
Gita berdiri di sebuah pohon. Hatinya sakit suaminya mengungkit masa lalunya bersama Ilham. Kata-kata alam yang seolah dirinya sudah kotor, kata-kata alam seolah lelaki itu menyesal menikahinya.
Gita berulang kali menarik nafas, mencoba menenangkan diri, walaupun sebenarnya dia takut karena sudah gelap. Dengan tekad yang bulat, gita melangkah ke rumah Siti. Seperti niat awalnya untuk menyatukan Siti dan Ilham. Untuk mengobati rasa bersalahnya, karena Siti kabur ke Sukasari karena dirinya.
Jahat! kamu jahat! baru tadi siang kamu berjanji padaku. Kenapa sekarang kamu ingkari lagi. Kenapa sebegitunya benci sama ilham. Hanya karena dia mantan pacarku.
kenapa kata-katamu seolah menyesali telah menikahiku. Ya, mungkin kamu menyesal telah menikahi wanita penyakitan seperti aku. Kamu menyesal telah menikahi aku yang sudah pernah dilecehkan.
Aaaaarrrgggh
Mama aku rindu sama mama. rasanya aku ingin pulang saja. Bisa berlindung sama Mama.
Tangan Gita memegang kepalanya yang mulai terasa sakit. Entah kenapa akhir-akhir ini semuanya kumat berbarengan. Memaksakan berjalan, tapi ternyata gita tak bisa menahan sakit kepalanya.
Bruuuukkk!!
Tubuhnya tersungkur ke tanah. Sebuah jalan yang becek. Tak ada manusia satu pun yang lewat.
Sementara itu Alam masih mencari istrinya.
Maafkan aku Gita. Aku tidak ada maksud menyinggung perasaanmu. Aku tidak ada bermaksud untuk menyakiti hatimu. Aku cuma tidak suka kamu masih perhatian pada Ilham. Aku cuma tidak suka kamu ikut campur urusan Ilham. Kalau lelaki itu, orang lain aku tidak masalah. Tapi ini Ilham, Gita. Lelaki yang pernah menjadi separuh hatimu. Bahkan saat awal kita menikah kamu masih berharap padanya.
Ya Allah, Gita. Kamu dimana! Kenapa setiap ada masalah kamu selalu kabur seperti ini. Aku mohon kamu pulang, Gita.
Alam terus berjalan mencari istrinya. Pikirannya kacau karena rasa bersalah yang mendalam. Di simpang jalan, Alam bertemu dengan Edwar.
"Kamu kenapa, lam?" Edwar melihat Alam seperti orang linglung.
"Gita tadi pergi dari rumah. Sampai sekarang aku belum menemukannya." jawab Alam sambil sesenggukan.
"Ya, Allah, lam. Kalian berantem lagi? Astaga kamu tuh ya! dari dulu nggak bisa jaga perasaan Gita." Omel Edwar sambil mencengkram leher baju Alam.
Mereka akhirnya mencari Gita. Malam semakin larut, Gita belum juga ditemukan. Alam dan Edwar berpencar berbeda arah. Terbayang dibenaknya kalau mertuanya tahu yang terjadi pada Gita. Alam takut mama Yulia kembali bertindak.
__ADS_1
Edwar mengerahkan beberapa warga mencari Gita. Siti pun ikut mencari bersama Edwar. Siti pun memarahi Alam karena kembali teledor. Tapi dari keterangan bibi, Gita yang terlebih dahulu menampar Alam lalu pergi.
"Tidak mungkin Gita semarah itu kalau tidak ada ucapan kak Alam yang menyakitinya." jelas Siti pada bibi
"Gita ketemu! Gita ketemu!" Teriak salah satu warga.
"Dimana! dimana!" Alam langsung berdiri mengikuti warga untuk menunjukkan keberadaan Gita.
Warga membopong Gita yang ternyata pingsan di dekat sawangan. Alam mengikuti warga untuk membawa istrinya. Suara alam yang terus minta maaf pada Gita membuat warga penasaran. Apa yang sebenarnya terjadi.
"Gita bangun! maafkan aku, Gita! maafkan aku!" Alam terus mengguncang tubuh Gita yang kotor kena becek tanah merah. Wajah Gita terlihat pucat. Tangannya memegang perutnya yang buncit.
klik
di kediaman keluarga Gunawan
Mama semalaman tidak bisa tidur. Entah kenapa dia merasa rindu pada putri semata wayangnya. Ada rasa mengganjal yang sejak tadi mengganggunya.
"Pa." Mama membangunkan papa Dul yang sedari tadi sudah terlelap.
"Ada apa sih, ma?"
"Pa, mama daritadi kepikiran Gita terus." jawab Mama sambil memegang hp. Matanya menatap layar berharap ada kabar dari putrinya.
"Ini sudah malam,ma. Mama pasti mau menelpon Gita, kan. Dia pasti sudah tidur, ma. Sudahlah, Kalau kangen besok aja telponnya. Lagian Gita kan sama suaminya. Mama tenang aja deh." papa kembali mencoba menenangkan Mama.
Papa tahu kalau firasat seorang ibu tak pernah salah. Tapi papa tidak ingin mama terus-terusan merongrong rumah tangga Gita dan Alam. Seperti pengalaman yang sudah karena terlalu sayang pada Gita, berujung pada nasib rumah tangga Gita.
"Tapi, pa. Mama belum tenang kalau belum tahu kabar Gita. Papa nggak peka sih!" ucap Mama kesal melihat papa Dul kembali memeluk guling.
Gita apa kabarmu, nak. Mama rindu padamu. Apakah kamu bahagia disana? apakah Alam memperlakukanmu dengan baik? Kenapa perasaanku sedari tadi tidak enak.
Ya Allah, lindungi putriku dari marabahaya. Apalagi suaminya sering teledor.
__ADS_1
Gita semoga kamu disana baik-baik saja ya nak. Semoga tidak ada bahaya yang menimpamu.
Mama mencoba menghubungi Alam tapi tidak diangkat. Semakin malam mama semakin gelisah. Akhirnya Mama memilih menghubungi Siti, ingin tahu kabar Gita.
.Sebuah telepon berdering dari hp Siti. Siti menatapnya dengan perasaan tidak karuan.
"Assalamualaikum, Tante Yulia, Tante apa kabar?" Tanya Siti untuk basa basi.
"Kabar Tante baik, nak. Kamu apa kabar?" jawab mama Yulia.
"Alhamdulillah baik, Tante. Ada apa Tante?"
"Gita nya ada, nak? Tante kangen sama dia."
"Oh, Gita Tinggal di tempat bibinya Alam, Tante." jawab Siti.
"Oh, Tante kira nginap sama kamu, ti. Soalnya Tante hubungi tidak ada mengangkat baik Gita maupun Alam. Ya, udah, ti. Kalau bertemu dengan mereka suruh hubungi Tante."
"Iya, Tante. Nanti Siti sampaikan."
Siti cuma bisa menghela nafas. Karena tidak enak sudah berbohong dengan Mama Yulia. Matanya beralih ke Gita yang masih belum sadar.
Karena menurut dokter Gita hb nya rendah sehingga diperlukan perawatan untuk beberapa hari di puskesmas.
Maafkan Siti Tante Yulia.
Siti tidak bisa mengatakan kondisi Gita yang sebenarnya.
Karena itu bukan ranah Siti.
Semoga Tante mengerti.
...####...
__ADS_1
Bersambung