
Gita pergi ke kantor pengadilan agama untuk mengurus perceraiannya. Hari ini harusnya sidang pertama untuk perceraian mereka. Tapi sidang tersebut di batalkan.
Gita pulang ke rumah tersenyum melihat berkas yang dia ambil dari Kantor agama tadi. Terus dia pandangi map coklat yang berada di genggamannya.
Gita melihat wajah mama Yulia seperti kusut. Dia tidak peduli mamanya keberatan dengan keputusannya. Ini rumah tangganya, hidupnya dan hidup anaknya. Tapi Gita lega kalau papa masih mendukung keputusannya.
klik
Alam pergi berangkat ke pengadilan agama. Karena hari ini sidang perdana terkait gugatan cerai dari Gita. Lama dia termenung selama perjalanan. Untungnya, dia ditemani sopir. Coba kalau sendiri mungkin dia akan kembali tinggal nama.
Alam berusaha menghubungi Gita, tapi tak diangkat. Ya, walaupun tadi malam mereka masih tidak bertegur sapa. Tapi tetap silaturahmi harus di nomorsatukan. Mengingat Gita sedang mengandung anaknya.
Jantungnya berdetak kencang, seperti akan menghadapi interview kerja. Dia berharap ada keajaiban dengan rumah tangganya. Seperti dulu saat dia berharap Gita membuka hatinya kembali setelah putus dari Ilham.
Dibukanya sebuah kotak kecil yang berisi cincin. Cincin perak hitam yang dulu dia buat saat hendak menyatakan keseriusannya, tapi ternyata Gita pergi tanpa kabar. Cincin yang dikembalikan Gita bersama surat cerai mereka.
"Pak." suara pak sopir mengagetkan lamunannya.
"Kita sudah sampai, pak." Sahutnya sambil membuka pintu mobil.
Alam turun dari mobil langsung masuk ke kantor pengadilan agama. Rasa deg-degan terus mendera perasaannya. Berkali-kali berharap agar Gita datang untuk mencabut gugatan cerainya.
"Oh ini suaminya Bu Gita ya?" tanya salah satu staf pengadilan agama.
"Iya, saya mau nanya soal jadwal sidang perceraian saya jam berapa mulainya"
"Sidangnya di batalkan, pak." ucap staf tersebut.
"Batal!" Alam cukup kaget mendengar informasi yang di dapat.
klik
"Kamu tidak salah,nak. Mama kecewa sama kamu. Tolong berpikir jernih,nak. Ini buat masa depan kamu!" omel Mama Yulia saat sampai di rumah sehabis menemani Gita ke kantor agama.
"Mama sepertinya senang benar anaknya jadi janda." jawab Gita dengan santai sambil membuka kulkas mengecek apa yang bisa dimakan.
Gita merasa hp nya bergetar, lalu membuka gawainya sambil menyunggingkan senyum. Tak lama hp mengambil tas nya lalu memanggil pak sopir untuk mengantarnya.
📩 My husby
Sayang, kamu dimana? Aku tunggu di sea world.
📩 My wife
Jauh amat! Yang dekat aja deh! Emang mau ngapain di sana?
__ADS_1
📩 My husby
Bawel, ah! Aku tunggu! Mmmuuuah!
📩 My wife
Astaga jangan bilang mau ngajak mesum di sana! dasar otak mesum
📩 My husby
Bisa nggak sekali - sekali nurut sama suami!
" Mau kemana, Gita?" panggil mama melihat anaknya mengambil tas dan kunci mobil.
"Jalan-jalan,ma. Suntuk, ma di rumah terus." Jawab Gita melengos dari hadapan Mama Yulia.
Mama Yulia kaget. Seperti yang sudah-sudah ketika Gita pergi sendiri pasti bahaya mengintai. Dengan cepat mama mengambil tasnya untuk ikut dengan Gita.
"Astaga, mama! Aku mau jalan sebentar! Nggak usah dikawal segala!" Gita kaget mamanya ikut naik mobil.
"Mama khawatir kamu nanti di culik lagi. Pokoknya mama ikut!" Rengek mama Yulia yang tidak mau turun dari mobil.
Gita cuma bisa menghela nafas. Dia takut kalau mamanya tahu kalau akan bertemu dengan Alam. Tapi Gita memaklumi kekhawatiran mama Yulia, karena akhir-akhir ini banyak bahaya yang mengintai dirinya.
Gita melihat mamanya tertidur di mobil. Perjalanan menuju sea world yang lumayan cukup jauh. Beruntung kehamilannya kali ini tidak banyak masalah. Beda dengan kehamilannya yang pertama.
Saat sampai Gita berpesan pada pak sopir agar pulang duluan mengantar mamanya. Pak sopir menurut dan langsung tancap gas.
Gita masuk ke pintu utama sea world. Di sambut oleh seorang staf yang memakai seragam sea world. Staf tersebut menuntun Gita berjalan ke tempat yang katanya sudah di tunggu suaminya.
Mata Gita takjub melihat keindahan dalam laut. Sejenak dia berdiri menatap ikan-ikan berbagai jenis berlari-lari. Seekor ikan pari pun ikut berlari mengikuti langkahnya. Gita memegang kaca seakan menyapa para penghuni laut.
Sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Kecupan leher yang membuatnya berdesir. Gita tahu siapa yang memeluknya, tapi dia memilih bungkam, membiarkan sentuhan itu terus menyapa tubuhnya.
"Makasih sayang. Terimakasih kamu sudah mencabut gugatan cerai kita. Ini kado terindah aku, kamu dan dia yang ada di perut." ucap Alam sambil memeluk pinggang Gita.
"I love you Gita Mandasari."
"Love you to Ronal Wassalam." ucap Gita sambil mengelus pipi Alam dengan lembut.
Mereka saling bertatapan lalu menyatukan kedua bibir. Menikmati ranumnya bibir keduanya. Sengaja Alam meminta petugas sea world untuk tidak membuka jam kunjung agar dia bisa berdua dengan Gita.
Gita masih menikmati indahnya dunia bawah laut. Berdua saling menatap seakan melupakan semua yang pernah terjadi diantara mereka.
"Aku ngerasa kayak anak durhaka jadinya." keluh Gita
__ADS_1
"Kenapa begitu?"
"Tadi mama ikut. Mungkin dia khawatir karena aku sudah beberapa kali dalam bahaya. Tapi tadi aku sudah nyuruh supir ngantar mama pulang ke rumah. Aku jadi nggak enak sama mama." ucap Gita masih merasa bersalah pada mama Yulia.
"Nanti kita pulang ke rumah aja yang. Minta maaf sama mama. Tapi sebelumnya kita menemui Mama Marni buat ngabarin kehamilan kamu. Sekaligus aku ngambil barang buat pulang ke rumah mama Yulia." usul Alam.
Gita senang suaminya mau ikut dengannya tinggal di rumah mama Yulia. Alam mengajak istrinya berkeliling sekitar sea world Ancol.
"Sebentar! Kamu bayar mereka berapa sampai nyuruh tutup kunjungan."
Gita mengingat kalau suaminya bukan lagi pemilik jabatan besar di Spencer corporation. Yang Gita tahu suaminya kembali menjadi staf biasa. Makanya dia heran kalau suaminya bisa menyewa sea world untuk hari ini.
"Apa sih yang nggak buat kamu"
"Hmmm ... sombong nih." Gita mencibir.
"Jangan gitu bibirnya." alam mencubit bibir Gita.
"Kenapa?"
"Bikin aku nggak tahan."
"Dasar otak mesum!"
klik
Sementara di kediaman Spencer Rere membetulkan dasi suaminya. Sambil bercanda ria menambah kemesraan mereka.
"Mas." ucap Rere yang masih mencari jas yang cocok untuk suaminya.
"Apa sayang."
"Aku mohon sudah, ya. Jangan gerecoki mereka lagi. Sudah cukup mereka menderita akibat perbuatanmu." ucap Rere sambil memberikan jas nya pada Roki.
"Aku tidak melakukan apa-apa, sayang." jawab Roki sambul menggendong Jenny yang baru bangun.
"Uuuuh, anak papa acem." Roki mencium putri sulungnya. Dia berusaha mengalihkan perhatian dari obrolan yang di bahas Rere.
Rere menatap suaminya yang sendu. Dia kasihan pada rumah tangga sahabatnya yang hancur akibat perbuatan suaminya. Rere menatap perutnya yang membesar.
Mas aku takut karma
mungkin bagimu yang kamu lakukan tidak seberapa
Tapi pernah kamu berpikir yang kamu lakukan
__ADS_1
bisa berbalik ke aku dan anak-anak kita