
Dokter Sasono mendatangi Ilham terkait kasus pelecehan yang dilakukan Ilham pada Gita. Dokter Sasono yakin Ilham ada yang menjebak. Di cafe tempat kejadian, dokter Sasono meminta orang-orangnya menyelidiki apa yang terjadi sebenarnya.
"Ham, saya kenal kamu. Saya yakin ada yang tidak beres dengan semua ini."
Ilham menunduk saat mendengar cerita dokter Sasono.
"Saya malu, dok. Saya rasa itu bukan jebakan. Toh saya sudah bertanggung jawab pada Raisa."
"Saya tidak melihat Raisa itu ada rasa trauma atas kejadian itu, ham. Biasanya korban pelecehan akan memiliki rasa trauma yang mendalam." jelas dokter Sasono.
"Makanya saya belum berani menyentuh Raisa, dok. Saya takut dia masih trauma. Saya biarkan dia untuk siap dengan sendirinya."
"Entahlah ham, sulit saya mempercayai Raisa. Mungkin kalo gadis itu Gita akan beda ceritanya."
Kepala Ilham yang tadinya menunduk kembali tegak. Dia heran kenapa dokter Sasono tiba-tiba mengungkit soal Gita. Ilham membenarkan yang dipikirkan dokter Sasono, mungkin kalau gadis itu Gita akan beda ceritanya, karena dia dan Gita masih punya rasa, beda dengan Raisa.
"Oh, ya gimana dengan berkasnya? Apakah sudah siap? Nanti kamu tinggal sama vino. Masih ingat kan dengan vino?"
Tentu saja dia ingat. Vino yang pernah jadi rivalnya saat dekat dengan Raisa. Tapi apakah vino memaafkannya? Dia ingat vino sempat kecewa karena Raisa lebih memilih dirinya.
"Berkasnya rusak pak kena air teh. Apakah tidak ada cara lain, dok. Kerja disini sajalah, Raisa nggak mau di tinggal."
"Nanti saya pikirkan, ham. Kamu harus memulihkan nama kamu dulu. Kita selidiki kasus ini. Jangan lupa saya punya 2 putra yang bisa diandalkan. Yang satu nya polisi dan yang satunya Pengacara."
Ilham berterimakasih pada dokter Sasono yang mau mengusut kasusnya. Dokter Sasono pamit pulang. Ilham mengantarkan dengan memakai motornya. Tapi dokter Sasono menolak, dia bisa jalan sampai depan gerbang.
Setelah dokter Sasono pulang Ilham terus memikirkan perkataan lelaki sahabat ayahnya. Tak lama pak Pramono keluar dari kamarnya. Sejak kasus Ilham, pak Pramono enggan menegur putranya. Ilham masih merasa ayahnya memusuhinya.
"Pa? papa masih marah sama Ilham." Tegur Ilham saat Papanya duduk di teras belakang.
Lelaki usia 55 tahun itu masih terdiam. Ilham bersujud di kaki papanya, tapi tetap saja pak Pramono menaikan kepalanya keatas.
"Papa masih kecewa dengan kalian berdua? Papa didik kalian untuk menjadi anak yang bertanggung jawab, tapi ternyata ini balasan kalian pada papa."
"Maafkan Ilham, pa. Maafkan kak keisya juga, pa." Isak Ilham masih bersujud di kaki Pramono.
"Dulu, papa berharap menantu papa itu Gita. Bukan Raisa. Papa bukan kecewa karena kamu tidak jadi dengan Gita. Tapi kecewa karena kamu melecehkan seorang wanita."
"Tapi papa kenapa tidak pernah mendukung kami. Papa dulu berpihak pada Raisa."
"Papa bisa apa, nak. Papa cuma orang dipercaya keluarga mamamu. Tapi semua keputusan tetap mamamu yang mengatur."
"Lalu kenapa mama tidak membebaskan kak keisya, seperti membebaskan aku dulu." Ilham masih bingung dengan jalan pikiran Mamanya.
"Kamu itu anak mamamu, ham. Sedangkan keisya anak Papa."
"Maksud papa?"
__ADS_1
"Papa menikahi Mamamu sudah berstatus janda beranak satu. kamu masih umur 2 bulan. Keisya anak papa dari perkawinan pertama papa, ibu kandung keisya meninggal saat melahirkan Keisya."
"Apakah kak keisya tahu?"
"Dia tahu, ham. Tapi dia tidak tahu kalau kalian beda ayah. Tapi bagi papa kamu tetap anak papa."
"Lalu ayah kandungku?"
Pramono terdiam. Dia berdiri membelakangi Ilham. Bukan hak dia menceritakan sebenarnya. Itu sudah ranah istrinya.
"Tanyakan pada Mamamu."
Pramono langsung masuk ke dalam tanpa memperdulikan kebingungan Ilham.
Ilham merenung di kamar. Raisa melihat kegelisahan suaminya duduk disamping Ilham "Ada apa, mas?"
Ilham menceritakan tentang cerita kalau dia dan Keisya saudara tiri. Raisa kaget dan menyabarkan suaminya. Mata mereka beradu, entah kenapa gejolak itu datang. Raisa mencoba memancing Ilham dengan menarik badan ilham, tapi ternyata tidak berhasil, Ilham melepaskan diri dari tubuh Raisa.
"Mas, aku sudah siap. Tapi sepertinya kamu yang belum siap." Raisa kembali mencoba menggoda Ilham.
"Maafkan saya sudah menorehkan trauma dalam hidupmu." Ilham menunduk malu.
Raisa berdiri di depan Ilham dengan kesal "Kamu memang sudah menorehkan luka dalam hidupku. Tapi aku lebih terluka karena kamu masih memikirkan wanita lain."
"Sadar mas. Gita sudah meninggal." ucap Raisa.
"Iya, beberapa hari yang lalu aku ke rumah Gita, menanyakan keadaan Gita, kata pembantunya Gita sudah meninggal sebulan yang lalu."
"Bohong!" Ilham sudah tak kuasa menahan air matanya.
Pertengkaran mereka terhenti saat mobil terparkir di depan rumah mereka. Ada keisya yang turun dari mobil. Raisa heran kenapa keisya bisa bebas. Memang dia sempat berjanji pada Keisya soal pembebasannya, tapi belum ada jawaban dari saudaranya.
Mama Mila mengikuti Keisya turun dari mobil. Mama Mila akan mengadakan pesta atas bebasnya Keisya dari penjara. Papa mengingatkan kalau mereka bukan keluarga kaya lagi. Mama tidak peduli, dia terus mengungkit kalau kekayaannya dari orang tuanya. Keisya dan Ilham untuk kesekian kalinya melihat pertengkaran orangtuanya.
Keisya mengambil kunci mobil dan ingin pergi dia muak dengan situasi ini.
"Kakak mau kemana?" tanya Ilham mencegat keisya yang mau menaiki mobil.
"Cari hiburan! Muak aku disini! aku nggak pernah dianggap!"
Ilham menarik keisya "Kakak jangan cari masalah baru!"
"Apa pedulimu! Yang harus kau harus kamu peduli istrimu, tuh!" keisya menarik tangannya yang di tahan Ilham.
Ilham akhirnya membiarkan Keisya pergi. Sepertinya ucapan keisya cukup menohok di pikirannya. Mungkin benar dirinya tidak memperdulikan istrinya. Ilham berjanji akan memperbaiki hubungannya dengan Raisa.
...----------------...
__ADS_1
Gita duduk di depan laptop menonton drama Korea kesukaannya. Ada adegan lamaran yang bikin Gita baper.
"Kamu mau seperti itu?" Suara Ronal duduk dari belakang. Tangannya menggenggam erat.
"Nggak, ah. Lebay itu caranya." elak Gita. Padahal di lamar di kapal pesiar adalah hal romantis yang ingin Gita lakukan. Hanya saja dia enggan mengiyakan kata lelaki itu.
"Nanti malam dinner, yuk." Ronal mencium wangi rambut Gita.
"Kemana?" tanya Gita.
"Surprise, dong." jawab Ronal mencubit hidung Gita.
"Awwwww, sakit tau. tuh, kuku belum di potong kayaknya." Gita memeriksa kuku Ronal yang sudah mulai panjang.
"Ya potongin dong, gentong."
"Bisa nggak sih, nggak manggil aku gentong!"
"Emang mau di panggil apa? Sayang?"
"Idih, geer." Gita menimpuk kepala Ronal pake bantal.
"Oh, jadi ceritanya nantang nih." Ronal menarik tangan Gita tubuh mereka beradu di atas sofa. Gita diatas Ronal.
"Kamu ingatkan saat dulu kamu nabrak aku ke sawah." Gita mengangguk. Gita langsung merubah posisi duduknya.
"Kita mulai hubungan kita dari awal lagi, ya."
Ronal langsung mendaratkan ciumannya ke bibir Gita. Gita memberikan ruang untuk Ronal untuk menjelajahi bibirnya lebih dalam.
Teringat memori mereka saat Ronal melamarnya di Sukasari.
Gita sadar masih ada rasa kenyamanan saat di dekat Ronal. Rasa nyaman yang dulu di rasakannya, kini kembali hadir. Teringat kata Siti dulu
"Kamu itu, bukan cinta sama Ilham. Tapi kamu cuma merasa bersalah pada Ilham, karena masih membawa Ronal pada hubungan kalian. jadi kesempatan kalian memperbaiki hubungan kalian yang dulu. Hubungan yang dulu banyak sekali kesalahpahaman. Gita, aku titip kakakku, ya."
Ini photo saat Ronal melamar Gita di Sukasari.
...----------------...
Ssstttt pasti pada protes kenapa Gita memilih Ronal.
Tenang perjalanan masih panjang kok. Saat ini biarkan Gita berbunga-bunga dulu.
__ADS_1
Tunggu ya season 2 nya Januari mendatang.