pergi dari rumah Dinda.


"Mau dia apa sih!" amuk Alam sambil melempar batu.


"Entahlah, nggak masuk akal buatku." sambung Edwar.


"Sudah beberapa hari kamu nggak dapat kabar dari Gita." tanya Edwar.


"Sejak dia masuk puskesmas beberapa hari yang lalu. terakhir pas malam kamu dan keluargamu ikut nginap." ucap Alam.


"Kamu nggak mencoba mencari tahu kabar dia gitu?" tanya Edwar


"Entahlah, war. Aku masih berpikir kemana arah hubungan kami." Mata Alam menerawang ke atas langit.


Edwar mencengkram kerah baju Alam. Edwar marah pada alam.


"Setelah semua yang terjadi, kamu masih bilang begitu!"


"Gita seperti ini juga gara-gara kamu, lam."


"Pukul saja, war! kalau itu bisa membuat kamu lega! pukul saja! kalau itu memang pantas untukku!" Teriak Alam.


Edwar kecewa mendengar ucapan Alam. Bagi Edwar, seharusnya dengan kejadian ini Alam membuktikan keseriusannya dengan Gita. Edwar pergi dari hadapan Alam. Melajukan motornya dengan kencang.


Sampai di rumah, Edwar bertemu Yadi.


"Di, maaf aku belum sempat menengok bayimu." kata Edwar.


"Nggak papa, kak. Eh, aku mau nanya sesuatu kak." Yadi berubah menjadi mimik serius.


"Ada apa?"


"Kemarin aku lihat kak Gita di RS pake kursi roda." cerita Yadi.


Edwar mulai tertarik dengan cerita Yadi. Dia merubah posisi duduknya agar lebih rileks mendengar cerita Yadi.


" Terus?" tanya Edwar masih penasaran


"Nggak ada cuma itu saja." Yadi menyudahi obrolannya.

__ADS_1


"Makasih, di infonya." Edwar masuk ke rumah.


Edwar menceritakan apa yang dilihat Yadi tentang kondisi Gita pada ibu dan Siti. Ibu sedih mendengar Gita lumpuh.


"Belum tentu lumpuh, Bu. Paling patah tulang doang ntar juga sembuh. Mereka kan orang kaya, bisa lah bawa ke luar negeri biar cepat sembuh." timpal Siti.


"Kamu kenapa sih? itu sahabat kamu Lo." Edwar heran dengan ucapan Siti.


"Ya, kan seperti yang aku bilang. Orang berduit seperti mereka gampang aja." jawab Siti sembari melengos di depan Edwar.


"Kamu suka, kan sama Alam." Edwar mencerca Siti.


"Sudah! jangan bertengkar! Besok kita jenguk Gita." ucap ibu langsung masuk ke kamar.


Edwar duduk di teras rumah di temani Siti. Siti menggoreng pisang untuk cemilan. Edwar nyeletuk, biasanya ada yang bantu habiskan makanan. Edwar ingat suka menggoda Gita yang suka makan pisang goreng.


"Pisang goreng buatan ibu mah enak. Abang-abang gerobak kalah." puji Gita


"Enak aja! itu buatan aku, Gita." protes Siti


"Oh, buatan kamu. Tumben enak." Jawab Gita.


"wah, makan besar, nih." Alam comot pisang di depan Gita.


"Ih, apaan sih. Main comot aja." protes Gita.


"Calon pengantin dilarang makan gorengan. Ntar susah nyari bajunya." goda Alam.


Gita menjulurkan lidah. Dia tidak peduli dengan celotehan Alam. Siti langsung masuk ke kamar begitu alam datang.


Flashback selesai.


"Ti, kamu rindu tidak sama Gita?" Tanya Edwar saat menikmati cemilan malam.


"Iya, bang." jawab Siti sendu


"Besok kita jenguk Gita,ya?"


"Apakah kak Alam diajak?"


"Harusnya dia wajib ikut, ti. Tapi


.." Edwar menghentikan ucapannya.


"Kenapa, bang?Apa kak Alam ada mengatakan sesuatu."

__ADS_1


"Entahlah, ti. Aku juga bingung sama dia." Edwar menunduk.


__ADS_2