Aku Kamu Dan Dia

Aku Kamu Dan Dia
106. Kesedihan setelah menikah


__ADS_3


Mama sampai di rumah sakit, menanyakan pada Zahra kenapa Gita bisa hilang. Zahra menyerahkan hp Gita yang membahas berita itu, dia yakin Gita menemui suaminya.


"Sepertinya Gita sudah membaca berita ini, tante."


Mama sedih melihat semua permasalahan yang dihadapi Gita. Berharap ada secercah harapan indah untuk Gita.


"Aku harus menemuinya!" kata Mama tiba-tiba.


"Kemana, ma?" tanya Papa Dul melihat istrinya buru-buru.


"Kediaman Spencer." kata Mama yang sudah berjalan keluar rumah.


"Nanti kita bahas soal itu, ma. Kita cari Gita dulu." ucap Papa menarik mama kembali ke rumah sakit.


Mama terduduk lemas "Aku kasihan pada Gita,pa. Terlalu banyak tekanan dalam hidupnya. Papa lupa bagaimana Marni menghina Gita saat di rumah sakit. Bagaimana Marni memarahi alam waktu itu."


Tak berapa petugas rumah sakit membawa Gita yang pingsan di depan pintu masuk rumah sakit. Petugas meminta maaf atas keteledoran mereka terkait keamanan pada Gita.


"Ya, Allah, nak. Kamu kenapa begini nasibnya. Kamu harus kuat, Gita demi anak kalian." mama menangis melihat Gita yang kembali tidak sadarkan diri.


"Ma ..." Terdengar suara Gita lemah.


Gita langsung bangun. Mama mencegah Gita yang kembali ingin melepaskan infus.


"Ma, aku harus menyelamatkannya. Dia tidak bersalah, ma. Aku harus menemuinya." Gita memberontak.


"Suster! Suster!" Teriak Mama yang panik melihat Gita mengamuk.


Tak lama suster menyuntikkan obat penenang pada Gita. Gita akhirnya tertidur. Mama semakin mantap akan menemui keluarga Spencer.


Sementara itu semua keluarga besar Spencer berkumpul. Mereka membahas kasus yang dihadapi Ronal. Roki sudah menyelidikinya, terbukti boy yang asli sudah meninggal. Roki menilai ada yang dendam pada Boy makanya kasusnya di buka lagi.


"Dan mama yang sudah tahu dari awal tidak melakukan tindakan apapun." ucap Roki melirik Marni kesal.


"Hari ini kita akan menemui kantor kedutaan Malaysia. Aku harap mereka mau bekerja sama." tambah Roki.

__ADS_1


"Pak Roki, sebaiknya kita kesana sekarang. Yang saya dengar pak Ronal akan di bawa ke Malaysia hari ini." lapor pak zay asisten Roki.


"Sekarang! Kenapa tidak ada konfirmasi dari pihak kepolisian sih!" omel Roki kesal.


"Sudah kalian kesana sekarang." Ucap Papa Bobby.


Mereka berangkat kantor kepolisian, info terakhir yang di dapat zay kalau Ronal sudah berada di kantor kedutaan untuk di bawa ke Malaysia. Roki kesal dia kalah cepat. Berkali-kali dia mencoba menghubungi temannya yang bekerja di sana, tapi tidak diangkat.


"Kurang ajar! Sepertinya mereka kerja sama." ucap Roki kesal.


"Pak, sepertinya akan susah membebaskan pak Ronal. Masalahnya bukan saja kasus asusila saja yang menjerat Boy, tapi kepemilikan narkoba juga."


klik


Mama Marni datang ke rumah sakit menemui Gita. Dengan sikap angkuhnya dia menemui Gita yang sudah sadar. Gita senang Mama Marni mau menengoknya, tapi rasa senang berubah menjadi kecewa saat mama Marni menyerahkan sebuah berkas.


"Ini apa, ma?"


"Kamu mau Alam bebas, kan. Jadi tolong tandatangani surat ini."


"Dia baik-baik saja. Jadi tolong tandatangani surat ini! Cepat!" bentak Marni.


Dengan gemetar Gita membaca isi suratnya. Dalam surat tersebut keluarga meminta Gita untuk berpisah dengan Alam. Mereka juga akan mengambil alih hak asuh anak Gita setelah lahir.


"Ma?"


"Hmmm.."


"Kenapa mama begitu membenciku?" tanya Gita


"Bukankah kamu sudah tahu jawabannya."


"Tidak, ma. Aku rasa ada sesuatu yang tidak kuketahui."


"Karena kamu anak Yulia, paham!"


Mama yang mendengar namanya di sebut bangkit. Dia penasaran apa yang membuat Marni membenci dirinya.

__ADS_1


"Apa salahku Marni?" tanya Mama Yulia


"Lupa kamu yang membuat Alam terpisah dari ayah kandungnya!"


"Ayah kandungnya!" Mama bingung dengan penuturan Marni.


"Iya! kalau saja kamu tidak menikah dengan Brian. Mungkin kami sudah bersatu. Mungkin Alam akan hidup dengan orangtua yang lengkap."


"Jadi Alam anak kamu dan Brian. Maaf Marni tapi pernikahan aku dan Brian tidak pernah ada. Dia kabur dari rumah karena mencarimu." jelas Mama Yulia.


"Satu hal lagi Marni! Aku juga tidak pernah mencintai Brian. Dia pergi di hari pernikahan kami. Dia mencarimu. Jangan masalah seperti ini kau jadikan alasan untuk membenci anakku."


Marni pergi dari hadapan Gita dan keluarganya.


Mama yang terlanjur emosi. Tiba-tiba bicara pada Gita. Dia capek melihat anaknya di tindas oleh keluarga Spencer.


"Mulai sekarang lupakan Alam! Anggap pernikahan kalian tidak pernah ada! Mama tidak mau kamu di injak-injak mereka lagi. Kamu lihat satupun dari mereka tidak ada yang membelamu. Tidak ada satupun dari mereka yang memperhatikanmu. Setelah ini kita pindah ke Australia, kamu tinggal sama keluarga Tante Marie.


Kamu lihat mereka bahkan mengancam akan mengambil anakmu. Apa hak mereka memisahkan ibu dan anak. SUDAH MULAI SEKARANG LUPAKAN RONAL!"


"Tapi ma ... Aku lagi hamil. Aku tidak mungkin memisahkan anak dengan ayahnya. Mama kan tahu perjuangan kami."


"Kamu mau menunggu dia sampai kapan Gita! Kita tidak tahu sampai kapan suamimu bebas. Mungkin dia tidak akan bebas. Jangan membantah Mama! Pokoknya setelah ini kita berangkat!"


"Nggak! Aku nggak mau! Aku nggak mau!" protes Gita.


"Aaawww! Mama perutku sakit, ma! Maaa... sakit!!!!" Tiba-tiba Gita menjerit kesakitan.


klik


Alam berdiri di bandara melihat di sekelilingnya. Tidak ada yang menjemputnya atau membebaskannya. Dia teringat Gita, ingin rasanya menelpon istrinya. Tapi dia sudah tidak bisa melakukan apapun. Hingga terbersit kabur dari bandara.


"Hey! Jangan Kabur!" Teriak salah satu petugas kepolisian.


Alam terus berlari dari kejaran polisi. Niatnya cuma satu bertemu anak dan istrinya.


Dooooor!!!!

__ADS_1


__ADS_2