Aku Kamu Dan Dia

Aku Kamu Dan Dia
91. S2: Pengakuan Boy


__ADS_3

Boy datang ke rumah sakit untuk pamit pada Gita. Gita yang sudah membaca artikel tentang kematian Boy dan Alam, membanting artikel itu di depan muka Boy.


"Pembunuh!" teriak Gita


"Pantas kamu datang ke kehidupan saya, seolah tahu tentang saya, itu buat nutupin kalau kamu yang sudah buat Alam meninggal kan." Pekik Gita.


"Gita itu kecelakaan! asal kamu tahu! kenapa aku bisa berdiri di depanmu? itu karena aku adalah Alam, bukan boy! Karena aku cinta sama kamu! Aku cinta sama kamu, Gita,"


"Bohong! Pembohong!! Kalau kamu nggak mabuk saat bawa motor! Alam pasti masih ada disini. keluar! keluar!" Gita memegang telinganya. Kepalanya mendadak pusing.


"Gita aku bukan boy! Aku Alam, Gita! tolong dengarkan aku! Gita!" teriak Alam. Ilham menyeret Alam keluar dari ruangan Gita.


Dada Gita terasa sesak. Alam melihat beberapa dokter masuk ke ruangan Gita. Alam akan masuk ke sana tapi di tahan Ilham.


"Lo itu sudah nyakitin perasaan Gita, boy!"


"Diam kamu! ini pasti gara-gara kamu!" bentak Alam.


Dua pria tersebut saling adu jotos. sekuriti rumah sakit sampai turun tangan memisahkan Alam dan Ilham.


"Ini bukan waktunya berantem! Gita sedang drop kalian malah adu jotos. Jangan seperti anak kecil!" omel mama Yulia.


"Tante tolong bantu saya, jelaskan pada Gita kalau aku bukan boy. Tolong Tante!" Boy sampai bersujud sujud di kaki Mama Yulia.


Mama menahan tangisnya. Lalu memeluk Alam. "Mama harap, kita bisa bicarakan ini setelah Gita sadar. Makanya kamu jangan tinggalkan Gita."


"Tapi ... ma." Alam pusing dia sudah berjanji pada ibunya untuk pamit dari Gita.


...----------------...


Sejak saat itu, Gita sudah tidak ingat lagi kejadian di rumah sakit. Dia juga heran kenapa Boy tiba-tiba menghilang. Bahkan pengakuan boy kalau dia adalah Alam pun sudah lenyap dari ingatannya. Dari Ilham, Gita tahu kalau Boy sudah menceraikannya.


Sudah satu Minggu Boy tidak menampakkan diri di rumah. Gita menanyakan keberadaan boy pada Mamanya, tapi mamanya tidak bisa menjawab. Gita mencoba menghubungi pria itu tapi nomornya tidak aktif. Dan akhirnya Gita mendatangi kost Boy. Tapi kata teman-temannya boy pindah ke rumah Gita.


"Ini orang mau nya apa sih? Main hilang aja." omel Gita.


"Nggak mungkin aku ke tempat Siti. Siti kan sudah pulang ke Sukasari."


Gita langsung menuju angkot untuk pulang ke rumah. Boy yang sedang mengendarai mobil berselisih jalan dengan angkot yang di naikin Gita. Boy akan pamit pada temen-temen kostnya untuk pulang ke Malaysia.


"Kakak nggak pamit sama Gita?" kata Roki yang ikut di mobil Boy.


"Sudah." jawabnya singkat. Boy takut dia tidak kuat kalau bertemu Gita. Apalagi kalau Gita kembali histeris ketika melihat dirinya.


"Kakak mau balik jadi Alam lagi dan kembali ke sini." ucap Roki yang melihat kakaknya tidak fokus menyetir.


"Sepertinya aku akan pulang ke Sukasari. Menetap disana. Kasihan bibi tidak ada yang menjaga." ucap Alam matanya menatap luar kaca.


Boy sedikit melamun membuat Roki takut


"Sini biar aku yang nyetir. Ntar ada apa-apa, aku masih punya anak istri. Beda sama kakak" ejek Roki.


"Aku juga punya istri." Boy tidak mau kalah dari Roki.


"Istri yang mau di ceraikan hahahahahaha." Suara Roki tertawa keras.


"Hussh." Boy menutup mulut adiknya.


"By the way, kakak ama Gita udah belum." goda Roki.

__ADS_1


"Udah apaan..." boy tidak paham omongan Roki.


"Honeymoon." Jawab Roki.


"Belum." Jawab Boy rada malu-malu.


"Lah, gimana sih? nikah sudah hampir satu bulan, tapi belum gituan." ucap Roki sambil tertawa.


"Ceweknya nggak mau. Masa aku maksa, yang ada dia kabur nantinya." canda Boy.


"Makanya jujur. Dia tahu suaminya Boy bukan Alam." omel Roki.


Boy tersenyum mendengar ocehan Roki. Boy membuka buku nikahnya yang sebenarnya memakai nama Alam bukan nama Boy. Mama Marni terus mendesak Alam supaya mengurus surat perceraian. Tapi belum juga dia lakukan.


Entah kenapa berat rasanya dia mau pergi ke Malaysia. Sejak dia pulang ke kediaman Spencer pikirannya tidak tenang. Apakah Gita sekarang sedang bahagia atau mungkin sibuk dengan kemoterapinya.


"Kakak temui Gita dan bilang kalau kakak adalah Alam bukan boy. Masalah Gita terima atau tidak itu urusan belakangan. Yang penting tidak ada salah paham lagi. Kakak tahu dia rajin ngunjungin makam kakak. Itu tandanya dia masih ada rasa. Jangan main ngumpet lagi. Kasihan Gita." nasihat Roki.


"Terus ngapain dia terima Ilham."


"Karena mata Gita berasal dari Keisya dan orang tua Ilham ingin mereka menikah, karena ada keisya di dalam diri Gita. Dan Ilham mau tanggung jawab pada Gita terkait kasus mereka dulu." jelas Roki.


"Tau banget kamu, Ki."


"Gita sering curhat sama Rere." ungkap Roki.


Mereka sampai di kost-an, teman-teman boy mengatakan kalau barusan Gita datang. lagi-lagi Roki menggoda boy (Alam)


"Tuh, dicariin sama istrinya."


"Apaan sih, ki? Udah yuk kita pulang." ajak boy.


"Aku nggak bisa pulang kesana lagi. Sekarang dia benci sama aku, Ki."


"Kak kalau dia mencari Kakak. Itu berarti dia masih menunggu kakak. Temui dia, kak. Jelaskan yang sebenarnya." bujuk Roki.


...----------------...


Gita memandang gaun yang dia belikan untuk Siti. Seperti yang diketahui, Siti akan menikah dengan lelaki pilihan ibu.


"Seandainya aku umur panjang, aku ingin sekali memakainya. Siti pasti cantik sekali memakai baju ini. Akhirnya sahabatku yang satu lagi sudah punya tempat berlabuh. Ya, walaupun bukan sama om Jo." ucap Gita masih menatap gaun nikahnya Siti.


"Kamu cantik kalau memakainya. Apalagi kalau aku pasangannya. Kita bagaikan Romeo and Juliet. Aku juga ingin lihat wanitaku memakai gaun ini." ucap boy yang sudah berdiri di samping Gita.


Gita belum menyadari kalau dia sedang mengobrol dengan boy


"Nggak mungkinlah! Nggak akan pernah bisa! Aku cuma menunggu waktu saja. Aku ..."


Gita akhirnya menyadari kalau ada yang mengajaknya ngobrol.


"Boy. .. ngapain kesini?"


"Ketemu sama istriku lah. Emang ngapain lagi?"


"Ya, kan kita mau cerai." Gita pura-pura sibuk mengecek gaun nikah Siti.


"Emang aku pernah bilang mau menceraikan kamu? lagian selama belum ketok palu, kita masih sah suami istri." Alam merapatkan tubuhnya ke dekat Gita.


Alam berjalan mendekati Gita. Gita pun berjalan mundur, dia mulai takut Alam akan melakukan yang aneh-aneh.

__ADS_1


"Kamu ngapain? jangan aneh-aneh deh, boy."


"Nggaklah, kita kan masih suami istri." Alam dengan senyum nakalnya, mendekatkan tubuhnya ke wajah Gita.


Gita memegang apapun untuk membela diri.


"Kamu ingat Gita, waktu pertama kali kita bertemu, seorang anak kota yang bikin aku babak belur gara-gara ular mainannya.


kamu ingat Gita, waktu kita jatuh di lobang ranjau, gara-gara kamu sok-sokan kabur dari rumah.


kamu ingatkan Gita, pertama bertemu setelah bertahun-tahun kita terpisah, kamu menolak perjodohan dari opa


Kamu ingatkan saat aku melamarmu di Sukasari


kamu ingatkan ..."


"Cukup! Tolong hentikan boy!" Gita menutup telinganya.


"Apakah itu belum cukup bukti kalau aku adalah..."


"Apakah kamu mau menunjukkan kalau kamu adalah Alam? Aku tahu itu kamu, lam. Sudah lama aku tahu. Tapi kamu tahu yang kamu lakukan padaku sekarang sama seperti waktu kamu ninggalin aku sejak kasus pengeroyokan di Sukasari dulu. Kamu nyiksa aku secara perlahan-lahan, bukan nyiksa fisik tapi nyiksa batin. Aku muak sama kamu!" Gita mulai emosi.


"Sekarang kamu keluar dari kamarku!" usir Gita.


"Gita! Aku tidak akan pernah ninggalin kamu!"


Alam memeluk tubuh Gita dengan erat. Gita Mencoba melawan tapi dia kalah.


Alam mencondongkan kepalanya ke bibir Gita. Gita terdiam, sejenak dia menikmati pertukaran saliva itu.


Alam membuka kancing piyama Gita pelan-pelan. Tapi bibirnya tetap beradu di bibir Gita.


Tok tok tok


Gita kaget. Lalu mendorong tubuh alam dan membenarkan pakaian mereka.


Uhh! Hampir saja dia merenggutnya. batin Gita.


"Mama ganggu, ya." Mama merasa tidak enak.


"Nggak kok! Kami cuma ngobrol aja kok." elak Gita.


Mama tersenyum melihat kedua anaknya seperti kusut sekali.


"Mama cuma minta tolong sama kalian!"


"Apa itu, ma?"


"Tolong kasih mama cucu." ucap Mama sambil tersenyum.


"Haaah!" Gita kaget dengan permintaan Mama. Bagaimana mungkin dia memenuhi keinginan mamanya. Gita melirik Alam dengan tatapan kesal. Sementara yang di lirik tersenyum menang.


"Secepatnya, ma." Jawab Alam dengan santai.


Gita mencubit pinggang Alam. Lagi-lagi Alam menggodanya "Kenapa sayang, masih mau lanjut yang tadi?" ucapan Alam di balas pelototan dari Gita.


"Kamu kayak gini bikin aku tambah gemes, tau." Alam masih menggoda Gita.


Gita mendorong tubuh Alam keluar dari kamarnya. Di dalam dia merasa geli karena tubuhnya sudah di pegang Alam. Gita langsung mandi membersihkan diri.

__ADS_1


__ADS_2