Aku Kamu Dan Dia

Aku Kamu Dan Dia
89. S2 : Ketinggalan


__ADS_3

Masih di kost Siti


Sore ini Gita diajak boy untuk ikut menonton penampilannya di sebuah cafe Instagramable. Itu juga berkat rekomendasi Jonathan. Gita menolak ikut, takut ada yang ngeliat dirinya bersama laki-laki lain.


"Kamu kan, istriku. Wajar dong aku ngajak kamu."


"Itu kan menurut kamu. Tapi sampai sekarang, kamu aja nggak pernah nunjukin buku nikah kita."


"Nggak percaya! Ini aku bawa!" boy mengeluarkan dua buah buku. Kecil bentuknya. warna hijau dan merah bata.


Tapi tetap saja Gita belum percaya. Masalahnya pernikahan itu terjadi saat dirinya tidak sadar.


"Mau ikut nggak!" tawarnya sekali lagi.


"Nggak!" Gita pulang naik angkot.


"Mau kemana?"


"Pulanglah!"


"Pulang kemana, sayang."


"Apaaan sayang, sayang gaje banget, nih cowok!" teriak Gita.


"Gita gentong, pulang sama-sama yuk!"


Kaki Gita berasa kaku. Entah Kenapa kata-kata itu menjadi sakti dipikirannya. Tapi rasa gengsi lebih kuat, Gita tetap menaiki angkot yang sudah menunggu di depan gang kost Siti.


Boy ternyata sudah duduk di sebelah supir. Boy bilang sama pak supir kalau istrinya lagi ngambek.


"Bapak sudah nikah belum?" tanya boy pada pak sopir angkot.


"Sudah pak! Dua kali malah!"


"Wah, keren tuh pak! ajarin saya bujukin istri yang sedang ngambek!"


"Kalau saya mah, ajak keliling Jakarta pake motor. Kan mesra pinggangnya ada yang meluk!" cerita pak sopir angkot.

__ADS_1


"Udah sering pak! Pas pacaran dulu juga gitu!" celoteh boy.


"Emang kapan kita pernah pacaran!" omel Gita di belakang.


"Nah, kan marah dia nya." sahut boy dari depan.


"Oh itu istrinya ya. Imut banget. sayang dah nikah, kalau belum dah saya ceraikan istri saya yang sekarang." goda pak sopir.


Pak sopir langsung dapat tatapan tajam dari boy. Gita yang di belakang tertawa sembunyi melihat boy seolah ingin menggorok pak sopir. Apalagi pak sopir mukanya jadi pucat.


Boy melirik istrinya yang senyum-senyum sendiri "Udah nggak ngambek lagi, nih."


"Lagian siapa juga yang ngambek. Pak tolong antar saya ke Cinere."


"Cinere jauh neng, ini rutenya ke tanah Abang."


"Ya, udah saya turun disini." angkot berhenti dan Gita turun.


Boy kaget melihat Gita turun angkot. Mana motornya tinggal di kost Siti.


Rasain emang enak di kerjain. Batin Gita.


"Non Gita!" Suara seorang wanita memanggilnya.


"Mbak Tami?";Tebak Gita.


Mbak Tami dulu adalah sekretaris Papanya. Lama mbak Tami bekerja dengan ayahnya. Sampai akhirnya berhenti untuk menikah. Perempuan itu mendatangi Gita, memeluk Gita yang sudah seperti adiknya sendiri.


"Kamu sudah besar sekarang! Terakhir mbak ketemu kamu sebelum kamu pindah ke Jambi." kenang mbak Tami.


"iya, mbak. Apa kabar mbak?" tanya Gita.


"Alhamdulillah, baik Gita. Aduh kamu tambah cantik aja, masih hobi makan nggak. Mbak kebetulan punya cemilan favorit kamu, castenggel."


"Waaah, mbak masih ingat favorit aku." Gita berbinar melihat makanan kesukaannya ada di depan mata.


Dengan santai Gita membuka toples castenggel. Dia lupa kalau sekarang makanan itu jadi pantangan program kemoterapinya. Saat asyik melahap tiba-tiba tenggorokannya tercekat. Mbak Tami memberikan minuman pada Gita.

__ADS_1


Boy merasa ada yang kurang saat sudah hampir sampai di cafe. Dia berusaha berpikir apa yang terasa mengganjal. Boy baru ingat kalau dia meninggalkan Gita tadi.


Tapi diabaikannya, toh menurutnya Gita sudah besar bisa pulang sendiri. .


zreeeeet zreeeeet zreeeeet


Boy mengangkat telepon. "Iya sayang kamu dimana?"


"Kak ini Siti. Hp Gita tinggal di kostan. Kalian kemana sih. Tuh motor ditinggal aja." omel Siti.


"Aduh maaf, Siti. Tadi ada yang ngambek kabur naik angkot. Tolong simpan hp nya dulu."


"Gitanya mana?" panggil Siti


"Udah pulang." Ucap boy. Kalau dia bilang Gita di tinggalkan di tempat tak dikenal, yang ada kena semprot adiknya.


"Mas boy, sudah waktunya tampil." Panggil staf cafe.


Boy pamit pada Siti dan menutup teleponnya. Boy tampil tapi pikirannya gelisah. Dia minta maaf tidak bisa melanjutkan penampilannya. Dengan alasan istrinya sedang sakit di rumah. Untung pihak cafe mengerti, lalu mengizinkan boy untuk pulang cepat.


Gita pulang ke rumah diantar sama Ilham. dirinya tidak menyangka kalau ponakan mbak Tami adalah Ilham. Tapi Gita merasa bersalah juga saat mbak Tami menanyakan apakah Gita single atau sudah menikah. Reflek dia bilang belum.


"Gita sudah menikah belum?" tanya mbak Tami.


"Be.. belum mbak." Jawab Gita berbohong.


"Mau nggak sama ponakanku ... dia ganteng loo ... baru cerai ... terus ditinggal nikah ama pacarnya. Mau Nggak?"


"Ramaaaaa... raaamaaaa..." teriak mbak Tami


"Iya ... Tante..." sosok laki-laki berdiri didepan Gita.


"Iiil ..Hamm.." panggilnya.


"Gita ... ngapain disini?" tanya Ilham kaget lihat ada Gita di rumah tantenya.


"Kalian saling kenal? Waaah ini namanya jodoh." seru mbak Tami.

__ADS_1


"Rama ... antarkan Gita pulang, ya." ajak mbak Tami.


Ilham mau nggak mau mengantarkan Gita pulang. Ada rasa canggung saat satu mobil.


__ADS_2