
Beberapa hari sebelumnya
"Kamu mau kemo lagi, Sayang." ucap Alam saat sedang beristirahat di kamar mereka.
Gita menggeleng. Dia sudah tidak mau lagi dengan pengobatan apapun. Kalau memang ajalnya sudah dekat, toh bakal mati juga. Dia takut kalau kemoterapinya akan menggangu kehamilannya. Dia ingin sekali menikmati masa kehamilannya yang dulu terenggut karena masalah suaminya.
"Kenapa? Aku cuma ingin kamu sembuh sayang." tambah Alam yang melihat istrinya mulai cuek dengan kondisinya.
"Yang .... kalau aku meninggal nanti... kamu mau kan mencari ibu buat anak kita" ucap Gita tiba-tiba.
"Kamu ngomong apaan sih? nggak ada ibu baru ... dia tidak akan kekurangan kasih sayang walaupun tanpa ibu sekalipun. Pokoknya mulai sekarang kita mulai fokus dengan kesehatan kamu. Nggak ada tunda-tunda lagi. Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa lagi."
"Ya, tapi kan aku sekarang nggak ada kumat lagi." jawab Gita tidak kalah ngototnya.
"Ini apa?" alam membuka kotak sampah di kamar mandi yang isinya tisu berdarah.
"Kamu mimisan lagi, kan."
"Nggak kok. itu bekas lipstik." jawab Gita asal.
Alam menghela nafas. Istrinya ini lumayan keras kepala. Padahal semua demi kepentingan Gita juga. Alam mengambil ponsel menghubungi Ilham. Karena yang dia tahu Ilham berkecimpung di bidang penyakit dalam seperti yang dialami istrinya.
Gita tidak bisa berbuat apa-apa. Suaminya kalau mau sesuatu pasti akan dilakukannya. Gita sedikit senang kalau Alam mulai perhatian pada penyakitnya.
Gita memegang kedua pipi suaminya. Di tatapnya wajah Alam dengan penuh cinta. Alam merasa istrinya ini ada maunya. Tangannya melingkar ke pinggang Gita.
"Yang ... aku senang kamu khawatir sama kondisiku." jawab Gita dengan pelan.
"Aku cuma tidak ingin kehilangan kamu, sayang. Aku ingin kita bersama-sama melihat anak kita tumbuh. Punya orang tua yang lengkap, jangan seperti aku yang sejak kecil di gunjing orang karena tidak punya ayah yang jelas." kenang Alam.
Gita berdiri, lalu duduk diatas paha suaminya. Tangannya melingkar ke leher suaminya. Alam sepertinya terpancing dengan reaksi Gita. Wajah mereka saling mendekat, sampai Gita mencium bau rokok dari nafas suaminya.
,
"Kamu ngerokok lagi!" omel Gita.
"iya, Maaf sayang. Habis pusing kalau nggak ngerokok. Kerjaan banyak, mana Roki maksa ngambil proyek di luar kota" elak Alam.
Beberapa hari ini kerjaan di kantor sangat menumpuk. Sampai Roki pernah minta dirinya untuk ikut proyek yang di daerah Anyer untuk pembuatan hotel disana. Tapi di tolak Alam karena dia tidak mau jauh dari Gita yang sedang hamil.
__ADS_1
"Gita kan ada yang menjaga. Ada Tante Yulia juga. Kakak nggak usah lebay deh. Rere aja sudah biasa aku tinggalkan." ucap Roki.
Pasalnya para rekan proyek ingin sekali Alam terlibat dalam proyek ini. Karena dulu proyek yang ditangani Alam berhasil. Tapi tetap saja di tolak sama Alam. Dia tidak ingin masalah kemarin terulang lagi. Sekarang dia hanya fokus dengan kehamilan Gita.
"Ayolah, kak. Ini kan demi perusahaan juga. Aku janji deh akan naikin jabatan kakak kalau proyek ini berhasil.". Rayu Roki sedikit memaksa pada kakaknya.
"Maaf, Ki. aku nggak bisa." Alam pergi meninggalkan Roki di ruangannya.
"Untunglah kamu nggak ambil proyek itu yang." jawab Gita saat mendengar cerita suaminya.
"Kenapa?" Alam langsung heran dengan jawaban Gita.
Dulu Gita paling semangat kalau tahu suaminya dapat proyek besar. Setiap Alam keluar kota Gita selalu menelpon suaminya untuk menyemangati.
Tapi hari ini, istrinya malah mendukung saat dirinya menolak proyek yang ditawarkan Roki.
"Karena aku nggak bisa jauh dari kamu." jawab Gita sambil mencium pipi suaminya.
Karena aku tahu ada rencana tersembunyi mereka untuk kita.
Rencana tersembunyi yang licik
"Mau kemana?" tanyanya saat melihat istrinya keluar kamar.
"Aku mau tidur sama mama."
"Terus aku gimana?"
"Ya, kan ada papa." jawab Gita sok cuek padahal dalam hatinya tertawa melihat suaminya panik.
"Yang .. kok gitu sih. Tanggung jawab nih!"
Alam kesal melihat Gita main kabur saja. pasalnya, batangnya mulai berdiri saat istrinya mulai agresif.
klik
Di kediaman Spencer
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya mama Marni saat melihat polisi membawa Roki masuk dalam mobil polisi.
__ADS_1
Rere berlari mengejar mobil polisi, memohon-mohon agar jangan membawa suaminya.
Gita yang melihat seperti flashback, bagaimana dirinya yang sempat kabur dari rumah sakit, hanya untuk meminta pembebasan suaminya. karena dia tahu suaminya bukanlah Boy.
Apakah yang aku lakukan ini jahat!
"Gita tolong maafkan kak Roki! Aku mohon, Gita!" Rere bersujud di kaki Gita.
"Yang ... tolong jelaskan apa yang sebenarnya terjadi! Kenapa Rere seperti ini! Apa penangkapan Roki ada hubungannya dengan kamu, yang!" Desak Alam yang masih bingung dengan kejadian yang baru dilihatnya.
"JAWAB!" bentak Alam mengagetkan Gita.
Gita masuk ke kamar Alam dan menangis saat di bentak suaminya.
"Kenapa kamu bentak Gita!Dia itu lagi hamil! orang hamil itu perasaannya sensitif!" ucap Mama Marni marah melihat anaknya membentak Gita.
"Astaghfirullahalazim. Maafkan aku! maafkan aku! Aku panik sayang! Maafkan aku!" seru Alam di depan pintu kamarnya.
Rere akhirnya memberanikan diri menceritakan apa yang dia tahu selama ini.
"Sebenarnya, penculikan Gita saat subuh atas perintah mas Roki. Mas Roki juga yang meminta Nabila menelpon kak Ronal untuk datang ke kontrakan Nabila malam-malam. Karena harusnya mereka menculik Gita setelah kak Ronal pergi, tapi karena ada kendala maka mereka bisa memastikan rencana itu Subuh.
Ken sebenarnya juga mulai terobsesi dengan Gita memanfaatkan momen ini.
Memang kontrakan Nabila di porak-porandakan oleh anak buah Ken, tapi itu juga bentuk kerjasama mereka.
Termasuk kejadian penyekapan Gita saat di Bali. itu juga rencana mas Roki supaya kak Ronal tidak datang dalam penyerahan jabatan sebagai pengganti papa Bobby." cerita Rere.
Alam lemas. Dia tidak menyangka Roki sudah sejauh itu. Selama ini Roki sudah banyak membantunya dalam segala hal. Dia juga tidak menyangka Roki adalah musuh dalam selimut.
"Padahal kalau dia jujur aku tidak akan masalah menyerahkan jabatan itu. Seandainya aku peka dari awal semua ini tidak akan terjadi." Ucap Alam yang mencoba mendekati pintu kamarnya yang masih terkunci.
"Yang, maafkan aku yang tidak peka dengan semua ini. Tapi kalau kamu tahu dari awal kenapa tidak cerita padaku! Yang .... tolong buka pintunya ....! tolong maafkan aku yang tidak peka ini ...! tolong, sayang!." Alam masih berusaha membujuk Gita.
Bruuuukkk!!!!
"Paaapaaaa!!!!" teriak semua yang ada di ruangan.
#####
__ADS_1
Bersambung