Aku Kamu Dan Dia

Aku Kamu Dan Dia
86. Pernikahan dalam koma ( Part 2)


__ADS_3

"ham." Gita memanggil Ilham saat sedang duduk di taman rumah sakit.


"Selamat ya, Gita. atas pernikahan kalian. Semoga langgeng." ucap Ilham tanpa menatap kearah Gita.


"Ham." Gita tetap menahan tubuh Ilham. Tapi Ilham tetap berlalu dari Gita.


Gita menangis. Dia tidak menginginkan pernikahan yang seperti ini. Tubuhnya mendadak lemas. Ilham dengan sigap membawa Gita ke ruang inap. Gita sedikit tersadar dan menggenggam tangan Ilham. Dia tidak ingin Ilham meninggalkannya sedikitpun. Mereka saling berpelukan lama. Seharusnya dia yang menikahi Gita bukan boy.


Ini semua gara-gara kamu Raisa. batin Ilham.


Mama yang melihat adegan Ilham dan Gita ikut menangis.


"Maafkan mama nak, mama terpaksa melakukan ini. Mama tidak mau anak mama di cap pelakor. Maafkan mama."


Sementara di ruangan yang berbeda, boy ( Alam) tersadar. Mata nya melihat kanan kiri. Dia baru menyadari masih berada di rumah sakit. Ada Jo dan Siti yang menungguinya.


"Kak Alam sudah sadar?" suara Siti mengagetkan dirinya.


"Siti, kok kamu ta ... hu..." boy kaget melihat Siti mengenalinya sebagai Alam.


"Tau dong. Masa adiknya nggak bisa ngenalin kakaknya. Selamat ya kak. Akhirnya kakak nikah beneran sama Gita."


Boy baru ingat soal Gita. Dia memaksa untuk menemui Gita "Aku harus cerita yang sebenarnya." boy bangkit dari tempat tidurnya.


"Kak Alam mau kemana?" tanya Siti.


"Aku mau bilang sama Gita soal siapa aku sebenarnya. Aku tidak ingin menutupinya lagi." ucap boy masih menahan dadanya yang terasa sakit. Boy tidak ingin ada yang ditutup-tutupi lagi.

__ADS_1


"Eh, jangan sekarang kak, kasih Gita waktu dulu. Dia baru sembuh dari komanya." cegah Siti.


Boy tidak memperdulikan kata-kata Siti. Dia berlari ke ruangan Gita. Tapi pemandangan yang dia lihat Gita sedang berpelukan dengan Ilham. Boy pergi dari hadapan Gita. Toh, Gita juga sepertinya tidak siap dengan pernikahan ini.Tubuhnya masih lemas duduk diatas tempat sampah.


"Saudara Boy. Anda harus istirahat dulu." Ucap dokter Juna yang melihat Boy menahan kesakitan di dadanya.


"Sebenarnya saya kenapa, Dok. Kenapa akhir-akhir ini dada saya terasa sakit." Tanya Boy pada dokter Juna.


"Mari saya jelaskan di ruangan." Dokter Juna memapah boy ke ruangannya. Dokter Juna mendudukkan boy di kursi ruangannya.


Dokter Juna menjelaskan kalau efek kebakaran membuat paru-paru milik boy mengalami infeksi. Tapi dokter Juna berjanji akan membantu penyembuhannya.


"Apakah saya akan mati, dok?" tanya Boy.


Dokter Juna menggeleng. Dia bilang boy akan sembuh kalau mau di operasi transplantasi paru-paru. Tapi sampai saat ini mereka belum menemukan yang cocok untuk paru-paru boy.


"Saya bukan tuhan. Saya tidak menemukan kanker atau apapun di tubuh anda. Saya cuma melihat paru-paru Anda mengalami infeksi." jelas dokter Juna.


Boy terdiam. Dalam bayangannya jika dia harus meninggal tapi bukan sebagai boy, melainkan sebagai Alam. Boy semakin mantap untuk menguak semuanya. Termasuk keterlibatan orangtuanya dalam menyembunyikan identitas dirinya. Tapi setelah melihat keadaan Gita, mulutnya terikat. Dia takut Gita semakin drop.


Boy memberanikan diri menemui Gita. Walaupun dia harus melihat kemesraan Gita dan Ilham.


"Boy!" suara Gita mengangetkan lamunannya.


"Iiya, Gita." boy belum bisa menatap Gita yang masih bersama Ilham di ruangannya.


"Maafkan saya, Gita. Jika kamu mau saya bisa membatalkan pernikahan ini."

__ADS_1


"Setelah semua ini kamu baru mau membatalkan. Kenapa tidak kamu tolak waktu keluargaku memintamu." gertak Gita.


Boy menunduk. Entah kenapa dia tidak bisa marah pada Gita. Dari dulu, sejak dia bertemu Gita saat menjadi Ronal, dia terlalu lemah untuk membenci seorang Gita.


...----------------...


Setelah dua hari Gita dirawat. Akhirnya mereka pulang ke rumah, hanya saja Gita belum bersedia untuk meminta boy tinggal bersama mereka.


"Siapkan kamar lain untuk dia, baru aku bisa terima." ucap Gita pada kedua orangtuanya.


"Kalian kan sudah ..."


"Itu kan yang buat pernikahan kalian! bukan aku! kalau kalian tidak menuruti aku yang pergi dari rumah!" gertak Gita pada mama dan papanya.


"Kamu kenapa, Gita. Kenapa kamu jadi se kasar ini pada kami!" omel Papa Dul.


"Keluar!" teriak Gita lalu mendorong tubuh orangtuanya.


Plaaaaak


Sebuah tamparan mendarat di wajah Gita. Mama kecewa melihat Gita yang mendorong tubuh papa Dul.


"Mama tidak pernah mendidik kamu untuk kasar sama orangtua. Mana Gita yang kemarin selalu hormat pada orangtuanya."


"Sudahlah, ma. Mungkin Gita butuh waktu untuk menerima semua ini." ucap papa mengajak mama keluar dari kamar Gita.


Braaaaakkkk

__ADS_1


Gita menutup pintu dengan keras. Gita menangis, sembari meratapi yang terjadi pada dirinya.


__ADS_2