Aku Kamu Dan Dia

Aku Kamu Dan Dia
88. S2: Jodoh untuk Siti


__ADS_3

Siti menerima telpon dari Sukasari. Ibu meminta siti pulang kampung karena akan di jodohkan anak pak lurah. Siti awalnya mengira ibu becanda. Tapi ternyata dugaannya salah, ibu malah mengirimkan photo lelaki itu ke hp nya.


"Astaga zaman sekarang masih ada yang kayak gini." gerutu Siti.


Siti membuka chat dari ibunya


✉️ sudah di terima photonya


✉️ Bu, nggak salah tu. Rudi itu masih kecil dibawah aku.


✉️ emangnya kenapa,ti?


✉️ Rudi kan duda Bu. Malas, ah


✉️ Terus kamu mau gimana Siti. mau jadi perawan tua. Udah jangan ngeyel. Besok kamu pulang! Edwar sudah di Jakarta jemput kamu!


✉️ Apaaaa! Ibu kebiasaan deh, nggak ngabarin.


✉️ Kalau ibu ngabarin kamunya kabur nanti.


✉️ Gita apa kabar?


✉️ Dia udah nikah, Bu.


✉️ Alhamdulillah. Sama siapa? Yang dokter itu ya.


✉️ bukan.


✉️ lalu sama siapa? Kan nggak mungkin kalo sama Alam. Kan dia udah meninggal.


Kak alam belum meninggal Bu. bisik Siti dalam hati


✉️ Ada deh pokoknya. Nanti ada waktunya Gita mengenalkan suaminya.


Pikiran Siti kacau. Bagaimana bisa dirinya di jodohkan dengan Rudi yang usianya di bawah dirinya.


Tak lama sebuah mobil travel berhenti di depan gang kost Siti. Siti yang menebak kalau abangnya sudah sampai. Ternyata benar tebakannya. Siti kalut, dia malas pulang kalau hanya untuk di jodohkan.


"Abang sendirian?" tanya Siti.


"Ah, kau ini, Siti. Abangnya bukannya diajak masuk malah diajak ngobrol di luar." omel Edwar.


Siti meletakkan barang Edwar ke dalam kamar kostnya. Siti teringat kalau kostnya tidak terima inapan laki-laki.

__ADS_1


"Bang, maaf ye, Abang kan tahu kalau kost ku tidak menerima tamu laki-laki untuk menginap."


"Terus aku nginap dimana? Biasanya kan nginap sama Alam. masa Abang nginap di makamnya?"


"Ya, di hotel lah."


" hotel? Mana ada duit nginap di hotel. Abang disini seminggu Lo, ngurus pindahan kamu sekalian ziarah."


Siti terus mencari akal agar tidak di desak untuk ikut pulang. Dia teringat Jonathan, mungkin Jo bisa membantu dirinya.


zreeeeet zreeeeet zreeeeet


Hp Jo bergetar. Jo baru habis mandi mengangkatnya.


📞🧑 : Halo Dedek bawel, ada apa menelpon? kangen ya?


📞👧 : Idih, Ge-er. Om kesini sebentar? Aku perlu bantuan Om.


📞🧑 : bantuan apa nih? Kalau bantuan jadi pacar kamu aku sih iyess.


📞👧 : oooooom, ini bukan waktunya becanda. Ya, udah om, aku minta bantuan Gita aja.


📞🧑 : Eeeeeh, iya... iya .. aku


"Heh! Belum juga kelar ngomong. udah di matiin. Dasar bawel."


Bawel tapi ngangenin


Jo bersiap siap akan pergi ke rumah Siti. Tapi tertahan melihat kedatangan keluarga Damian yang ingin menjodohkan anaknya. Ya, sheila di minta menikah setelah tamat SMA dengan anak rekan bisnis ayahnya. Tentu saja Jo keberatan jika adiknya menikah muda. Perjalanan Sheila masih panjang.


Mata Jo tertuju pada seorang wanita yang ikut dalam rombongan.


"Vika?" tebak Jo


"Nathan? aih, apa kabar Lo?" Vika langsung menyambut Jo dengan ramah.


"Baik, eh Lo keluarga mereka, ya? suami Lo mana?"


"Gue janda sekarang, Jo. Suami gue udah meninggal setahun yang lalu. Maafin gue ya, Jo. Mungkin ini karma buatku." ucap Vika menunduk sedih.


"itu bukan karma. Itu namanya takdir. Udah cabut dulu, pacar gue udah nunggu!" Jo pamit dari hadapan Vika.


"Pacar" Kata itu dia tekankan pada wanita itu. Supaya Vika tidak berharap padanya.

__ADS_1


Vika adalah pacar Jo semasa SMA sampai kuliah. Perjuangan panjang hubungan mereka, mulai berada di titik jenuh bagi Vika. Vika melihat Jo belum ada niat untuk mengajaknya menikah.


Pertemuan Vika dan Erik dibelakang Jo akhirnya terjadi. Vika menjalin kasih dengan Erik hingga pria itu mengajaknya menikah.


Tentu saja kabar itu sampai ke telinga Jo, hatinya hancur ketika gadis yang di pacarinya selama hampir sepuluh tahun itu, memilih laki-laki lain untuk menjadi suaminya. Sejak saat itu Jo susah mendekatkan diri kepada wanita, hingga akhirnya bertemu dengan Gita.


Gitalah yang membuat dirinya kembali mengenal apa itu cinta. Walaupun Gita tidak pernah menanggapi dirinya, tapi Jo kembali merasakan bagaimana berjuang mendapatkan gadis impiannya. Lalu hadirlah Siti dalam kehidupannya. Jo berharap Siti sedikit peka dengan perasaannya.


...----------------...


Sementara itu di makam Alam, ada tangan yang menarik Gita. Gita menoleh ada boy yang membawanya pergi dari pemakaman. Gita terus mencoba melepaskan tangannya dari tangan laki-laki itu.


"Mau kamu apa, Gita?" bentak boy.


"Aku tidak terima makamnya di bongkar begitu saja."


"Kamu bilang kalau kamu cuma cinta sama Ilham. Bukan sama si siapa itu? Alam, ya namanya! Kamu pikir perasaan buat main-main doang! itu yang mengautopsi kan keluarganya sendiri!" jelas boy.


"Maksud kamu!" Gita masih belum paham


"Aku masih hidup, Gita! Pernah nggak sih kamu nyadar semua ini! Sudah beberapa kali aku kasih sinyal tapi kamu nggak nyadar juga! Apa memang jauh rasa peka mu padaku, Gita!" batin Boy.


Boy mengajak Gita pulang dengan motornya. Selama di perjalanan Gita tertidur. Boy membawa motor dengan pelan dan terus memegang tangan Gita.


Apapun demi kamu akan aku lakukan Gita. Walaupun nyawa taruhannya. Aku rela. Aku tidak rela ada yang menyakiti perasaanmu. batin Boy.


Motor boy melewati kost Siti. Mereka mampir ke sana dan melihat ada Edwar disana.


"Bang, ini suaminya Gita." Siti memperkenalkan boy pada Edwar.


Edwar menatap cincin yang di jari boy. Seperti mengenal cincin itu. Sementara Gita yang masih tertidur di letakkan di kamar Siti. Edwar menemui Siti terkait kecurigaannya pada Boy.


"Kamu lihat cincin yang di pakai boy." tanya Edwar pada Siti.


"Enggak, emang kenapa bang?"


"Persis sama cincin yang di buat Alam dulu. Kamu ingatkan cincin hitam perak milik Alam dan Gita."


"Ya, ampun Bang. Cincin kayak gitu banyak kali." elak Siti. Dia belum bisa bilang pada Edwar terkait Alam masih hidup.


Gita terbangun mendengar obrolan Siti dan Edwar. Dia mulai curiga dengan identitas boy. Gita pura-pura tidur saat boy menemuinya di kamar Siti. Dia juga penasaran dengan cincin yang di bilang Edwar.


Siapa kamu sebenarnya boy!

__ADS_1


__ADS_2