
Alam menemui Gita untuk menjenguk istrinya. Tapi dia mendapat kabar bahwa Gita masuk rumah sakit. Dengan sigap mendatangi Gita di rumah sakit. Pikirannya kacau takut terjadi sesuatu pada kandungan istrinya.
"Mau apa kamu kesini!" Ilham menghadang Alam saat mendekati ruangan Gita.
"Aku mau menemui anak dan istriku." Alam tetap ingin masuk ke ruang inap Gita.
"Setelah yang kamu lakukan padanya." Ilham mengcekeram kerah baju Alam.
"Apa maksud kamu!"
"Aku tahu kamu akan menceraikannya."
"Kamu jangan sembarangan kalau bicara! aku tidak akan menceraikan Gita!" Alam membalas cengkeraman Ilham.
"Selama ini aku diam saat kamu merebut Gita dariku. Karena aku melihat Gita bahagia sama kamu, ham. Tapi sejak kamu buat Gita trauma, aku sudah habis rasa kesabaran sama kamu." tambah Alam.
Mama melihat pertengkaran antara Ilham dan alam ikut melerai mereka. Lalu meminta Alam masuk ke dalam dan bicara pada Ilham.
"Tante minta kamu jangan ikut campur urusan rumah tangga Gita."
"Tapi Tante..." Ilham menyela, dengan kesal memukul dinding.
Gita masih belum sadarkan diri, dengan sabar Alam memegang tangan istrinya.
"Apa yang terjadi?" tanya Alam pada orang-orang di ruangan.
"Bawaan hamil." sahut ibu. Alam menoleh kearah orang-orang di ruangan. Ada Edwar dan Siti yang juga ada disana. Mereka semua berkumpul.
"Tunggu kalian tidak mengajak bibi ke sini." Alam mencari sosok bibi yang tidak kelihatan.
"Seharusnya kakak yang menjemputnya kesana." jawab Siti.
Alam meraih kursi untuk duduk di dekat Gita. Tangannya tetap tidak lepas dari Gita. Dengan lembut memijit tangan istrinya. Handphone nya bergetar ada pesan dari dokter Juna untuk transplantasi paru-parunya. Di abaikan pesan itu, sekarang dia lebih fokus kondisi istrinya di banding kesehatannya.
Siti pamit ke toilet. Sebenarnya ada toilet di kamar Gita, tapi dia tidak nyaman karena banyak orang. Sambil memasukkan hp, Siti tidak menyadari kalau ada suster membawa alat medis sedang terburu-buru, sontak Siti hampir menabrak di tangkis oleh seseorang. Tubuh mereka beradu di dinding.
"Kamu tidak papa?"
"Aku.. aku tidak papa, ham." Siti masih syok.
"Aku ke toilet dulu, ya." pamitnya.
" Mau diantar." tawarnya
"Nggak usah, emang kamu mau masuk toilet wanita." jawab Siti sambil senyum.
Siti pamit, entah kenapa kejadian tadi bikin jantungnya berdebar. Memorinya berputar saat tadi Ilham menahan tubuhnya.
Aduh kenapa aku yang berdebar tadi. Sama om Jo biasa saja. Entahlah, mungkin aku saja yang baperan.
Siti keluar dari toilet melihat Jonathan sedang ngobrol sama salah satu suster disana. Terlihat akrab sekali, membuat Siti malas menegurnya.
__ADS_1
"Dia pasti nguntit aku sampai kesini." gerutunya.
Siti menutup kepalanya dengan totty bag. Setelah aman dari Jonathan. Baru saja bernafas lega, tapi ada sebuah tangan menarik tubuhnya.
...----------------...
Gita membuka mata, tatapan menoleh ke sebuah tangan yang menggenggamnya. Senyumnya mengembang ada suaminya sedang tidur di samping ranjangnya. Tangannya bergerak membelai rambut laki-laki itu.
"Kamu sudah sadar, sayang." rupanya alam terbangun saat Gita membelai rambutnya.
"Haus." ucap Gita dengan lirih.
Alam mengambil gelas dan air putih di samping ranjang Gita. Dengan telaten membantu memegang gelas. Tangannya mengelus rambut Gita dengan lembut.
"Makasih." jawab Gita dengan senyuman yang buat Alam meleleh. Rasa cemas, khawatir yang dia rasakan hilang saat melihat wajah dan senyuman Gita.
"Yang.."
"Iya suamiku.."
"Kasur sebelah muat nggak.."
"Maksudnya"
"Kasur sebelah kamu nggak buat berdua."
"Jangan aneh-aneh deh. Ini rumah sakit, bukan hotel." Gita pusing kalau Alam sudah kumat otak mesumnya.
"Dasar otak mesum."
"Kan mesumnya halal, sama istri sendiri. Ya kecuali kamu izinkan aku mesum sama perempuan lain."
Gita mencubit perut Alam "Awwww... sakit sayang." Alam meringis kesakitan.
"Abis mulutnya itu ... ngeselin." Gita maling muka.
"Cemburu ya..."
"Nggak!" Gita memanyunkan bibirnya.
"Kamu istirahat ya, pasti tadi capek banget nungguin aku."
"Nggaklah. Kalau lihat kamu capeknya hilang." rayu Alam.
"Gombal!" Gita mencubit perut Alam sambil tersenyum.
Ilham yang baru saja habis operasi pasien melewati kamar Gita. Tatapannya seperti kecewa melihat kemesraan Alam dan Gita. Tangannya mengepal seperti menahan marah.
...----------------...
"Kalian tunda resepsi dulu sampai Gita sudah melahirkan." ucap Mama Yulia saat di luar ruangan Gita.
__ADS_1
"Kenapa, ma? Bukankah kami sudah menikah."
"Pernikahan kalian itu siri, tidak diakui secara sah. Kalian harus menikah ulang." kata mama Yulia.
"Kenapa baru sekarang mama mengatakan ini? kenapa tidak dulu saat mama memaksaku menikahi Gita? Sekarang Gita sedang hamil dan butuh seseorang disampingnya. Apa kami harus berpisah lagi sampai Gita melahirkan?"
Mama menunduk, dia juga menyesalkan semua ini. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Sekarang dia bingung memikirkan nasib Gita ke depannya.
"Ma, apapun yang terjadi aku akan tetap menikahi Gita secara sah. Kalau bisa kita datangkan penghulu sekarang, mumpung Gita sudah sadar. Aku akan bicarakan dengan Gita." usul Alam.
"Lam, mama minta kamu jangan cerita status pernikahan kalian yang kemarin. Mama takut dia akan kecewa kalau dia tahu pernikahannya adalah pernikahan siri." pinta mama.
Alam mengiyakan ucapan Mama Yulia, dia tahu konsekuensinya kalau Gita mendengar semua ini. Mereka masuk ke ruangan Gita, ada dokter yang sedang memeriksa Gita.
"Apakah suaminya sudah datang?" tanya dokter.
"Saya suaminya, dok. Apa ada masalah dengan istri saya?"
"Mari ke ruangan saya." Dokter mengajak Alam ke luar menuju ruangan dokter.
"Kehamilan istri anda sangat lemah. Karena ini ada pengaruhnya dengan kanker yang sedang diidapnya. Hanya ada dua pilihan, bayi anda lahir prematur atau nyawa keduanya tidak selamat."
"Apakah dengan lahir prematur istri saya bisa selamat, dok?"
"Sifatnya 50:50, kalaupun selamat kesempatannya sangat tipis.Hanya keajaiban Allah yang bisa menyelamatkannya" kata dokter.
Alam duduk di bangku di dekat ruangan Gita. Pikirannya melayang dengan ucapan dokter. Bagaimana mungkin dia bisa menjelaskan pada Gita tentang kondisi sebenarnya. Mama melihat Alam duduk tapi tatapannya kosong.
"Apa kata dokter, lam?" tanya mama Yulia saat melihat menantunya yang termenung.
Alam memeluk Mama sambil menangis "Aku ingin mereka selamat,ma. Aku tidak bisa memilih salah satu dari mereka." Mama menyabarkan menantunya.
"Ma?"
"iya, nak."
"Tolong nikahkan kami Sekarang! Agar aku bisa mendampingi Gita sampai akhir hayatnya. Ini permintaan aku yang terakhir,ma."
"Tapi, lam."
Mama menatap Alam, dia melihat kesungguhan di mata lelaki itu. Alam bersujud di kaki Mama untuk meminta menikahkan mereka secara ulang. Wanita itu mengiyakan permintaan menantunya.
"Kamu harus yakin, Gita pasti akan bisa melewatinya. Kamu lupa gita sudah beberapa kali melewati masa koma, Tuhan masih memberi kesempatan hidup pada Gita. Itu tandanya Tuhan masih sayang pada kalian."
Tapi dari jauh Zahra melihat adegan itu ...
Ini belum seberapa boy!
Ini seberapa seperti yang kamu lakukan pada adikku dulu!
Ingat boy! Karma itu memang ada! Tapi dendam ini tak akan berjalan kalau hanya menunggu karma buatmu!
__ADS_1