
Alam berdiri di sebuah hamparan rumput yang menjulang tinggi hampir menutupi tubuhnya. Kakinya terus berjalan tanpa henti. Langit putih bersih tanpa awan terlihat, cahayanya menyilaukan pandangannya.
Seorang anak kecil laki-laki berdiri di depannya. Tangan mungilnya menarik tangannya seolah mengajaknya ikut bermain. Wajah anak itu seperti dirinya, Alam berpikir kalau anak itu adalah pantulan masa kecilnya yang tidak bahagia.
"Ayah!" suaranya yang lucu membuat Alam tidak fokus dengan panggilan si anak.
"Ayah, bermain denganku disini." panggil anak itu
"Siapa namamu nak?" Alam jongkok agar sejajar dengan anak kecil itu.
"Chicco, yah." Jawab anak itu sambil tersenyum.
"Mana bundamu?" tanya Alam pada Chicco.
"Nanti kita bertemu bunda, yah. Sebentar lagi kita berkumpul yah. Tapi ayah harus janji, jagain bunda ya. Jangan tinggalkan bunda, yah. Kasihan bunda,yah."
"Sekarang temenin Chicco dulu, yah. Kita main bersama."
Alam duduk melihat Chicco asyik bermain. Matanya melihat sinar yang terang dan menyilaukan.
"Ayah, pulang saja Chicco masih mau bermain disini. Chicco titip bunda, yah."
"Kita sama-sama pulang, nak." ajak Alam pada Chicco.
"Belum waktunya, yah. Ayah duluan saja."
Alam merasa tubuhnya tersedot ke cahaya yang menarik tubuhnya. Samar-samar dia mendengar suara memanggil namanya. Suara wanita yang dia cintai.
Sementara sebuah kain putih menutup wajah Alam. Dokter menyatakan Alam meninggal dunia, Mama Marni menangis histeris mendengar anak semata wayangnya sudah tiada.
Gita diajak Zahra menengok Alam. Awalnya Gita masih belum tahu tujuan Zahra membawanya ke rumah sakit Bhayangkara. Karena tujuannya bukan kesana, melainkan ke rumah sakit Kasih Bunda.
Sampai di sebuah ruangan, Zahra membuka pintu. Gita terbelalak melihat pemandangan di depannya, sebuah kain yang akan menutupi tubuh suaminya. Tubuhnya tumbang, lemas melanda.
Bruuuukkk!!!
Seketika Gita pingsan, semua histeris melihat keadaan Gita. Roki dan papa Bobby membopong Gita ke ruang rawat. Mama Marni menangis melihat kondisi Gita. Berkali-kali meminta maaf pada menantunya. Memang terlambat, karena Alam sudah tiada.
Gita terbangun mengguncang tubuh suaminya.
wajahnya di tekuk kedalam memperlihatkan kesedihan yang mendalam.
"Bangun! Bangun! jangan tinggalkan kami!" tangis Gita.
__ADS_1
Gita kembali membenamkan wajahnya dibawah lipatan tangannya. Sebuah tangan membelai rambutnya.
"Kamu nangis seolah aku sudah meninggal." suara itu mencoba menenangkan Gita.
"Jahat! Kamu jahat! Tega kamu tinggalkan aku sedang hamil begini!" ceracau Gita masih membenamkan wajahnya.
"Yang, aku nggak pernah mau ninggalin kamu." tangan itu kembali membelai rambut Gita.
Gita menyadari ada suara yang dia kenal. Kepalanya yang terbenam kembali di tegakkan. Sebuah senyuman di wajah pria di depannya. Tanpa basa-basi Gita memeluk suaminya, sambil mengomel.
"Nggak lucu, tau!" omel Gita sambil mengusap wajahnya yang basah karena air mata.
"Nggak papa, kamu aja udah lucu kok." canda Alam.
Saking kesalnya Gita memukul dada Alam sampai suaminya mengeluh kesakitan.
"Yang pelurunya disini, Lo." jawab alam menunjukkan di bawah dada bagian kiri.
"Peluru?" Gita bingung dengan cerita suaminya.
"Kak Alam di tembak saat berusaha kabur dari polisi." cerita Roki.
"Bandel. Tapi sudah keluar kan pelurunya." Omel Gita.
"Sudah, kok." Jawab Roki.
"Sekarang?"
"Sekarang aku tenang. Apalagi ada kamu dan anak kita." Alam mengelus perut Gita yang mulai terlihat membesar.
"Gita." suara Mama Marni dengan lembut.
Marni berdiri memeluk Gita sambil membelai rambut menantunya.
"Maafin, mama nak. maafin yang sudah berusaha memisahkan kalian. Mama sadar, kalian memang tidak bisa di pisahkan. cinta kalian begitu kuat. Maafin mama yang ingin memisahkan kamu dan bayimu." Isak Mama Marni.
"Gita sudah maafin mama. Aku tahu mama seperti ini karena sayang sama Alam. maafin aku ya, ma. Kalau selama ini aku sudah bikin keluarga ini jadi hancur." jawab Gita Sambil memeluk Mama Marni.
"Kamu mau kan pulang ke rumah kami sebagai menantu Mama." Ucap Mama Marni masih merangkul Gita.
"Aku bicarakan sama mama dan papa dulu, ya."
"bu, mungkin kami tetap tinggal di rumah mama Yulia." Alam ikut menjawab. Dia masih was-was kalau ibunya punya rencana lain.
__ADS_1
Alam tersenyum melihat ibu dan istrinya sudah akur. Baginya ini adalah kado terindah. Mama Marni masih memeluk Gita, lalu mengelus perut Gita yang mulai membesar.
"Hai, cucu Oma. Cepat lahir ya, nak. Biar ada teman Oma nanti."
Alam mengkode keluarga untuk meninggal mereka berdua. Tubuhnya mencoba bangkit. Tapi di tahan oleh Gita.
"Peluk dong, yang. Kangen." Rengeknya pada istrinya.
"Aish, ini rumah sakit. Dasar otak mesum."
"Tadi kesini sama siapa?"
"Sama kak Zahra. Kenapa?"
"Hati-hati ya sama dia. Dia masuk ke kehidupan kita karena dendam sama boy."
"Nggak mungkin ah. Kak Zahra itu baik orangnya. Kalau dia jahat aku udah diapain sama dia."
"Pokoknya waspada aja. Soalnya aku masih pake wajah Boy. Dia yang jeblosin aku ke penjara."
"Udah, ah. Nggak usah mikir yang aneh-aneh deh. Kamu istirahat, ya. Aku mau kontrol dulu."
"Jangan, ah. masih kangen." Alam menahan tangan Gita. Gita mengecup pipi suaminya. Alam hendak mencium bibir Gita, tapi dilepas oleh Gita. Dia kesal kalau otak mesum suaminya kumat, apalagi mereka sedang di rumah sakit.
"Kamu sekarang kok genit ya, agresif pula. Perasaan dulu nggak gini deh." kata Gita.
"Lupa, ya! Yang nyium kamu di Sukasari saat nembak kamu siapa? yang nemenin kamu di ranjang saat kamu di putusin Roki siapa? yang nyium kamu saat kamu pingsan waktu Ilham di penjara siapa?"
"Bentar? waktu Ilham di penjara? yang babak belur karena sok pede ngelamar aku itu, ya." tebak Gita sambil tertawa.
"iya, sampai belur masuk rumah sakit gara-gara pacar kamu itu." Alam merasa gondok kalau ingat kejadian itu.
"Salah sendiri, aku udah punya pacar, kamu malah ngegodain punya orang. Itu namanya bangunin singa yang sedang tidur." ucap Gita sambil tertawa.
Kalau Gita ingat saat itu, dia ingin memutar waktu agar tragedi itu tidak terjadi, tersisip rasa bersalah dalam dirinya.
"Aku nggak akan mengambil hak kamu karena kita belum sah. Makanya aku baru bisa seperti ini yang karena kita sudah sah." jelas Alam sambil mengelus pipi tembem Gita.
Zahra muncul mengajak Gita pulang. Tatapan Alam menandakan dia tidak suka kehadiran Zahra. Baginya kehadiran Zahra merupakan masalah baru untuk rumah tangganya. Gita pamit pulang tapi di larang sama Alam.
"Kamu pulang sama Roki saja."
"Kok sama kak Roki, sih. Tadi aku berangkat sama kak Zahra."
__ADS_1
"Pokoknya kamu pulang sama Roki. Ini perintah suami nggak boleh di bantah."
Gita menghela nafas dan meminta maaf pada Zahra kalau tidak bisa pulang bareng. Roki muncul mengajak Gita pulang. Rere yang melihat Roki mengantar Gita pulang, terbesit rasa cemburu.