
POV Gita
"Kamu pulang bareng Alam, Gita!"
Suara mama mengagetkan aku yang sedang mencoba menghempaskan tubuhku di atas ranjang. Mama duduk di sampingku sambil mengelus rambutku yang sudah menipis. Aku sempat takut kalau mama akan marah karena aku diantar pulang oleh Alam.
Belum lepas dari ingatanku kalau mama kembali membenci suamiku, setelah semua yang terjadi. Tapi aku tidak menyalahkan mama dan papa, aku tahu itu bentuk dari rasa sayang mereka padaku.
"Iya, ma. Kenapa?" aku jawab sesantai mungkin.
"Kalian tadi dari mana?" tanya mama sepertinya masih kepo.
Aku membuka jaket jeans yang sedari tadi menutup tubuhku. Ku arahkan kakiku ke depan cermin untuk membersihkan wajahku.
"Dokter."
"Jadi alam sudah tahu kalau kamu hamil. Kenapa kamu kasih tahu? Bisa jadi setelah tahu kamu hamil dia akan mencari cara untuk membatalkan perceraian kalian." sahut Mama Yulia.
Ku tundukkan kepala, entah kenapa kata perceraian menjadi kata sakti yang memenuhi pikiranku. Dari saat masih di Bandung sampai akhirnya aku sampai di Jakarta, kata kata itu terus terngiang-ngiang.
"Ma, untuk saat ini, aku masih butuh Alam sebagai ayah anakku. Tapi bukan berarti aku sudah memaafkan dia. Anak ini masih butuh ayahnya,ma. Setelah anak ini lahir baru akan aku pikirkan soal perceraian itu."
"Tapi, nak.... Terserah kamu sajalah. Tapi kamu jangan lupa besok sidang perdana kalian. Kalau dia tidak datang, itu artinya hakim akan lebih cepat memutuskan vonis perceraian kalian."
ucap Mama Yulia lalu keluar dari kamarku.
Ku tatap langit kamar yang berwarna putih. Besok awal dari status baru, aku akan menjadi seorang janda dalam keadaan berbadan dua. Ah, kenapa hidupku begitu pelik! Aku bisa banyak belajar dari kak Grace yang bisa membesarkan Gery seorang diri.
Flashback on
" Aku tidak akan pernah menceraikan kamu, Gita. Sampai kapanpun tidak ada kata perpisahan diantara kita. Apalagi kita sudah punya anak. Apa kamu tega membiarkan anak kita tumbuh tanpa orangtua yang lengkap."
Kata-kata itu kembali terngiang di telingaku.
"Aku lelah. Lelah dengan semua yang terjadi diantara kita, lam. Aku juga manusia yang punya batas kesabaran. Dan kesabaranku sudah habis. Aku cuma ingin bahagia, hidup tenang. Itu saja."
Ku lihat alam menggeserkan posisi duduknya lebih dekat "Tatap mataku Gita. Bilang kalau kau memang inginkan perpisahan ini. Bilang kalau kau sudah tidak mencintaiku lagi. Katakan itu saat sedang menatapku."
"Aku ..."
Jantungku berdetak kencang saat dia menikmati bibirku. Kenapa setiap dia seperti itu aku tidak bisa melawan? Apa ini kelemahanku yang selalu dia andalkan!
Dan ...
__ADS_1
"Kumohon jangan tinggalkan aku lagi, Gita."
Aaaarhhg!!!!
flashback off
Jam menunjukkan pukul 17:00 Gita duduk di jendela kamar. Matanya menatap langit yang mulai mendung, lalu tatapannya turun ke area bawah. Ada alam yang berdiri dibawah rumahnya tepat di bawah kamarnya.
Seperti anak yang sedang di hukum, Alam berdiri sambil menaikan satu kaki dan menjewer kedua telinganya. Seketika Gita merasa ada hiburan, ada tawa yang keluar dari mulut manisnya. Alam mendongakkan kepalanya ke atas, ada Gita yang juga melihatnya dari atas.
Apapun akan aku lakukan demi kamu Gita. Asalkan kamu mau memaafkan aku. Asalkan kamu tidak berpikir untuk bercerai. Aku rela berdiri seperti ini, sampai kamu turun dan menemuiku. Tidak ada yang bisa menggantikanmu di hatiku.
Gita menutup jendela saat Alam membalas tatapannya. Dia memilih sibuk dengan gawainya walaupun sebenarnya pikirannya sedang kemana-mana.
Gludukkk gludukkk
Suara awan menggelar menandakan akan turunnya hujan. Dari balik kaca, Gita mengintip Alam yang masih berdiri di bawah sana. Ada rasa cemas takut suaminya kehujanan, tapi tetap saja Gita tak ingin beranjak dari kamarnya.
Sedikit demi sedikit hujan mulai turun. Membasahi seluruh isi bumi. Membasahi tubuh Alam yang masih berdiri tanpa merubah posisi kaki dan menjewer telinganya sendiri. Sementara di kamar Gita sudah tertidur, tak tahu lagi yang terjadi di luar sana.
Papa pulang dari kantor melihat Alam masih berdiri di depan kamar Gita. Dalam keadaan basah kuyup. Ada rasa kasihan melihat sebegitunya Alam ingin menemui Gita.
"Papa ngapain?" suara mama mengejutkan papa yang masih memperhatikan Alam.
"Biarin aja, pa. Dia lagi di hukum karena perbuatannya sendiri." Mama mengajak Papa masuk ke dalam rumah.
Pukul 21:00 Gita terbangun dari tidurnya, kepalanya sedikit pusing. Lalu keluar kamar karena merasa lapar "MAAAAMAAA PAPAAAAAAAAAA!"
Gita merasa rumahnya sangat sepi. Kemanakah kedua orangtuanya, tiba-tiba dia teringat Alam yang sedang berdiri di luar. Gita melangkah keluar, sudah tak ada lagi Alam di tempat itu.
Mungkin dia sudah pulang. pikirnya.
"Cari aku ya."
Deg! Gita kaget Alam dengan santai duduk di dekat ruang tamu. Seperti habis mandi dengan rambut yang basah, alam duduk sambil menikmati minuman hangatnya.
"Mama dan papa mana?" tanya Gita sambil duduk jauh dari lelaki itu.
"Nggak tahu, mungkin di kamar. Aku bangun tadi sudah di kamar Opa." jelas Alam masih menikmati air jahe yang di buatkan bi Endah.
"Sudah makan belum?" Gita iseng menanyakan itu pada Alam.
"Belum. Kita makan sama-sama yuk. Masa suaminya makan sendiri." alam mencoba menggoda Gita.
__ADS_1
"Aku nggak lapar. Kamu aja yang makan." Gita ke dapur menyiapkan makan malam untuk Alam. Dari belakang Alam memeluk Gita, membuat Gita sedikit terkejut. Pelan-pelan dia lepaskan tangan Alam. Tapi tangan itu makin erat.
"Aku rindu momen ini, sayang. Biasanya kamu pagi-pagi siapkan aku sarapan sambil pelukan seperti ini." bisiknya membuat Gita sedikit bergidik.
Gita mendorong Alam dengan kasar. Lalu menunda rencana masaknya.
"Sekarang kamu pulang!" usir Gita.
"Yang ..." panggil Alam. Gita tidak menggubris panggilan suaminya. Hatinya masih sakit karena merasa di khianati.
Gita masuk ke kamar. Tak lama dia mendengar suara mobil keluar dari rumah. Dari kamar atas Gita mengintip kepergian Alam.
Gita mengetuk kamar mama papanya. Tapi tak ada sahutan. Lalu beralih ke kamar bi Endah, dari Bi Endah Gita baru tahu kalau mama papanya sedang keluar kota.
"Nyonya dan tuan bilang sengaja ninggalin den Alam disini karena takut non Gita nggak ada yang jaga." cerita bi Endah.
"Ya, sekarang Alamnya sudah pulang, bi. berarti dia nggak bisa di kasih amanah." jawab Gita kesal. Dari situ saja dia bisa menyimpulkan kalau suaminya tidak akan berubah.
"Siapa bilang non? den alam ada kok. Barusan masuk kamar." kata bi Endah.
"Terus tadi mobilnya keluar? siapa yang bawa?"
"Itu non pak sopir yang bawa. Buat isi bensin." jawab bi Endah lagi.
"Non."
"Iya, bi."
"Non jangan cerai dong. non Gita kan, nikahnya baru sebentar, masa udah cerai gitu aja. Nggak enak non jadi janda. Bibi aja yang udah janda bertahun-tahun masih sering diomongin orang. Apalagi non Gita yang sekarang sedang hamil, jangan non.
Bibi lihat den Alam itu sayang sama non. Tapi kenapa malah mau cerai. Non kan lagi hamil, non lupa dulu pas non Gita hamil pertama jauh dari suami, masa non Gita nggak bisa belajar dari pengalaman." cerita bi Endah.
"bi, dia selingkuh sama sekretarisnya. Aku nggak mau tinggal sama tukang selingkuh."
"Bibi nggak percaya kalau den, Alam begitu. Udah non Gita istirahat aja. Nggak bagus ibu hamil begadang."
"Ya, udah bi. Saya balik ke kamar ya." pamit Gita
Gita mencoba membuka kamar Opa untuk mengecek apakah Alam sudah tidur. Tapi di urungkannya, dia lebih memilih kembali ke kamar. Sampai di kamar Gita di kagetkan dengan seseorang yang terlelap di ranjangnya.
######
Si Alam masih usaha modus biar nggak jadi cerai
__ADS_1
tetap pantengin cerita ini ya.