Aku Kamu Dan Dia

Aku Kamu Dan Dia
90. S2: Mencoba mengalah


__ADS_3

...Haruskah aku mengalah. Jika itu yang buat kamu bahagia aku siap!...


...-Alam-...


...----------------...


Gita turun dari mobil Ilham. Di sambut dengan Boy yang sudah seperti satpam berdiri di depan pagar. Gita tak peduli, walaupun sekarang Boy sudah tinggal di rumah orangtuanya, tapi Gita belum mengizinkan boy sekamar dengannya.


"Sepertinya ada yang CLBK." ledek Boy.


"Ngerasa nggak sih, siapa yang ninggalin saya sampe nyasar?" Omel Gita


"Ngerasa juga nggak sih, siapa yang tiba-tiba turun dari angkot? Padahal tujuannya masih jauh. Masih untung kamu masih bisa pulang dengan selamat." balas Boy.


Braaaaakk!


Gita menutup pintu kamar dengan kencang. Boy memaklumi kalau Gita belum bisa menerima dirinya. Tapi apapun itu, tidak etis seorang perempuan yang sudah menikah keluyuran bersama mantan.


Tak lama mama berseru kalau makan malam sudah siap. Gita dan boy keluar dari kamar mereka masing-masing. Mama bilang supaya Gita jangan judes terus pada boy.


"Nak, boy kapan mengenalkan kami pada keluargamu." tanya Papa Dul.


Boy yang sedang makan, tiba-tiba tersedak dengan pertanyaan papa.


"Secepatnya om." jawab boy.


"Jangan panggil om, panggil saja papa. Kamu kan sudah jadi menantu saya, jadi harus membiasakan diri."


"I..iya ..pa."


"Gita, besok kamu ada jadwal kemoterapi kan. Mama nggak bisa nemenin kamu. Jadi kamu sama boy aja, ya." ucap Mama sambil menuangkan minuman ke gelas Papa.


"Nggak usah,ma. Gita bisa pergi sendiri. Kan boy besok ada pentas di cafe Cibubur,kan." Gita mendelik boy.


Dasar kamu, Gita. Bilang aja biar bisa ketemu Ilham. batin Boy.


"Kebetulan aku juga ada kontrol dengan dokter Juna." ucap boy melirik Gita yang masih asyik makan.


Dasar penguntit. omel Gita dalam hati.


Gita menyelesaikan makannya, lalu kembali ke kamar. Sambil santai Gita membuka laptopnya, lalu mencari tahu tentang siapa sebenarnya Boy Aziz. Banyak artikel yang menceritakan kalau boy adalah sosok anak band penyuka di dunia diskotik.


Sudah kuduga. Seperti anak band kebanyakan, suka dugem, main perempuan, minum-minuman keras. Nggak ada bagusnya dalam dirinya.


Gita membuka sebuah artikel tentang kecelakaan yang dialami Boy. Tapi saat di hendak membaca, kepalanya tiba-tiba terasa pusing. Gita menutup laptopnya, dan memilih beristirahat.

__ADS_1


zreeeeet zreeeeet zreeeeet


Hp Gita bergetar, terlihat sebuah nama yang dia kenal.


πŸ“žπŸ§‘ halo assalamualaikum, Gita.


πŸ“žπŸ‘§ waalaikumsalam, pak dokter.


πŸ“ž πŸ§‘Formal amat manggilnya. Lagi apa?


πŸ“žπŸ‘§ kepalaku, sakit, ham. Aku mau istirahat dulu. Ada apa menelponku?


πŸ“žπŸ§‘ Makanya jangan mikir yang berat-berat. Kamu tadi makan castenggel kan di rumah Tante Tami. Bukannya kamu sudah tahu kalau itu pantangan.


πŸ“žπŸ‘§ Bawel ah. Sudah kejadian juga.


πŸ“ž πŸ§‘Aku cuma mau ngingetin besok kamu ada kontrol dengan aku dan dokter Sasono.


πŸ“žπŸ‘§ iya aku tahu. Udah ya. Aku capek.


πŸ“žπŸ§‘ Gita!


πŸ“žπŸ‘§ iya!


πŸ“žπŸ§‘ aku ... aku ...


Gita mematikan hp nya. Dia tahu apa yang akan di ucapkan Ilham. Memang tak seharusnya dirinya meladeni perasaan Ilham lagi, tapi dia juga tidak bisa bohong kalau rasa itu masih ada. Gita tertidur tanpa dia sadari bau anyir keluar dari tubuhnya.


Pagi ini adalah jadwal kontrol Gita. Sudah hampir jam sembilan Gita belum keluar dari kamarnya. Boy mengetuk kamar Gita tapi tidak ada sahutan. Entah ide darimana dia mencoba mendobrak kamar Gita. Sebuah pemandangan yang mengejutkan di kamar Gita, Gita masih tertidur dengan hidung berlumuran darah.


Boy mengangkat Gita untuk di bawa ke rumah sakit.


"Gita kenapa?" Mama kaget melihat Gita yang hidungnya berdarah.


"Nggak tahu ma, saat ke kamar tadi tahu-tahu sudah seperti ini." boy mengangkat Gita ke dalam mobil.


"Heh! Makanya kalian itu satu kamar, tugas kamu sebagai suami menjaga Gita." omel Mama Yulia.


"Maaf,ma." boy menunduk saat mertuanya menyalahkannya.


"Sudah jangan debat. Sekarang kita ke rumah sakit." Papa memotong pembicaraan.


Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Gita terus mengigau memanggil nama Alam. Boy menggenggam tangan Gita, seolah menunjukkan kalau orang yang disebut Gita sedang berada di sampingnya.


Aku disini Gita. Aku disini!batin Boy.

__ADS_1


Boy kenapa kamu tidak jujur pada Gita yang sebenarnya. batin Mama Yulia.


Sampai di rumah sakit. Gita langsung di bawa ke ruang ICU. Boy menunggu Gita dengan perasaan cemas. Papa melihat kekhawatiran menantunya mencoba menenangkan. Mengajak boy sholat bersama di mushola rumah sakit.


Selesai sholat, Boy mendengar kabar kalau Gita sudah siuman. Tapi pemandangan yang lagi-lagi menyakitkan baginya, kebersamaan Ilham dan Gita. Boy mencoba berbaur dengan mereka. Dia melihat tatapan Ilham pada Gita, begitu juga sebaliknya.


Apa aku harus mengalah lagi. Mungkin memang sudah saatnya aku mengalah. Susah menggapai perasaanmu, Gita.


"Lam." panggil Mama Yulia saat boy keluar dari ruangan Gita.


Boy menoleh saat tahu mama Yulia memanggil nama aslinya.


"Ma..ma.. Mama tahu dari mana kalau aku..."


"Kalau Gita tahu kamu masih hidup, dia pasti senang sekali." ucap Mama Yulia menepuk pundak.


"Enggak, ma. aku sudah tahu siapa yang dicintai Gita. Bukan aku orangnya, bukan aku." Alam mencoba menahan tangisnya. Mama memeluk Alam.


"Aku akan mengembalikan Gita pada Ilham, ma. Akan ku urus surat perceraian kami." ucap Alam.


"Mama ingin kamu berjuang kembali. Tapi kalau itu sudah keputusanmu, mama bisa apa? Mama Ingin kamu jujur pada Gita tentang siapa kamu sebenarnya. Jangan sampai Gita mendengar versi orang lain." bujuk Mama Yulia.


"Kamu kan tahu Ilham punya Raisa yang sedang hamil. Kamu tega kalau Gita jadi pelakor."


"Aku kenal Raisa, ma. Dia akan menghalalkan segala cara untuk memisahkan Ilham dan Gita. Termasuk kejadian yang menimpa Gita dulu" jawab Alam.


Mama Yulia mengatakan kalau dia mendengar pembicaraan antara Siti dan Boy saat di rumah sakit. Dari situlah Mama tahu kalau Boy adalah Alam.


"Pikirkan lagi, lam. Saat ini dukungan kamu sangat di butuhkan." Panggil mama Yulia, tapi yang di panggil telah berlalu.


Di kediaman Spencer


"Ibu aku pulang!" boy berdiri di depan rumahnya. Mama Marni menyambut putranya dengan suka cita.


"Kamu pulang,lam.Kamu siap kembali ke Malaysia untuk melanjutkan pengobatan. Kita akan mengembalikan wajah kamu." ucap Mama Marni.


Mama Marni mengatakan kalau hasil autopsi menyimpulkan jasad itu bukanlah jasad Alam ataupun Boy. Jasad Boy sebenarnya sudah di makamkan di Malaysia.


"Bukankah ibu sudah tahu itu." selidik Alam.


"Maafkan ibu, nak. Ibu lakukan ini untuk kebaikanmu, sudah banyak masalah yang menimpamu hanya karena Gita."


"Jadi ibu lakukan ini untuk memisahkan aku dan Gita. Kok ibu tega sih!" Alam merasa kecewa dengan tindakan ibunya.


"Kamu berjuang juga Gita tak memilihmu, buktinya dia menerima Ilham setelah kamu meninggal. Ikhlaskan Gita, lam. Biarkan dia bahagia dengan lelaki pilihannya."

__ADS_1


ibu benar. Aku selama ini terlalu mementingkan perasaanku. Aku terlalu egois. Maafkan aku, Bu. Maafkan aku, Gita.


__ADS_2