
Siang itu Gita dan Alam bertandang ke rumah Edwar. Karena Dinda baru seminggu yang lalu melahirkan anak keduanya berjenis kelamin perempuan. Suasana rumah mertua Edwar sangat ramai.
Ada pak Irwan yang sudah bebas dari penjara. Saat melihat Gita, pak Irwan langsung bersujud di kaki Gita. Mengingat dirinya yang membuat Gita buruk di mata masyarakat Sukasari.
"Maafkan saya, Gita. Saya menyesal sudah membuat kamu celaka berkali-kali. Maafkan saya, Alam." ucap pak Irwan masih bersujud dibawah kaki Gita.
Gita langsung mengangkut tubuh pak Irwan untuk berdiri. Saat ini dirinya sudah tak ada rasa dendam pada keluarga Dinda. Semua sudah dia lupakan.
"Om, saya sudah memaafkan anda." jawab Gita sambil memeluk pak Irwan. Karena yang dia tahu lelaki didepannya adalah sahabat papanya. Gita duduk di dekat pintu kamar, karena baginya udara luar sangat sejuk. Kamar Dinda yang letaknya tak jauh dari pintu rumah.
"Gita jangan di pintu duduknya, nggak bagus." celoteh sita yang melihat Gita duduk didepan pintu.
"Kenapa?" Gita masih belum paham.
"Pokoknya nggak bagus buat ibu hamil. Duduk disebelahku saja." sita menggeser posisinya agar Gita duduk disebelahnya.
Saat Gita duduk disebelahnya, entah kenapa dia melihat jarak duduk Alam dan Dinda berdekatan. Mencoba menahan perasaan, Gita pamit kekamar mandi. Sita menemaninya karena takut Gita kenapa-kenapa.
Saat keluar dari kamar mandi, pemandangan itu terlihat kembali. Gita melihat Alam menggendong bayi Dinda, Dinda mengelus kepala bayinya yang sedang dipangkuan Alam.
Sita tahu apa yang dirasakan Gita, tapi ucapan Sita menohok perasaannya.
"Mereka seperti keluarga bahagia, ya. Coba dulu mereka jadi menikah." Gita hanya menunduk saat mendengar ucapan Sita.
Mencoba menenangkan hatinya, Gita memilih berjalan di sekitar rumah Dinda.
"Sayang..." suara itu memanggilnya.
Sebisa mungkin Gita mencoba tersenyum di depan suaminya.
"Iya ..."
"Di dalam saja, kamu kan lihat matahari terik sekali." Alam menarik tangan Gita, tapi ditolak istrinya.
"Aku pengen di luar. Kakiku pegel duduk terus." Alam sepertinya tahu ada sesuatu yang dipikirkan istrinya. Tangannya memegang tangan istrinya "Apa aku ada membuatmu kesal lagi? Kalau ada aku minta maaf, ya. Aku minta maaf kalau ada sikapku tidak menjaga perasaanmu."
Flashback on
Tadi saat asyik bermain dengan bayinya Dinda. Tiba-tiba Siti mendekati dirinya
"Kakak tolong tenangkan Gita dulu." Siti menunjuk Gita yang berdiri di luar.
"Dia kenapa?" alam masih bingung.
"Tadi Sita mengatakan pada Gita kalau kakak dan kak Dinda seperti keluarga bahagia. Sepertinya kata-kata itu menyinggung perasaan Gita. Jangan anggap Gita baperan, kak. Sebab perasaan ibu hamil biasanya sensitif. Apalagi ini menyangkut masa lalu kalian." cerita Siti.
Alam hendak melabrak sita yang sudah bikin istrinya sedih. Tapi di larang Siti "Sita biar jadi urusanku, kak. Yang utama temani Gita dulu. Sana temui dia dulu." Siti mendorongnya Alam untuk keluar menemui Gita.
flashback off
Gita tersenyum. Dia memilih tidak mengadukan apa-apa pada suaminya. Mereka berjalan ke sebuah tempat. Tiba di sebuah pohon "Kamu masih ingat tempat ini." Alam mengajak Gita mengenang masa pacaran dulu.
Sebuah pohon yang sudah besar. Alam membuka lumut yang menutupi dinding pohon. Sedikit demi sedikit lumut itu membuka sebuah tulisan.
...Ronal...
__ADS_1
...❤️...
...Gita...
Gita tersenyum membaca tulisan itu. Gita tak tahu kalau dulu alam menuliskan ini.
Seingat Gita, dirinya di suruh menunggu karena lelaki cuma numpang buang air kecil di belakang pohon itu.
"itu yang nulis bukan kamu, yang. Tapi kak Ronal." Gita menggoda suaminya.
"Kan dulu yang nembak aku, bukan wassalam. Tapi Ronal." tambah Gita.
"Ronal wassalam ... hahahaha..." Alam tertawa sendiri.
Gita melirik kanan kiri takut ada yang ngeliat mengira suaminya gila. Kedua tangan Alam menggenggam tangan Gita.
"Didepan pohon ini aku berjanji
Tidak akan pernah meninggalkan Gita Mandasari lagi
Tidak akan pernah membuat Gita Mandasari menangis lagi
Tidak akan pernah berpaling lagi seperti yang beberapa tahun yang lalu
Akan menjadi penjaga full time untuk Gita
Akan menjadi suami siaga untuk Gita"
"Di depan pohon aku juga berjanji
Akan menjadi istri yang baik untuk Ronal Wassalam
Tapi aku tidak bisa janji untuk tidak cemburuan dan posesif sama suamiku"
"Tidak apa-apa sayang. cemburu itu tanda cinta, posesif itu tanda takut kehilangan. Aku suka kamu seperti itu. Kamu lupa kalau aku juga posesif dan bucin. Apalagi kalau lihat kamu sama Ilham." jawab Alam menjentik hidung Gita.
Alam menarik Gita berdiri di belakang pohon tersebut. Lalu mencoba mencium istrinya, saat bibir mereka mulai beradu, Gita merasakan pusing. Tubuhnya hampir rubuh tapi ditahan Alam.
"Sayang, kamu pucat sekali. Kita pulang, ya." Gita menurut saat dituntun oleh suaminya.
Sampai di rumah bibi, Alam merebahkan Gita ke tempat tidur.
"Sayang, bisa panggilkan Ilham kesini. Obatku sepertinya terbawa di tas Ilham deh. Waktu berangkat aku lupa bawa obat. Terus Ilham menyiapkan obat bawa dari rumah sakit." pinta Gita.
Alam malas kalau menyangkut soal Ilham. Tapi demi istrinya, mau nggak mau dia harus mengalah. Sambil menunggu Gita tertidur, alam membuatkan susu untuk istrinya. Sayangnya, Gita menolak minum susu. Dia tetap minta suaminya memanggil Ilham sedang yang menginap dirumah Siti.
Klik
Pukul 18:00, Gita terbangun. Kakinya terhenti saat mendengar pembicaraan suaminya dan bibi. Dengan hati-hati Gita mendengar ada keributan di rumah Siti sore ini.
"Tadi ada dua pria yang melamar Siti. Tapi bukdang setuju dengan pria pertama, sedangkan pria kedua memang sudah jadi pacar Siti. Bukdang malah menampar Siti, karena Siti memilih pacarnya. Rumit, Bi."
"Kok mirip kalian dulu, ya." jawab bibi sambil mendelik ke alam.
Gita keluar dari kamar memastikannya apa yang dia dengar.
__ADS_1
ya Allah apakah yang dimaksud itu Ilham.
Kenapa ibu begitu?
Siapa lelaki yang satu lagi?
Apakah om Jo?
Tapi tidak mungkin, setahu aku om Jo sudah punya kak Vika.
Ini tidak bisa dibiarkan aku harus bilang ke ibu kalau Siti dan Ilham saling mencintai.
Aku harus bantu Siti! harus!
"Apaaa! Ilham di usir! kok bisa!" Gita terkejut mendengar cerita Ilham dari suaminya.
Gita merasa ada kesalahpahaman yang terjadi antara ibu dan Ilham. Dia merasa wajib meluruskan masalah ini.
"Kamu mau kemana?" Alam mengikuti istrinya yang dengan perut besarnya keluar rumah.
"Aku mau bilang sama ibu soal Ilham. Aku mau bantu mereka, yang." Gita mulai menangis kencang.
"Jangan sayang, itu bukan urusan kita." ucap Alam dengan lembut.
"Gita... Tunggu!!!" alam menahan Gita agar tidak menyusul ke tempat Siti.
"Kamu lupa, yang bagaimana jasa Siti dalam hubungan kita. Kamu lupa bagaimana Siti rela di usir mama Yulia hanya untuk membela kamu. Kamu lupa, bagaimana usaha Siti meyakinkan mama Yulia untuk membersihkan nama kamu yang sudah jelek di keluargaku. Lupa kamu! Sekarang saat Siti sedang membutuhkan bantuan kita, kenapa kamu diam saja! Ilham itu adikmu, kan! Aku baru lihat ada seorang kakak yang hanya diam saja saat adiknya diperlakukan seperti itu." Gita tetap ngotot mau ke tempat Siti.
"Cukup! Dia memang adikku! tapi hanya status saja, bagiku dia masih orang lain. Bagiku ayah Brian hanya sekadar ayah biologis semata. Dia hidup bergelimang harta, punya orang-orang yang sayang padanya. Sementara aku! dari kecil aku melewati hidup dengan cacian orang! Ibuku rela menikah dengan tuan Spencer hanya untuk menaikkan derajat keluarga kami. Jangan samakan aku dengan dia! Beda! kami beda!" gertak Alam. Dia masih belum bisa menerima Ilham dan Brian adalah keluarganya.
bibi yang kurang sehat sedikit terganggu dengan pertengkaran anak dan menantunya. Dengan tertatih-tatih dia berjalan menuju keduanya.
"Lam, ada apa? kenapa bicaramu begitu pada istrimu? Istrimu lagi hamil. Wanita hamil itu sensitif." ucap bibi yang membela Gita.
Alam yang terlanjur kesal dengan Gita. Selama ini Gita terlalu sering membela Ilham. Setiap masalah Ilham dan Siti, Gita selalu ikut andil.
"Kenapa, Gita? kenapa kamu selalu membela Ilham? Apakah kamu masih cinta sama dia? Oh,ya aku lupa, kalian pernah hampir menikah, bahkan kalian juga pernah ....."
plaaaaak
plaaaaak
Gita menampar wajah suaminya. Perasaannya sakit saat Alam mencoba mengungkit masalah itu. Gita berlari menangis keluar rumah. Hatinya sakit, untuk kesekian kalinya suaminya kembali membuka luka di hatinya. bibi melihat Gita menangis saat di depan rumah. Bibi tidak ingin mencampuri urusan rumah tangga anaknya.
"Bibi ... Gita kemana?" tanya alam melihat istrinya sudah tak ada lagi di rumah.
"Tadi bibi lihat dia lari menangis .. kejar istrimu, lam. Kejar!"
Alam berlari mencari istrinya yang tak tahu kemana perginya. Dia merasa bersalah karena tadi menyakiti perasaan Gita.
Tubuhnya lemas sambil menjerit "GITAAAA!!"
Maafkan aku!
Maafkan aku!
__ADS_1
######
Bersambung