
Marni pulang ke rumah. Selama perjalanan pikirannya berkecamuk antara menghormati status pernikahannya dengan Papa Bobby. Tapi perasaan yang kembali datang saat bertemu Brian, cinta pertamanya, cinta satu malamnya.
Marni pulang dengan perasaan kalut, walaupun dia tidak ingin meninggalkan Alam. Tapi karena ada Brian yang menjaga putranya. Marni sedikit tenang, bagi Marni inilah kesempatan mereka kembali dekat.
Sampai di rumah Marni langsung ke kamar. Matanya menatap suaminya yang sudah tertidur. Ada rasa bersalah karena sudah banyak membebani suaminya.
Maafkan aku,mas. Selama ini sudah banyak mengecewakan kamu. Walaupun kamu tahu alam itu ponakanmu, anak adikmu, tapi kamu masih menerimaku, tidak meninggalkanku.
"Marni..." suara papa Bobby mengagetkannya.
"iya, mas." Marni duduk disamping suaminya.
"Bagaimana keadaan alam dan Gita?"
"Alhamdulillah Gita sudah sadar, mas. Tadi dia pengen nemenin suaminya, tapi kularang soalnya kelihatan masih pucat."
"jadi siapa yang jaga Alam?"
"Brian dan Ilham, mas."
"Marni... apa kamu masih mencintai Brian?"
Sebuah pertanyaan yang membuat Marni terdiam. Papa Bobby paham kalau pernikahan mereka bukan berdasarkan cinta. Dia tahu kalau Marni sudah lama mencari Brian untuk meminta pertanggungjawaban atas dirinya dan Alam.
"Tidak, mas. Dia sudah bukan siapa-siapa aku lagi." Jawab Marni lirih.
Papa Bobby menggenggam tangan mama Marni. Menatap wanita yang sudah dinikahinya 17 tahun yang lalu. Ada rasa bersalah yang menderanya. Dulu, papa Bobby menikahinya hanya untuk memberikan ibu untuk Roki. Bukan berdasarkan cinta. Namun, setelah banyak tanggapan sumbang dari beberapa pihak keluarga. Papa memilih mengasingkan Marni di vila Bogor.
Walaupun saat itu Marni berontak karena ingin tetap di kediaman Spencer. Tapi dirinya yang keras saat itu tetap pada pendiriannya.
Bobby tahu diam-diam Marni masih mencari kabar tentang putranya di Jambi.
Saat itu, Bobby merasa jika Marni masih berkomunikasi dengan keluarga di Jambi, maka sewaktu-waktu Marni akan pulang kesana dan kembali membawa putranya.
Yang ditakutkan Bobby benar, Marni datang membawa putranya yang saat itu kritis. Walaupun Marni bilang itu anak kakaknya, tapi Bobby bukan orang yang gampang di bohongi.
Bobby menawarkan pendidikan keluar negeri untuk Alam. Dengan begitu Marni tidak terus dekat dengan Alam.
Tapi sejak Alam pulang, Bobby melihat anak angkatnya mempunyai potensi bagus di perusahaan. Maka itu Bobby mulai menggembleng Alam, berharap bisa jadi penerus keluarga. Beda dengan Roki yang saat itu belum berminat membantu perusahaan. Saat itu pula Bobby menjadi sayang pada Alam. Dia juga tidak melihat ada kecemburuan dalam diri Roki. Malah mereka seperti kompak dalam menjalankan perusahaan.
"Mas.." suara Marni mengagetkan lamunannya.
"Iya." Bobby mencoba tersenyum dengan menatap istrinya.
__ADS_1
"Gita sudah sadar. Itu berarti pendonoran paru-paru untuk alam tidak jadi."
"Kenapa kita tidak mencari donor yang lain?Jangan Gita, anaknya pasti butuh kasih sayang ibunya."
Marni tampak berpikir sejenak "Biar aku tanya Ilham dulu."
"Jadi kamu sudah bisa menerima Ilham sekarang."
"Maksud mas?"
"Kamu tahu kan hubungan Ilham, Alam dan brian."
"Hmmmm... saya masih belum paham, mas."
"Ilham itu juga keturunan Spencer. Anak dari pernikahan sah Brian dan Mila."
Marni menunduk. Dia paham dengan ucapan suaminya. Dengan kata lain Ilham akan lebih diakui ketimbang alam yang anak hasil di luar pernikahan sah.
"Aku tahu diri mas. Ilham lebih diakui oleh kalian karena dia cucu sah Firma Spencer. Anak dari pernikahan yang sah. Beda dengan Alam, yang anak hasil diluar nikah."
Bobby kaget ucapannya rupanya menyinggung perasaan Marni. Buru-buru dia meralat ucapannya "Bukan begitu, sayang. Alam juga bagian keluarga ini. Aku tidak pernah membedakan Alam dan Roki. Aku sudah anggap Alam seperti anakku sendiri.
Pokoknya setelah Alam sadar kita akan mengadakan pesta untuk menyambut keluarga baru kita yaitu Ilham. Aku akan buatkan rumah sakit untuk dipimpin oleh Ilham. Jadi dia tidak perlu bekerja lagi dirumah sakit itu. Akhirnya kita semua berkumpul bersama. Apalagi kalau cucuku sebentar lagi akan lahir."
"Mas.."
"ngomong-ngomong soal cucu. Mas melupakan Rere. Dia sudah memberikan dua cucu yang lucu untuk kita."
"Ya, Allah maafkan aku. Kedua cucuku pasti sangat ingin bertemu kakek neneknya."
"Besok kita ke tempat Irawan menengok cucu-cucuku. Tapi kenapa Rere tidak pernah bersilaturahmi ke tempat kita."
"Mas, aku rasa Rere belum berani kesini karena masih malu dengan apa yang dilakukan Roki. Dari informasi yang aku dapat Jenny sudah dua kali pindah sekolah karena di bully sama teman-temannya."
"Ya Allah, kasihan cucuku. Sudah kita bawa Rere kembali ke keluarga ini. Soal sekolah jenny biar kita carikan guru homeschooling saja."
Marni bersyukur suaminya masih mau melihat keadaan Rere dan kedua anaknya. Dia berharap rumah mereka akan kembali ramai karena semua keluarga berkumpul lagi.
"Oh, ya. Anaknya Gita itu laki-laki apa perempuan." tanya papa Bobby.
"kata Alam, calon anak mereka perempuan, mas." jelas mama Marni.
"Wah, sepertinya rumah ini dominan cucu perempuan, ya. Pokoknya kita siapkan hadiah untuk semua cucuku. Untuk anak Rere dan anak Gita."
__ADS_1
Papa Bobby sangat semangat ketika mendengar cerita tentang cucu-cucunya. Sejak Roki di tangkap rumah mereka terasa sepi. Apalagi Gita dan Alam lebih sering di rumah mama Yulia daripada di kediaman Spencer.
Ya Allah semoga keinginanku untuk berkumpul dengan keluarga besarku segera terwujud. Sebelum akhirnya tuhan memanggilku. Mengingat usiaku tidak muda lagi.
Marni adalah istriku yang paling baik. Walaupun aku sering menyakitinya, tapi dia tidak pernah sedikitpun meninggalkan aku.
Terimakasih kau kirimkan istri seperti Marni. Walaupun kadang dia menyebalkan karena kebenciannya pada Gita.
Maafkan aku Marni. Maafkan aku yang dulu pernah mengasingkan dirimu di vila Bogor. Pernah mencoba menjauhkanmu dari Alam. Tapi kamu tidak sedikitpun membenciku. Jika memang kamu mau kembali pada Brian, aku ikhlas. Asalkan kamu bahagia.
Papa Bobby memegang tangan mama Marni dengan erat. Seolah ingin menguatkan istrinya yang masih sedih dengan apa yang dialami Alam.
Zreeeeet zreeeeet zreeeeet
Hp mama Marni bergetar. Mama menerima telepon yang ternyata dari Ilham. Wajah mama Marni berbinar saat menerima telepon dari dokter yang juga anak tirinya.
"Alhamdulillah... Terimakasih ya Allah."
"Iya..Iya kami akan segera kesana."
Mama Marni menutup telponnya lalu menghampiri suaminya.
"Mas, alam sudah sadar. Kita kesana sekarang, ya. Aku siapkan mas untuk ke rumah sakit, ya."
Papa Bobby menahan tangan mama Marni.
"Kita kesana besok saja. Biarkan alam dan Gita melepaskan rindu. Aku yakin ada Gita disana. Kamu tahu sendiri kan kalau mereka sudah bertemu dunia serasa milik berdua."
"Iya, Papa tahu sendiri alam itu kalau sama Gita bucinnya kumat. Ya, udah kalau begitu mas istirahat dulu, ya. Aku mau ke dapur dulu, lapar. Mas mau aku buatin makanan?"
"Nggak usah. kalau kamu mau makan, makan saja. Aku sudah kenyang."
Mama Marni keluar dari kamar. Papa Bobby hanya tersenyum simpul melihat istrinya keluar dari kamar.
Bersambung
...######...
Alhamdulillah Gita dan Alam kembali eksis mendekati episode terakhir, ya.
Maaf kemarin sempat off karena sibuk di dunia nyata.
Minal aidzin wal Faizin
__ADS_1
mohon maaf lahir dan batin
Dari author dan keluarga.