
Pagi ini Gita melakukan kegiatan semestinya sebagai istri rumah tangga. Walaupun Alam melarang istrinya bekerja, tapi tetap saja Gita tidak ingin sekedar duduk manis. Gita membaca artikel kalau ibu hamil 6 bulan keatas harus banyak bergerak. Supaya proses lahirannya lancar tidak ada hambatan.
Sekarang usia kehamilan Gita sudah memasuki 6 bulan akhir, yang mungkin 1 minggu lagi sudah memasuki tujuh bulan. Sambil berjalan membersihkan kamar, Gita menahan kepalanya yang sering kumat.
"Sayang, sudah kamu nggak usah kerja. Biar mbak dia saja yang bereskan." Alam melarang istrinya bekerja saat melihat Gita memegang kepalanya. Dia takut istrinya kenapa-kenapa.
"Terus aku ngapain? Bosan tau." sungut Gita.
"Kamu disini aja." Alam mendekap tubuh Gita.
"Dasar otak mesum! Aku udah perut gede gini, masih aja nyari kesempatan." Gita mencubit pipi Alam.
"Kan sama kamu, bukan sama istri orang. Ntar kalau anak kita lahir pasti kamu lebih perhatikan anak kita dari pada ayahnya."
"Kok kedengarannya ada yang cemburu, ya. Sama anak sendiri pula." decih Gita. Tapi dia sangat menikmati pelukan suaminya.
"Bukan cemburu, sayang. Was-was aja." Alam masih tidak ingin melepaskan tubuh istrinya.
Alam menatap manik mata istrinya
Gita sejak pertama kali bertemu saat opa menjodohkan kita, aku sudah jatuh cinta sama kamu. Kecuekanmu saat itu, walaupun aku mencoba menggodamu. Kamu tetap setia pada Roki saat itu, tapi itu yang membuat aku makin penasaran denganmu.
Saat aku menyatakan perasaanku padamu di Sukasari, itu murni dari lubuk hati yang paling dalam. Aku benar-benar mencintaimu. Tulus tanpa pamrih.
Aku tidak pernah mendekatimu karena pelarian atau memanfaatkan kamu untuk kembali pada Dinda. Saat itu aku merasa kecewa karena kamu tidak ada kabar, hilang kontak. Bahkan orang-orang terdekatpun bungkam.
Saat aku tahu kamu adalah calon Ilham. Hatiku sakit sekali. Sekalipun aku tahu saat itu kamu tidak mengenali aku. Tapi tetap saja ada luka di hatiku. Saat kamu masih dengan Ilham, bukan berarti aku tidak pernah memperjuangkan kamu. Aku sudah mencoba memperjuangkan cinta kita bahkan sejak kamu belum kembali dari berobat. Dimaki sama mama Mila, di usir berkali-kali, bahkan saat kamu hilang mama Mila menjebloskan aku ke penjara aku tidak melawan.
Tapi saat mendengar kamu putus dengan Ilham. Jujur aku senang sekali, karena itu sudah lama kutunggu. Walaupun aku tahu saat itu kamu masih mencintai Ilham. Walaupun saat di Malaka pun kamu masih mencintainya. Tapi aku tidak akan menyerah. Hingga pada akhirnya aku merasa kamu mulai menerima aku saat aku sudah membuka jatidiriku dari boy kembali ke Alam.
Terimakasih Gita, terimakasih sudah menerimaku kembali setelah bertahun-tahun yang terjadi diantara kita. Terimakasih sudah mau membuka hatimu kembali, setelah yang terjadi diantara kita, setelah aku pernah menyakiti perasaanmu.
Sampai kapanpun tidak akan ada yang bisa menggantikanmu, selamanya.
Alam mengecup kening Gita, lama mereka meresapi momen itu.
"Semoga kita tetap bersama selamanya, sampai maut memisahkan kita. Sampai rambut memutih."
"Amin." jawab Gita saat mendengar doa suaminya.
__ADS_1
"Sekarang kamu ngantor, ya. Ini sudah siang." Gita mencoba melepaskan pelukan suaminya.
"Aku libur. Tadi sudah bilang ke Aris kalau aku cuti selama beberapa hari. Hari ini aku akan fokus ke anak kita."
"Kok gitu, sih. Kamu sudah beberapa kali ninggalin kantor cuma demi kepentingan
aku. Dua Minggu di Jambi, terus beberapa kali bolos karena aku demam, terus seminggu yang lalu kamu dua hari nemenin aku ikut senam ibu hamil.
Pokoknya nggak ada libur, cepat berangkat!" Gita keluar dari kamar.
Gita tidak mau hanya karena dirinya, suaminya melalaikan tugas kantornya.
"Tapi ..."
Gita meletakkan telunjuknya di bibir Alam. Kepalanya menggeleng menandakan tidak bisa di bantah. Alam sedikit menghela nafas. Dengan malas dia mengambil jasnya dan tas nya.
"Nah, gitu dong. Itu baru suamiku." Gita menarik Alam keluar kamar. Tangan mereka saling menggenggam erat.
Gita menggandeng Alam sampai ke depan pintu. Lalu mencium tangan suaminya.
Klik
Kaki Alam berlari memasuki sebuah ruangan. Tadi dirinya mendapat kabar kalau istrinya tidak bangun walaupun denyutnya masih normal.
Di ruangan sudah rame dua keluarga sedang berkumpul.Di tatapnya Gita yang sedang terpejam di pembaringan.
"Ada apa dengan Gita, ma?" alam menatap mama Yulia yang masih sesenggukan.
"Gita, lam. Kata dokter otak nya seperti ada hambatan yang membuatnya akan lebih banyak tertidur." Jelas mama Yulia masih menangis.
"Kok bisa, ma. Tadi dia masih baik-baik saja. Sayang, bangun! Ini aku sudah pulang, bangun sayang!" Alam terus mengguncang tubuh Gita.
Tapi percuma, Gita tetap tidak bereaksi apa-apa.
Aku mohon jangan pergi Gita
Aku mohon jangan tinggalkan aku lagi
Kamu janji kan sama aku
__ADS_1
Mau liat anak kita lahir
Please bangun!
Aku harap ini hanya mimpi saja
Tuhan
Tolong bangunkan aku dari mimpi seperti ini
Tolong bangunkan istriku ya Allah
Alam terus memeluk tubuh Gita yang sudah di balut alat rumah sakit. Tubuhnya tak mampu berdiri saking syok melihat kondisi istrinya. Semua di ruangan menenangkan Alam. Tidak ada yang tahu sosok bayangan berdiri diantara mereka.
Bayangan itu ikut menangis karena tidak bisa kembali ke tubuhnya. Di tambah dengan suasana di ruangan itu yang membuatnya terasa mencekam.
Sosok anak kecil menggandeng tangannya, menarik dirinya untuk ikut. Tapi bayangan itu menolak ikut, karena dia merasa belum waktunya pergi.
Bayangan itu mengelus kepala Alam, sesekali masih berusaha kembali ke tubuhnya.
Walaupun akhirnya kembali terpental.
Akhirnya memilih tetap berdiri disamping Alam.
Ya, itu adalah arwah Gita yang keluar dari tubuhnya. Gita selalu berusaha kembali ke tubuhnya, tapi tetap saja mendapat penolakan. Matanya nanar melihat mesin pendeteksi jantung tetap bergelombang.
"Kenapa aku tidak bisa kembali ke tubuhku? Apakah aku sudah mati? aku belum mau meninggal seperti ini? Ya, Allah aku ingin melihat anakku lahir."
Gita melihat kanan kiri takut ada malaikat maut yang mengintai dirinya. Tapi tetap tidak terjadi apa-apa. Sesekali bernafas lega. Gita duduk memeluk pinggang Alam meskipun hanya bayangan. Air matanya menetes hingga Alam terasa ada yang basah di tubuhnya.
Tak berapa lama ada Rere yang datang menengok keadaan Gita. Rere mengajak jenny sementara putranya, Reki d titipkan di rumah orangtuanya.
Saat dalam ruangan Jenny menatap Gita. Tapi bukan Gita yang di pembaringan melainkan yang berdiri disamping Alam.
Jenny merengek minta pulang pada mamanya. Rere merasa ada yang dilihat jenny di rumah sakit, sehingga jenny seperti ketakutan.
Bersambung
...####...
__ADS_1