
Bryan, Aldi dan Boby sudah menunggu di depan pintu dengan wajah mereka yang sangat berangkasan. Sehun pun keluar dari pintu, Sehun sedikit terkejut, pasalnya mereka kali ini tidak menghadang Sehun. Ya, meskipun tidak menghadang, tatapan kematian mereka tetap diberikan pada Sehun yang sedang melewati mereka.
Sehun menjadi khawatir. Ah, tidak, saat ini tidak usah memikirkan kekhawatiran, harusnya Sehun justru bersyukur jika hari ini mereka membebaskannya, berpikirlah positif.
“Mungkin mereka telah berubah menjadi baik.” ucap Sehun dalam hati, dia pun pergi dengan rasa bersyukur. “Terima kasih Ya Allah.”
****
Sehun kembali mengikuti gadis yang sejak beberapa hari itu, dan seperti biasa di berhenti mengikuti saat gadis itu menaiki angkutan umum.
Setiap kali melihat Sehun selalu senang, namun Sehun tidak memiliki kemampuan untuk menemui gadis itu.
“Terakhir kita bertemu, kamu bilang namamu Lara, ternyata saat aku ingat semuanya, itu bukan namamu nona.” ucap Sehun dalam hati lembut dengan tersenyum sempit senang. “Tunggu saat aku menjemputmu Nona!” ucap Sehun percaya diri.
Sehun berbalik kemudian berjalan ke Halte BusWay yang akan membawanya kembali pulang ke rumah.
****
Sehun berada di depan gerbang, Pak Security pun membukakan gerbangnya, hingga Sehun dapat masuk. Pak Security menyambut Sehun dengan senyuman, Sehun pun membalasnya.
“Mas Rehan kenapa lebih milih naik ojek dari pada naik mobil atau motor yang ada di rumah?” tanya Pak Security.
“Ah, aku Cuma mau mandiri aja kok Pak.” jawab Sehun, Pak Security terlihat tidak percaya.
“Mas Rehan bohong lagi ya? Bilang aja, gak mau ada yang ganggu kencannya sama pacar Mas Rehan kan?” goda Pak Security, Sehun pun tersenyum malu.
“Pak saya gak pacaran kok, tapi saya emang abis kencan diem-diem. Cewek yang saya taksir gak tau soal perasaan saya.”
“Wah.” ucap Pak Security tidak menyangka. “Mas sih. Punya tampang oke, tubuh yang seksi, kulit putih dan orang berada, bukannya dimanfaatin.” keluh Pak Security, Sehun pun hanya bisa tersenyum.
“Biarin aja sih Pak.” ucap Sehun ngenyel dengan meledek.
“Mas!!” kesal Pak Security dengan tidak habis pikir pada Sehun yang sudah kabur menjauhi Pak Security.
****
“Assalamualaikum.” ucap Sehun dengan membuka pintu rumah.
“Waalaikumussalam.”
Sehun mendadak terkejut saat melihat Pak Husein ada di Rumah dan sedang menonton TV bersama Bu Fatimah.
__ADS_1
“Lho Ayah!?” ucap Sehun terheran dengan mendekati mereka berdua. “Ayah gak kerja?” tanya Sehun saat duduk di sebelah Pak Husein sambil menyalami keduanya.
“Ayah baru pulang, katanya mau jemput kamu biar belajar lebih banyak lagi mengurus perusahaan.” jawab Bu Fatimah.
“Hah!? A-aku kayanya belum siap.”
“Makanya kamu akan belajar dari sekarang.” balas Pak Husein tegas, Sehun pun menghempuskan nafas panjangnya. “Pertama-tama hapuslah warna coklat-coklat itu dari badanmu!” pinta Pak Husein.
“Gak ah, Yah.” tolak Sehun. “Orang yang berkulit putih, ganteng dengan tubuh bagus itu kan sudah mati di depan dunia.” jelas Sehun, Pak Husein pun bergeleng kepala.
“Kamu yakin gak mau dunia ini sampai tau jika kamu tuh Oh Sehun?”
“Gak. Karena jadi idol itu bisa bikin pernikahan aku dengan dia gagal.” jelas Sehun bablas, hingga akhirnya di menutup mulutnya setelah menyadari kesalahan bicaranya. “Eh, maksudku dia yang nantiku nikahi di masa depan.”
“Dia siapa?” tanya Bu Fatimah penasaran.
“Gak ada Bu, yang aku maksud itu dimasa depan nanti.” ucap Sehun gugup.
“Namanya Lara.” ucap Pak Husein ringan dan itu mengejutkan Bu Fatimah dan membuat Sehun semakin terpojok.
“Lara? Dia baik? Apa dia sayang sama kamu? Dimana rumahnya?” tanya Bu Fatimah antusias, Sehun pun berdiri dengan malu.
“Assalamualaikum.” ucap Pak Husein tetap lembut, Bu Fatimah pun membalasnya dengan tersenyum.
“Hati-hati, Mas.”
****
Sehun menidurkan dirinya di rajangnya, ditatapnya sebuah buku catatan yang terlihat pernah terendam air dengan tersenyum. Sehun mengingat bagaimana Pak Husein mengeluarkan buku itu dari lacinya yang ada di Kantor, saat itu Sehun terkejut saat melihat bukunya lagi. Pak Husein memberikan catatan tersebut pada Sehun, Sehun menerimanya dengan senang. Kini saat memandangi buku catatan tersebut Sehun terlihat senang dengan senyuman sempit yang ikhlasnya itu.
Sehun beranjak dari tempat tidurnya, dia membuka lemari dan mengeluarkan sebuah setrika pakaian. Dia menyingkirkan semua barang-barangnya yang ada di meja lemari hias, kemudian menaruh setrika di atasnya. Dia mencolokan setrika tersebut, barulah mensetrika lembaran-lembaran catatan itu hingga rapih.
****
Sehun meminum susu paginya, kemudian memakan rotinya dengan santai tidak terburu-buru. Dan saat itu terjadi Bu Fatimah dan Bu Khadijah menatapi Sehun dan hal itu disadari Pak Husein, Pak Husein pun hanya dapat menggeleng kepala.
“Apa anak itu gak sadar ya?” tanya Pak Husein dalam hati tidak habis pikir.
“Mas, siapa Lara?” tanya Bu Khadijah.
“Uhuk.” kejut Sehun hingga dia tersedak, Sehun pun menatap Bu Khadijah dengan heran.
__ADS_1
“Bibi, Bibi tau dari mana?” tanya Sehun yang sudah menghabiskan roti yang ada di mulutnya, dengan heran.
“Tuh.” jawab Bu Khadijah yang mengisyaratkan menunjuk pada Bu Fatimah, Sehun menoleh, Bu Fatimah pun tersenyum malu.
“Ah, Ibu.” keluh Sehun sebal.
“Udah-udah!” ucap Pak Husein. “Ini lagi sarapan, dilanjut aja kalo udah sarapannya.”
“Iya, Mas.” ucap Bu Fatimah sebal, begitu pun Bu Khadijah. Sehun pun selamat, kali ini dia tertolong lagi.
Sehun usai memakan sarapannya, setelah berdoa dia pun beranjak berdiri dari tempatnya dan saat Sehun akan keluar dari tempat duduk...
“Mas Rehan, siapa Lara?” lagi-lagi pertanyaan itu muncul dan kali ini oleh dua orang Ibunya, Sehun pun menghembuskan nafas panjangnya.
“Assalamualaikum.” ucap Sehun penuh tenaga dengan berlari untuk melarikan diri.
“Mas Rehan!!” keluh Bu Fatimah dan Bu Khadijah kesal pada Sehun yang telah berlari.
“Udahlah! Rehan itu udah gede, nanti juga pasti kalian dikasih tau.” ucap Pak Husein ringan. Pak Husein pun langsung mendapatkan tatapan serius dari dua wanita berumur itu.
“Apa kau tau sesuatu?” tanya Bu Fatimah mengintrogasi Pak Husein, Pak Husein pun menggeleng dengan khawatir. “Maaaasss!!” kesal Bu Fatimah.
“Assalamualaikum.” ucap Pak Husein ikut melarikan diri juga.
“Mas!!” keluh Bu Fatimah kesal.
“Waalaikumussalam.” ucap Bu Khadijah dengan menenangkan Bu Fatimah yang masih kesal.
Sehun menunggu Pak Husein di dalam mobil, Pak Husein pun memasuki mobilnya, mereka berdua pun meninggalkan Rumah tersebut. Di perjalanan Pak Husein menatap Sehun yang asik dengan earphonenya.
“Gimana?” tanya Pak Husein tanpa melihat pada Sehun, Sehun pun menoleh pada Pak Husein.
“Gimana apanya?” tanya Sehun heran.
“Lara.” jawab Pak Husein.
“Nama dia bukan Lara.”
“Terus siapa?”
“Huh, aku lupa. Namanya begitu asing saat itu, jadi aku gak ingat.” keluh Sehun lirih, Pak Husein pun hanya dapat tersenyum tidak habis pikir, sementara Sehun masih terlihat tidak bisa terima.
__ADS_1