
Gita duduk di tempat tidur rumah sakit. Matanya menatap langit-langit kamar. Pikirannya entah kemana, terbayang kejadian yang menimpanya beberapa hari yang lalu. Kalau saja dia tidak nekat menjenguk temannya, kalau saja dia tidak menerima tawaran Zahra untuk mengantarnya, mungkin dia tidak akan berada di rumah sakit.
Semua andai-andai yang berputar-putar di pikirannya. andai-andai yang sudah terlambat, beribu penyesalan tak akan mengembalikan bayinya.
Dia butuh seseorang sebagai penopang bahunya, butuh tempat bersandar. Pilu, sesak berpadu jadi satu. Gita menekuk wajahnya, tertunduk penuh air mata.
Gita teringat, dimana dia dulu menangis sendirian saat di Puskesmas Sukasari, dia ingin pulang tapi dia juga ingin bertahan di Sukasari, karena ada lelaki yang membuatnya tidak ingin pulang. Ya, Lelaki itu adalah Ronal.
Tapi semua itu harapannya menjadi kekecewaan, pria itu hilang tanpa kabar. Sekarang semua terulang kembali, dimana lelaki itu kembali tak ada di sampingnya. Mungkin sikonnya berbeda dengan yang dulu. Tapi entah kenapa rasa sakit yang dulu dia rasakan kembali mendera.
"Gita!" suara Siti mengagetkan lamunannya.
Gita memeluk Siti sambil menangis. Dua sahabat itu saling menguatkan.
"ti, kenapa hidupku seperti ini? kenapa,ti!" Gita masih terisak.
"Aku seperti melihat masa lalu,ti. Setelah kejadian pengeroyokan itu, aku sendiri di puskesmas, tidak ada yang menemani. Bahkan yang kuharapkan datang pun tak muncul, kenapa Siti! kenapa seperti terulang lagi!"
"cup! cup! Gita kamu nggak boleh seperti itu. yang lalu biarlah berlalu. Tatap yang di depan. Aku yakin ini ada hikmahnya, dari sini kalian bisa belajar untuk menghargai waktu, kalian bisa lebih hati-hati lagi. sebenarnya apa yang terjadi Gita?"
Gita masih terdiam.
"Ya, kalau kamu belum mau cerita nggak papa,kok. Sekarang kamu istirahat,ya. Ini sudah malam." Siti membantu Gita membaringkan tubuhnya. Layaknya seperti seorang ibu, Siti mengelus rambut Gita agar wanita itu tertidur.
"Terimakasih,ti. Kamu memang sahabatku. Kamu selalu ada di aku butuh, padahal aku sering nyakitin kamu."
"Sudah Gita. kamu istirahat, ya." Siti duduk di kursi dekat tempat tidur Gita.
"Ti, kamu sudah ketemu Alam belum." tanya Gita tiba-tiba.
"Belum, Gita. Kemarin kami menjenguk kak Alam tapi nggak jadi saat mendengar kamu sudah sadar. Kamu kenapa menanyakan kak Alam, kangen ya?"
"Ya, iyalah. Aku kan tidak ketemu dia sudah hampir dua bulan. Tapi, apa dia tahu kondisiku sekarang? Apa dia tau kalau anaknya sudah tidak ada lagi?" keluh Gita.
Matanya mulai berkaca-kaca, dia tidak bisa membayangkan kemarahan suaminya kalau tahu yang sebenarnya. Pikiran takutnya mulai bermunculan, apalagi ini memang salah dirinya yang masih menerima kehadiran Zahra. Seandainya dia mau mendengarkan kata suaminya untuk tidak terlalu dekat dengan Zahra, mungkin tak akan ada kejadian itu.
Aaaarhhg!!!!
Ini salahku!
Ini salahku!
Gita Terus menyalahkan dirinya sendiri. Sembari memukul kepalanya dengan tangan. Mengutuk dirinya yang tidak bisa menjaga amanat suaminya. Siti melihat Gita seperti depresi menenangkan sahabatnya.
"Kamu harus kuat, Gita." peluk Siti
"Ini semua salahku, ti. Aku tidak mendengar kata-kata Alam agar tidak dekat dengan Zahra. Soalnya yang menjebloskan Alam ke penjara adalah Zahra." cerita Gita.
__ADS_1
"Apa! Jadi Zahra yang menjebloskan kak Alam ke penjara." Siti terkejut mendengar cerita Gita.
"Apa salah kak Alam pada wanita itu?"
"Karena Alam memakai wajah Boy. Dia dendam dengan Boy." jelas Gita masih sesenggukan tapi menunjukkan rasa takut yang mendalam.
"Apa dia ada hubungannya dengan yang kamu alami sekarang?" tanya Siti. Gita hanya menjawab dengan anggukan.
"Ya, Allah mesti di laporkan." Siti meninggalkan Gita dan menemui ilham, karena mama Yulia dan Papa Dul belum datang.
"Ham" Siti mendatangi ruangan kerja Ilham.
"Ada apa, ti?" Ilham melihat Siti seperti emosi.
"Kita lapor ke polisi. Soal yang terjadi pada Gita."
"Siapa yang harus kita laporkan,ti?"
" Zahra." jawab Siti mantap.
"Gita sudah cerita semuanya. Zahra yang menculik Gita, menganiaya Gita sampai keguguran."
"Oke, kita pergi sekarang." Ilham menarik tangan Siti keluar dari ruangannya.
Sementara itu ada orang masuk ke kamar Gita, saat Gita sedang tertidur. Senyumannya mengembang saat melihat wanita di depannya tertidur pulas.
Nikmati saja hidupmu sekarang Gita.
"Oke, kalau ada apa-apa kabari ya." Ilham meninggalkan Siti di depan pintu rumah sakit. Siti menatap Ilham sampai hilang dari Pandangannya.
...----------------...
Satu Minggu kemudian
Hari ini Gita di perbolehkan pulang ke rumah. Mama Yulia sibuk mempersiapkan kebutuhan Gita, Siti dan Ilham pun turut membantu. Mereka membimbing Gita untuk masuk ke mobil.
Gita melirik keduanya "Sejak kapan kalian sedekat ini?"
Yang di tanya diam saja. Gita tahu kalau sahabatnya malu menjawabnya. Sesekali dia menggoda Siti yang mukanya tampak memerah. Tampak Ilham masih fokus menyetir, sesekali menatap keduanya dari kaca mobil.
"Mama papa, mana?" Gita tidak melihat kedua orangtuanya.
"Sudah duluan." jawab Siti.
Mobil melaju kencang, Gita melihat kalau tujuannya bukan ke rumahnya.
"Ini mau kemana sih?" tanya Gita heran.
__ADS_1
"Pulanglah, mang mau kemana lagi." jawab Siti.
"Ham, kamu nggak lupa kan alamatku?" Gita masih penasaran akan kemana dirinya di bawa.
"Kita mutar-mutar dulu, kamu sudah lama kan tidak jalan-jalan." jawab Ilham.
"Iya, tapi aku kan masih harus pemulihan dulu."
"udah jangan bawel, ikut aja." omel Ilham.
Gita menatap jalanan, seandainya ada suaminya pasti akan seru rasanya. Tapi rasanya tidak mungkin.
Ah, dia jadi ingin mampir ke lapas Alam.
"Ti, kita ke lapas yuk!" ajak Gita.
"Besok aja. Kamu kan harus istirahat dulu." jawab Siti.
Tak lama Gita dan Siti tertidur di mobil. Waktu menunjukkan pukul 18:00 mereka sampai di vila daerah puncak. Udara dingin membuat Siti dan Gita sedikit terbangun.
"Kok kesini?" tanya Gita.
Siti mengantarkan gita ke sebuah vila kecil di samping. Gita membuka pintu memanggil mama papanya.
"MAAAAMMMAAA!"
"PAPAAAAAAAAAA!"
Tiba di depan pintu menuju kamar, wangi semerbak.
Gita bergidik ngeri, apa jangan-jangan ada penunggu di vilanya.
kakinya mengikuti arah lilin-lilin yang berjejer di tangga lantai menuju kamar. Masih memanggil kedua orangtuanya, dia terus berjalan menaiki tangga.
Sudah beberapa tahun dia tidak main ke vila ini. terakhir dia pergi ke vila ini saat masih SMP, masih awet awetnya bersama Roki.
"Mama sama papa gaje banget bikin kayak gini sih?" gerutu Gita.
Gita mengambil salah satu kelopak bunga yang berserakan di lantai. Mencium wangi bunga tersebut.
"Mama kan tahu aku suka mawar putih." omelnya.
Gita sebenarnya tidak terlalu suka mawar merah. Dari kecil dia suka mengoleksi mawar putih. Sebuket bunga mawar merah berada di samping tempat tidurnya. Gita mencium wangi bunga tersebut.
__ADS_1
Tiba-tiba sebuah tangan melingkar di pinggang Gita.
########