
Tuhan tolonglah aku
Kembalikan dia
Ke dalam pelukku
Karena ku tak bisa
Mengganti dirinya
Ku akui jujur aku tak sanggup
Sungguh aku tak bisa
Dan t"lah ku jalani semua
Cinta selain kamu
Tapi tak ada yang sama
Beribu cara kutempuh
Tuk melupakan kamu
Tapi tak mampu
Ronal mendengar lagu yang di nyanyikan Cakra Khan. Ada rasa pilu karena mewakili yang dia rasakan saat ini.
Ronal merasa perjuangannya sudah selesai. cincin yang dulu dia siapkan untuk Gita sudah hancur karena di buang Gita. Ada penyesalan karena dulu dia gegabah dalam bertindak.
Flashback
Sekitar jam 06:00 pagi, Roki masuk membawa Gita yang pingsan di taman. Roki menceritakan kalau semalam Gita memohon pada Mama Marni supaya Ilham di bebaskan. Roki bingung meletakkan Gita dimana, tubuh Gita yang basah kuyup langsung dibersihkan oleh Rere. Awalnya Rere minta Gita di letakkan di kamar mereka. Tapi Roki takut kalau nanti jenny terbangun. Dia meraba kening Gita yang ternyata panas.
"Di kamarku saja." suara Ronal menengahi perdebatan suami istri itu.
"Kak! ini perempuan Lo."
"Mang kenapa? Kalian takut aku macam-macam. Aku tidak akan aneh aneh pada Gita. Cepat bawa ke kamar, nanti tambah parah sakitnya."
Roki akhirnya membawa Gita ke kamar Ronal. Rere mengganti baju Gita dengan baju nya. Lalu mengompres kening Gita. Karena jenny terbangun, Rere meninggalkan Gita sendirian di kamar. Ronal duduk di tempat tidur, mengganti bantal di kepala Gita dengan kakinya. Ronal mengelus rambut Gita dengan lembut, lalu mengecup keningnya. Gita tetap pulas di pangkuannya.
"Dasar, kebo! Dari dulu tidak berubah!" ucapnya dalam hati.
Ronal ingat saat Gita di bawa ke resort Ine, kala itu Gita yang habis di putuskan Roki. Gita yang tertidur pulas, ronal memangku kepala Gita ke tubuhnya. Semalaman bersama Gita menjadi kenangan tersendiri untuk Ronal.
Sekarang Gita ada di depan mata. Di kamarnya sendiri. Ronal mencium Gita dengan penuh cinta. Gairah laki-laki langsung berdesir, Ronal tidak bisa menahan diri lagi.
" Alam!" suara Mama Marni mengejutkan dirinya.
"Apa yang kalian lakukan? Kenapa wanita ini ada disini!" suara Mama Marni berang.
"Mama!" Ronal meminta pada Mamanya untuk diam.
"Ma, Gita tadi pingsan. Mama kenapa nggak bebasin Ilham? Dia tidak salah, ma. aku yang salah."
"Mama tadi sudah ke kantor polisi. ternyata Ilham sudah bebas bersyarat. Sudah di jamin keluarganya."
__ADS_1
Ronal menatap Gita yang masih belum sadar. Mama minta Ronal turun dari tempat tidur.
Flashback selesai.
...----------------...
Gita berkaca di kamar mandi. Bibirnya merasa kesakitan, Ilham tadi menciumnya dengan penuh nafsu. Kalau tidak Gita lepaskan, mungkin mereka kebablasan. Selama dengan Roki, Gita belum pernah di sentuh. Dengan Ronal cuma pas waktu nyatakan cinta Gita di cium, itu pun cuma sedikit. Tapi Ilham, Gita baru tahu kalau Ilham punya nafsu yang sangat besar.
"Gita!" suara mama memanggil.
"Iya, ma." Gita keluar dari kamar mandi setelah membasuh wajahnya.
"Sini duduk. Mama mau bicara." panggil mama mengajak Gita duduk di atas tempat tidurnya.
"Ada apa, ma?"Gita duduk di sebelah mama.
"Mama mau ngomong, penting!" Mama memulai pembicaraan.
"Kamu tadi kemana sama Ilham?" tanya mama
"Ke pantai, ma."
"Ngapain? Meneruskan nafsu Ilham tadi. Maaf, Gita bukannya mama cerewet. Tapi kamu itu perempuan, nak. Harus bisa bawa diri, harus punya harga diri. Jangan mau di sosor kayak tadi. Ketika bersama laki-laki, pakailah pakaian yang sopan. Jangan pakai yang ketat. Jadi tidak memancing pikiran para lelaki."
"Iya, ma." jawab Gita singkat.
"Jangan iya saja. Mama ngomong kayak gini karena mama sayang sama kamu, nak. Mama nggak mau kamu kayak Ine."
"Ine?"
Whaaaat jadi? Ine Hamidun duluan. Pantas waktu aku sampai dia bilang sudah hamil muda. Ternyata eh ternyata! Ya, Allah Ine. Tapi apapun yang terjadi, Ine tetap sahabatku. Aku tidak mau memandang Ine dari sisi negatifnya. Ya, walaupun aku tahu dari dulu Ine pergaulannya memang lebih bebas ketimbang Rere dan Beta.
"Ma, Gita mau istirahat." tiba-tiba Gita merasa mual. Gita berlari ke kamar mandi. Memuntahkan isi perutnya.
"Gita, kamu nggak papa!" Teriak Mama dari luar kamar mandi.
"Nggak tahu, ma. Kepala Gita pusing."
" Ya, udah kamu istirahat. Biar Mama balurin minyak angin." Mama mengurut pundak Gita dengan telaten.
"Gita, kamu nggak diapa apain kan sama Ilham. Kamu nggak hamil kan." selidik mama
Gita mencoba mengingat. Ilham hanya menciumnya, tidak lebih. Tapi kalau mual begini, Gita menebak dirinya hanya masuk angin biasa.
"Enggak, ma. Ilham tidak pernah kurang ajar sama Gita." jawab Gita.
"Semalam kamu kemana? katanya mau jenguk Ilham, tapi kok nggak pulang-pulang." tanya Mama.
"Gita di tempat teman, ma." Gita terpaksa berbohong sama Mama. Sebab kalau mama tahu Gita ke rumah Spencer, bisa perang dunia ke empat.
"Ya, udah kamu istirahat dulu, nak. Makanya jangan pake baju tipis. Kan jadi masuk angin."
Mama membaringkan tubuh Gita ke tempat tidur. Gita takut kalau benar-benar dirinya hamil. Matanya tak berhenti berair. Dapat dibayangkannya bagaimana reaksi Ilham.
Tapi Gita ingat Ilham pernah menemaninya tidur, saat setelah perkelahian antara Ilham dan Ronal. Gita memejamkan mata. Berharap yang dia takutkan tidak terjadi.
Beberapa hari kemudian, Gita mencoba tespack untuk mengetahui apakah dia hamil apa tidak. Tadi Gita membeli tespack di apotik. Dengan perasaan cemas dia menunggu hasilnya. Ternyata ....
__ADS_1
dengan rasa bahagia, Gita menangis. Yang dia takutkan tidak terjadi. Tapi tak lama sebuah garis merah samar muncul. Tubuhnya merasa gemetar saat melihat garis samar.
Gita mengamuk memukul tubuhnya. Mama yang mendengar suara dari kamar Gita, mendatangi kamar putrinya.
Gita menyudut dinding dengan wajah kusut. Mama menemukan testpack milik Gita. Gita memukul perutnya dengan tali shower. Mama memeluk Gita.
"Mama akan minta Ilham mempercepat pernikahan kalian. Dia harus tanggung jawab." ucap Mama menyabarkan Gita.
Aku benci keadaan ini. Kenapa selalu saja ada masalah dalam hidupku. Aku benci bayi ini!
Gita dalam beberapa hari mengurung diri di kamar. Mama menceritakan tentang keadaan Gita pada Siti. Siti kaget mendengarnya.
Siti mengabari keadaan Gita pada Ronal. Sebenarnya Siti tahu cerita tentang Gita yang datang ke rumah Spencer untuk meminta Ilham di bebaskan. Hanya saja, Siti memilih bungkam pada ilham.
Mama mendengar pembicaraan Siti dengan Ronal.
"Untuk apa kamu terus mengadukan keadaan Gita kepadanya, Siti?"
Siti kaget mendengar pembicaraannya di dengar mama Yulia.
"Jadi selama ini, kamu mengadu sama laki-laki itu?"
Siti gelagapan menjawab pertanyaan Mama Yulia.
"Itu... ini ... Tante..."
"Keluar kamu dari rumah ini!" usir mama Yulia.
"Maaf" Siti hanya menunduk malu.
Siti berdiri di depan rumah sakit tempat Ilham bekerja. Siti menceritakan pada Ilham kalo Gita positif hamil. Ilham kaget, dan menemui Gita.
"Gita beberapa hari ini mengurung diri. Dia masih syok." jelas Mama.
" Tante, aku akan tanggung jawab! aku akan menikahi Gita secepatnya."
...----------------...
Ilham dengan menemani Gita konsultasi kehamilan di salah satu klinik temannya. Sementara ini Ilham menunda pernikahannya karena harus menunggu Gita melahirkan.
"Kita ke dokter aborsi saja." kata Gita.
"Jangan sayang. Ini dosa kita, jangan sampai kita menambah dosa dengan membunuhnya."
"Aku ... aku belum siap." Gita menunduk
"Aku siap sayang. Tapi kita nikah siri dulu, ya. Yang penting sudah dalam ikatan." ucap Ilham.
" Nyonya Gita ramadhan." Suara suster dari ruang klinik.
Ilham mendampingi Gita masuk dalam ruangan praktek dokter. Mereka memeriksa kandungan Gita. Dan ternyata Gita tidak hamil. Wajah Gita yang tadi murung mendadak berbinar. Tangisan bahagia karena yang dia takutkan tidak terjadi.
"Tapi tadi saya masih mual-mual dok?" tanya Gita
"Kalo disini masih belum kelihatan, Bu. Coba ibu seminggu lagi kesini. Kalau masih mual mual kita periksa lebih lanjut." kata dokter menerangkan pada Gita.
__ADS_1