
Ilham menemui Raisa untuk menanyakannya apa yang sebenarnya terjadi malam itu. Raisa menceritakan kalau Ilham sudah melecehkan dirinya dalam keadaan mabuk. Ilham awalnya tidak percaya pada cerita Raisa. Tapi dengan akal liciknya, Raisa memperkuat bukti kalau dirinya adalah korban pelecehan ilham.
" Jadi kamu tidak mau tanggung jawab, ham. Setelah yang kamu lakukan padaku. Jahat kamu, ham! lebih baik aku mati!" Raisa memegang pisau di tangannya.
"Sa, jangan gila kamu!" Ilham mencoba menenangkan.
"Iya! kamu yang buat aku gila! aku sudah tidak ada harga diri lagi. Aku sudah ternoda! Puas kamu! puas sudah merusak mahkotaku." Ilham memeluk Raisa yang terus menangis.
"Iya... aku akan nikahin kamu. Kalau perlu hari ini juga kita menikah." ucap Ilham menenangkan Raisa.
Mama Mila sedang di buat pusing dengan kasus Ilham. Dia bingung apa yang nanti dia jawab kalau di tanya para koleganya. Mama Mila akan menemui gadis itu, untuk membungkam supaya diam. Apapun akan dia lakukan demi harga diri keluarga.
"Ilham!" panggil mama Raisa.
"iiya, ma." Ilham muncul dari kamarnya.
"Bawa gadis itu ke hadapan mama!"
"Mama kenal kok dengan gadis itu?"
"Siapa?"
"Raisa, ma."
"Kalau begitu kalian menikah besok."
Ilham tidak bisa melawan. Dia harus menerima Raisa sebagai konsekuensinya perbuatannya. Ilham ingat Gita, dan mempertanyakan kenapa gadis pujaannya itu tidak ada kabar?
Pada akhirnya pernikahan Ilham dan Raisa benar-benar diadakan. Tanpa resepsi hanya keluarga saja. Ilham membayangkan seharusnya ada Gita disampingnya, bukan Raisa.
"Saya terima nikahnya Raisa Wulandari dengan mas kawin tersebut di bayar tunai."
"Sah.... Saaaah." ucap penghulu
"Alhamdulillah." seru keluarga.
Ilham tubuhnya bergetar. Tidak disangka hubungannya dengan Gita berakhir seperti ini. Saat Ilham sedang memperjuangkan, tapi malah menikahi Raisa. Ilham menangis tapi nasi sudah menjadi bubur.
Mama Mila bahagia akhirnya Raisa jadi menantunya. Walaupun cara pernikahannya tidak lazim, tapi apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur.
Ilham masih termenung. Di malam pengantin, Ilham memilih keluar rumah. Kakinya terhenti di depan rumah Gita. Rumah itu tampak gelap. Ilham memberanikan diri mendatangi rumah Gita.
Pintu rumah dibuka sama bi Endah. Dari informasi yang di dapat, Gita sudah berangkat berobat ke luar negeri. Tapi, bi Endah bungkam soal negara mana Gita berobat.
Saat ini izin praktik kedokteran Ilham di cabut oleh rumah sakit. Semuanya berbanding terbalik dengan kehidupannya yang dulu. Ilham sekarang bukanlah dokter lagi.
"Mas, sarapan dulu, aku sudah masak tadi." suara Raisa membangunkan Ilham yang tidur di sofa.
"Hmmmm...." suara Ilham masih bergelut di bawah selimut.
__ADS_1
"Bangun mas, cari kerja. Gara-gara kamu aku juga nggak bisa kerja." protes Raisa.
"Siapa yang minta aku nikahin kamu? Kamu kan! Sekarang hidupku morat Marit kamu baru protes!" bentak Ilham pada Raisa.
"Mas, ada dokter Sasono di depan." panggil Raisa.
Ilham dengan malas pergi ruang depan menemui dokter Sasono. Saat melihat keadaan Ilham yang kusut, dokter Sasono mengelus dada. Ilham yang dulu gaya, necis, sekarang berubah 180 derajat.
"Mana Ilham yang dulu?" ucap dokter Sasono
"Ilham yang dulu sudah hancur, pak." jawab Ilham menunduk.
"Kamu sendiri yang menghancurkannya. Kamu sudah dapat pekerjaan?"
Ilham menggeleng. Dia sudah cari pekerjaan kemana-mana, tapi tidak kunjung dapat. Setiap dia pulang dengan tangan hampa selalu di sambut omelan Raisa.
"Aku punya kenalan tabib yang menangani pengobatan alternatif. Jika kamu mau aku bisa usulkan. Cuma..."
"Kenapa, dok? Yang penting saya dapat pekerjaan, dok."
"Dia buka usaha di Melaka, Malaysia. Kalau kamu mau, aku bisa urus paspor perizinan kerjamu."
"Apakah saya harus membawa Raisa tinggal di sana?"
"Terserah kamu, ham. Tapi lebih bagus jangan dulu, saya tempatkan kamu di asrama milik temanku."
Kembali ke Gita. Saat ini Gita menjalani pengobatan di hospital mahkota Malaka. Gita berkumpul dengan semua keluarganya di Malaysia. Ronal rencana ada perjalanan bisnis akan datang mengunjungi Gita.
"Gita, kamu dan Ronal sebenarnya pacaran nggak sih?" tanya mama Yulia.
"Nggak." jawab Gita.
"Tapi dia perhatian banget sama kamu nak." goda Mama Yulia.
"Mama sekarang kok kesannya dukung aku sama Ronal. Bukannya dulu..."
"udah jangan di bahas yang dulu-dulu." elak Mama Yulia.
"Mama ada tahu kabar Ilham nggak?" tanya Gita. Dia tahu mamanya sensitif kalau menanyakan soal Ilham.
"Kenapa kamu masih kepikiran Ilham? Bukannya dia sudah..."
"Ma, kan dokter sudah bilang. Aku nggak kenapa-kenapa, aku cuma syok saja. Sama seperti saat aku mendadak di lamar Ronal." jelas Gita.
"Gita, kalau Ronal masih belum memberi kepastian hubungan kalian. Mama akan carikan calon untuk kamu." protes Mama.
"Gita mau fokus berobat dulu, ma. Gita belum kepikiran soal jodoh." jawab Gita yang rada serak.
"Umur kamu yang bikin Mama pusing! Beta dan Rere sudah menikah. Lah, kamu masih anteng aja."
__ADS_1
Sejak di bawa ke Malaysia, aku tidak tahu kabar Ilham. Rindu sih? Tapi kalo ingat saat acara reuni dulu, rasanya sakit banget. sebegitunya dia perlakukan aku. nggak punya adab.
Entah kenapa?Saat itu dia menjelma menjadi orang lain. bukan Ilham yang selama ini aku kenal.
mungkin dia dan dokter Raisa sudah menikah. Apalagi sekarang sudah lewat 14 Februari.
Gita berdiri menuju kamarnya. Sudah hampir satu bulan tinggal di Malaysia. Gita rindu suasana Jakarta. Matanya menerawang ke balkon apartemen. Hamparan laut luas, pantai yang indah. Ah, pantai selalu memberikan kenangan buat Gita.
"Kamu dandan yang cantik, ya?" tiba-tiba masuk ke kamarnya.
"Pasti mama mau ngenalin aku sama seorang cowok. basi!" dengan malas Gita bersiap-siap ikut permintaan mamanya.
"Vino!" panggil mama
"OMG .... itu kan dokter vino! Ngapain Mama ngenalin aku dengan dokter vino sih? kayak aku nggak laku aja." batin Gita
Dokter vino adalah dokter yang menangani pengobatan Gita. Sebenarnya dokter vino asli Indonesia, orang Jakarta juga. Tapi sudah bertahun-tahun tinggal di Malaysia. wajahnya mirip bintang Bollywood. Mama kalau check up pasti yang di tanyakan dokter vino.
Gita duduk di kursi meja yang sudah di pesan Mama. Mama lalu pamit dan meninggalkan Gita dan dokter vino. Gita mengakui kalau dokter vino manis, tapi Gita tidak merasa tertarik dengan dokter vino.
Suasana makan malam yang harusnya romantis, menjadi acara yang kaku. Ya, karena aku dan dokter vino sama sama kaku, dan aku juga tidak tertarik dengannya. Aku capek dengan namanya cinta. Mungkin sudah mati rasa.
karena mama terus mendesakku menemui dokter vino. Terkadang mendesakku meminta kepastian pada Ronal. Ma, aku sudah besar sudah mau 25 tahun. Tapi aku seperti wanita 30-an yang di paksa menikah karena usia.
"Gita." suara dokter vino memecahkan keheningan.
"Iya, dok." jawab Gita
"Jangan panggil aku dokter kalau di luar rumah sakit. Panggil aku kak vino saja."
"Eh ... iya..ka... kak vino." jawab Gita yang masih belibet menyebutkan nama.
"sebelum berobat disini kamu berobat di rumah sakit mana?"
"Rumah sakit kasih bunda, kak." jawab Gita sambil menikmati masakan khas india.
"Sama dokter Sasono?"
"Iya... kak vino kenal sama dokter Sasono?"
"Kenal. Dia guruku di kampus."
"Lalu kenapa kak vino tidak bekerja disana."
"Panjang ceritanya, Gita. Ya udah habisin makanannya. Aku akan mengajakmu ke suatu tempat."
"Kemana?"
"Rahasia." jawab vino sambil tersenyum.
__ADS_1